Dendam Sang Putri

Dendam Sang Putri
Rival


__ADS_3

"Kita lihat, kau atau aku yang akan mati di tempat terkutuk ini!" Imbuh Satsuki seraya berlari dengan mantap, kemudian meloncat dengan kedua ujung pedang mengkilat itu.


"Datanglah..." Ucapnya, masih melentangkan lengannya. Saat Satsuki hampir menusuk jantung pria bertopeng itu, tiba-tiba sekilas bayangan pun melesat.


SYUUT! bayangan hitam yang cepat itu menghalau kedua pedang Satsuki dengan benda keras mirif pedang, namun tak kasat mata.


KRANG! bunyinya. Sesaat, percikan api membercak bah kembang api. Satsuki pun mundur dan kembali ke posisi semula.


"Sial, apa itu tadi" bisiknya waspada menatap intrens seluruh area hutan gelap itu.


"Ada apa..." Ucap pria bertopeng itu mendonggakan kepalanya ke arah Satsuki terhinggap di atas pepohonan.


"Cih. Sungguh naif, rupanya lawanku tak cuma kau saja... Tapi rupanya ada musuh lain mengintaiku di sini... Sudah kukira, aku tak bisa mempercayai siapapun di dunia fana ini!" Bentak Satsuki masih waspada. Ia melihat beberapa gerakan mencurigakan hingga membuat dedaunan itu tergoyang-goyang. Satsuki pun melemparkan salah satu pedang kembarnya ke arah tersebut.


SYUUT! JLEB! akhirnya, salah satu pedang itu membidik kelalawar hitam yang telah membuat Satsuki kelelahan beberapa waktu tadi.


"Heh... musuh yang sama" Ucap Satsuki. Pria bertopeng pun mulai urungkan niatnya untuk sedikit bermain-main dengan seorang pendekar di balik cadar itu.


"Hari ini, sampai di sini dulu ya.Lain kali, aku akan jadi lawan mu yang serius..." Kekehnya seraya melompat ke arah ranting pohon.


"Tak ada lain hari untukmu!" Ucap Satsuki, Tak ingin kehilangan jejak, Satsukipun mulai melempar suriken ke area pijakan pria itu. Namun, langkah pria itu lebih gesit dari seekor tupai.


"Kurang ajar!" Ucap Satsuki. Sedangkan Huli jing masih tertegun di bawah pohon dan menatap tuannya yang menurutnya sangat hebat itu.


"Tuanku sungguh menakjubkan" Ucap Huli jing dengan mata yang berbinar. Satsuki masih waspada, merasa sedikit hening. Satsuki pun mulai turun dari atas pohon dan kembali memunguti pil-pil arwah para siluman, juga beberapa pusaka milik mereka.


"Tuan... mari ku bantu..." Ucap Huli jing. Satsuki mendelik, tapi kali ini ia memeperhatikan rubah kecil itu dengan ekor matanya secara seksama.


"Tuan... jangan tatap aku seperti itu... aku janji, kelak aku akan berguna untukmu" Ucap Huli Jing memelas.


"Heh. Berguna? tubuhmu saja saat ini tak bisa membantu langkahku.Kau mirif seekor anjing. Jika kau lebih besar, bahkan aku tak membutuhkan seekor kuda. Sudah jelas bagiku, kau adalah masalah. Kedatanganmu menghambat langkahku!" Gumam Satsuki yang abai sembari melangkah ke depan. Huli Jing hanya bisa menundukan kepalanya terlihat lesu. Ia nampak patah semangat saat menghadapi tuannya yang keras kepala.

__ADS_1


"Kau lapar, ambillah..." Pekik Satsuki melempar kue beras isi daging untuk Huli Jing. Huli Jing pun sigap menangkap kue beras itu dan menatap Satsuki dengan mata yang berbinar. Satsuki berbalik dan mengumpat kesal "Apa yang kau lihat! Makanlah!" Bentak Satsuki. Huli Jing pun mulai menangis, matanya berkaca-kaca, "Tu... Tuan, bo-bolehkan aku memanggilmu tuan?" Tanya Huli Jing terisak.


"Heh. Makanlah dulu, baru bicara" Ucap Satsuki sambil membalikan tubuhnya dan berhajalan lurus ke depan. Hili Jing berlari dan membuntuti Satsuki.


"Tuan. Apakah ini artinya, kamu menerimaku sebagai binatang kontrakmu?" Tanya Huli Jing.


"Heh, jangan senang dulu. Aku tak ingin melihat sosokmu yang mencolok itu, jika kau bisa merubah dirimu kebentuk sebelum ini. Maka, aku akan mempertimbangkannya lagi" Ucap Satsuki acuh. Ia bahkan tak membiarkan Huli Jing merasa senang.


"Apakah cuma itu yang tuan mau?" tanya Huli Jing. Satsuki hanya diam.


"Kalau begitu, baiklah. Tuan lihat aku! BOOOM!" teriak Huli Jing. Seketika Huli Jing kembali ke sosok manusia, tapi saat ia merubah dirinya. Ia bahkan sedang telanjang bulat.


"Memalukan!" Bentak Satsuki seraya melempar kain sutra dari kantung pusakanya, untuk di pakai Huli Jing.


Syuuut... kain pakaian yang di berikan Satsuki sungguh pas di tubuh Huli Jing yang indah itu.



