
Saat itu Satsuki tengah tertawa lepas di depan Huli Jing. Huli Jing sangat kesal pada Satsuki hingga ia cemberut dan membentuk bulat pipinya yang merah itu, Ia nampak seperti bakpau daging yang penuh isi.
"Hentikan! Kenapa kamu malah tertawa begitu, aku tak malu dengan nama itu, sebab tuanku yang memberikan nama indah itu untukku" Timpas Huli Jing marah, bibirnya mengkerucut hingga melewati hidung kecilnya.
"Hahahaha..." Tawa Satsuki tak henti menggema. Hingga akhirnya, saat mereka lalai, sebuah suriken besi tipis melesat ke arah wajah Satsuki. Satsuki kaget dan mengelak. Jleb! Jleb! Dua suriken itu meleset dari sasaran, dan mengenai pohon besar di belakang tubuh Satsuki. Sedangkan Satsuki yang sigap itu menarik tubuh Huli Jing dan menyembunyikannya di balik pohon itu.
"Pendekar! Kau mau kemana?!" Teriak Huli Jing menarik lengan kanan Satsuki. Satsuki menoleh dan menyematkan jari telunjuknya di bibir tipisnya yang merah itu.
"Sssst... Diamlah di sini" Ucap Satsuki, Satsuki mulai merogoh pedang kembarnya dari tas gendong yang ia bawa.
SRENG! Bunyi pedang kembar yang beradu. Satsuki memutar-mutarnya ringan di jemarinya.
"Tidak! Jangan pergi. Aku sangat takut, jika aku mati. Maka aku tak akan menemukan tuan besarku lagi" Ucap Huli Jing.
"Bodoh! di saar seperti ini, mana mungkin kau memikirkan orang lain" Satsuki segera melompat.
Tapi saat ia meninggalkan tempat persembunyian itu, tiba-tiba sabit raksasa yang ukurannya sangat besar menghadangnya. Sabit itu telah di lempar dan membuat pepohonan di hutan itu terbalah dan ambruk. Satsuki terbelalak, ia melihat batang pohon Zhen yang sangat besar itu terbelah dan hendak menimpa Huli Jing
"Huli! Jing! Menghindar!!" Teriak Satsuki menghindar, namun namlaknya Huli Jing malah menutup matanya karna takut. Satsuki pun segera menepi ke sebuah batang pohon dan berpijak sesaat, Iapun kembali mlompat untuk menarik Huli Jing.
GYUUT! ia berhasil menapatkannya, namun ternyata gerak-gerik Satsuki di ketahui oleh Hanbu. Hanbu pun seketika menghilang dan tiba-tiba ada di hadapan Satsuki lalu menendangnya.
BUAK! Hanbu menendang Satsuki yang saat itu menggendong Huli Jing keras hingga Satsuki terhempas dan menabrak batang pohon Zhen itu.
BLUG! BOMM!" seketika Satsuki berubah menjadi sebuah ranting yang di selimuti asap tebal, rupanya yang di hantam Hanbu tadi adalah sebuah jurus perubah wujud.
"Apa!!" Pekik Hanbu kecewa. Ia mulai mendarat ringan di tanah dan meraih sabitnya yang sedari tadi berputar-putar.
GREP! saat sabit raksasa tersebut di genggam Hanbu, tanpa di sadari Hanbu, Satsuki telah berdiri di atas ujung sabit raksasa tersebut, kedua lengannya telah siap memegang dua senjata pemberian Jade Long yaitu pedang kembar bulan meteor.
"Siapa yang kau cari" Ucap Satsuki lembut, Hanbu pun kaget dan membulatkan matanya. Iapun mulai mendonggakan wajahnya ke arah ujung sabit raksasa yang ia genggam.
"Kau!" Hanbu marah dan menghempas Sabitnya. Satsuki sigap melompat dan menyalto ke arah kepala Hanbu. Hanbu pun menghindar, kini perkelahian sengit mulai terjadi.
__ADS_1
Hanbu meloncat, saat Satsuki menendang bagian vitalnya. Sabit raksasa milik Hanbu mulai di lepas dan berputar-putar mengikuti pergerakan Satsuki.
TRANG! TRANG! Beberapa kali Satsuki menahan bobot Sabit itu lalu menghempaskannya untuk menjauh. Satsuki menahan serangan dengan gesit seraya terus menyerang Hanbu tanpa celah.
Satsuki melompat ke arah Hanbu yang saat itu bersiap melemparkan Sabit raksasanya, Namun mampaknya gerakan Hanbu sedikit lelet hingga Satsuki berhasil mendang perut Hanbu keras. Buak! SRENG! Satsuki Menahan lemparan Sabit itu dengan kedua pedang kembarnya. Sedangkan Hanbu mundur beberapa langkah ke belakang.
"Aaghh! Sial!" Teriak Hanbu mulai kembali bangkit dan berlari ke arah Satsuki. Satsuki pun tak tinggal diam ketika melihat pergerakan Hanbu yang siap menghanamnya itu
Akhirnya Satsuki meraih Sabit Raksasa milik Hanbu dan melemparkannya ke arah pepohonan.
