Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 89. Saran Nadia


__ADS_3

Si kecil Nadin sudah terbangun dan ibu Lin mengantarnya menuju kamar Arshila.


"Nona."


Arshila dan Nadia menoleh bersama. Ibu Lin meletakkan putri kecil diatas tempat tidur. Tapi, ia berjalan menuju ibunya, yaitu Nadia. Ibu yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.


Suasana ini, membuat Nadia merasa sedikit tidak enak. Bagaimana pun, Arshila adalah ibu kandung putrinya.


"Sayang, itu ibumu," ujar Nadia, yang meletakkan Nadin diatas tempat tidur.


"Tidak apa. Kamu adalah ibunya. Meski, aku yang melahirkannya. Tapi, aku adalah orang asing baginya. Dia memanggilku ibu, itu sudah lebih dari cukup."


Ada perasaan getir, saat kalimat itu meluncur di bibir Arshlia. Kenyataan yang tidak bisa ia ubah. Tapi, ia sudah cukup bersyukur, sang putri sudah bisa memanggilnya ibu dan mau memeluknya.


Arshila menghapus air matanya. Ia tersenyum menatap putrinya, yang berada dalam pelukan Nadia.


"Mbak. Maaf, aku sangat menyayangi Nadin. Maaf, jika aku tidak bisa mengembalikannya padamu."


"Kamu bicara apa?" Arshila tersenyum. "Aku tidak akan mengambilnya darimu. Dia bahagia bersamamu. Kamu menyayangi dan mencintainya, sudah cukup untukku. Aku hanya berharap, kamu bisa mengizinkanku bertemu dengannya."


"Tentu saja, Mbak. Dia juga putrimu."


Nadia kembali meletakkan Nadin, diatas tempat tidur. Lalu, berjalan menuju meja, mengambil vitamin yang sudah disiapkan dokter.


"Terima kasih." Arshila langsung meminum obatnya dengan segelas air.


"Sama-sama, Mbak."


"Apa mas Dimas, tahu kamu berada disini?"


Nadia tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelas terlebih dahulu. Dan mengambil nampan dari tangan Arshila, meletakkannya diatas meja.


"Tidak, Mbak." Nadia duduk disamping putri kecilnya. "Aku dan mas Dimas akan bercerai."


Arshila terkejut. Nadia adalah wanita yang dicintai mantan suaminya. Nadia juga yang membuat Dimas meninggalkannya dalam penjara.


"Aku dan mas Dimas tidak sengaja bertemu waktu itu. Aku masih memiliki perasaan padanya, hingga begitu percaya semua ucapannya."


"Lalu, bagaimana dengan putri kita? Dia tidak akan membiarkanmu merawatnya."


"Mbak, tenang saja. Secara hukum, Nadin adalah putriku. Dan aku akan memperjuangkan hak asuh anak."

__ADS_1


"Baiklah. Aku mendukungmu."


Nadia membalas dengan senyuman. Percakapan mereka terhenti, saat Dave masuk dalam kamar.


"Saya permisi, Nona." Nadia keluar dari kamar.


Suasana mencekam kembali tercipta. Arshila membisu dan memalingkan wajah. Padahal, sang suami sedang menatapnya dengan senyum yang hangat.


"Kamu pasti bosan. Apa kamu mau keluar jalan-jalan?"


Memang benar, ia merasa sangat bosan. Sebelumnya, ia sudah terkurung dalam rumah. Ketika ia siuman, ia kembali berada pada keadaan yang sama. Tapi, kemana bajingan ini akan mengajakku? Batin Arshila memaki, meski saat ini nyalinya masih menciut.


Arshila membisu, hanya menatap jendela. Kebebasan yang ia harapkan, ada diluar sana. Meski. Ia tertarik dengan ajakan Dave. Tapi, ia memilih untuk mengabaikannya.


Sementara, Dave tidak menyerah. Ia duduk disamping Arshila yang sama sekali, tidak menatapnya. Ia masih tersenyum hangat dan menahan diri untuk tidak menyentuh sang istri.


"Bagaimana kalau kita berkeliling kota dan membeli makanan? Apa kamu mau makan sesuatu diluar, sayang?"


Arshila tersenyum getir, mendengar ajakan Dave. Dulu, ia begitu mengharapkan hari ini akan tiba. Sekarang, ia tidak menginginkannya lagi. Sudah terlambat!!


"Aku sudah tidak menginginkan apapun darimu!" jawab Arshila, dengan sorot mata tajam. "Apa kau tidak lelah dengan sikap barumu?"


