
Satsuki lekas keluar dari menara itu, ia pun sigap melompat ke area pepohonan tertinggi itu tanpa berpikir panjang lagi, dan ia pun mulai melihat situasi di sana. Ilmu peringan tubuhnya telah sempurna, hingga lompatan yang ia hasilkan seakan melayang bak terbang di udara.
SUUUUT! Seketika kakinya berpijak di ranting ujung tertinggi pohon Zhen hutan tropis menara tujuh pagoda suci itu. Mata indahnya yang berwarna hazel pekat itu pun mulai menelisik setajam mungkin, sekeras apa pun matanya memandang sekeliling, yang ia dapati hanyalah kegelapan. Kabut-kabut hitam sudah hampir sempurna dan sedikit merabunkan penglihatannya. Jarak pandang yang terbatas membuatnya tak nyaman menyimak.
"Sial! ini sungguh keterlaluan sekali! apakah ini ulah Nae Jime? Heh. Monster tua itu, sudah bau tanah pun masih saja meluruskan ambisinya untuk menguasai jagad raya. Sungguh menyebalkan! Apa yang sebenarnya ia inginkan! Tunggu jika kita saling bertemu lagi, akan ku jambak sayapnya dan membuatnya bertekuk lutut di bawah kaki semua orang!! camkan kata-kataku!!" Seraya marah Satsuki mulai meneruskan perjalannya. Ia melompat kembali menelusuri gelapnya perjalan yang ia tuju, Kaki jenjangnya yang ramping itu terus melangkah di area pepohonan yang Rindang, ilmu peringan tubuhnya sangat mempermudah nya dalam melangkah, apa lagi pergerakannya bebas tanpa hambatan.
***
Suasana gelap yang sunyi senyap itu entah membawanya kemana, tapi yang jelas insting penciuman milik Hei Lianhua membuatnya melangkah lurus kedepan.
Di tengah perjalanan sesuatu mulai terjagi...
"Ahhhh! Tolong!!!" Degh! Suara teriakan seorang wanita mulai mengusik perhatian Satsuki. Sesaat satsuki yang ingin acuh itu pun berdegup kaget. Ia mulai terhenti di ranting Pohon dan segera memutar kepalanya. Ia menyimak dengan seksama, suasana berkabut pekat itu membuatnya waspada.
Siapa?! Bathin Satsuki waspada, Satsuki segera mengambil kunai yang ia sisipkan balik saku persenjataan kecilnya.
"Aaah... Hentikan! jangan bunuh aku!" Pekik sang wanita itu kembali. Satsuki pun segera melompat ke bawah dengan cepat tanpa banyak berpikir, ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi jika ia terlambat melangkah.
"Aaaahhhhh!!" Wanita itu berteriak sekencang-kencangnya hingg mengguncang seisi hutan yang entah berantah itu dan membuat bising suasana. Namun Satsuki datang di waktu yang tepat. Satsukipun segera mendarat di hadapan wanita yang teraniaya itu.
TAP! tubuh siaga berdiri tegap pas di depan seseorang yang tak berdaya itu.
"Hiks... ku mohon jangan bunuh aku..." Rintih wanita itu, Sang wanita hanya bisa menekuk wajahnya dan menutup wajahnya dengan ke sepuluh tepalak tangannya. Wanita itu tampak sangat ketakutan. Pakaian putih yang wanita itu pakai sungguh lusuh dan di penuhi bercak darah.Tapi kini Satsuki mulai pasang badan dan menatap lawan apa yang ada di depannya.
"Hentikan! apa yang akan kau lakukan padanya?!" Bentak Satsuki masih melentangkan lengannya yang memegang kunai tajam itu dan menghadang seorang wanita yang beraroma siluman di hadapannya itu. Sang wanita beraroma siluman itu pun tersenyum menyeringai. Rambut panjang sang wanita menari-nari di udara sangat menawan. Mungkin wanita itu pikir, Penampilan satsuki yang mirip pria itu adalah pria sungguhan. Hingga siluman wanita cantik itu menyebar sihir pemikatnya ke arah satsuki melalui matanya yang mirip bola api itu.
