Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 33. Seperti ingin mati.


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Dave, malam itu, Arshila lebih banyak membisu. Ia mengerjakan semua pekerjaan tanpa bertanya, ia hanya mendengarkan perintah dan langsung melakukannya.


Contohnya, pagi ini. Pekerjaannya menjadi dua kali lipat, sepertinya Dave sengaja membuatnya mati perlahan karena kelelahan. Ia harus mengepel lantai seluruh rumah dan seperti biasa, tidak ada satu orang pun pelayan yang boleh membantunya.


Arshila mulai bekerja pukul enam pagi tanpa sarapan. Ia mulai membersihkan di lantai tiga terlebih dahulu. Ruangan yang sangat luas dan tanpa sekat pembatas. Ada balkon, jejeran alat olahraga yang biasa Arshila lihat di tv. Dinding tembok yang berlapiskan cermin yang memantul. Beberapa sofa dan kursi kayu, ada juga meja biliard dan mini bar. Sepertinya, di lantai tiga ini khusus digunakan sebagai ruang olahraga.


Arshila mulai bekerja, membersihkan balkon. Mengelap pintu kaca dengan bersih. Lalu, membersihkan lantainya. Ia menatap ke bawah, tampak tukang kebun sedang menyiram tanaman.


Ia melangkah baju, memegang besi pembatas. Pandangannya, tertuju ke bawah.


Jika aku mati sekarang, bukankah aku bisa bebas selamanya. Aku tidak bisa lari dan pergi dari tempat ini. Aku lelah, jika harus menjalani kehidupan yang sama dan terulang lagi.


"Hiks ... hiks ...." Air matanya sudah menggenang di pipinya.


Aku pikir dia sangat mencintaiku, dia berbeda dengan mas Dimas. Tapi, nyatanya mereka berdua sama saja. Bahkan, aku tidak mengerti apa kesalahanku. Aku sudah berjuang dan melupakan masa laluku, tapi apa yang aku dapatkan sekarang, ternyata sama saja. Rumah yang aku anggap sebagai tujuan akhirku, ternyata adalah sebuah neraka yang membakar tubuhku perlahan.


"Nona, tolong jangan lakukan itu!"


Ibu Lin mendekat, ia menjadi panik bahkan melupakan aturan untuk tidak memanggilnya nona.


Arshila masih menangis, ia hanya menoleh sesaat. Lalu, pandangannya kembali kebawah sana.


"Nona, aku mohon. Tolong, menjauhlah!"


Ibu Lin semakin panik, apalagi melihat Arshila dengan wajahnya yang putus asa dan tatapan mata kosong.


Suara panik ibu Lin terdengar oleh Dave, yang baru saja keluar kamar. Ia menghentikkan langkah, kembali mendengar suara itu yang tidak terdengar jelas.


"Nona, tolong. Menjauhlah! Jangan berpikiran sempit."


Dave mengepalkan tangan, mengumpat dalam hati. Apa jadinya, jika wanita itu mati di rumahnya?


Di ujung balkon, Dave melihat ibu Lin sedang membujuk Arshila yang tengah memegang besi pembatas, dengan pandangan ke bawah. Bahkan, kaki Arshila sudah berjinjit, bersiap untuk jatuh.


Emosi Dave membuncah, ia belum selesai dengan pembalasannya. Tapi, wanita itu sudah ingin mati. Bahkan, yang dia lakukan sekarang belum seberapa, dari yang wanita itu pernah lakukan pada tunangannya.

__ADS_1


Dave meraih ponselnya, menelpon seseorang, lalu sengaja menyetel speaker, agar terdengar oleh Arshila.


"Ada apa, Tuan?"


Ibu Lin dan Arshila langsung menoleh. Mereka tidak menyadari kedatangan Dave.


"Bawa, anak Arshila dan Dimas kemari. Ibunya ingin terjun, jadi sekalian aku ingin putri kecilnya menemani ibunya."


"Baik, Tuan."


Arshila membelalak, seketika mundur dan berjalan menghampiri Dave.


Plak.


"Apa belum puas menyiksaku? Kenapa melibatkan putriku?"


Ughh! Dave membalas dengan mencekik wanita itu.


Ibu Lin, panik harus berbuat apa. Ia merasa kasihan dengan wanita itu, tapi tidak memiliki daya untuk membantunya.


"Aku sudah memperingatkanmu. Jangan menguji kesabaranku! Apapun yang kau lakukan putrimu yang akan menanggungnya!"


Wanita itu terbatuk-batuk, karena hampir kehabisan napas.


