Dendam Sang Putri

Dendam Sang Putri
Pertarungan yang menyedihkan


__ADS_3

Tetua Li sung beserta guru besar Young telah berhasil mengalahkan Kallen. Kini langkah kedua lansia itu mulai mengarah ke area pusat hutan iblis kematian. Disana pertarungan besar telah terjadi antara para aliansi perang dan klan iblis...


Blaaaaar!!! Suara ledakan keras terdengar bising hingga memuntahkan aura panasnya.


"Astaga! Tetua Li! Sebaiknya kita lekas berangkat ke area itu! Karna situasi di sana mampaknya tak baik-baik saja" Pinta Guru besar Young. Tetua Li sung pun mengangguk.


Mereka mulai bergegas pergi ke area tersebut dengan langkah cepat hingga tampak tak kasat mata.


Syut! Syuut! Syuut! Beberapa saat melompati puluhan batang pohon untuk menuju ke pusat hutan iblis kematian dimana disanalah tempat terjadinya peperangan besar. Namun langkah mereka mulai terhenti oleh seseorang yang melompat kabur sembari membopong tubuh seorang pria di pundaknya dan hampir menabrak kedua pria lansia itu.


Brak! Bahu mereka berbenturan "Ah!" Pekik Pria itu.


"Hati-hati!" Pekik Tetua Li sung meraih pakaian pria lusuh tersebut Gyuut! Langkah sang pria misterius itu pun terhenti di sana.


Tetua Li sung masih memegangi pakaian sang pria lusuh itu "Berhenti! Siapa pria yang telah kau gendong itu?!" Tanya Guru besar Young menyibat rambut seorang pria yang di bopong pria miserius itu, nampaknya pria yang di bopng itu tak sadar kan diri. Saat ia pastikan wajah di balik rambut yang berhamburan itu, raut wajah tampan khas putra mahkota terlukis jelas di sana hingga membuat Guru besar young terpana. Wajah tampannya tampak pucat pasi bak mayat.


"Putra mahkota!!!" Pekik Guru besar Young dan Tetua Li sung kaget hingga mata mereka membelalak. Pria itu pun mulai tertatih dan diam "Siapa kau sebenarnya?" Tanya Keduanya waspada. Mereka mulai mengeluarkan pedang mereka dari sarungnya. Ketika sang pria lusuh itu membalikan wajahnya. Tanpa sadar Hong Lian dan Sakkon datang dan menyerang tiga pria itu.


Whuuuuusssshhh! Hujan kelopak bungan Lotus merah mulai menerpa keras, Guru Li sung pun segera menghempaskan kertas mantra "Mantara pelindung!!" Teriak Tetua Li Sung.


Blaaar! Seperti terhalang material, kawanan kelopak bunga lotus itu mulai hancur ketika menerpa Dinding pelindung yang di buat oleh tetua Li sung.


"Hahahahaha, kau pikir kau bisa menghindar dari seranganku?" Tawa mengegelitik mulai terdengar, itu adalah Sakkon yang berlari seraya melemparkan sabit miliknya.


Whuuuuussssh! Sabit terhempas dari tangan sakkon hingga terlempar dan menyerang pelindung itu membabi buta..


"Waspada!!" Guru besar young terpekik ke tetua Li sung, sementara tangan Guru Young mengenggam erat pri misterius itu.


"Lepaskan putra mahkot sekarang?!" Bentak Guru besar young. Pria itu menghadap guru bedar Young lalu berakata "Lama tak jumpa, Young Sha" Ucap Pria itu. Gema suara yang terdengar tak asing di telinga dua lansia itu pun membuat mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah pria lusuh di depannya.


"Kau... apa maksudmu?" Tanya Tetua Li sung.

__ADS_1


"Hem... hampir dua puluh tahun lebih tak jumpa, aku yakin kalian pasti telah lupa padaku..." Imbuh pria tersebut. Mendengar ocehan itu, kedua tetua pun mulai teringat pada sebuah tragedi pembantaian kluarga jendral Huan Lan dengan alasan pemberontakan dan hingga klurga besar jendral huan lan harus di musnahkan, lalu Huan lan di buang dan di asingkan ke sumur tua di pulau terlarang.


Saat ingatan kedua tetua itu terkumpul, mataereka pun mulai membulat sempurna "Kau! Apakah kau Jendral Huan Lan?" Pekik Tetua Li sung menunjuk dengan tatapan tak biasa.


"Kaliam benar, Akulah Huan Lan, tapi... aku tak akan pernah menuntut balas atas masa lalu. Karna bisa melihatnya tumbuh sebesar ini, sudah cukup membuatku senang" Jelas Pria buta itu.


"Kau jangan lancang! Putra mahkota adalah putra dari Raja Xio Zhang! Jika raja mendengarnya, kau bukahn hanya di asingkan tapi juga akan di bunuhnya!" Bentak tetua li sung.


