Dendam Sang Putri

Dendam Sang Putri
Sebuah Bukti!


__ADS_3

Booom!!! Ledakan terjadi ketika mantra pembuka segel Kekai di ucap seseorang. Asap putih sisa ilusi Kallen akhirnya menyeruat ke segala arah, hingga sampai saat nya tiba, asap itu mulai menipis dan pudar.


"Sial! Siapa yang menggagalkan rencana pemburuanku hingga tiga kali! Ini sudah keterlaluan!" Marah Kallen menghempas kepalan lengan nya ke arah batang pohon besar di sampingnya. Sedangkan Hanbu hanya bisa terdiam memegangi dagunya.


"Kenapa ini terasa sangat kebetulan sekali? Dari aroma nya saja sudah tercium bau wewangian milik Raja iblis. Tapi aku sama sekali tak menemukannya di mana pun... Tapi mana mungkin itu dia? Bukankah raja iblis sendiri yang ingin membunuh pendekar kerdil itu?" Bathin Hanbu mengguman. Ia mulai menyelidiki sisa pertarungan Satsuki melawan Kallen tadi.


Jika Kallen tengah membudalkan amarahnya ke segala arah, maka berbeda dengan Hanbu. Ia menyelidiki setiap sudut hutan tersebut. Langkahnya terhenti di sebuah panah milik Kallen yang salah sasaran beberapa menit yang lalu. Panah itu tertancap di kaki pohon palem merah.


"Panah ini..." Bisik Hanbu mulai meraih panah tersebut. Tak di sangka sesuatu yang ia kenali tertancap di tengah-tengah anak panah itu.


"Bukankah ini tusuk rambut milik..." Hanbu menarik sebuah tusuk rambut berwarna kuning keemasan itu. Ia menatapnya sekasama, bahkan ada rasa kecewa di hatinya. Meski seluruh orang memakai tusuk rambut di jaman itu, tapi tak ada satupun yang memiliki tusuk rambut se istimewa yang ia pegang saat itu.


"Ini sungguh tidak mungkin! Junjunanku, tak mungkin mengecewakan para pengikutnya seperti ini..." Bathin Hanbu kesal. Ia mulai meremas tusuk rambut itu di lengannya, hingga lengannya terluka dan meneteskan darah.


Clak! Sesaat, Hanbu merasa sakit di ulu hatinya, Kallen pun datang dan mendekati Hanbu "Jendral, ada apa denganmu?" Tanya Kallen, Hanbu panik dan segera menyembunyikan kepalan tangannya di belakang punggungnya.


"Tak ada apapun... Lekas kembali ke posisimu, jangan biarkan Ukkoni kelelahan atas mahluk yang tak berguna itu..." Pinta Hanbu. Kallen memiringkan kepalanya, ia tampak keheranan pada sesuatu.


"Jendral, apakah kau menemukan sesuatu?" tanya Kallen ragu-ragu. Hanbu pun kaget hingga ia pun mengelak.


"Tidak, aku tak menemukan apapun. Lekas pergilah, jangan biarkan Ukkoni sendirian..." Pinta Hanbu kembali. Kallen yang masih ragu pada Hanbu pun mulai mundur dan memutar langkah menuju Ukkoni dan bayangannya. Sedangkan Hanbu hanya bisa mengeluarkan benda yang ia sembunyikan rapat-rapat dari Kallen.


Tusuk rambut itu adalah barang berharga pemberian Hanbu untuk sang Raja iblis saat ia terbangun dari tidurnya (Bangkit) Puluhan tahun yang lalu ia siapkan eksesoris keperluan sang Raja iblis. Meski ia harus mencuri pusaka-pusaka langit dan meleburnya menjadi beberapa tusuk rambut itu. Tapi ia sangat bangga ketika sang Raja iblis dengan senang hati mau memakai permberiannya yang tak seberapa itu. Tapi kali ini, Hanbu sungguh kecewa, ia tak menyangka jika pmilik tusuk rambut itu akan berhianat secara diam-diam.


"Raja iblis? Jika kau ada di balik semua ini... maka aku tak akan segan memberontak di belakangmu. Demi meluruskan ambisiku... membangkitkan para klan iblis dan menguasai seluruh daratan ini!" Bathin Hanbu penuh obsesi. Kallen segera masuk ke formasi dan mulai menyerap kekuatan sang Rubah. Detik-detik terakhir sang rubah dalam sebuah 'jaring ia terlihat sangat lemas.


