
Sesuai saran Nadia, malam ini Dave mencoba mengutarakan niatnya. Sebenarnya, siang tadi, ia akan langsung mengutarakannya pada sang istri. Tapi, mendadak ia kedatangan tamu tak diundang dan tak diinginkannya.
Siang tadi, ia sudah memperjelas dan mempertegas status Arshila, pada Alexa dan Ellino. Ia juga meminta pada keduanya, untuk tidak ikut campur, karena mereka bukanlah siapa-siapa.
"Aku sahabatnya, sebelum dia bertemu denganmu." Alexa kala itu, tampak emosi karena Dave ternyata tidak mengijinkan mereka bertemu sang istri.
"Dan aku, suaminya," Desis Dave, "Aku minta kalian jangan pernah datang dan mencampuri urusan kami."
Akhirnya, siang tadi, petugas keamanan, memaksa keduanya keluar. Alexa sempat melawan, sementara Ellino hanya melindungi Alexa, tanpa mengucapkan apa-apa.
Makan malam sudah selesai, satu jam yang lalu. Dave menghampiri sang istri, yang tengah duduk bersandar, diatas tempat tidur. Wanita itu, membisu, menerawang, seolah terbebani dengan banyak pikiran.
"Kamu sudah meminum obat, sayang?"
Arshila hanya menghela napas, lalu menganggukkan kepala, tanpa menoleh sedikit pun. Ia sebenarnya ketakutan menghadapi sang suami, tapi amarah dan dendam yang menguasai hatinya, membuat rasa takut itu, menguap begitu saja.
Dave menarik kursi, duduk disebelah sang istri, membuat jarak diantara mereka.
"Apa kamu merindukan orang tuamu?" Dave berkata dengan nada yang begitu lembut.
Deg.
Arshila seketika menoleh, sorot mata menatap sang suami. Ia memang merindukan orang tuanya, sangat merindukan. Tapi, mengapa tiba-tiba sang suami, berkata demikian?
Lagi-lagi, ia tidak menjawab. Arshila segera memalingkan wajah. Memangnya, kenapa jika ia merindukan orang tuanya? Apa dia akan mengantarnya pulang kampung? Lucu sekali, batin Arshila.
"Aku akan mengantarmu pulang besok."
"Be .... benarkah?" Arshila seketika kembali menoleh, tidak percaya dengan ucapan Dave.
"Aku sudah meminta pak Yus, untuk mempersiapkan perjalanan kita besok."
Arshila masih tidak percaya, dengan semua ucapan sang suami. Ia terus menatap, saat Dave bangkit dari duduknya. Berjalan mengambil sebuah koper besar.
Pria itu, membuka lemari. Mengambil beberapa pakaian miliknya dan sang istri, mengaturnya dalam koper
"Apa yang kamu butuhkan diperjalanan, sayang?" tanya Dave. Ia ingin mempersiapkan kebutuhan sang istri dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
"Aku butuh pakaian dalam," jawab Arshila dengan sedikit ragu, bercampur malu.
Dave mengangguk, sembari tersenyum. Ia lalu mengambil benda yang dimaksud sang istri, memasukkannya dalam koper.
"Untuk obat, kita akan memasukkannya dalam tas. Agar, mudah mengambilnya. Kamu butuh apa lagi?"
"Perjalanan menuju kampungku sangat jauh. Mungkin, sekitar enam jam. Aku ingin membawa makanan dan buah."
Dave tersenyum, pertama kalinya mereka dapat mengobrol dengan baik. Apalagi, Arshila tampak antusias, menerima ajakannya.
Syukurlah!
"Aku akan meminta ibu Lin, menyiapkannya. Apa lagi, sayang?"
Arshila menggelengkan kepala. Ia tidak membutuhkan apa-apa lagi. Ia sedang bersemangat sekarang. Ingin tidur cepat, agar segera terbangun.
Sudah lama, ia tidak menginjakkan kaki di kampung halamannya. Jika diperkirakan, mungkin sekitar lima atau enam tahun. Ia juga merindukan rumah kedua orang tuanya, meski ia tahu, rumah itu mungkin sudah hancur atau dimiliki orang lain.
Tiba-tiba, cairan bening dari pelupuk mata Arshila menetes. Kesedihan datang menghampiri, saat teringat kehidupannya dulu. Ia memang hidup serba susah, tapi paling tidak, ia tidak pernah menangisi keadaannya. Ia masih tersenyum dan mensyukuri, setiap pemberian Tuhan.
