
Dendam Sang Putri
Part # 34 - Meluruskan Ambisi-
* * *
Kamar pribadi Coi Hong Nam...
" Huhuhuhu Sakit ayah!" Pekik Go Eun pada ayahnya.
" Tenanglah, kau akan baik-baik saja..." Ucap Coi Hong Nam menenangkan Go Eun. Iapun segera mendekati istrinya " Sayang cepatlah sadar" Coi hong meraih tangan Istrinya dan menciumnya... Matanya sayu dan sebab, Mungkin karna terlalu sayang pada istrinya hingga ia terlihat menderita.
Sudah lebih dari dua hari, sejak Satsuki mengarahkan serangan tenaga dalam nya pada Permaisyuri Atara, Hingga saat ini pun belum terlihat tanda-tanda kesadaran pada permaisyuri tersebut.
Tabib Istana selalu berkata bahwa Permaisyuri mengalami luka patal di jantungnya. Entah kapan permaisyuri akan sadar.
" Ayah, bagai mana keadaan ibu?" Tanya Xi Jai.
" Ibumu masih belum sadar"
"Keterlaluan! Aku harus membuat perhitungan dengannya!" Xi Jai hendak berangkat , namun di hentikan oleh Go Eun " Kakak! Kau cari mati ya, Lebih baik hubungi saja kakek! Bukankah kakek orang yang sudah menyegel monster hitam yang merepotkan itu! Suruh dia kemari untuk mengendalikannya"
" Kakek? Apakah dia bisa...?!" Pekik Xi Jai.
" Oh, Ia... monster hitam itu sengaja di tanam dalam tubuh satsuki untuk menguras habis tenaga dan energinya... Jika sekarang monster itu jadi menbantunya, maka kita akan celaka besar!" Pekik Coi Hong Nam.
Ia pun bergegas mengambil kertas dan stempel Emas untuk kluarga kerajaan di negri Sun Yi.
" Antarkan ini ke negri Sun Yi, Kerajaan Coi, Suruh kakekmu menerimanya"
" Baik Ayah, aku akan segera berangkat..." Xi jai bergegas dan mulai berangkat bersama para pengawal istana.
Rencana Coi Hong Nam kali ini adalah mengambil singgah sana Ratu Kuai di istana tersebut kembali ketangannya.
Anak sial, kenapa aku malah harus repot-repot membesarkan mu jika malah akan menjadi bumerang untuk melacarkan semua amabisiku. Batin Coi Hong Nam .
* * *
Aula istana, Beberapa dayang mengipasi putri yang terduduk di kursi kerajaan.
" Nona, Kau mau ku pijat" Tanya beberapa dayang istana tersebut.
" Enyahlah... aku ingin rebahan..." Balas Satsuki ketus.
Satsuki duduk di singgah sana yang baru saja ia dapatkan dengan susah payah. Ia bosan hingga tiduran di Faviliun Aula tersebut.
Membosankan! Pekiknya.
Hari ini ia libur sekolah, Kursi yang baru ia dapatkan tak ingin ia tinggalkan apapun alasannya.
" Mana? Sekertaris dan bendahara kerajaan ! Mentri! kumpulkan semuanya di sini! Bawakan aku laporan kalian!"
__ADS_1
" Baik ..." Para jejeran stap kerajaan tersebut seakan patuh pada telunjuk sang bocah.
" Mulai hari ini, seluruh pembukuan tentang kerajaan adalah urusanku, Semua yang berkaitan dengan kerajaan Kuai harus meminta izin dan tanda tanganku, Terutama hasil panen dan upeti para petani, harus jatuh ketanganku! Biarkan aku melihat semua laporan yang kalian tulis" Lantang satsuki membuat siapapun tercengang.
Penasihat saling berbisik mendengar ungkapan itu. Sedangkan mereka cenderung menentang pernyataan putri satsuki yang di perkirakan hanya akan menghambat kinerja para antek terajaan . Mereka belum sepenuhnya percaya pada anak yang masih labil. Apalagi untuk mengurusi istana di perlukan otak yang lunak dan bijak.
Para mentri berbisik. Mereka seakan enggan jika harus menuruti perintah bocah yang tak tahu apapun tentang seluk beluk istana dan segala kebutuhannya.
" Tapi Nona, anda takan mengerti semua yang kami kerjakan, Sebab anda masih kecil... sebaiknya semua keuangan dan laporan kami di serahkan pada tuan Besar Coi hong nam saja" Mendengarkan penjelasan tersebut , membuat Satsuki terbangun dari rebahannya dan duduk.
BRAAAAAKK! ia memukul meja di depannya dan tampak sangat marah.
Xing An mulai berdiri dan membuka suaranya " Sebaiknya tuan penasihat dan tuan sekertaris kerajaan segera melaksanakan perintah putri satsuki, Saya tak ingin anda semua terluka, mengingat Putri satsuki sudah tingkat petapa pondation murni" Ungkap Xing An tenang, ia mukai duduk kembali di kursi terdepan singgah sananya.
Degh! Seakan takut , para mentri dan kabinetnya segera menunjukan berkas-berkas kerajaan tersebut selama tiga bulan terakhir.
" Mana, Laporan Enam belas tahun yang lalu!" Tanya Satsuki dingin.
" Kenapa anda menginginkannya? Bukankah itu tidak penting" Ucap Sekertaris Woo.
