
Qiang Gu celingukan mencari sekeliling, Namun mata besarnya tak menemukan tanda-tanda bahwa seseorang telah berpijak di sana.
Ia meneruskan langkahnya dengan melompati batang pohon rindang itu satu persatu, namun nasib yang sama masih terjadi. Ia tak menemukan seseorang yang misterius di sana, hingga ia mulai merenung dan terdiam sesaat, lalu memejamkan matanya, terasa seseok angin menghembuskan aroma wewangian yang ia kenali.
"Bunga Camomille? Rasanya aku kenal bau aroma ini" Bathin Qiang Gu. Iapun segera membuka matanya, seraya mengingat aroma itu, Qiang Gu pun kembali turun ke bawah dengan ringan dan melompati satu persatu dahan pohon yang ia lewati tadi.
Sesampainya di tanah hitam yang di penuhi darah para perajurit ke dua klan, Qiang Gu pun mulai mengambil pedangnya dan memasukkannya ke dalam sarung pedang yang memempel di samping pakaian perang yang ia kenakan.
SREG! setelah itu iapun mulai melangkah kembali ke area benteng istana dan masuk kedalam benteng tersebut.
"Buka pintu gerbang!!" Teriak Qiang Gu. Para pengawal istana lekas membukakan pintu gerbang itu sesegera mungkin.
Gerbang terbuka, Qiang Gu masuk dengan tubuh yang cukup lelah, hingga ia berjalan sedikit tersendat-sendat. Kedatangannya di sambut ibu suri (Ratu Zhang) Dan permaisuri juga kaishar Zhang.
"Putraku!! Kau selamat nak?!" Sang Ayah yang sedari kepergian anaknya resah itu mulai berlari dan memeluk sang anak pernuh cinta.
"Kau! apakah kau terluka?! Tabib!! Panggil tabib!!" Teriak sang Ayah, para dayang segera berhambur dan memanggil beberapa tabib istana untuk menangani putra mahkota itu.
"Nak, kau baik-baik saja?" Sela sang ibu, Permaisuri Ling ling amat pucat saat tahu bahwa anaknya selamat dari peperangan, sebab sudah dua hari ia tak makan apa lagi minum. Rasa gelisah terus melikupi hatinya sejak Qiang Gu turun langsung ke medan perang.
"Tenanglah Permaisuri, biarkan Qiang Gu duduk sejenak, ia tampak sangat lusuh" Imbuh Ratu Zhang mulai menekan tubuh Qiang Gu dan mendudukannya. Meski perhatian berlebihan di berikan pada pria tampan yang selamat dari medan perang itu, tapi nampaknya pikiran Qiang Gu belum sepenuhnya utuh. Matanya masih menerawang kosong, dan membulat tak berarah.
Ia terlihat syok, atau malah sedang berpikir sesuatu. Ayahnya panik hingga memberinya seteguk air "Nak! Apa yang terjadi padamu! Katakan pada ku, Kenapa kau hanya diam dan melamun begitu?!" Tanya sang Ayah. Pangeran Qiang Gu mulai bergeming dari pandangan kosongnya. Ia mulai menoleh ke arah ayahnya yang tengah duduk di samping putra mahkota tampan itu.
"Ayah, lihat ini" Ucap Qiang Gu seraya menarik pedang yang tergantung di pakaian perangnya lalu membuka pedang itu dari sarungnya. Ia memperlihatkan beberapa tetes darah yang terlukis di beningnya pedang tersebut.
"Apa ini nak?" Tanya sang Ayah pada anaknya. Qiang Gu mengangguk.
"Inilah darah para rakyat yang telah ku bunuh!" Ucap Qiang Gu seraya melemparkan pedang itu di tengah para petinggi kerajaan.
__ADS_1
KLANG! pedang terhempas dan membuat seluruh orang mulai membisu dan menundukan wajah mereka. Sedangkan Qiang Gu yang tak bisa berbuat apapun hanya bisa menunduk sedih.
