Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 94. Perjalanan penuh kisah (2)


__ADS_3

Sudah satu jam perjalanan. Jalanan tampak sepi, hanya terlihat beberapa kendaraan yang melintas, melewati mereka. Rindangnya, pepohonan disisi sepanjang jalan, membuat pemandangan menjadi indah. Belum lagi, rerumputan dan ilalang yang bergoyang, membuat kedua mata tak berhenti untuk menatap dan berdecak kagum.


Arshila sedang tertidur, dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Dave yang selalu siaga, membiarkan tubuhnya menjadi sandaran sang istri.


Di kursi depan, dua orang yang sedang fokus, duduk membisu. Hanya terdengar, suara musik dengan volume kecil. Terkadang, mereka bergeser sedikit, untuk menghilangkan rasa panas dan penat, dibawah sana.


Mobil dibelakang mereka, masih terus mengikuti. Mobil yang mengangkut, para pengawal, untuk memastikan keamanan, majikan mereka.


Arshila menggoyangkan kakinya, menyingkirkan selimut, seperti merasa terganggu.


"Ada apa, sayang?" Dave kembali menyelimutinya.


Arshila menjatuhkan kepalanya, dipaha sang suami. Ternyata, ia sedang mencari posisi nyaman. Dave menaikkan kaki sang istri, diatas kursi.


"Anda butuh sesuatu, Tuan?" Dari kursi depan, pak Yus, menoleh, karena ada pergerakan dari kursi dibelakangnya.


"Tidak ada," jawabnya, sambil bersandar dengan salah satu tangannya, membelai rambut Arshila.


Jarak tempuh semakin jauh, tak terasa sudah tiga jam, mereka berkendara. Meninggalkan hutan, mereka memasuki perkampungan. Hamparan sawah terlihat sepanjang jalan. Rumah-rumah penduduk, yang dihalamannya ditumbuhi buah-buahan.


Arshila sudah terbangun, ia mengerjap dan merasakan sentuhan tangan sang suami, sedang membelai rambutnya.


"Kamu sudah bangun?"


Arshila mengangguk, lalu bangkit dengan bantuan sang suami.


"Minumlah." Dave menyerahkan botol minuman, yang diterima sang istri.


"Aku lapar." Menyerahkan kembali botol minuman.


"Tian, cari rumah makan."


"Baik, Tuan."


Ini memang sudah siang hari dan waktunya makan siang. Tian dan pak Yus, menoleh kiri kanan, sepanjang jalan. Siapa tahu, ada warung makan. Sementara, Dave memberikan kotak makan, untuk sang istri. Bekal dari rumah, yang disiapkan khusus untuknya.


"Aku ingin makan yang lain." Arshila menutup kotak makannya.


"Apa? Katakan!"


"Ikan."


"Ikan?" Dave kembali bertanya, dengan menatap ragu.


"Hmm."

__ADS_1


"Baiklah. Kita akan mencarinya."


Pencarian terus berlanjut. Hingga akhirnya, Tian berhenti, didepan rumah makan, yang sisi kiri dan kanan, adalah persawahan.


"Wow, indahnya." Arshila mematung, memperhatikan pemandangan disekitarnya.


Pemandangan yang sudah begitu lama, tidak dilihatnya. Bahkan, pemandangannya sekarang tidak banyak berubah. Hanya rumah penduduk saja, yang sepertinya bertambah banyak.


Arshila semakin tidak sabar, untuk segera tiba. Ia merindukan rumah orang tuanya. Meski, tidak bisa masuk, dapat melihatnya dari dekat saja, ia sudah sangat bersyukur. Ia juga tidak sabar, untuk mengunjungi makam orang tuanya. Banyak yang ingin, ia ceritakan dan mengeluarkan keluh kesahnya.


"Ayo, masuk." Ajak Dave, dengan menggandeng tangan istrinya.


Didalam rombongan, sudah memesan sesuai selera. Dave menunggu pesanan sang istri, karena akan mengikut saja.


"Aku ingin ikan bandeng bakar dan sayur lodeh. Terus, ikan masak asam."


"Ada lagi?" Arshila menoleh pada Dave.


"Aku ikut saja."


"Kalau begitu, aku mau sambal mangga muda, es teh. Semuanya, dua porsi."


"Baik, silahkan tunggu!"


Tak lama, makanan sudah tersaji diatas meja. Arshila mengirup dalam-dalam, aroma ikan bakar yang menggugah selera. Sambal mangga muda yang manis asam dan pedas, membuatnya meneguk air liurnya.


Perjalanan dilanjutkan. Kali ini, mereka kembali melintasi, jalanan sepi dan dipenuhi pepohonan. Hingga, tak terasa mereka sudah tiba.


