
Dendam sang putri
-Bayangan-
Setelah kebangkitan Nae Jime, seluruh keadaan sangatlah berbeda. Ketenangan sedikit-demi sedikit mulai pudar. Setiap hari, saat petang mulai menyambut malam. Aura klan iblis dan siluman terasa sangat kental di area kota hidup klan manusia.
Seluruh kota tampak sepi, masyarakat awam nampak sibuk bersembunyi karna takut dan terancam. Keadaan makin kacau, hingga seluruh kerajaan di buat resah, sebab jika keadaan tersebut terjadi terus menerus, maka lambat laun umat manusia akan mengalami kemusnahan akibat kelaparan dan matinya sistem perekonomian.
Kerajaan Kui...
Pangeran Qiang Gu sangat resah dengan keadaan tersebut, apa lagi saat ini. Ia tak tahu keberadaan putri Satsuki ada di mana. "Putra mahkota, ada apa? Kenapa kau sangat gelisah?" Tanya Permaisuri Ling ling. Qiang Gu menoleh, tangannya ia gulung di belakang punggungnya. Exspresi resah melilit wajah tampannya "Ibunda, aku sangat resah. Aku bahkan tak tahu keberadaan putri Satsuki ada di mana... aku sangat khawatir, apakah dia akan baik-baik saja?" Keluh Qiang Gu. Permaisuri yang mendengar langsung ke jelasan tentang putri Satsuki mulai tersenyum.
Ia sematkan senyum tersembunyi itu. 'Hem, anak haram itu mati? Heh! semoga saja mati! baguslah... jika begitu, aku tak akan merasa cemburu lagi. Ini sangat sesuai dengan keinginanku, tanpa harus menyentuhnya. Rupanya banyak sekali orang yang ingin ia tewas. Hahahaha" Bathin Permaisuri Ling ling. Qiang Gu yang tak sengaja menatap ibunya mulai menuadari sesuatu. Qiang Gu membaca jelas raut wajah ibunya yang sedikit menyematkan senyum di tengah resah hati anaknya itu.
__ADS_1
"Ibu, ada apa?" Tanya Qiang Gu tiba-tiba. Permaisuri Ling ling kaget hingga ia terperanjat "Ah... Anakku, nampaknya kau lelah, segeralah istirahat, besok kita akan ada pertemuan besar terkait penyerangan klan iblis" Permaisuri salah tingkah, ia pun memilih undur dari faviliun milikputra mahkota.
SREEEERRRTTT Suara pintu kayu di seret. Kini pangeran Qiang Gu mulai terduduk dan memijat-mijat kepalanya yang terasa pening.
"Haaah... putri Satsuki? Sebenarnya, siapa dirimu? kenapa banyak sekali rahasia yang tak aku ketahui, bukankah kita ini saudara? Tapi kenapa kau asing sekali bagiku?" Bathin Qiang Gu resah.
Tok! Tok! Pintu berbalut kertas di ketuk pelan. Sebuah bayangan di balik pintu tersebut mulai memapangkan bentuk tubuh seorang wanita.
"Kakak ini aku!" Pekik Sang tamu. Sadar bahwa itu adalah adiknya Qiang Gu mulai mempersilahkannya masuk "Masuklah" Qiang Qia pun masuk dan segera melangkah ke samping kakaknya yang sedang dilema.
"Apakah dengan terus memikirkan putri Satsuki, ia akan kembali begitu saja?" Tanya Qiang Qia kembali, Tak ada jawaban dari Qiang Gu. Qiang Qia pun mulai duduk di samping kakaknya "Kak, jangan terus terpuruk dalam masalah ini. Kerajaan kita sedang sangat genting sekarang. Bukan hanya kerajaan kita, tapi juga nasib seluruh rakyat yang ada di daratan ini. Mereka akan menderita jika kita tidak bertindak. Sebaiknya kakak pikirkan masalah ini juga. Aku tahu, kakak adalah kakak terbaikku. Kau pasti bisa menyelesaikan seluruh persoalan ini" Qiang Qia berdiri dan mulai pamit. Ia tak ingin menoleh dan menatap wajah kakaknya yang di tekuk itu.
Saat Qiang Qia hendak membuka pintu, Qiang Gupun menghelan napas panjang tampak kesal "Adik... aku, maafkan aku. Sekarang beri waktu beberapa jam untuk ku. Aku ingin sendiri untuk saat ini, bisakah kalian mengerti?" Tanya Qiang Gu, Qiang Qia pun mengangguk, Ia menoleh dan tersenyum "Ia kak, aku akan menghargai keinginanmu. Haah, aku tak pernah mengerti. kau sungguh terlalu baik pada siapapun. Bahkan aku sedikit iri pada putri Satsuki" Qiang Qia menerusakan langkahnya hingga menggeser pintu faviliun kakaknya itu.
__ADS_1
Saat Qiang Qia mulai berada di luar. Beberapa dayang tiba-tiba berhambur dengan langkah tergesa-gesa. Qiang Qia heran hingga menghentikan langkah beberapa dayang itu "Tunggu! Ada apa? Kenapa kalian berjalan tergesa-gesa?!" Tanya Qiang Qia risih. Seorang pelayan menoleh "Putri, kaishar Zhang akan memanggil beberapa tabib kerajaan Kui untuk menyandangi kerajaan Tang besok, jadi kami harus segera menyiapkan keperluan para tabib istana" Jelas sang dayang, Qiang Qia pun berdegug.
"Untuk apa? Bukankah kita juga punya seseorang yang terluka parah?" Tanya Qiang Qia.
"Tapi, nyawa pangeran Tang Yuan Cheng sangat berharga. Itu sebabnya, Kaishar Zhang mengirim tabib istana Kui sesegera mungkin ke kerajaan Tang"
Kakak Yuan? Apakah dia belum sembuh juga? Sebenarnya siapa yang menyebabkan dia terluka parah hingga ia tak pernah sadar. Bathin Qiang Qia.
"Putri, Saya pamit!" Dayang tersebutpun mulai pamit pergi "Tunggu, aku akan ikut! Aku sungguh ingin menemuinya!" Putri Qiang Qiapun mulai mengikuti para dayang untuk pergi Ke aula istana kerajaan Kui.
Di sudut kamar, nyatanya pangeran Qiang Gu mendengar dengan jelas bahwa Kakaknya belum siuman juga. Padahal tragedi naas di kerajaan Kui sudah berlalu sangat lama sekali. Namun nyatanya, seseorang yang telah membuat pangeran tersebut tak beraya hingga hampir tewas begitu belum di temukan. Bahkan ibu suri yang jadi saksi kunci tragedi tersebut malah bungkam, ia tak pernah ingin membuka suaranya.
Kini masalah anggota kerajaan makin rumit. Hingga Qiang Gu merasa pusing dan serba salah di buatnya. "Putri Satsuki, kuharap... kau bukan orang yang ada di balik ketidak berdayaan Kakak Tang Yuan Cheng. Karna jika itu benar, maka pihak kerajaan Tang akan membalasmu dengan hukuman yang setimpal" Gumam Qiang Gu menghempas jauh-jauh pikiran buruknya.
__ADS_1
Pangeran Qiang Gu pun mulai menghelan napas panjangnya dan segera berdiri. Langkahnya tertuju ke area benteng istana. Benteng itu adalah tempat yang paling di sukai Qiang Gu. Sebab, di benteng tersebut Qiang Gu memiliki beberapa kenangan yang membuatnya tenang.
"Xitan... dimana gerangan berada?" Ucap Qiang Gu seraya berjalan pelan.