"Sekaranglah Saatnya" Ucap Ukkoni, Kallen mulai melepas kertas mantra pengikat bast spirt.


"Masuklah!" Ucap Kallen seraya menunjuk dua jemarinya ke arah kertas mantra itu.


Whuuuassshh! Tubuh sang rubah itu nampak sangat lemah ketika sedikit-demi sedikit tubuhnya menyusut dan hendak masuk ke dalam kertas mantra itu.


PAWWW! kini tubuh besar sang rubah mulai berpindah ke tertas mantra penyegel Best spirt. Setelah berpindah, best spirt itu hanya berubah menjadi gulungan bola besar berwarna merah muda.


"Hahahahhaha, tak berhasil membunuh pendekar kerdilpun tak apa, tapi aku pun punya hadiah yang cukup istimewa untuk ku serahkan pada sang Raja iblis kegelapan... Hahahahahah... aku sungguh puas" Ucap Kallen berbangga hati. Ukkoni yang melihat ke suksesan Kallen hanya bisa diam seraya mendelik.


Sedang Hanbu masih terdiam dengan seribu pertanyaannya.


***


Di tempat lain...


"Turunkan aku!" Pekik Satsuki memberontak, Ahirnya kuda hitam yang di tunggangi pria berambut perak itupun berhanti di hulu sungai.

__ADS_1


"Maaf..." Ucap pria tersebut. Satsuki abai dan tak mengucapkan terimakasihnya.


"Heh. Pengganggu! Kau mengacaukaukan pertarunganku!" Pekik Satsuki seraya mulai turun dari kuda hitam itu.


"Tunggu, kenapa kau terburu-buru pergi, bukankah aku telah menolongmu? Hampir saja kamu mati" Gumam sang penolong itu membahas aksi heroisnya.


Satsuki mendelik dan membuang wajahnya "Ini bukan urusanmu!" Pekik Satsuki mulai berjalan ke arah ia datang tadi.


"Sombong sekali dia... tapi entahlah, aku suka..." Bathin Pria ituu.


"Tunggu, jangan kembali ke sana. Bukankah di sana cukup berbahaya?!"Tanya Pria tersebut.


"Heh! Bahaya atau tidak, ini tak ada hubungannya denganmu" Satsuki segera melompat ke arah batang pohon dan menghilang.


Syut! Syut! Syut! Sang Pria penolong itu hanya bisa terdiam dan tak bisa melakukan apapun.


"Dasar gadis keras kepala, padahal aku begitu khawatir padanya, tapi syukurlah... meski tak ku cium bau arooma Satsuki yang dulu. Tapi nampaknya, Satsuki tetaplah gadis keras kepala dan ceroboh seperti dulu..." ucap pria itu seraya terkekeh.


***


Syut! Syut! Syut! Satsuki melompat secepat mungkin menuju tempat pertarungannya tadi. Selang beberapa waktu, iapun sampai. Namun nampaknya semua sudah terlambat. Huli Jing telah hilang, Satsukipun sungguh kecewa di buatnya.


"Sial! Aku sungguh terlambat, ini gara-gara si perrak itu!" Bathin Satsuki menggumam. Ada rasa keceewa di hatinya.


"Kemana aku mencari Huli Jing sekarang?!" Tanya Satsuki menyimak sekeliling. Tapi ada persaan acuh juga di hatinya "Tunggu sejak kapan aku perduli pada mahluk itu!" Bathin Satsuki. Karna ia tak menemukan tanda-tanda Huli Jing, akhirnya ia pun melanjutkan perjalanannya menuju kota kematian. Ia melangkah sangat cepat agar tak membuang-buang waktu.


***


Di tempat lain...


"Hmmm... sangat cantik, warna apa yang cocok untuk mempoles kalian?" Tanya sang Raja iiblis. Suasana hati sang raja iblis sangat baik sekarang. Hingga ia menampakan senyum terbaiknya.


Tak lama setelah ke datangan sang Raja iblis, Kallen Hanbu dan Ukkoni pun mulai bermunculan.


Whuuushhh!


"Ooh. Kalian sudah datang...?" Tanya Sang raja iblis menyapa.


Hanbu, Kallen dan Ukkoni segera bersimpuh dan memberi hormat pada sang raja iblis itu.


"Hormat kami paduka..." Ucap Kalleen.


"Berdirilah... Apa yang kalian bawa untuk hadiah ku?" Tanya Sang raja iblis itu.