Arshila tertawa bercampur tangis. Ia memukul dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak.


"Kesempatan?" ujar Arshila dengan nada rendah, "Untuk apa? Untuk menyiksaku lagi? Hidup bersamamu, membuatku ingin mati setiap hari. Aku lelah, aku ingin bebas. Tolong, lepaskan aku!"


Dave mengepalkan tangannya. Didepannya, Arshila berurai air mata bercampur amarah yang meluap-luap.


"Aku akan memberikanmu segalanya, kecuali perpisahan."


Dave memilih keluar kamar, dengan perasaan bergemuruh. Ia sedang mencoba menahan dan mengendalikan emosinya. Tidak, tidak boleh. Jangan bodoh, dengan berteriak padanya! Kau pantas, mendapatkannya.


Dave bersandar, pada daun pintu yang sudah tertutup. Ia masih bisa mendengar suara tangis, sang istri dari dalam. Dave memejamkan mata. Apa benar, aku tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Aku harus bagaimana, agar kamu percaya padaku.


"Tuan."


Dave menoleh. Nadia berada didepan kamarnya.


"Ikut aku!"


Nadia mengikuti langkah Dave, menuju ruang kerja.

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Nona bertanya tentang pertemuanku dengan Dimas. Apa sebuah kebetulan atau tidak?"


"Maksudmu, dia mencurigai pernikahan kalian?" Dave menjadi gelisah. Ia bisa tamat, jika Arshila mengetahuinya.


"Benar, Tuan. Tapi, saya sudah menyangkalnya."


"Terima kasih." Dave bernafas lega, dengan jawaban Nadia.


"Tuan, maaf. Bukan saya ingin ikut campur. Saya hanya ingin memberi saran."


"Apa itu? Katakan!"


"Bagaimana jika Anda mengajak nona, pulang dikampung halamannya?"


"Pulang kampung?" Dave mengerutkan alisnya.


"Benar, Tuan. Suami saya pernah mengatakan, nona memiliki kampung halaman tempat ia dilahirkan. Dan disana, juga kedua orang tuanya dimakamkan. Dalam keadaan, seperti ini, nona pasti merindukan kedua orang tuanya. Dan saya yakin, nona tidak akan menolaknya, jika Anda mengajaknya pulang."


Senyum Dave mengembang. Kenapa ia tidak pernah memikirkan hal ini? Dasar bodoh, kau memang tidak tahu apa-apa, tentang istrimu. Dave mengutuk dirinya sendiri.


Ia segera bangkit, meraih tangan Nadia. Ia benar-benar, puas dengan saran sekretarisnya yang satu ini.


"Terima kasih, banyak. Nadia. Terima kasih."


"Sama-sama, Tuan." Nadia ikut tersenyum, mendapat ucapan dari atasannya. Untuk pertama kalinya, Dave berterima kasih padanya dengan tulus.


Setelah, Nadia pergi. Dave meraih ponselnya. Menelpon sekretaris pribadinya, untuk mencari tahu tentang kampung halaman Arshila. Ia sungguh tidak sabar, untuk mengatakan ini pada sang istri. Mungkin, hubungan mereka bisa membaik, jika mereka berdua melakukan perjalanan panjang. Ia berharap, kampung halaman Arshila, bermil-mil jauhnya.


Didalam kamar, Arshila memeluk kedua kakinya. Menopang kepalanya, diatas lutut, sembari berurai air mata.


Kata-kata Dave, terngiang dalam pikirannya. Anakku, tidak membutuhkanmu. Arshila mendoktrin pikirannya. Dari awal, kau tidak mengakui dan menginginkannya. Sekarang, kau mencoba mendalami peranmu, sebagai suami dan ayah yang baik. Maaf, aku tidak akan tertipu dan menjadi bodoh, untuk kesekian kalinya.


Arshila menatap keluar. Panas matahari, menerpa diluar sana. Ia merindukan kehidupannya yang dulu. Kehidupan sebelum, ia bertemu dua pria yang menghancurkan hatinya. Ia ingin bebas dan bekerja seperti dulu. Ia tidak menginginkan cinta dan kasih sayang lagi. Hatinya sudah mati, untuk hal yang tidak berguna.


Aku ingin memulai hidup baru, bersama anakku. Ayah, ibu, aku ingin pulang. Aku ingin kembali, meski aku tahu, aku tidak memiliki rumah, dan tempat tinggal. Tapi, aku ingin mencobanya.


Ibu, ayah, aku ingin pulang.


Suasana kamar, menjadi mendung.

__ADS_1


__ADS_2