"Tidak! Kau lebih cocok jadi seekor kucing atau anjing saja" Ucap Satsuki acuh. Bahkan ia abai. Huli Jing sedih, tapi ia tak patah semangat dan menghibur dirinya sendiri "Tapi... aku sangat suka, apapun pemberian tuan untukku. Terimakasih" Ucap Huli Jing sambil tersenyum tulus. Alhasil Satsuki pun merona di buatnya. Karna tertutup cadar, Satsukipun segera membalikan wajahnya dan berjalan lebih cepat.


"Tunggu tuan, jangan tinggalkan aku..." Ucap Huli Jing sambil mengikuti langkah Satsuki.


"Merepotkan!" Balasnya. Akhirnya kedua gadis itupun menghilang di tengah rimbunnya hutan kematian itu.


Tatapi ada dua sosok tinggi lenjang berambut panjang yang tak di ketahui keberadaannya itu, telah memperhatikan kelakuan dua gadis itu dari sebelum pertandingannya melawan pria bertopeng perak.


"Kau tahu siapa pria bertopeng perak itu?" Tanya Hanbu. Seseorang dengan topeng hitam pun menggelangkan kepalanya.


"Hahahahah... dia adalah lawan mu. Kau harus membunuhnya dan merebut tahtanya untukku..." Ucap Hanbu. Pria bertopeng hitam itu hanya bisa menunduk dan mendengus kesal.


"... Juga. Bunuh seseorang di balik topi bercadarnya itu, aku ingin tubuhnya utuh saat ia mati. Biarkan aku yang akan mencabiknya hingga tubuhnya terpotong kecil seeukuran pasir. Kau paham!" Bentak Hanbu menekan pria bertopeng hitam itu. Tapi nampaknya pria bertopeng hitam itu tersinggung dan membentak Hanbu kasar "Kau!!" Bentaknya. Hanbu menoleh kesal "Hahahahah, beraninya kau membentakku yang telah jadi tuanmu ini?" Balasnya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin membunuh raja iblis..." Ucap Pria bertopeng itu seraya mengepalkan tangannya kesal.


"Kalau begitu, aku yang akan membongkar topengmu ini. Lee dong Feng" Ucap Hanbu terkekeh. Pria bertopeng itu seketika terdiam dan hanya bisa menelan salivanya sendiri.


"Gluk..."


"Ingat, penawar racun perjanjian iblis ada padaku.... Jika kau sampai membantah, maka... habislah riwayatmu. Bagai mana? Mati, atau menurut pada tuanmu... pilih salah satu, karna aku akan mengabulkan salah satunya saja" Imbuh Hanbu. Lee dong fei pun menekan topengnya, lalu kakinya gemetaran kemudian bersimpuh di hadapan Hanbu sang Jendral perang.


"Hahahahaha, Anjing pintar... aku berjanji, aku akan memanfaatkan mu sebaik mungkin. Hingga seluruh daratan bawah dan daratan langit tunduk padaku... Hahahhahhaha..." Kekeh Hanbu, betapa sakitnya hati Lee dong Feng, saat ia memberikan satu kesetiaannya pada iblis perang, dan bukan pada satu wanita yang ia cintai.


"Ingat... Jangan hianati aku. Jika kau berbuat demikian di belakangku. Jangan berharap ada hari esok. Kau paham!" Bentak Hanbu. Lee dong Feng hanya bisa mengangguk dan masih bersimpuh. Akhirnya dengan segala kepuasan dalam hati Hanbu. Hanbupun undur diri dan menghilang "Syuut!"


"Aaghhh! Sial! Aaaaaagghhhhhhh! Kenapa nasibku seburuk ini hanya untuk bisa keluar dari sumur terkutuk itu! Bahkan aku tak lebih dari seekor penjilat saja!" Teriak Lee Dong Feng mengeluarkan seluruh unek-unek dalam hatinya. Menyerahpun sudah tak belarti, sebab mau tak mau, ia tetap akan mati oleh kutukan perjanjian iblis.


Ketika Lee Dong Feng ada di fase terpuruknya, seseorang malah tertawa.


"Hahahahha..." Tawa girang itu sungguh memuakan bagi Lee. Hingga Lee marah dan melempar satu belati kearah suara tawa itu.


Syuut!


Jleb, Alhasil, belati Lee hanya menancab di batang pohon pinus itu. Serangan Lee jelas telah meleset.


"Hahahaha... bagai mana kau bisa membunuh lawan-lawanmu, jika dalam hatimu saja penuh rasa ragu. Alhasil bukan kau yang membunuh, tapi kau yang terbunuh" Ucap Pria itu.


"Diam kau pria buta. Aku tak mengijinkanmu keluar dari sumur berengsek itu! Tapi kenapa kau malah mengikutiku?" Tanya Lee. Sang pria buta tertawa lepas.


"Jika kau iri padaku lampisakanlah semaumu. Tapi aku hanya akan melawan pada musuh yang mencoba menyakiti anak-anakku. siapapun" Jelasnya.


"Aku tak perduli... lakukan lah semaumu. Tapi jangan ganggu aku. Pergilah... cari jalan dan tujuanmu sendiri!" Bentak Lee. Pria itu masih terdiam dan tak ingin beralih.


"Penderitaan hidupku. Baru saja akan di mulai hari ini..." Bathin Lee Dong Feng mengeluh sedih.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2