Arshila menurunkan kaca mobil. Memperhatikan hamparan sawah yang masih menghijau, sepanjang jalan. Bahkan, meneteskan air mata, saat ingatannya mundur perlahan. Hidup dalam serba kekurangan, tapi ia tidak pernah mengeluh, apalagi meneteskan air mata.


Sekarang,


"Kamu baik-baik saja?"


"Aku ingin mengunjungi makam orang tuaku."


"Tapi, ini sudah sore. Bagaimana jika besok saja? Kita harus menuju penginapan."


"Sebentar saja. Aku mohon."


Dave tidak mampu menolak, permintaan sang istri. Karena, baginya, menenangkan Arshila adalah prioritas utamanya saat ini.


Dave segera memerintahkan Tian, menuju pemakaman umum. Yah, sebelum mereka datang. Dave sudah meminta sekretarisnya untuk mencari tahu, tentang kampung halaman dan makam kedua orang tua istrinya.


Hingga mereka, dapat dengan mudah menemukannya, jika berkunjung.

__ADS_1


Mobil belok kiri, sebuah lorong yang tampak seperti hutan. Jalanan berbatu dan sempit, yang hanya bisa dilintasi satu mobil. Tian memarkir mobil, sembarang. Karena tidak adanya, parkiran yang disediakan.


"Kita harus berjalan kaki, Tuan."


Dave mengangguk, lalu meraih tangan Arshila untuk mengikutinya. Tian, pak Yus dan para pengawal, mengekor dibelakang mereka.


Sekitar tiga meter, satu persatu, makam mulai terlihat. Gundukan tanah, yang ditumbuhi rerumputan, serta batu nisan yang menancap. Semua makam, tampak sama persis keadaannya. Karena, dipedesaan tidak ada penjaga makam, yang akan membersihkan. Hanya keluarga atau sanak keluarga, yang akan membersihkannya sendiri.


"Yang disana, Tuan." Tunjuk, Tian.


Mereka kembali melangkah. Dave tidak melepaskan pengawasannya, dari sang istri. Genggaman tangannya, semakin erat, karena baginya suasana ditempat seperti terlihat menakutkan, untuk istrinya yang sedang hamil.


Deg.


Arshila mematung. Makam kedua orang tuanya, tampak berbeda. Makam yang sudah dipugar. Ada buket bunga, yang bersandar dibatu nisan. Tampak juga, bunga-bunga, bertaburan diatas makam. Belum layu, sepertinya, diletakkan pagi tadi.


Arsya!!


Apa benar, itu kamu? Arshila membatin, sembari memperhatikan sekitarnya. Detik berikutnya, ia sudah menangis. Menjatuhkan tubuhnya, dengan memegangi batu nisan sang ibu.


Ibu, ayah, aku pulang.


Arshila terus menangis, bahkan ia tidak mampu berucap. Hanya air matanya, yang mengalir tanpa henti.


Ibu, ibu.


Arshila memegang dadanya, yang terasa sesak. Ia tidak mampu menahan, sesuatu yang seperti akan meledak dalam hatinya.


Dave panik, luar biasa. Ia memeluk sang istri, untuk menenangkannya.


"Sayang, tenangkan dirimu!"


Arshila tertunduk dalam. Ia ingin bercerita kepada orang tuanya. Tapi, ia tidak mampu mengeluarkannya, entah apa sebabnya. Ia hanya bisa menangis dan terasa tercekik.


Ibu, ibu. Aku merindukanmu. Maaf, aku baru menemuimu. Ayah, maafkan aku!


Suara tangis, Arshila semakin menyayat hati dan terdengar pilu. Ingatan akan masa kecil, bersama kedua orang tuanya, membuat Arshila terpukul. Ia merindukan saat-saat itu.


Ibu. Apa, Arsya sudah kembali? Apa dia yang meletakkan bunga untuk kalian? Maaf, karena aku tidak menjaganya dengan baik. Tolong, maafkan aku, karena aku sangat tidak berguna.


Aku merindukan kalian. Sangat merindukan kalian. Dan ibu, ayah, tolong jangan tanyakan, siapa dia. Karena dia, bukan siapa-siapa. Aku sudah kembali dan akan tinggal bersama kalian.


Arshila menaburkan bunga, yang ia terima dari pak Yus. Begitu juga Dave, melakukan hal yang sama.


Ibu, ayah. Aku Dave, menantumu. Maaf, jika kami baru menemui kalian. Kalian pasti membenciku, bukan? Aku berjanji akan membahagiakan putri kalian dengan baik. Aku berjanji, akan menjaganya seumur hidupku.

__ADS_1


Tolong, beri aku kesempatan, untuk membuktikannya.


__ADS_2