Tapi, semua berubah saat, ia menikah dengan Dimas. Ia lebih sering menangis dan memendam kesedihannya, sendiri. Saat bertemu Dave, ia pikir semua akan berubah dan hidupnya akan membaik. Tapi, justru sebaliknya. Ia lebih banyak menumpahkan air matanya dan serasa ingin mati.
"Aku menyesal," ujar Arshila, yang meneteskan air mata, tanpa mengeluarkan suara tangisnya.
"Tentang apa?" Dave duduk diatas tempat tidur, tepat didepan sang istri. Menghapus air mata, diwajah Arshila.
"Seandainya, aku tidak pernah menginjakkan kakiku ditempat ini. Hidupku akan baik-baik saja. Aku tidak akan pernah bertemu Dimas dan bertemu denganmu."
Deg.
Dave langsung membawa Arshila dalam pelukannya. Mendaratkan kecupan dirambut sang istri dan mengelus punggungnya.
Ia mengerti, kenapa Arshila merasa menyesal? Hidupnya mungkin akan bahagia, jika ia tidak pernah bertemu dengannya. Ia hanya bisa, membuatnya menangis dan terluka.
"Maafkan aku, Shi. Aku benar-benar, minta maaf."
Arshila terus menangis dalam dekapan sang suami. Ia menumpahkan semua kesedihan dan kerinduannya, yang tersimpan dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku membencimu. Hiks, hiks, hiks. Aku membencimu."
"Maafkan, aku. Aku akan menebus kesalahanku."
Keduanya larut dalam tangis. Dave masih memeluk Arshila, dengan tangis yang belum reda. Hatinya merasa hancur, saat ini. Arshila menangis didepannya, berkata, jika ia membencinya.
"Maafkan, aku. Maafkan, aku!"
Hanya kalimat itu, yang mampu Dave ucapkan. Ia terus menenangkan sang istri, sembari mendaratkan kecupan berkali-kali, dipucuk kepala Arshila.
"Ini anakmu! Kenapa kamu meragukannya? Aku membencimu, hiks, hiks, hiks." Arshila benar-benar, menumpahkan semua beban hatinya yang tersimpan.
"Iya, dia anak kita. Maafkan aku. Dia anakku, anak kita," jawab Dave, dengan mengeratkan pelukannya.
Arshila semakin menangis, tersedu-sedu. Dave panik. Ia melepaskan pelukan dan menatap istrinya. Wajah Arshila dipenuhi air mata.
"Sayang, sayang," panik Dave. Ia menyingkirkan rambut rambut, di wajah sang istri. "Sudah, sudah." Menghapus air mata, lalu mendaratkan kecupan di dahi Arshila. "Aku mohon, sudahlah." Kembali memeluknya dengan erat.
Drama yang entah berakhir, jam berapa. Keduanya lelah menangis, hingga tidur berpelukan. Dave terus memeluk sang istri, dari belakang.
Dilantai bawah. Rachel sudah memberi perintah pada pak Yus dan ibu Lin. Untuk, mempersiapkan perjalanan anak dan menantunya besok.
Rachel yang ingin menemani, menantunya tidur. Mengurungkan niatnya. Ia terus berdiri didepan pintu kamar, memperhatikan suami istri yang tengah tangis-tangissan. Karena pintu kamar, tidak tertutup, ia bisa mendengar semua permbicaraan mereka berdua.
Rachel bahagia bercampur haru, melihat anak dan menantunya. Ia berharap, semuanya berakhir bahagia.
Setelah, memberikan instruksi, Rachel kembali ke kamar, memberitahu sang suami.
"Pa, besok, Dave akan mengantar Arshila pulang dikampung halamannya."
"Papa akan meminta Tian menemani mereka dan menyuruh beberapa orang untuk mengikuti mereka diam-diam."
"Pa," cemas Rachel, terlihat dari wajahnya.
"Ada apa, sayang? Mereka akan baik-baik saja. Berikan mereka waktu untuk bersama, agar Arshila dapat melihat ketulusan putra kita."
"Aku takut, bagaimana jika tiba disana. Menantu kita berubah pikiran."
__ADS_1
"Ma, Dave akan terus bersamanya. Percaya pada putra kita. Ada Tian yang akan terus mengabari kita dan orang-orang yang terus menjaga mereka.
Rachel membaringkan tubuhnya. Ia hanya merasa khawatir, apalagi hubungan anak dan menantunya, belum membaik.