Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 53. Sasaran amarah


__ADS_3

Siang hari, setelah kejadian di rumah makan. Dave masih memegang tangan istrinya dengan erat, menariknya masuk dalam rumah.


"Dengar, kalian semua!" Para pelayan menghentikan kerja sesaat. "Mulai sekarang, jangan membiarkan istriku keluar dari rumah. Mengerti!"


Setelah memberikan perintah, Dave kembali berjalan, masuk dalam lift, menuju kamar.


"Jadi, ini alasanmu meminta cerai? Hah!" Mencengkam mulut Arshila dengan kuat. "Jawab!"


Arshila membalas tatapan sang suami, menguatkan hati untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Kau tahu pasti alasanku ingin bercerai. Kau sangat tahu alasanku untuk berpisah darimu. Jadi, jangan menggunakan orang lain sebagai alasan untuk menutupi kesalahanmu."


Dave melepaskan tangannya, mengalihkan pandangan keluar.


"Kita berdua, tidak memiliki perasaan untuk tetap berumah tangga. Kau membenciku dan hanya ingin membalas dendam. Dan aku, ..." Arshila menyeka air matanya. "Perasaanku sudah mati untukmu. Jika selama ini, dendam mu belum terbalas, bunuh aku. Dengan begitu, kita bisa berpisah dengan perasaan yang tenang."


Perasaan Dave bergemuruh, kembali menatap mata sang istri yang dipenuhi air mata.


"Kau kira dengan mati, semua akan kembali seperti semula!"


"Kau tahu, itu! Tapi, melampiaskan semua takdir yang bukan keinginanku. Apa yang kau lakukan selama ini, dapat mengubahnya? Apa dengan menyiksaku dapat menghidupkannya kembali?"


"Diaamm!!" bentak Dave, dengan tangan yang sudah terangkat diudara, tapi kembali diturunkan, saat menatap Arshila yang sudah menutup mata, siap menerima tamparan di wajahnya. "Jangan pernah keluar dari kamar ini. Mulai sekarang, rumah ini akan menjadi penjara untukmu!"


Brak!! Pintu kamar terbanting dengan keras.


Arshila jatuh terkulai diatas lantai, menangis sepuas-sepuasnya. Bulir-bulir air mata, jatuh menetes diatas lantai. Ia merasa sesak karena, karena pernapasannya tersumbat.


Ibu, ayah, jemput aku! Tolong, jemput aku! Aku sudah tidak sanggup.


Di lantai bawah, ibu Lin menjadi sasaran luapan amarah Dave.


"Aku sudah mengatakannya padamu. Tapi, kau masih lalai??"


"Maafkan, saya Tuan. Saya sudah berusaha tapi, nona memohon, membuat saya tidak tega."


Prang! Serpihan kaca mendarat dilantai dan hampir mengenai kaki ibu Lin.


"Tidak tega? Apa dia mengancammu ingin mati lagi, sehingga kau tidak tega?" Dave benar-benar marah, suara meninggi dan raut wajah memerah, membuat para pelayan bergidik ngeri.


"Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar minta maaf."


"Apa si brengsek itu memberikan sesuatu pada istriku?"


"Dia membayar buku milik Nona."

__ADS_1


"Berikan padaku!"


Dave menerima kantung plastik itu. Ada empat buku didalamnya. Sebuah buku resep dan tiga buku novel.


"Pak yus," teriak Dave masih dengan nada marah dan tinggi.


"Iya, Tuan."


"Isi semua perpustakaan dengan buku ini." Menunjukkan buku resep. "Dan ini." kembali menunjukkan buku novel."


"Baik, Tuan."


Pak Yus masih berdiri ditempatnya, sampai buku-buku itu mendarat dibawah kakinya.


"Bakar semua."


"Iya, Tuan."


Dengan segera, pak Yus memungut semua buku dan berlari menuju taman belakang.


Amarah Dave sepertinya belum reda, setelah ibu Lin dan pak Yus, kini giliran Tian yang ikut terkena imbasnya.


"Aku sudah menyuruhmu menjaga istriku, tapi apa ini?" Dave membanting ponselnya diatas lantai. "Mereka hanya mengirim foto tanpa berbuat apa-apa. Kamu pikir, perintahku hanya lelucon, Tian? Jawab!"


"Maaf? Lagi-lagi kalian hanya bisa minta maaf."


Dave menendang, ponselnya yang sudah hancur. Lalu, kembali menatap tajam ibu Lin, yang rupanya masih berdiri disana.


