Dendam Sang Putri

Dendam Sang Putri
Tempat terexstrime


__ADS_3

Whoooossshhh....


Angin berhembus begitu dingin hingga menusuk ke tulang. Musim dingin telah tiba dan membuat seluruh kota terlihat menyeramkan. Apa lagi sudah berminggu-minggu klan iblis menguasai seluruh pelosok kekaisaran pulau monster tersebut.


Satsuki belum kembali dari tempat pelatihannya, begitupun Lee Dong Feng, belum ada tanda-tanda ia akan kembali dari tempat pengasingannya. Saat ini di kota di penuhi mayat para rakyat jelata yang mati akibat kelaparan dan sebagian lagi di hisap rohnya oleh para iblis. Mengerihkan bukan? para iblis menebar sihirnya untuk menuntun para rakyat jelata keluar dari persembunyian mereka dan membunuhnya. Mereka merampas Roh mereka dan menjadikan mayat-mayat itu sebagai boneka hidup layaknya Zombi yang saling memakan satu sama lain.


Seisi kota kini bagaikan neraka hidup yang mengerihkan...


Kerjaan yang masih bertahan dengan bentengnya... Kerajaan Tang dan Kerajaan Kui. Aliansi perang kekaisaran makin menipis, apa lagi lahan penyerapan energi murni telah habis. Kini kabut hitam terus menyelinap dan menyebar di seisi kota.


KERAJAAN KUI...


"Ini semakin gawat... tak ada lagi tempat untuk kita, persediaan makanan telah menipis dan kekuatan para tetua sudah hampir sampai pada batasnya" Ucap Kaishar Kui Xio Zhang (Kaisar Zhang Ayah dari Pangeran Qiang Gu). Penuh rasa gelisah di hati para pejabat yang masih bertahan di benteng itu.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan... para rakyat kita telah habis di bunuh. Dan kita malah terus bersembunyi di benteng ini?! Ini sudah kerlaluan yang mulia!!" Bentak Qiang Gu Risau, ia tak puas atas kinerja ayahnya yang tak bisa menolong para rakyatnya yang hampir habis di bunuh klan iblis.


"Lalu cara apa lagi yang harus kita lakukan?! Kita semua hampir gila terpenjara di tempat ini tanpa melakukan apapun!" Bentak sang ayah. Qiang Gu membuang wajahnya yang tak puas pada jawaban kaishar terpandang di kota itu. Dengan tangan di kepal erat iapun segera melangkah ke area gudang persenjatan yang di isi susunan pedang samurai.


"Aku akan keluar untuk menghadapi mereka!" Ucap Qiang Gu mengambil pedang yang tertata rapi di gudang persenjataan itu. Kaishar kaget dan mulai berdiri dari singgah sananya.


"Apa yang kau pikirkan?!" Teriak Sang ayah. Qiang Gu mulai menghentikan langkahnya dan enggan menoleh.


"Apa lagi? Aku hanya bisa melakukan hal ini. Cepat atau lambat kita semua akan mati, jadi... biarkan aku mati dengan bangga. Aku tak ingin mati secara sia-sia di benteng ini!" Balas Qianggu kembali melangkahkan kakinya ke area pintu keluar.


"Lancang! Beraninya melawan perintah raja!" Sang Kaisar marah dan menunjuk langkah Qiang Gu yang abai pada titahnya.


"Beri aku restumu. Aku tak ingin rajaku menjadi seorang pengecut dengan membiarkan rakyatnya mati begitu saja. Aku tak bisa menjelaskan apapun tentang kisah perjuanganmu pada anak-anakku kelak?" Sekilas ungkapan Qiang Gu membuat Sang Raja membelalak dan tertatih di singgah sananya, tubuh kaishar tegap dan mematung di kursi singgah sana itu. Ia mulai menderaikan rintik basah di pelipisnya. Perlahan rintik basah itu melintas di janggut gagahnya yang menawan.

__ADS_1


CLAK! tetesan itu mengiringi langkah anaknya yang penuh harapan saat berperang melawan klan iblis yang telah menguasai hampir sebagian pulau itu. Bahkan Shamonsom Righ! (Best Spirt) pun tak bisa di gunakan, sebab... sekali keluar dari dalam cincin saja, sihir dari para iblis akan meracuni pikirannya dan cenderung membuat para bast spirt itu kehilangan kontaknya pada sang tuan. Hingga kejadian buruk bisa saja terjadi, bahkan tak sedikit best spirt lain yang membunuh tuannya sendiri dan setelah itu iapun mati.


"Da... sar! Anak nakal!" pekik Kaishar Zhang mengusap tetesan basah itu.


***


Menara tujuh pagoda suci...


"Seharusnya aku tak mengijinkan mu pergi, kontrak perjanjian kita belum selesai" Ucap sang guru dengan nada lirih.


"Maafkan aku... Tapi banyak hal yang harus aku lakukan, apa lagi aku tahu di luaran sana situasi tidak lah mudah..." Balas Satsuki menatap sang guru risih.