__ADS_1


Kallen sangat bersemangat, ia mulai maju dua langkah dan bersimpuh kembali. Kallen mengeluarkan Huli Jing yang telah tersegel itu di bawah tangga singgah sana sang raja iblis itu.


"Hormat yang mulia, Hamba mendapatkan hadiah terbaik untuk anda, ini adalah rubah berekor sembilan. Jika di buat sup, maka anda akan awet muda dan panjang umur..." Ucap Kallen bangga saat menyerahkan hadiah itu pada sang Raja iblis.


"Wah. Sungguh hadiah yang istimewa. Aku suka.. kau sungguh berguna bagi klan mu. Kallen" Ucap sang Raja iblis. Kallen suungguh senang mendapat pujian itu, hingga dia segera berdiri lalu menyerahkannya. Kallen pun kembali ke tempatnya.


"Ukkoni, mana Sakkon? Bukankah kalian bersama?" Tanya Raja iblis. Ukoni kaget dan segera bersimpuh.


"Ampun Raja iblis, Kami tidak bisa menyelamatkan Sakkon. Pendekar berjubah hitam itu sangat kuat hingga kami keewalahan... lalu Sakkon, kami tak bisa menolongnya" Ucap Ukkoni dengan wajah menyedihkan.


"Berdirilah... kau tak bersalah, yang salah adalah pendekar bertubuh kerdil itu. Oh, ia.... hadiah apa yang kau bawa?" Tanya Raja iblis menadahkan jemari lentiknya.


Ukkoni segera mengeluarkan berbagai buah dari cincin ruangnya.


"Yang mulia, hamba membawa buah teratai merah, ini sangat cocok untuk anda, hamba memetiknya di kebun obat milik Liang Chu. Bunga teratai merah ini berumur dua ribu tahun. Dan sangat berkasiat memanjangkan umur, juga memepercantik kulit yang mulai" Ucap Ukkoni.


"Sungguh kasiat yang bagus. Bawakan itu kemari, aku akan segera membuat sup dan beberapa garam batang (sabun) untuk membersihkan diriku"Ucap Sang raja iiblis, Ukkoni pun senang. Ia menyerahkan hadiah itu ke arah sang raja iiblis itu.


"Hanbu... kau bawa hadiah untukku?" Tanya Sang Raja iblis. Hanbu mengangguk.


"Apa itu? Aku tahu hadiah darimu adalah yang paling istimewa untukku" Ucap Sang raja iblis.


"Maaf yang mulia, hamba tak bisa memberikan apapun selain barang kesayangan anda" Ucap Hanbu mulai bersimpuh, lenganya memegangi kotak hitam kecil. Raja iblis sungguh peenasaran dengan apa yang di bawa hanbu.


"Apa itu? Bawalah kemari..." Hanbu berdiri dan segera melangkah maju menaiki satu persatu anak tangga menuju singgah sana sang raja iblis.


"Bukalah yang mulai, anda pasti tahu apa isinya..." Ucap hanbu. Raja iblis segera membukanya dan ia pun tercengang.


"Tusuk rambut?" Tanya Raja iblis tak sadar.


"Ia yang mulia, hamba yakin anda menjatuhkannya di sembarang tempat" Ucap Hanbu. Raja iblis terpancing dan mulai memegangi rambutnya.


Deg!


"Tusuk rambut istimewa ini, mana mungkin aku berani menjatuhkannya" Elah sang Raja iblis. Ia mulai sedikit gelisah. Sebab mau bagai mana pun juga, Hanbu tetap mencurigainya sebagai penghianat.


"Mengelaklah... tapi jangan sampai kami menjadi musuhmu. Raja iblis" Bathin Hanbu menggumam.


"Aku tak akan lupa. Baiklah, aku akan membersihkan diri dulu. Tusuk rambut ini akan ku simpan baik-baik dan tak akan pernah ku jatuhkan lagi" ucap Raja iblis seraya menghilang.


Whuuussshh..


Next episode Guys... Minal aidzin walfa idzin Guys. ini novel special idul fitri, mooga berkenan di hati kalian yups. Jan lupa klik like yang banyak biar autor semangat ya. Btw di Next episode, kita bakalan ketemu lagi sama Lee dong feng.

__ADS_1


Yang penasaran tunggu kelanjutannya sampai autor punya kuota yups. See You bye...


Bersambuung...


__ADS_2