"Sampai kapan musibah ini terjadi? Sampai kapan rakyat kita jadi korban keganasan para klan iblis itu?! Sebenarnya apa yang mereka inginkan hingga kita tak bisa berbuat apapun untuk menolong para rakyat kita?! Bukankah istana ini cukup luas untuk mempertahankan rakyat kita?! Apakah kalian semua tak berpikir, bahwa kerajaan tak bisa berdiri dengan tegap, tanpa ada para rakyat!!" Qiang Gu menangis dengan semua ke bodohan itu. Karna serangan klan iblis yang tak kunjung reda. Mereka jadi bodoh dan mulai tamak. Tak ada yang memikirkan hal lain selain menyelamatkan diri merka sendiri. Hal itulah yang membuat Qiang Gu resah.
"Yang di katakan kakak memang benar! Kita tak seharusnya terus bersembunyi. Jika yang di inginkan klan iblis adalah benteng ini. Seharusnya kita bersatu untuk mempertahankan benteng dan rakyat kita. Jika rakyat kita di jadikan tentara boneka oleh mereka. Maka kita sangat gagal dalam mempertahankan benteng ini. Yang mulia, jika anda berpikiran luas, maka...bukalah segel ini. Lalu selamatkan rakyat kita yang tersisa" Jelas Qiang Qia, Ia datang menghempiri kakaknya yang telah selamat dari medan perang itu. Rupanya bukan hanya Qiang Gu yang miris pada keadaan itu. Tapi juga adik semata wayang Qiang Gu pun merasakan hal yang sama. Xing An yang datang bersama Qiang Qia ke faviliun utama merasa sangat senang saat putra mahkota itu selamat dari medan pertempuran.
"Putra mahkota, dia sangat berwibawa. Kelak dia lah orang yang tepat untuk jadi pewaris tahta milik ayahnya..." Gumam bathin Xing An di hiasi senyum tipis yang indah. Mungkin Xing An mulai mengagumi ke indahan dan kewibawaan yang di miliki Qiang Gu. Hingga dalam hatinya mulai muncul rasa suka yang tak pernah ia sadari.
"Adikku benar, sekaranglah saatnya kita bertindak. Klan iblis masih dalam mode lalainya, jika kita mulai bergerak sekarang maka inilah waktu yang tepat"Qiang Gu pun kembali berdiri dan mengungkapkan usulannya.
Kaishar Zhang lemas dan duduk seraya mengelus janggutnya yang mulai tak terawat.
"Bagai mana para tetua? Apakah kita harus bertindak sekarang?" Tanya Kaishar Zhang menatap tetua guru Young dan guru Li sung. Tetua Young dan tetua lisung mulai saling menatap dan mulai berdiskusi. Mereka mulai menerawang keadaan di sekitaran benteng kerajaan itu.
Setelah menerawang, mereka pun mulai membuka mata mereka "Aman. Mari kita buat pormasi pembukaan segel prisai ini. Lalu kerahkan para prajurit yang tersisa di benteng dan menyelamatkan para rakyat yang ada di sana. Kita harus melakukannya dengan cepat, jika terlambat sedikit saja. Maka bukan hanya rakyat kita yang akan mati. Tapi kita semua pasti akan mati" Jelas Tetua Young dan Guru Lisung.
"Dalam hal ini kita harus sigap tepat, dan cepat. Mari kita matangkan rencana" Ujar tetua Li sung dan kaishar Zhang. Qiang Gu mulai membuka suaranya lagi.
"Baik! Putra mahkota, kami akan segera mengumumkan waktu yang tepat setelah usai berdiskusi" Ucap Tetua Lisung.
Qiang Gu mulai berdiri "Nak, kamu mau kemana?" Tanya sang ibu risih.
