
Tiga hari berlalu, dengan ketenangan. Kondisi Dave berangsur membaik. Ia sudah makan, meski terkadang masih merasa mual. Jarum infus yang menancap pun sudah dilepas, dari tangannya.
Semua berkat sang istri yang merawatnya, tanpa mengeluh. Menyuap, memberikan teh jahe untuk diminum. Mereka pun tidur seranjang, tanpa ada masalah.
Rachel dan para pelayan merasa sangat lega, dengan ketenangan dan kedamaian dalam rumah. Dave yang selalu bersikap kasar, kini berbicara dengan begitu lembut kepada istrinya.
Pagi ini yang cerah, Dave sudah bersiap kembali bekerja. Ia sudah berpakaian rapi, menunggu sang istri memakaikan dasi di lehernya.
"Kamu baik-baik, saja? Wajahmu memucat. Apa kamu lelah?" Dave tampak khawatir dengan Arshila yang mengulas senyum.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Sudah."
Dasi sudah terpasang dengan sempurna.
Di meja makan, Rachel sudah menunggu. Memperhatikan anak dan menantunya, yang terlihat bahagia.
"Mama akan keluar negeri pagi ini. Mama ingin menemui ayahmu, katanya dia sedang tidak enak badan."
"Modus." Dave menjawab singkat. Kembali mengunyah.
"Awas saja, jika terjadi apa-apa, pada istrimu selama mama pergi. Mama akan mengutukmu menjadi kotoran!!"
Rachel menunjuk-nunjuk putranya.
Rachell sebenarnya, tidak ingin pergi sebelum memastikan kehamilan sang menantu. Tapi Liam, terus membuat ponselnya tidak berhenti berdering. Suaminya merindukannya, beralasan tidak bisa tidur sudah beberapa minggu. Mau tidak mau, ia harus menemuinya.
Sarapan sudah selesai, mobil yang mengantar Dave barus saja keluar gerbang. Sementara, Rachel yang berpakaian rapi, berjalan bersama pak Yus yang mendorong kopernya keluar.
"Telpon. Mama jika terjadi sesuatu. Jangan diam saja! Mengerti!"
Arshila mengangguk, memeluk mertuanya sambil mengatakan agar ia berhati-hati.
Sebelum masuk mobil, Rachel menyampaikan sesuatu kepada pak Yus dan ibu Lin. Cukup lama, sampai ia kembali menengok kebelakang, menatap menantunya. Melambaikan tangan, sebelum mobil menghilang dari gerbang.
Semuanya kembali, beraktivitas. Begitu juga Arshila, yang sibuk dengan desain baju yang digambarnya. Ini tugas yang diberikan tutor untuknya, kemarin. Ia harus menggambar sebuah gaun pesta yang elegan dan berkelas. Bukan gaun pada umumnya, Arshila harus sedikit kreatif dengan membuat gaun yang sesuai dengan bentuk tubuhnya.
Didalam kamar, kertas berserakan dibawah meja. Majalah-majalah fashion, menumpuk. Ia berulang kali membolak balik halaman majalah, untuk mencari sebuah ide.
Blank.
Kembali mencoret coret kertas gambar, lalu menghapusnya lagi.
Arshila memijit kepalanya, yang tiba-tiba terasa pusing.
"Apa aku terlalu banyak berpikir?"
Pandangannya sudah berputar, ia menjatuhkan kepalanya diatas meja. Jika ia tidak sedang duduk, mungkin ia akan ambruk diatas lantai.
__ADS_1
"Nona." Ibu Lin masuk membawa potongan buah, meletakkannya diatas meja.
"Ibu Lin, bantu aku! Kepalaku sangat pusing dan aku ingin berbaring."
Arshila memaksa langkahnya, dengan tubuh yang goyah dan pandangan berputar. Perlahan, pandangannya jadi gelap.
"Nona, Nona," teriak ibu Lin dengan paniknya. Untung saja, ia menangkap tubuh Arshila, yang jatuh kebelakang.
"Pak Yus, Ica," teriak ibu Lin, berulang kali. Sampai akhirnya, dua orang itu muncul. Diambang pintu, mereka tersentak.
"Nona, kenapa?"
"Pak, siapkan mobil. Ica panggil pelayan lain, untuk membantu mengangkat Nona."
Ibu Lin menepuk-nepuk, wajah Arshila dengan lembut. Tapi, tidak ada tanda-tanda ia siuman. Kedua matanya terpejam dengan rapat dan wajahnya begitu pucat pasi.
"Cepat, Pak."
Supir segera melaju, menuju rumah sakit.
Ibu Lin mengelus rambut Arshila, yang terbaring diatas pahanya. Disebelah supir, pak Yus. menelpon sekretaris Tian.
