Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 117. Nasib Dimas


__ADS_3

Pagi ini, Nadia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Celana panjang dan kemeja abu-abu. Dibahunya, bertengger tas selempang dan sebuah map berwarna biru, ditangannya.


"Pagi, Bu."


Nadia sudah duduk, dengan sepiring nasi goreng diatas meja.


"Pagi, Non."


Seperti biasa, bibi ikut duduk di meja yang sama. Sarapan sebelum sang tuan putri terbangun.


"Ibuku akan datang, pagi ini. Dia akan menginap."


Rencana pagi ini, yang sudah ia susun sejak tiga hari yang lalu. Masalah status perceraian, yang selalu tertunda. Nadia masih bertekad, untuk menyelesaikannya dengan cara damai. Apalagi, atas saran presdir yang memintanya untuk menunggu, hingga semua terselesaikan dengan sendirinya. Ia tidak mengerti kalimat itu, tapi ia tetap melakukannya.


Nadia sudah berada dalam mobil, melaju menuju tujuan pertamanya. Mengunjungi Dimas dalam penjara. Ia membawa beberapa barang yang mungkin diperlukan pria itu. Tak lupa, ia juga membawa barang untuk ibu Dimas.


Ia tiba lebih cepat, karena lalu lintas cukup lancar. Setelah melapor dan dilakukan pemeriksaan, ia dipersilahkan masuk. Nadia menemui Dimas, sementara ibu Dimas berada di rumah tahanan berbeda.


"Nadia, kamu datang?" Dimas tersenyum lebar, dengan kedatangan sang istri.


Nadia hanya menatap lurus, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia bahkan tidak merasa iba, pada Dimas yang tampak tak terawat. Wajah kusam dan rambut berantakan, tubuhnya pun, perlahan mengurus.


"Aku membawakan beberapa barang yang mungkin kamu butuh." Nadia menyodorkan paper bag dan kantong plastik, meletakkan diatas meja.


Dimas tentu saja merasa senang. Nadia yang ngotot meminta cerai, ternyata masih memperhatikannya. Dimas bahkan sudah berpikir, jika sang istri sudah berubah pikiran.


"Terima kasih, sayang." Dimas membuka paper bag dan kantong plastik, untuk melihat apa saja isinya. Pakaian dan perlengkapan mandi, serta dua kotak makan.


"Sayang. Terima kasih. Aku memang membutuhkan ini. Aku hanya punya satu pakian ganti. Syukurlah, kamu membawakanku."


Nadia masih tidak berekspresi. Ia meletakkan dokumen, yang ia bawa.


"Tanda tangan, Mas."


Dimas tersentak, menatapnya tidak percaya. Senyum di wajahnya dan perasaan yang tadi sedang berbunga, lenyap seketika. Dia tidak berubah, dia masih ingin berpisah darinya. Apa kesalahannya, tidak bisa dimaafkan? Apa Nadia tidak bisa memberinya kesempatan sekali saja?


"Nad, tolong jangan lakukan ini. Aku minta maaf. Beri aku kesempatan." Dimas sudah mengiba.


"Kesempatan apa? Mas bahkan bersedia bercerai waktu itu, dengan jaminan uang dariku. Apa Mas lupa?"


"Nad, aku terdesak dan tidak punya pilihan."

__ADS_1


"Mas," sela Nadia, "Jangan bertele-tele lagi. Aku mau kita berpisah dengan baik-baik, tanpa jalur pengadilan. Kamu tahu betul, pengadilan akan mengabulkan gugatanku dengan keadaanmu sekarang."


"Nad." Dimas sudah bangkit. Marah dan sedih, bercampur menjadi satu.


"Aku akan menjaga putri kita dengan baik. Begitu juga dengan masa depan dua adikmu. Aku akan menjamin pendidikan mereka, sampai lulus. Anggap saja sebagai bantuan terakhirku."


Dimas kembali duduk. Dadanya bergemuruh, matanya terasa panas. Disaat seperti ini, kenapa Nadia tidak memiliki rasa iba sedikit pun padanya? Apa karena sudah tidak memiliki apa-apa, hingga sang istri mengeraskan hatinya seperti batu?


"Kenapa?" Dimas berusaha menahan diri, agar tidak berteriak. "Hanya karena, aku membohongimu. Kesalahan sekecil itu, apa tidak bisa kamu maafkan. Selama ini, aku mencintaimu dengan tulus."


"Kesalahan kecil?" Seringai muncul dibibir Nadia. "Dengan, memfitnah mantan istrimu. Dia menanggung semua kesalahanmu. Kau bahkan tidak peduli, bagaimana dengan hidupnya. Kesalahan kecil itu, tidak bisa aku maafkan, Kamu tahu, kenapa? Jika hidupku seperti mbak Arshila, kalian akan memperlakukan ku dengan sama. Itu bukan cinta, tapi memanfaatkan. Kalian hanya melihat seseorang dari status sosial."