"Hem. Jika anak ini bukanlah hasil dari darah dagingku. Untuk apa aku repot-repot kabur untuk menyelamatkannya" Imbuh Huan Lan.


"Kau..." Marah Tetua Li sung. Guru besar Young melerai kemarahan tetua li sung.


"Hentikanlah, ini bukanlah saat yang tepat untuk saling menyalahkan. Tapi... yang harus kita lakukan adalah, mencari cara untuk mengurung dua mahluk yang telah di bangkitkan itu..."Ucap Guru besar Young menunjuk ke perisai yang hendak hancur itu.


"Sial" Erang tetua Li Sung.


"Kalian salah paham... yang harus kalian lawan bukanlah para mahluk itu, tapi seorang iblis yang bersembunyi dan membangkitkan para iblis itu, dia adalah Cang Un!" Ucap Huan Lan. Para tetua pun menoleh ke arah Huan lan.


"Cang Un?" Tanya para tetua Li sung.


"Sial, dimana iblis itu bersembunyi!" Bisik Tetua Li sung.


"Dia telah di jaga oleh Lee Dong Feng" Imbuh Huan lan. Dua tetua pun menoleh "Lee-Dong-Feng?" Ragu tetua Li sung.


"Maksudmu, anak raja Tang?" Tanya guru besar Young. Huan lan mengangguk "Jangan bohong! Mana mungkin itu pangeran Lee Dong Feng?" Tanya Guru besar Young Tak percaya.


"Jika tak percaya, lihatlah sendiri... mungkin dia punya alasan yang tepat untuk melakukan itu semua..." Ucap Huan lan. Saat mereka tengah bercengkrama, sbuah retakan mulat terdengar.


Krerrk! Treeeekk! Suara itu membuat ketiga pria itu menoleh "Awas!!" Teriak Huan Lan.


Blar! Prisai pun hancur sabit pun mulai muncul dari sepihan prisai yang ber hamburan itu.

__ADS_1


Wugh! Wugh! Wugh! Sabit masuk dengan memutar-mutar ke segala arah hingga melukai tetua Li sung yang tak sadar sedari tadi.


Jleb! Sabit itu terhenti di dada Tetua Ki sung yang saat itu berdiri di depan prisai tanpa kewaspadaan.


"Li sung!" Pekik Guru besar Young menghampiri. Huan Lan segera menurunkan Putra mahkota dan merebahkan nya di samping guru besar Young.


"Jaga anakku! aku akan membuat benteng petahanan!" Jelas Huan lan meraih pedang dan menghempakannya.


"Baik!" Angguk Guru besar Young.


"Ughh... Uhuk!" Erang tetua Li sung. Lengan kekarnya meraih sabit yang tertempel itu dan cengramnya. Ia hendak melepaskannya.


"Li Sng! Bertahanlah... aku akan mengambilkan pil pemulih untukmu!" Imbuh Guru besar Young gelagapan.


"Hahahahah" Saat sedang panik-paniknya rawa Sakkon yang terkekeh itu membuyarkan titik pokus mereka.


"Percuma, semakin kau berusaha melepaslannya, semakin erat saja tusukan itu. Kau tak akab bisa hidup hanya dengan pil pemulih saja, sebab di sana telah teroleskan racun lipan tingkat sembilan yang mematikan. Tinggal tunggu hitungan menit saja, kau akan mati Hahahahaha nikmatilah detik-detika menuju alam baka" Jelasnya membuat Guru besar Yonu marah dan hendak berdiri menghadang si Sakkon. Tapi tetua Li sung meraih tangan Guru besar young dan menghentikannya.


"Jangan" Pinta guru besar Young.


"Tapi dia..."Tak sanggup guru besar Young membiarkan tetua li sung dalam ke adaan tak berdaya seprti itu.


"Aku baik-baik saja... maaf karna aku harus berakhir di sini" Jelas Tetua Li sung dengan napas terengah.


"Tidak, jangan bicara begini... Kita datang bersma. maka kita harus pulang bersama juga" Ucap Guru besar Young menahan kesedihan yang sedari tadi menyumbat di tenggorkannya seperti hendak pecah.


"Maafkan aku..." Ucap Tetua Li Sung di akhir napasnya.


"Lisung! Li Sung! Tidak Li sung bangunlah... pertarungan kita belum usai. Masih banyak yang harus kita lakukan!" Panik guru besar Young menggoyang-goyangkan tubuh tetua Li sung kencang.


"Hentikan, di sudah tewas. Sebaiknya biarkan dia dan kita lawan mereka!" Imbuh Huan Lan mengacung-ngacungkan pedang itu. Betapa marahnya Guru besar young saat ia tahu bahwa pria yang jai sahabatnya itu telah tergeletak tak bernyawa di hadapannya. Tangan pria itu di kepal erat hingga di penuhi urat dan otot.

__ADS_1


"Takan ku maafkan! Kau telah membunuh sahabat baikku! Takan ku maafkan!!!!" Teriaknya seraya berdiri.


Bersambung...


__ADS_2