"Kau memang tak berubah, kuharap kebodohanmu di masa lalu membuatmu sadar dan berfikir dahulu sebelum melangkah" Pinta dang guru enggan melepas sang murid yang saat ini ia sayangi. Satsuki tersenyum dan menundukan tubuhnya, ia meremas kepalan tangannya dan menaruhnya didadanya.


"Aku akan ingat, aku akan selalu mengingat itu. Dan yang paling pnting, ajaranmu akan selalu menjadi arahanku dalam berpijak" Ucap Satsuki. Sang guru tersenyum, lengannya bergerak seakan ingin memeluk sang murid, tapi ia tak ingin di sebut guru cabul yang memperlakukan muridnya dengan protektif. Akhirnya sekeras apapun Jade long menahan perasaan yang sedih saat kehilangan itu, perasaan sayang pun tak tertahankan. Lengan kanan Jade long mulai menepuk pundak Satsuki dan memeluknya erat.


"Dasar cabul!" Pekik Satsuki dengan wajah datar dan suara lantang. Otomatis Jade Long kehilangan kewibawaannya. Jade Long yang kaget pada kata-kata muridnya pun mulai menarik tubuhnya yang mendekap erat tubuh muridnya itu.


"Ah ...aku... maaf!" Jade Long terbata.


"Kenapa? Kenapa guru meminta maaf?" Tanya Satsuki.


"Karna aku tak seharusnya melakukan itu. aku sudah tak sopan padamu... sekarang lekaslah pergi. Aku tak akan menghalangimu lagi... sana-sana" Ucap Jade long salah tingkah nampakanya ia tengsi gede-gedean.


"Oh. Baiklah... " Satsuki pamit dan mulai melangkah membalikan tubuhnya ke arah pintu yang di buka jade long. Jarang-jarang menara itu membuka pintu gerbang bawah hutan tropis.


"Jaga dirimu... " Pekik Jade Long enggan menatap satsuki. Ia hanya pasrah pada pilihan yang di ambil oleh sang murid.

__ADS_1


"Baik.. "


"Jangan ceroboh lagi!"


"Baik!" Satsuki terdiam saat Jade long mencoba mmperingatkan nya.


"Jangan bodoh lagi!" Tambah Jade long.


"Baik!" Satsuki menjawab dengan nada kesal.


"Jangan mati! Ingat, jika kamu sampai mati... takakan ada pil pemulihan roh untuk kedua kalinya..." Jelas Jade Long. Satsuki pun terdiam, ia menoleh ke arah jade long.


"Pil... pemulihan roh?" Satsuki terpekik. Jade Long pun menutup mulutnya sembari terbelalak. Ia sudah teledor dengan menyebutnya dan membuat satsuki tahu hal yang sebenarnya.


"..." Jade long masih terdiam ia enggan menjelaskan lagi.


"Apakah maksudmu... Pil pemulihan Roh itu milikmu? Jangan-jangan...?!" Satsuki terbelalak.


"Jangan lihat aku... pergilah! Ingat pesanku! Jangan mati lagi, jika kau mati! Takan ada hei lian hua kedua atau jade long ke dua lagi. Pertahankan nyawamu apapun yang terjadi" Pinta Jade Long seraya berjalan menuju tempat persembunyiannya.


Satsuki pun tersenyum dan mengepalkan lengannya. Rasa sedih mendalam tersimpan di hatinya. Bagai mana tidak, dalam hatinya di penuhi penyesalan yang tak kunjung reda, bathinnya selalu berkata, Jika bukan karna aku, Seluruh daratan ini akan baik-baik saja. Jika bukan karna kecerobohan ku, Nae Jime tak akan lepas, juga jika bukan karna kebodohanku, Hei lianhua tak akan mati sia-sia. gemuruh bathin satsuki. Kakinya mulai keluar gerbang menara itu.


"Aku akan mendengarkan nasihatmu guru. Kelak tak akan ada kecerobohan yang membuat siapapun kehilangan nyawa mereka... terutama... Hei lianhua dan sebagian sisa umurmu guru..." Teriak Satsuki mambaikan tangannya.


"Pergilah murid bodohku" Bisik Jade Long sembari memegangi dadanya yang sering terasa sakit. Ya apa boleh buat, pil pemulihan roh adalah asetnya yang peling berharga. Pil itu hanya terdapat dalam inti jiwa jade long, jika pil itu di pisahkan, maka setelah jade long kmbali jadi naga. Ia tak akan pernah bisa berubah wujud menjadi manusia lagi. Sungguh mengenaskan. Kelak... Satsuki harus tahu bahwa hidupnya telah menghancurkan banyak hidup orang lain.


"Maka aku akan memperbaiki segalanya!" Tekad sudah bulat. Ia mlangkah sigap. Hanya berharap pada dua kaki mungilnya. Sebab Ice dan semua bast sprtnya masih terkurung di menara tujuh pagoda suci, sebelum seluruh keadaannya kondesif.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2