Dimas tertunduk malu, tidak ada bantahan yang keluar dari mulutnya. Tangannya hanya terkepal erat, dengan napas naik turun, menahan gejolak dalam dadanya.


Cinta? Status sosial? Dia pun tidak tahu, apa memang, dia mengukur cintanya dari status sosial. Hanya saja, perasaannya berubah dalam sekejap pada Arshila. Saat wanita itu, menjadi sangat menyedihkan.


Nadia tersenyum mengejek. Apapun bantahanmu, kenyataan adalah fakta yang tidak bisa, kamu tutupi.


"Tanda tangan, Mas. Sebelum, waktuku habis dan aku berubah pikiran. Jika kita menyelesaikan lewat hukum, maka adik-adikmu, ...."


"Nadia," ujar Dimas dengan nada rendah. Tenggorokannya tercekat, yang membuatnya menarik napas panjang.


Ia menarik kertas selembar itu, meraih pena diatas meja. Tanpa menunggu lama, coretan diatas kertas sudah ia bubuhkan.


Entah ini takdir atau aku yang salah memilih jalan. Hukuman, mungkin terdengar lebih baik.


"Terima kasih. Aku akan membawa putrimu, saat berkunjung nanti." Nadia memasukkan kertas yang sudah ditanda tangan, dalam map.


"Apa kamu melakukan ini, karena aku sudah tidak memiliki apa-apa?" Terlontar juga pertanyaan itu. Selama ini, Dimas hanya mampu menanyakan hal itu, dalam hatinya.


"Aku melakukan ini, karena_"


"Karena apa?" Dimas sudah menatap tajam.


"Mungkin sudah saatnya, aku berkata jujur padamu." Nadia menyandarkan punggungnya. "Pertemuan kita, waktu itu bukanlah sebuah kebetulan. Tapi, sudah diatur. Aku bukanlah sekretaris dari Antara group, dari awal aku bekerja untuk presdir."


"Ma-maksudmu? Kamu?"


"Benar. Awalnya aku hanya diperintah, untuk memisahkanmu dengan Arshila. Tapi, perlahan aku jatuh cinta dan ingin menikah. Apalagi, ucapanmu padaku tentang mantan istrimu, membuatku semakin bertekad."


Dimas membeliak. Napasnya tercekat, terasa sesak dan menusuk.

__ADS_1


"Kamu, kamu ...." Tes, tes. Air mata Dimas jatuh begitu saja.


"Maaf. Awal pertemuan kita sudah salah, jadi aku mau mengakhirinya."


Dimas tidak menjawab. Ia hanya memukul dadanya, menahan marah dan kesedihan, yang mengaduk hati.


Nadia segera bangkit, satu langkah, ia berhenti, tanpa menoleh.


"Adik-adikmu, akan menjadi tanggung jawabku, sampai kamu bebas."


Ia lantas pergi. Sementara. Dimas menunduk dengan air mata yang berjatuhan.


Sakit, sangat sakit. Ia serasa hancur dari sebelumnya.


Presdir, presdir, pria itu, menghancurkan hidupnya dan Arshila. Dia membalas dendam pada kami berdua.


"Aku hancur."


Petugas membawa Dimas kembali masuk. Pria itu, pasrah. Sorot matanya hanya terlihat kekosongan. Ia berjalan, seolah berpijak diatas cangkang telur yang retak.


Nadia kembali melaju. Tujuannya, kali ini, menemui mantan ibu mertuanya.


Hanya sekitar sepuluh menit saja, waktu tempuh. Karena, jaraknya yang tidak jauh.


Seperti biasa, sebelum masuk. Nadia harus diperiksa, beserta barang bawaannya.


"Nadia, menantuku." Ibu sudah tersenyum.


Rambut putih mulai tampak, dibeberapa helai rambut ibu. Tak jauh berbeda dengan anaknya, ibu juga terlihat mulai kurus.


"Aku membawakan ibu pakaian dan makanan." Nadia meletakkan barang bawaannya diatas meja.


"Terima kasih, Nak."


"Ibu, aku mau minta maaf. Tolong, hiduplah dengan dengan baik dan belajarlah untuk menerima takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan."


"Ibu, paham, Nak. Ibu juga minta maaf. Ibu sekarang, sudah sadar dan merasa lebih damai."


"Aku sudah bercerai dengan Mas Dimas."


"Ap-apa?" Ibu tersentak.

__ADS_1


"Ibu jangan khawatir. Kedatanganku, untuk menenangkan ibu. Mira dan adiknya, aku akan bertanggung jawab, untuk masa depan mereka, sampai mas Dimas bebas.


Ibu sudah menangis. Cobaan, apa lagi ini? Ia pikir, semua sudah selesai. Bayangan akan berkumpul kembali, setelah bebas. Tinggallah, angan-angan belaka.


__ADS_2