"Aku membencimu. Seumur hidupku, aku akan terus membencimu."


Ia kembali menangis, saat Dave pergi begitu saja.


"Nona, aku mohon. Tolong, jangan berbuat hal bodoh lagi. Aku tahu, Anda putus asa, tapi pikirkanlah putrimu. Tuan muda tidak pernah mengingkari ucapannya!"


Arshila tenggelam dalam tangisnya, pria yang dulu sangat lembut padanya, berubah menjadi pria kejam dan menakutkan. Ia bisa mati kapan saja, jika ia mau. Tapi, bagaimana dengan putri kecilnya yang tidak tahu apa-apa.


"Hiks ... hiks ... apa salahku, Ibu Lin? Ini terlalu menyakitkan."


Ibu Lin memeluk Arshila, yang bercucuran air mata. Ia juga tidak tahu, harus menjawab apa tentang kesalahannya. Semua sudah tahu, siapa wanita yang kini memeluknya. Tapi, ia merasa aneh, kenapa Arshila tidak mengetahui kesalahannya. Bahkan, foto Clarissa terpampang jelas disetiap dinding rumah. Apa wanita ini tidak mengenali Clarissa?

__ADS_1


"Nona, sabarlah. Aku tahu ini berat, tapi kuatlah demi anakmu."


"Aku lelah, ibu Lin. Sangat lelah. Dulu, ibu mertuaku sangat buruk memperlakukanku dan mas Dimas hanya diam saja. Aku pikir, setelah bertemu Dave hidupku akan lebih baik. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya, ia menginginkan nyawaku, tanpa aku tahu apa sebabnya?" Arshila menatap Ibu Lin dengan air mata yang mengalir. "Tolong, beritahu aku. Siapa sebenarnya Dave? Kenapa dia melakukan ini padaku?"


Ibu Lin menghapus air mata Arshila, lalu menggenggam tangannya.


"Nona, maafkan aku. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, begitu juga dengan pelayan lainnya. Aku harap jangan menanyakan ini lagi, karena resikonya terlalu berat jika kami membuka mulut. Percayalah, akan takdirmu dan bersabarlah."


Arshila menundukkan kepalanya, air mata yang dari tadi masih mengalir, akhirnya menetes jatuh di lantai. Takdir macam apa, yang harus aku percaya?


Ibu Lin meninggalkan Arshila, membiarkan wanita itu menenangkan diri. Drama pagi ini, seperti mengguncang batinnya. Tidak menyangka, wanita itu berputus asa setelah, mengetahui sikap Dave padanya.


Setelah cukup tenang, Arshila melanjutkan pekerjaannya, kali ini Ica menemaninya untuk bekerja, setelah diminta oleh ibu Lin.


Mereka membersihkan lantai, tanpa saling berbicara. Ica melirik Arshila, yang tengah membersihkan tapi sesekali menghapus air matanya.


Sungguh kasihan, batin Ica seperti ikut bersedih. Seorang pengantin yang seharusnya berbahagia, justru menjadi budak di rumah suaminya sendiri.


"Kak, aku turun dulu."


Arshila hanya mengganguk.


Ica kembali membawa nampan, lalu meletakkan diatas meja.


"Kak, sarapan dulu. Ini sudah jam sembilan."


Arshila menghentikkan kegiatannya, lalu berjalan menuju meja. Sebenarnya, ia sama sekali tidak merasa lapar. Rasa sakit hatinya, seperti membuatnya kenyang dan kehilangan selera makan.


"Terima kasih, Ca."


"Kak Shi, makan dulu. Biar aku yang lanjutkan."


Arshila mengangguk, lalu menyambar gelas yang berisi air putih. Ia menatap piring yang berisi nasi goreng dan telur ceplok. Air matanya selalu saja jatuh tanpa permisi. Ia merasa hidupnya sekarang sangat menyedihkan, tidak ada tempat untuk mengadu. Satu-satunya teman yang berada disisi belahan bumi, tidak bisa ia hubungi.


Tante Nessa, Alexa. Aku merindukan kalian. Yessi, Jian. Aku merindukan kalian. Kapan kalian kembali? Aku sangat kesepian dan butuh teman. Aku seperti ingin mati sekarang. Hidup di penjara sepertinya masih lebih baik, dari pada ditempat ini.

__ADS_1


"Hiks ... hiks ..."


Nasi goreng diatas piring, kini sudah bercampur dengan tetesan air matanya. Hati yang sudah sangat terluka, tanpa ada obat yang bisa menyembuhkannya, kecuali mati.


__ADS_2