JLEB! sabit itu tertahan di pohon. Hanbu makin geram. Kakinya mulai mengangkat dan menendang Satsuki. SYUT! Satsuki menghindar dan melewati tubuh Hanbu pelan. Hanbu terbelalak, iapun segera membalikan tubuhnya ke arah dimana Satsuki berada saat itu. Namun rupanya Satsuki sudah menyiapkan beberapa pukulan, hingga saat Hanbu berbalik iapun di suguhkan beberapa pukulan dari pegangan pedang kembar yang di genggam Satsuki.
Buak! Buak! "Uhuk!" Hanbu terbatuk dan segera menyilangkan dua sikutnya untuk bertahan. Hanbu melompat mundur. Pergerakan Hanbu telah terbaca, hingga Satsuki berlari dan menyerangnya dengan ujung pedang siap menyayat perut Hanbu. Hanbu pun mengelak, namun sangat terlambat, sebagian perut Hanbu berhasil tergores, bahkan jubah perang yang ia kenakan tak bisa menghindarkannya dari luka goresan pedang kembar yang Satsuki pedang.
"Heh... Apakah kau mau lagi?" Tanya Satsuki terus menyerang tanpa lengah. Pukulan dan tendangan dari kedua kubu sangatlah keras. Tak ada satupun yang mau mengalah, bahkan Hanbu lebih bersemangat dari sebelumnya.
"Heh... Aku tahu, kau dan klan mu adalah benalu besar yang harus di musahakan, apakah kata-kataku benar?" Tanya Satsuki di sela-sela baku hantamnya. Hanbu marah dan membulatkan matanya, Alisnya mengkerut di satu arah. Hingga Wajah hanbu saat itu terlihat sangatlah menyeramkan.
WHOOOSSSH! kepalan tinju Hanbu kini telah di penuhi warna hitam yang sangat kelam dan pekat.
Degh! Kekuatan apa itu?" Bathin Satsuki. Satsuki segera melompat mundur dan mengambil ancang-ancang. Entah kenapa bulu kuduk Satsuki terasa dingin dan meinding saat hanbu mulai menampakan exsistensinya.
"Kembali! Hadapi aku!" Hanbu menjulurkan lidah panjangnya yang menjijikan.
SRENG! Satsuki mulai siaga dengan kedua pedang kembarnya. Ia akan siap saat mendapatkan serangan yang tiba-tiba dari musuhnya.
"Kau pria pendek tengil! Rasakan ini!!" Hanbu melompat ke arah Satsuki dengan tangan misteriusnya. Satsuki pun menghindar dan mencari titik kelemahan pria itu.
Buak! Tinju hanbu meleset dan malah menimpa pohon di belakang tubuh Satsuki hingga pohon tersebut ambruk di buatnya.
Celaka, rupanya kekuatannya ada di dua tinjunya, jika aku menyerang dengan pukulan, maka aku yang akan kalah" Bathin Satsuki.
Hanbu yang salah sasarn itu kembali melompat ke arah Satsuki yang masih dalam posisi bertahan.
__ADS_1
"Kemari kau, lalat busuk!" Pekik Hanbu seraya kembali meninju Satsuki. Buak! Kali ini Satsuki salah berpijak hingga ia terkena pukulan keras dan membuatnya terhempas beberapa kilo meter.
BUAK! BUAK! Duagh! Satsuki tertahan di batang pohon lainnya.
"Hosh! Hosh! Sial! Hampir saja aku mati" Ucap Satsuki seraya bangun dan melompat ke ranting-ranting Pohon. Tiba-tiba Hanbu terlihat di kejauhan dan melesat cepat dengan bogem mentahnya itu. Satsukipun sigap mengangkat pedangnya dan menghempaskannya ke arah Hanbu yang sangat murka itu.
SREEENG! bunyi kedua pedang yang beradu dengan tangan Hanbu. Satsuki terbelalak, iapun segera menghindar dari amukan hanbu.
Apa?! Bahkan pedangpun tak bisa menembus kulit lengannya. Ini mustahil' Bathin Satsuki.
Satsuki mengelak dan kembali ke posisi siaganya.
"Sial! Kenapa monster itu belum lelah juga. Apa kelemahan lengan nya? Jika terus begini. Aku takut apa yang di khawatirkan Jade Long akan terjadi lagi padaku" Bathin Satsuki.
"Kemarilah, tujukan dirimu!!" Pekik hanbu.
Degh! Degh! Degh! Jantung Satsuki bergemuruh tak beraturan. Saat suasana terbilang sangat genting.
Sesuatu yang besar pun mulai datang. Dengan aungan nya yang sangat menggema dan membuat Satsuki bergeming.
GOAAARRR!
"eh... Suara Bast spirt?" Tanya Satsuki. Satsuki segera naik ke ujung pohon tertinggi.
Begitupun Hanbu. Ia menelisik asal suara itu. Saat mereka menyaksikan sesuatu. Rupanya penampakan hewan mitorologi china di jaman satsuki pun muncul. Yakni seekor rubah putih berekor sembilan yang saat itu tengah mengamuk.
"Apaa! Tidak mungkin... apakah dia Bast spirt?!" Tanya Satsuki Risih. Hanbu yanh masih terpana itu pun mulai lalai. Ia melupakan misi pentingnya untuk membunuh Satsuki.
"Huli... Jing" Bathin Hanbu. Lengannya kembali normal dan Satsuki sadari itu. Hingga iapun melompat dan kembali menyerang Hanbu tanpa di sadarinya.
HYAAA!!!
Bersambung...
__ADS_1