
Kerajaan Xi Zhi telah jatuh ke tangan musuh dan seketika rumor itu tersebar ke setiap penjuru kerajaan. Mereka merasa miris akan kejadian yang tak si inginkan ini. Namun apa daya, setiap kerajaan yang tersisa telah berusaha dengan berjibaku melawan para klan iblis yang hampir setiap hari menghantui dengan menyerang tanpa henti.
KERAJAAN Xi...
"Ayah! Oh Tidak! Yang mulia! Izinkan aku untuk berperang! Usiaku kini sudah lebih dewasa! Izinkan aku! aku takan melakukan kesalahan! Aku ingin seperti para kakak-kakakku! Berperang dan berusaha mempertahankan benteng! Aku ingin berjuang bersama mereka! Aku tak ingin jadi anak manja! aku tak ingin di lindungi lagi! Kini saatnya aku melindungi sauadara-saudaraku dan rakyat-rakyatku!" Jelas Xi Zhau Zhau berlutut dan memohon di hadapan singgha sana sang ayah.
"Hentikan! Meski memohon seperti itu aku tetap tak akan mengijinkanmu pergi bertarung! Lagi pula, usiamu baru saja menginjak tiga belas tahun, dan kau hanya sedikit lebih tinggi, bukan belarti kau sudah mahir dalam bertarung. Kau hanya perlu berusaha mempertahankan nyawamu saja!" Balas Sang Kaishar Xi membuat Xi Zhau-Zhau kecewa.
"Tapi Yang mulai!! ..."
"Hentikan! Jangan berpikir untuk melawan kata-kataku, karna kau takan bisa menghadapi para klan iblis yang sangat handal dan mengerihkan"
"Ku Mohon ayah! Kali ini saja! Kali ini jangan anggap aku sebagai putramu! Aku adalah ksatria! Aku akan berusaha yang terbaik untuk semuanya"
"Hentikan! Perdana mentri, apakah kalian setuju dengan permintaan yang di ajukan anak kecil ini padaku?! Apakah ada salah satu dari kalian yang setuju pada permintaan putra bungsu ku ini?!" Tanya Kaishar pada para perdana mentri dan penasihat istana.
Para menteri mulai bernego siasi dan saling melirik, kemudian salah satu di antara mereka mulai maju untuk menjawab pertanyaan dari sang Kaishar.
"Ampun yang mulia, tapi menurut hamba... Pangeran ke empat harus sering belajar lagi. Keahlian pedangnya masih kurang, kewaspadaannya juga sangat memprikatinkan, jika anda mengijinjan pangeran ke-4 untuk pergi maka hamba takut hasilnya akan sangat merugikan bahkan mengecewakan" Jelas salah satu mentri pertahanan di kerajaan tersebut. Pangeran ke-4 (Xi zhau Zhau) hanya bisa menekuk wajahnya dan bersembunyi di bawah singgah sana sang raja. Ia belum mau mengangkat tubuhnya dan terus memohon.
"Bangun! Jangan meminta hal yang tak mungkin ku jabah" Pinta sang kaishar. Xi Zhau-zhau sangat kecewa. Tingkah kekanak-kanakannya mulai muncul, ia mulai bengun dan berlari menuju papeliunnya tanpa memberi hormat terlebih dahulu pada ayahnya.
__ADS_1
"Awasi dia! Jangan biarkan dia perfi diam-diam, aku tak ingin mendapatkan hal yang lebih buruk lagi. Ia adalah tife anak yang berfikir kritis, ia akan lakukan apapun untuk memuaskan ke inginannya, meski itu adalah mengorbankan nyawanya sendiri" Pinta sang kaishar ke pada mentri pertahanan perang.
"Baik! Kami mengerti" Balas Sang perdana mentri seraya mundur dan mulai mengarahkan para prajurit nya untuk bergegas menuju kamar sang tuan muda yang sedikit nekad itu.
"Haaaah! Saat ini semua kerajaan dalam masa yang sulit. Entah kapan, semua ini akan berakhir... setelah kebangkitan Raja iblis kegelapan, aku tak yakin dunia ini akan stabil... sungguh mengerihkan, aku tak tahu... akan bertahan berapa lama lagi. Mengingat kemunduran yang di alami Kekaisharan Xi zhi saja, bulu kudukku sudah berdiri dan merasa sangat takut..." Resah sang kaishar. Kemudian para mentri mulai saling berbisik sembari menatap satu sama lain.
Faviliun Xi zhau zhau...
Pria yang dulu pendek dan tak memiliki ke istimewaan itu mulai tumbuh dewasa, Ia tumbuh dengan baik. Postur tubuhnya kini sangatlah proposional. Tubuh tinggi dengan dada bidang yang cukup berisi. Otot-otot perut mulai terbentuk. Wajah oval yang ia miliki sangatlah menawan, apa lagi dengan sorot mata tajam, dan bibir exsotis yang merah merekah, membuat Xi Zhau-Zhau sangatlah tampan untuk ukuran pria muda. Tak terasa tiga tahun berlalu sejak pertemuannya dengan sang master ia mulai berusaha menjadi yang terbaik, cita-cita nya kini adalah menjadi murid sang Master Xitan.