Siluman ini pikir aku ini bodoh?! Bathin Satsuki.
"Hm... Rupanya sihirku tak mempan ya padamu sayang?? tapi ku harap kau bisa Minggir, lagi pula... siapa kau beraninya menghalangi tugasku..." Imbuhnya mesra. Satsuki enggan menyingkir meski wanita di hadapannya memintanya untuk enyah.
__ADS_1
"Aku akan pergi jika wanita di belakang ku ini baik-baik saja" Balsnya sigap. Siluman itupun tak ingin berdebat hingga mulai menyiapkan jemari nya yang saat itu mulai meruncing dan di penuhi kuku hitam yang panjang.
"Enyah kau!" Pekik sang siluman seraya meraih ancang-ancang. Iapun melompat ke arah Satsuki cepat dan menukik tajam hendak menusuk perut Satsuki dengan lengan runcingnya itu yang berwarana hitam pekat. Namun bukan Satsuki namanya jika ia hanya diam saja. Wajah santai Satsuki mulai merespon serang dari siluman cantik itu. Hanya dengan satu tangan Satsuki saja, ritme penyerangan sang siluman mulai tratasi.
"Hyaaaaa!" Teriaknya, Satsuki sigap meraih satu tangan siluman itu dengan santai tanpa exspresi kemudian menghempaskannya ke arah depan, arah di mana sang siluman itu tadi datang.
WHOOOSSHH! Tubuh sang siluman cantik itu terhempas keras hingga punggungnya menabrak pohon tinggi berumur ribuan tahun itu.
BRUAK! tubuh siluman cantik itu pun mendarat tepat dan menyakitkannya, ia mulai muntah darah, namun nyatanya darah yang ia muntahkan tak menghancurkan rasa marah di hati siluman itu. Hingga siluman cantik itupun kembali menyerang tubuh mungil satsuki yang tertutupi cadar itu.
"Keterlaluan! Hyaaaaa!" Sang siluman itu menyerang kembali hingga kecepatannya meningkat tajam.
Whhoooss! Satsuki sedikit kerepotan saat menghidar dari serangan sang musuh berpostur cantik itu, sebab kecepatan siluman cantik itu setingkat dengan kecepatan yang jade Jade Long kuasai.
Seraya menghidar, pikiran satsuki berputar-putar tanpa komando, bagai mana tidak, baru saja sebuah upacara pelepasan di laksanakan, ia sudah di hadapkan dengan sebuah pertarungan sepele yang cukup menguras energinya.
"Hm... Jade Long, Kau sungguh guru yang sangat berguna dan aku andalkan, terimakasih karna telah mengajarkan ilmu yang sangat bermantafaan untukku" Bathin Satsuki.
"Hosh! Hosh! Sruuuppt..." Napas terengah dari sang siluman di sertai juluran lidahnya yang membelah dua, mirip lidah sang ular.
"Hentikan, aku sudah muak, pergilah... jangan muncul di hadapanku lagi. Atau riwayatmu akan tamat saat ini juga" Imbuh Satsuki. Sang siluman yang berdiri tertatih-tatih itu mulai membelalakan matanya. Nampaknya kata-kata Satsuki membuat sang siluman cantik itu marah besar.
"Keterlaluan! sombong sekali kau pria kurus!!!" Teriak sang siluman itu, Kini entah apa yang terjadi pada sang siluman, satsuki hanya bisa menyaksikan sebuah perubahan apa yang terjadi pada tubuh siluman tersebut.
"Agghhhhhhhh!" Teriakan nyaring yang cukup mengiris hati itu menggelegar di area yang penuh kabut. Tempat yang entah berantah itu mulai mengeluarkan bau busuknya.
Sial, bau busuk apa ini?! Bathin Satsuki berkecamuk.
Tak lama setelah bau busuk mereda, kabut pun mulai menipis, di sela-sela jarak pandang, Rupanya sesuatu muncul. Satsuki sigap menangkap tubuh mungil wanita yang ia tolong ke atas pohon.
