
Selamat membaca bab berikutnya, salam autor receh, maaf jika banyak yang tipo soalnya novelnya terlalu lama terbengakalai jadi autor lupa sama tokoh nama-nama novel ini. mohon maafkan kesalahan autor ya.
Happy ready...😘😘😘
Qiang Qia dan Xing An berhasil mengabarkan penemuan mereka itu pada aliasnsi perang dan kluarga kerajaan.
"Kami kembali" Pekik Qiang Qia yang datang bersama Xing an ke istana berprisai kuat.
"Mereka datang!" Seru tetua lisung menyambut. Qiang Qia dan Xing An pun masuk beserta para rakyat yang tengah kelaparan.
Tubuh mereka sangat kurus dan pucat, tetua Li sung mulai menetralkan aura kekuatan nya ke arah para rakyat itu "Mereka tak tercemari kekuatan para klan iblis, bawa mereka masuk ke tempat pengunsian" Imbuh tetua Li. Para prajuritpun datang berbondong-bondong menyambut para raykat kelaparan itu. Ibu suri datang dan menbawa pakaian bersih, ia celingukan mencari.
"Mana cucukku yang lainnya? putra mahkota dan pangeran Tang jhan jhu?" Tanya sang ibu suri mencari. Qiang Qia datang dan memberi hormat pada sang nenek.
"Hormat ibu suri..." Ucap Qiang Qia dan Xing an bersimpuh memberi hormat.
"Bangunlah anak-anakku..." Ucap ibu suri. Lalu ayah dan ibu Qiang Qia datang di kejauhan. Permaisuri ling ling sungguh berjalan tergesa-gesa, ia sungguh tak menyangka jika putrinya akan kembali dan berhasil menuntaskan misinya. Permaisuri ling ling bersiap memeluk anak gadisnya itu
Greep! Gyuuut! Sebuah pelukan erat mendarat di tubuh Qiang qia dan membuatnya hangat.
"Ibu, aku merindukanmu"Ucap Qiang Qia membalas pelukan sang ibu.
"Oh anakku... Kau sungguh kurus,apakah kamu makan dengan teratur? Kenapa kau jadi kurus begini" Tanya Sang ibu tetus memeluk anaknya. Sang ayahpun datang dan berkata "Mana mungkin anakmu makan dengan teratur, jika setiap waktu saja, ia harus bertarung dengan klan iblis..." Imbuhnya, Permaisuri mulai melepaskan tubuh anaknya. Putri Qiang Qia dan Xing anpun kembali bersimpuh di hadapan Raja Zhang "Hormat kami yang mulia" Ucap keduanya. Raja Zhang pun mengangkat kedua bahu para prajurit itu.
"Bangulah... aku ingin mendengarkan sesuatu, dimana dua pangeran itu?" Tanya Raja Zhang seraya mencari.
"Mereka terus melanjutkan perjalanannya ke negara Xi..." Balas Qiang Qia.
"Lalu, apakah tugas kalian telah selesai?" Tanya guru Young.
"Tidak, Kami datang hanya untuk mengantarkan para rakyat yang kami temukan, dan hanya sepuluh jiwa saja yang kami temukan" Balas Qiang Qia.
__ADS_1
"Begitu ya. Xing an... kau mulai cekatan sekarang? Qiang Gu sungguh pintar dalam mendidik ilmu beladiri juga pengendalian aura pelatihanmu" Tanya guru Young. Xing An kaget dan membungkuk serendah-rendahnya, ia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya, hingga jika saja bisa, Xing An ingin bersembunyi di lapisan bumi terdalam karna rasa malunya yang sangat besar.
"A-aku..." Ia hanya terbata-bata dengan wajah yang memerah.
"Sudahlah... kami masih banyak tugas, guru... yang mulia, ibu... juga ibu suri. Kami akan pamit kembali" Ucap Qiang Qia seraya memberi hormat dan bersiap pergi.
"Tunggu! Jangan pergi dulu. Ibu siapkan beberapa roti dan makanan didalam. Kalian akan sangat membutuhkannya bukan?" Tanya permaisuri lingling seraya mengambil barang-barang tersebut dari tangan para pelayan di sampingnya.
"Kami tidak perlu semua itu bu. Di luaran sana, kami merasa sangat mandiri... kami tak perlu semua pasilitas istana seperti itu. Perjalanan ini, membantu kami tumbuh dengan baik. Kami paham arti kebersamaan dan saling membantu. Aku akan melupakan gelarku sebagai putri kerajaan kui. Aku cukup menikmati, saat jadi prajurit perang yang di pimpin kakakku... putra mahkota, benarkan Xing An?!" Tanya Qiang Qia. Seluruh pihak istana tercengang atas pernyataan putri Qiang Qia yang terdengar berwibawa dan dewasa.