"Aku akan meneruskan perjuanganku hingga usai" Balas Qiang Gu. Iapun mulai berjalan. Qiang Qia membelalakan matanya, ia sangat terkesan pada sang kakak yang tumbuh menjadi seorang pria tampan yang bertanggung jawab. Begitupun Ratu Zhang, ia sangat terkesan, kewibawaan dan tanggung jawab besar yang di pikul Qiang Gu saat ini sangat mirip dengan mendiang Raja Morui yang telah berjuang mempertahankan bentengnya. Tapi sayangnya ia mati di tangan kandidat para klan iblis. Saat perampasan batu Giok suci yang saat itu di pegang dewi perang, yaitu ibu dari satsuki (Kuai sammoro).
"Aku juga! Aku akan ikut turun ke medan perang!" Imbuh Putri Qiang Qia. Sontak, keingian putri semata wayang kerajaan itu mengundang kekagetan besar yang penuh tentangan.
"Apa!!" Teriak Ayah, ibu dan nenek putri tersebut.
"Kenapa? Aku tak takut mati, tapi yang aku takutkan adalah rakyatku yang punah. Satu putri tewas bisa di ganti dengan putri lainnya. Tapi jika rakyat kita habis, tak akan mungkin berdiri sebuah istana di sana. Percuma kita menyelamatkan benteng ini tanpa rakyat kita. Aku tetap akan pergi!" Imbuh Qiang Qia segera mengambil sebilah pedangnya dan berjalan melangkah mengikuti punggung sang kakak.
__ADS_1
"Putri... " Pekik Xing An. seraya mengikuti langkah Qiang Gu dan Qiang Qia.
"Ada apa Xing An!" Ucap Qiang Qia sedikit mengangkat satu alisnya.
"Izinkan saya ikut bersama anda" Pintanya. Qiang Qia pun sedikit menekan nada bicaranya.
"Tidak. Kau adalah salah satu orang yang harus ku jaga. Jika sampai terjadi sesuatu padamu. Maka aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Putri Satsuki adalah prioritas utamaku.Jadi jangan libatkan nyawamu hanya untuk ikut dalam misi ini" Balas Qiang Qia.
"Tapi..." Xing an kecewa, ia merasa sangat tak berguna hingga harus menjadi beban bagi semua orang. Apa lagi Satsuki. Permaisuri lingling berlari dan menghentikan anaknya.
"Tidak, putriku! Jangan pergi!" Teriak Permaisuri lingling seraya memeluk sang anak.
"Maafbu. Tapi pikiranku sudah bulat, tolong berkahilah langkah anakmu ini dengan doamu" Qiang Qia melepas lengan ibunya lembut dan kembali membalikan badannya menyusul langkah panjang kaki kakaknya.
"Anakku!!Hiks... kembalilah! Ibu tak bisa jika harus kehilanganmu!!"
Perajurit perang yang tersisa mulai bersiap memasang bendera. Mereka berjajar di depan gerbang. Kemudian Qiang Gu dan Qiang Qia mulai menaiki kuda perang dan mengacungkan pedang panjangnya pertanda siap siaga.
"Kita akan menerobos untuk menyelamatkan rakyat kita. Apapun bisa saja terjadi, tapi apapun yang terjadi kita harus siap dengan segala kondisi yang ada. Jika sampai terjadi perang. Maka kita harus bersiap mati dalam keadaan terhormat!" Imbuh Qiang Gu membuka aba-aba peperangan.
"Kami siap!! Hidup putra mahkota!!" Seru para jendral dan prajurit perang.
"Hidup!!"
"Hidup putra mahkota!!"
"Hidup!"
Kini mereka siap kembali masuk ke medan perang yang sangat tak manusiawi. Bagai mana tidak, mereka harus berjibaku mencari rakyat mereka yang bersembunyi di antara beberapa tentara mayat hidup.
__ADS_1
Sedangkan perjalanan Satsuki masih di hadangkan dengan beberapa rintangan exsterim. Selain para siluman, ia juga tak bisa menggunakan best spirt miliknya. Sebab selain sangat berbahaya. Jade Long sengaja membiarkan Satsuki pergi sendiri tanpa bala bantuan untuk meningakatkan ilmunya.
BERSAMBUNG.