__ADS_1
"Ikut aku! Hub!" Imbuh satsuki seraya melompat. Namun rupanya gerakan satsuki itu terbaca oleh sang siluman yang saat itu merubah dirinya ke bentuk aslinya.
Whooosh! "Hyaaaa!!" Teriak sang siluman, Satsuki jelas mengelak saat serangan tiba-tiba itu terjadi. Dalam posisi menggendong wanita polos yang ia selamatkan, Satsuki tak segan bertarung meski sebelah tangannya tak bisa ia gunakan.
"Aaah!" Pekik Sang wanita yang di selamatkan satsuki, nampaknya wanita itu sangat ketakutan karna di hadapkan dalam situasi se genting itu.
"Matilah kau!!" Pekik siluman yang merubah tubuhnya menjadi seekor ular putih yang besar dan membuka mulutnya lebar hendak melahap Satski.
"Heh! Kau pikir bisa semudah itu?!" Satsuki melompat ke ranting-ranting pohon saat menghindari serangan dari sang ular putih itu. Akhirnya saat sampai di tangkai pohon tertinggi. Satsuki segera berhenti sesat lalu mengikat sang wanita yang di tolongnya dan mulai melompat tajam ke arah sang siluman ular amat gesit saat menyerang Satsuki itu.
"Rasakan ini!" Pekik sang ular membuka mulutnya lagi. Terlihat di sana taring-taring tajam berbisa itu siap ******* satsuki hidup-hidup. Tapi nampaknya entah apa yang di pikirakan satsuki hingga ia tersenyum menyeringai.
Satsuki melompat saat menghidar dari serangan. Satsuki melepas kunai-kunai yang ia isi di kantong kecilnya dan mulai menghujani sang ular itu.
Cleb! Cleb! dengan mudah beberapa benda tajam itu, masuk dan melukai daging sang ular siluman itu, kemudian setelah sang ular kesakitan, Satsuki mulai mengeluarkan sebuah kertas mantra yang bertuliskan segel kutukan. Syuuut... tanpa di rogoh terlebih dahulu, kertas itu tiba-tiba keluar dari dua jemari yang Satsuki siapkan saat mulut satsuki sibuk membacakan sebuah mantra.
Syyuuuttt...! Kertas mantra itu mulai sedikit terbakar. Satsuki melompat cepat ke arah tubuh sang ular siluman itu. Berlari tergesa-gesa ke arah sang ular yang tengah bergeliat ke sakitan itu. Satsuki mempokuskan penglihatannya ke arah kepala sang ular. Setibanya di sana.
"Tidurlah... yang nyanyak... Segel!" Ucapnya mulai menekan kertas mantra yang terbakar itu di area kepala sang siluman ular itu.
PLAK! kertas mantra mulai menempel di kepala sang ular itu. Sang ular terbelalak dan membatu sesaat. Satsuki mulai melompat menjauhi ular tersebut menuju sang wanita yang ia tolong.
"Kau..." Sang ular hanya bisa mengucap demikian.
Sigap Satsuki melepas wanita yang ia tolong tadi dan lekas pergi menjauh. Tak berselang lama, bahkan bisa di hitung dengan jemari satsuki. Kertas mantra yang di semai Satsuki di area sang ular tadi pun mulai bereaksi.
BUUUAAAAMMMM!!! ledakan berperkuensi mulai terdengar dan menggelegar di udara. Bahkan asap yang di timbulkan kertas mantra buatan Satsuki mengelembung ke udara dan menarik banyak perhatian para siluman. Bahkan klan iblis.
Di kejauhan. Satsuki berdiri di raniting terujung sebuah pohon seraya menggendong wanita mungil yang ia tolong tadi. Mata Satsuki menatap hasil maha karya terbesarnya, berupa ledakan besar dari kertas mantra itu.
__ADS_1
"Pendekar... terimakasih..." Ucap sang wanita yang di tolong oleh satsuki itu. Wajah wanita yang di tolong satsuki merona merah. Entah apa yang di pikirkan wanita itu, yang jelas dari gelagatnya, wanita itu berpikir Satsuki adalah seorang pria hingga terlihat gerak-gerik jatuh cinta mulai tumbuh di hati wanita itu.
Bersambung...