Raja Zhang dan Ibu suri menitikan air mata kebahagiaan, mereka berhasil melahirkan anak perempuan berhati baja seprti Qiang Qia. Juga pangeran yang cukup bertanggung jawab akan kerajaannya seperti Qiang Gu.
Tetua Li sung juga guru Young sungguh salut pada apa yang telah di capai Qiang qia dan Qiang Gu. Meski mereka adalah bagian dari istana, tapi mereka tak mau bersembunyi di balik kekuasaan yang keluarga mereka miliki.
"Lanjutkanlah perjalananmu... jika istana ini aman dalam waktu yang cukup lama, maka kami akab menyusul kalian ke istana Kui" Imbuh para tetua. Qiang Qia mulai membalikan tubuhnya dan bersiap keluar gerbang istana. Sedangkan sang ibu yang khawatir hanya bisa menangisi kepergian anak-anak mereka, ia berharap, anak-anaknya akan bertahan dan berhasil hidup hingga istana mereka kembali aman seperti dahulu kala.
"Anakku... hiks hiks, anakku!" Teriak permaisuri lingling, ibu suri pun meraih tubuh permaisuri lingling yang berusaha mengejar langkah anaknya. Ia tak rela saat melepas anak perempuannya ke medan perang.
Cling.
Seketika, Qiang Qia dan Xing an mulai ada di luar istana. Dan mereka pun sigap melompati batang-batang pohon besar itu untuk menyusul langkah rombongan yang di pimpin sang kakak.
"Putri... apakah kita takan tersesat?" Tanya Xing an.
"Mana mungkin, kakakku sangatlah cerdik, ia mengiris setiap pohon yang ia lalui dengan kunainya, hingga kita dapat dengan mudah mengikuti langkah kakakku" Balas Qiang Qia lugas.
"Begitu ya..." Angguk Xing an.
"Cepatlah! Ikutu aku, aku sudah menemukannya" Teriak Qiang Qia. Xing An pun mengangguk.
Merekapun melompat dengan cepat hingga tak butuh waktu lama untuk mengejar rombongan nya.
__ADS_1
"Itu dia! Kakak!" Teriak Qiang Qia menghampiri Sang kakak, nampaknya sang kakak sedang mengintai sesuatu hingga saat Qiang Qia berteriak, sang kakak menoleh dan mengerutkan alisnya, Qiang Gu pun menyematkan satu jarinya di bibirnya dan mendesis "Ssst... pelankan suaramu... Ada yang datang" Imbuh Qiang Gu dengan suara pelan.
Qiang Qia dan Xing an pun mendekati Putra mahkota dan Pangeran Tang jhan ju.
"Apa yang kalian lakukan kakak?" Tanya Qiang Qia curiga.
"Aku sedang mengintai, ada suara gaduh yang mengganggu pendengaranku..." Balas Qiang Gu.
"Suara gaduh? Apa itu? Aku sama sekali tak mendengarnya" Ucap Qiang Qia menyimak,namun tak satupun yang ia cerna, selain suara derasnya air dan bunyi gemericik air dari dahan dan menitik ke sebuah genangan.
"Itu karna pendengaranmu kurang baik, kau tahu... saat pulang tadi, seharusnya kau membersihkan telingamu. Siapa tahu ada kotoran di sana" Imbuh pangeran Tang Jan ju.
"Eeeg! Kau ini... minta di hajar ya?!" teriak Qiang Qia mengepalkan tangannya ke arah Tang Jan ju. Tang Jan ju berlari dan membuat bising hingga pangeran Qiang Gu marah besar.
"Apa yang kalian lakukan?! Ini bukan saatnya bercanda, kita sedang menghadapi situasi yang amatlah sangat genting! jika kalian salah melangkah, kita semua akan mati!" Teriak Qiang Gu memperingatkah.
Qiang Qia dan Pangeran tang jan ju pun berhenti bercanda dan menatap sang putra mahkota.
"Tapi... apakah ini tak terasa- aneh bukan? Sedari tadi saja tak ada satupun monster ataupun klan iblis yang muncul" Imbuh pangeran Tang jan ju.
"Ini memang benar, tapi... bukan belarti kita lengah hingga harus bercanda. Lalu menunggu musuh datang tiba-tiba dan membunuh kita"
"Ba-baik, maafkan aku" Pinta Tang Jan ju.
"Lekaslah... kita akan melanjutkan perjalanan kita, aku merasa... di depan sana ada kekuatan besar yang sangat jahat. Jangan biarkan diri kalian lengah. Kita tidak tahu... apa yang ada di depan kita" Jelas Qiang Gu mantap dalam langkahnya.
Kini, rombongan Qiang Gu hampir memasuki pertengahan hutan tersebut. Jika mereka maju selangkah lagi, petarungan Satsuki akan sangat terbantu oleh kedatangan rombongan ari kerajaan Kui tersebut.
Next episode...
Bersambung...
__ADS_1