Xi Zhau-Zhau menatap ke jendela yang terbuka, Ia berusaha mencuri-curi pandang dari para pengawal. Tapi, apa daya semua paviliunnya sangat padat oleh para penjaga yang tak memberi tuan muda itu celah.
Kerajaan Xi saat ini sama gentingnya seperti beberapa kerajaan lainnya. Kerajaan Tang dan kerajaan Kui. Mereka sama-sama mengarahkan pasukan untuk melawan dan terus membatasi wilayah dengan bantuan para tetua juga aliansi perang yang terbagi menjadi beberapa bagain. Harapan mereka adalah sama, melawan untuk berjuang hidup. Meski mereka tak tahu akan sampai di mana situasi kritis itu akan terus berlangsung.
Kulitivatum Akademi Cross...
Prisai mantara masih melingkar, para tetua nampak lelah karna harus terus berkonsentrasi dan fokus dalam upaya meningkatkan aura penyatuan jiwa yang nantinya akan di gunakan untuk penambahan energi murni prisai mantara dari masing-masing kerajaan.
Mereka telah tahu jika salah satu kerajaan telah gugur dan mulai di kuasai oleh para klan iblis, itu artinya batas area murni mulai berkurang. Semakin dekat markas sementara klan iblis, maka mereka semakin leluasa dan aktif untuk melakukan aktifitas penyerangannya.
"Uhuk!" Putra mahkota terbatuk (Qiang Gu). Ia mulai membuka matanya dan mulai mundur dari prisai mantra yang terbentuk itu, sementara para tetua lainnya masih belum bergeming dari posisinya. Qiang Gu mulai mundur dan segera keluar dari pusat pengumpulan energi tersebut.
__ADS_1
Kini ia telah berada di luar gedung Aula Kutivator Academi Cross. Ia menatap seluruh suasana yang ada di sana. Seakan tak luput, pandangannya terus menelisik dan berputar seratus delapan puluh derajat. Matanya sedikit sayu saat ia menyadari bahwa daratan tersebut telah sangatlah berbeda. Seluruh keadaan yang biasanya cerah dan menyenangkan, kini mulai berubah menjadi sedikit angker dan menakutkan. Aura hitam yang tampak seperti awan gelap yang turun menutup seluruh tempat. Kabut abu itu sangat mengganggu penglihatan, apa lagi jika sengaja menghirupnya. Rasanya sangat menyiksa dan sesak. Suasana itu sangatlah mengharukan baginya.
"Bagai mana dengan rakyat kecil, apakah mereka baik-baik saja? Tinggal dirumah saja tak akan bisa menyembunyikan mereka dari asap bah kabut yang penuh dengan keputus asaan ini" Bathin Putra mahkota.
"Satsuki, apakah kau baik-baik saja? Hei lianhua... apakah dia juga sudah kembali ke aliansi klan iblis? Haah... sampai kapan semua ini akan berakhir... kami harus terus berjuang untuk melawan klan iblis sampai titik darah pengahbisan... Lagi pula... kemana perginya Lee dong feng, para ksatsria? Apakah mereka telah gugur? Bahkan kabarnya saja sudah tak bisa ku ketahui. Ku mohon... berjuanglah para rakyatku, Berjuanglah hidup tanpa keputus asan, hingga kami menemukan sulusi atas kekacauan ini. Kami janji, kami akan berusaha sebaik mungkin..." Ucap Qiang Gu. Saat suasana gelap mulai terasa pekat. Qiang Gu yang hendak masuk itu mulai melihat sebias cahaya yang cukup cerah menyeruat dari atap menara tujuh pagoda suci itu. Tanpa sadar, cahaya tersebut membuatnya tertarik hingga ia mulai melangkahkan selangkah demi semelangkah ke arah cahaya tersebut.
"Apa itu? Cahaya yang terang di tengah kegelapan, apakah itu milik Black shaddow?" Bathin Qiang Gu. Ia terus melangkah pelan menuju cahaya tersebut, namun baru saja ia melawati tiga pagoda, tiba-tiba sikut Qiang Gu di tarik seseorang, hingga langkahnya pun terhenti.
"Berhenti!" Ucap seseorang, Qiang Gu mulai menoleh ke arah suara tersebut.
"Guru besar Young?" Kaget Qiang Gu.
"Hentikan, ayo kembali... kita masih belum selesai, aura hitam ini akan segera menutupi sekolah kita. Dan setelah itu, maka sudah tak ada lagi aura murni yang tersisa. Jika itu terjadi, maka kedepannya. Kita semua akan mati"
Degh! Qiang Gu mulai keget, iapun mengangguk ke arah gurunya. Guru besar Young mulai menatap dan masuk ke dalam aula itu kembali. Seraya kembali masuk, mata Qiang Gu tak bisa luput dari cahaya tersebut. Ada rasa penasaran yang besar, hatinya ingin sekali masuk ke sana. Tapi nampaknya dia sangat takut akan menyesal. Karna bagai manapun juga, mereka harus terus melakukan semedi demi mengumpulkan Aura penyatuan jiwa, yang entah kapan akan selesai.
"Black Jade Shadow? Kau kah itu?" Bathin Qiang Gu. Setelah itu, pintu mulai di tutup dan aula sekolah itupun mulai hening kembali.
BLAM...
BERSAMBUNG...
__ADS_1