"Dan kau, apa begitu sulit menolak keinginan istriku? Dia makan siang dengan pria lain dan kau ikut duduk bersama, menikmati makan siang. Iya, begitu, kan!"


Tian dan ibu Lin tertunduk, saling melirik dalam kebisuan. Kemarahan Dave kali ini sangat mengerikan, bahkan seisi rumah tak luput dari amarahnya.


Ica yang membersihkan serpihan kaca, ikut terseret padahal tidak tahu apa-apa. Ia dimarahi habis-habisan, disalahkan, karena Arshila tidak mau membaca buku diperpustakaan.


Dalam suasana yang mencekam dan menakutkan. Rachel masuk dalam rumah dengan santainya.


"Ini semua, gara-gara, Mama."


Dave langsung berteriak, saat ibunya baru saja menginjakkan kaki.


Rachel bingung, ia menatap para pelayan yang tengah berbaris dengan kepala tertunduk.


"Aku?" Rachel menunjuk diri. "Memangnya, ada apa ini?"


"Karena Mama, Arshilla bertemu pria lain. Karena Mama, istriku makan siang dengan pria lain, bahkan tertawa sana sini."

__ADS_1


Rachel mengerutkan alisnya, masih tidak mengerti dengan situasi. Ia menatap ibu Lin, yang masih terus menunduk.


"Dengar, Ma. Mulai besok, istriku tidak boleh keluar rumah. Jika Mama ingin memberikan kelas, supaya layak menjadi menantu, lakukan di rumah. Panggil semua tutor, untuk melakukannya di rumah, termaksud perawatan tubuhnya. Titik!"


Dave langsung pergi, setelah meluapkan amarah yang seperti menggunung dalam dadanya.


Rachel yang masih belum mengerti, mendekati sekretaris Tian dan ibu Lin.


"Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa kalian semua berbaris?"


Ibu Lin menceritakan semuanya dengan detail dan para pelayan ikut mendengarkan, hingga akhirnya mereka mengangguk paham. Mereka kini mengerti, dari mana sumber masalah ini berasal.


"Hahahaha .... " Rachel tertawa, membuat para pelayan bingung. Bisa-bisanya dia tertawa disituasi seperti ini. "Dave cemburu, bagus sekali. Ada kemajuan dan paling penting dia memarahi kalian bukan istrinya." Kembali tertawa.


Para pelayan hanya saling menatap, saat suara tawa Rachel menggema. Sepertinya, mereka akan sering mengalami hal ini nantinya. Menjadi tumbal untuk meluapkan kekesalan amarah tuan muda mereka.


Situasi sudah tenang seperti sedia kala, para pelayan mulai bekerja seperti biasa. Rachel yang sudah mengerti situasi, berjalan menuju ruang kerja Dave, dimana pria itu berada.


"Kau sedang apa?" Rachel sudah duduk di sofa, memperhatikan botol wine diatas meja.


"Pergilah, Ma. Jangan mengangguku!" usirnya, lalu meneguk wine.


"Kau mencintainya?"


Dave meletakkan botol dengan asal, menatap ibunya yang menunggu jawaban.


"Aku tidak tahu. Aku hanya tidak suka, dia dekat dengan pria lain."


"Itu artinya, kamu cemburu dan cemburu menandakan, kau sudah jatuh cinta padanya."


Dave tidak menjawab, ia kembali meraih botol wine, meminumnya sampai tandas.


"Jika kau mencintainya, perlakukan istrimu dengan baik. Selama ini, kau terlalu kasar dan mudah emosi."


"Dia meminta cerai, Ma."


"Tentu saja. Mama juga akan melakukan hal yang sama, jika sifat papamu seperti kamu. Kamu harus merubah semuanya Dave. Ingat! dendammu tidak memberikanmu apa-apa, selain kehancuran. Bahkan, Mama takut, bagaimana jika selama ini kamu salah!"


Dave membuka botol wine, menggantikan botol yang isinya sudah habis.


"Aku juga tidak tahu, harus bagaimana dan mulai dari mana. Aku berharap, dia orang yang melakukannya, jika tidak, ...." Glek, glek, kembali meminum wine. "Aku yang akan mati, karena rasa bersalah."


"Dave, mulailah dengan merubah sifatmu. Mama yakin, Arshila akan kembali melihatmu seperti dulu. Perbaiki semuanya sebelum terlambat dan sebelum ia semakin membencimu."


Setelah memberikan nasehat, Rachel pergi. Membiarkan putranya untuk berpikir dan merenung, akan semua ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2