Kurang dua puluh menit, mereka sudah tiba. Arshila didorong masuk UGD, menggunakan brankar. Dokter langsung melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana dokter?" Ibu Lin masih dalam mode panik.
Ibu Lin merasa bahagia, bahkan meneteskan air mata. Ia ingin segera memberitahu nyonya besar, tentang kabar bahagia ini. Karena ponsel beliau tidak aktif, ibu Lin hanya mengirimkan pesan singkat.
"Mana istriku?" Dave beru saja tiba, bersama Tian. Wajahnya diliputi kecemasan.
"Nona, masih didalam," jawab ibu Lin.
"Ibu, si ..." Sang dokter terperanjat, melihat siapa yang sedang menunggu dibalik tirai. "Tuan."
"Bagaimana istriku?"
"Istri?" Bingung dengan kata istri yang dimaksud Dave. Sepengetahuan mereka, pria itu belum menikah. "Ah, itu, kami akan melakukan USG sekarang. Nona juga sudah siuman."
Diatas brankar, Arshila memegang erat tangan Dave. Dibelakang Dave, ibu Lin ikut melihat layar USG karena ingin menunjukkannya ada nyonya besar.
"Lihatlah, ini!" Dokter menunjukkan sebuah gumpalan didalam rahim Arshila yang berdetak.
"Itu apa?" tanya Dave, yang belum mengetahui kehamilan dan istri.
"Ini Janin, Tuan. Selamat Nona sedang mengandung."
Duarr!!
__ADS_1
Waktu disekitar Dave, seakan berhenti. Sebuah ledakan besar, menghantam jantungnya. Mata yang diliputi kecemasan berubah tajam, apalagi menatap senyum bahagia sang istri. Dave menjatuhkan tangannya, mengepalkan erat jari-jarinya. Ia langsung keluar, tanpa mengatakan apa-apa.
Ibu Lin yang memanggilnya, tak terdengar di telinganya. Amarahnya serasa akan meledak, jika tinggal lebih lama.
Aku tidak pernah menyentuhnya, tapi dia hamil. Kau luar biasa, Arshila. Kau benar-benar perempuan murahan. Membawa anak dari luar dan tersenyum bahagia, seolah itu milikku. Brengsek!
Bugh.
Dave mendaratkan kepalan tangannya, disebuah pohon yang berada diparkiran. Deru napasnya memburu beriringan detak jantungnya yang melebihi normal.
"Tian, cari tahu hubungan Arshila dan Ellino! Temukan semuanya, dimana mereka selama ini."
"Baik, Tuan."
Kita sudah baik-baik sekarang, tapi lagi-lagi kau mengecewakanku seperti sebelumnya. Kau terlalu menganggap tinggi dirimu. Kau meminta kematian, akan aku berikan!
Didalam ruangan, Arshila meneteskan air mata karena merasa bahagia. Tuhan memberinya lagi kesempatan, untuk memiliki anak yang bisa ia peluk setiap harinya.
"Nona, sebaiknya Anda banyak beristirahat! Anda pingsan hari ini, karena mengalami anemia."
Dokter memberikan secarik kertas pada ibu Lin. Sebuah resep obat dan vitamin, yang harus ditebus diapotik.
"Terima kasih, dokter."
Arshila masih terus tersenyum, sambil mengelus perutnya yang masih rata. Berbeda dengan ibu Lin yang cemas luar dalam. Ingatannya mundur, pada wajah Dave yang terlihat tidak suka dan tidak terima dengan kehamilan sang istri. Bukankah, ini adalah yang di tunggu-tunggu selama ini? Bayi pengganti yang sudah tiada.
Ibu Lin ikut mendorong brankar, menuju ruang perawatan. Pikirannya masih kalut.
"Nona, silahkan istirahat. Saya harus keluar sebentar, menemui pak Yus."
Arshila mengangguk.
Di lobi rumah sakit, pak Yus duduk menunggu.
"Pak."
"Bagaimana dengan Nona?"
"Dia baik-baik saja. Saya ingin meminta tolong, agar manajer Grace datang membantu menemani Nona."
"Memangnya, ada apa?"
"Nona hamil, tapi sepertinya, tuan muda tidak menyukai kehamilannya. Dan itu membuatku cemas."
"Baiklah, saya akan bicara dengan tuan muda. Lalu, bagaimana dengan nyonya besar?"
"Saya belum menyampaikannya, beliau masih diperjalanan dan masih butuh istirahat. Aku akan menyampaikannya, jika keadaannya membaik."
__ADS_1
Mereka berpisah dilobi rumah sakit. Ibu Lin kembali ke ruang perawatan, sementara pak Yus, harus pulang ke rumah.