" Tidak penting katamu! meski begitu, Laporan itu sangat penting bagiku! Ambil' Jangan bilang kalian menghilangkanya"
Sorot tajam dengan mata merah mulai terlihat . Para mentripun merasa seseorang memukul jantung mereka hingga mereka ketakutan.
" I-Itu tersimpan di perpustakaan kerajaan ini. Kami tidak bisa membawanya karna bersifat rahasia" Ucap Sang perdana mentri.
" Ambil... jangan terlewat satupun, Aku sedang tidak baik. Jika aku marah, akan ku gantung kepala kalian di grai lelang"
Apa? Pu-putri yang menyeramkan. Bathin perdana mentiri.
* * *
Beberapa menit setelah aula kosong... Yao datang dengan tenang seorang diri.
" Nona, Apakah anda memanggil saya?"
" Kau , Yao?" Tanya Satsuki. Yao mengangguk, Yao mulai berlutut di bawah kaki putri satsuki.
" Kau lakukan tugasmu dengan baikkan?" Tanya Satsuki.
" Ia, Saya punya info baru untuk anda..."
" Apa itu?" Satsuki mulai menyimak dan menumpukan kakinya seraya menyender dan memainkan buku catatan keuangan.
Yao celingukan kanan kiri, ia waspada. Iapun bangun dan berjalan menghampiri Satsuki lalu berbisik.
Apa?' Satsuki terbelalak dan diam saat mendengar bisikan Yao. Setelah itu, Satsuki mengepalkan tangannya dan menyungingkan senyumnya
" Ia, Mungkin besok mereka akan tiba, Jadi nona sebaiknya bersiap-siap" Yao mulai berdiri menjauh dan pamit.
" Tunggu!" Pekik Satsuki menghentikan langkah Yao. Yao menoleh dan ...
Pluk! Yao pun menangkap kantung berat berisi koin emas " I-ini?" Yao kaku atas penglihatannya.
__ADS_1
" Ya, ambilah itu. Aku akan memberikanmu lebih banyak lagi, Asalkan kau mau membagi info lain yang kau dengar dari Coi Hong..."
Yao senang dan ia pun terus berlutut untuk berterimaksih " Pergilah, Cari info lebih banyak, Kuharap kau akan terus setia padaku agar hidupmu lebih panjang lagi"
" Baik putri" Yao beranjak dan mulai keluar istana tersebut.
" Nona sekarang apa yang akan kita lakukan?"
" Kita akan memulai permainan yang menarik..."
" Permainan?"
" Ya. Aku akan membuat permaisyuri atara menangis. Yao, harus jadi selir Coi hong nam , Aku akan membuat hubungan Coi hong dan permaisyuri berantakan, Keretakan rumah tangga mereka akan berakibat pula pada kerajaan yang mereka miliki. Jika dulu Kerajaan Coi dan kerajaan Sui sahabat erat, Maka aku akan menjadi pemotong tali persahabatan mereka... kita lihat, akan semenyenangkan apa perang yang akan terjadi antara kluarga mereka. Coi Hong Nam, Sudah menghancurkan kkuargku, mana bisa aku membiarkannya bahagia..."
" Apapun kehendak anda aku hanya akan mengikutinya saja..."
" Bagus, Saat ini saja ... Kluarga kerajaan Xi Zhi, sudah Jijik pada Coi Hong Nam. dan sekarang kluarga kerajaan Sui.. akan ku apastikan merasakan hal yang sama"
Seakan tak puas, Satsuki ingin membuat siapapun yang telah menindas nya di masa lalu mendapatkan balasannya.
* * *
Kerajaan Coi
Xi jai sampai lebih awal setelah menaiki Shamonshom raigh elang terbang raksasa.
Ia segera menceritakan hal yang terjadi di istananya.
" Apa! Mana mungkin ini bisa terjadi! Apakah Anakku ( Coi Hong Nam) Tidak membunuh Putri Kuai sesuai perintahku?! Bagai mana bisa semua ini terjadi begitu saja!" Pekik Coi Moo sha.
Coi moo sha adalah kakek dari Satsuki, Xi Jai dan Go Eun.
" Entahlah, Padahal ayah sudah memberikan ramuan racun yang sering di minum oleh ratu Kuai. tapi nyatanya selama sepuluh tahun ini dia tidak kunjung mati" Jelas Xi Jai.
" Merepotkan, Bagai mana anakku bisa sebodoh ini!"
" Apakah akan terjadi masalah besar jika monster di tubuh satsuki sampai bangun?" Tanya Xi Jai risau.
" Bukan hanya masalah besar yang akan menimpa kita, Jika sampai mereka berikat kontrak, maka... kita akan habis, Monster itu sangat benci padaku karna aku yang telah mengurungnya disana"
" Ini sungguh aneh, Padahal anak itu sangat lemah, bagai mana bisa dia punya kekuatan yang luar biasa... bahkan dia bisa membunuh tanpa menyentuh lawannya"
Degh!
" Apa!"
" Kakek raja, kenapa kau kaget"
" Ini sungguh gawat... kekuatan monster hitam sudah tahap pemurnian dan hampir sempurna. Jika ia sudah berhasil menyempurnakannya, maka siapapun bukanlah lawan anak itu..."
" Gawat..."
" Xi Jai, ayo! Sebelum semua itu terjadi kita harus membunuhnya sekarang juga...!" Coi Moo sha mulai bergegas menuju istana ratu Kuai untuk melancarkan aksi pembunuhan , Untuk menghidari amukan Nae jime si jiwa gelap.
- Meluruskan Ambisi The End-
__ADS_1