Dendam Sang Putri

Dendam Sang Putri
Titik Celah


__ADS_3

"Berhenti bermain-main!" Teriak Seseorang, itu adalah Cang Un. Setelah suara itu terdengar, rupanya Lon ge pun kembali hidup. Tubuhnya yang sedari tadi tergeletak di tanah pun mulai bersatu dan utuh kembali.


"Tidak mungkin!" Bathin Satsuki. Lon ce yang saat itu hendak di serang Satsuki pun terkekeh lepas "Dialah kakakku! Iblis yang tak bisa mati" Ucapnya. Tentu saja Satsuki terbelalak.


"Dia tidak bisa mati? Belarti dia tidak punya jantung. Lalu... kenapa dia selalu melindungi adiknya? Apakah mereka kembar identik?" Bathin Satsuki. Ia sungguh memutar otak dalam mencari titik kelemahan Lon ge bersaudara.


"Jangan dekati adikku!" Teriak Lon ge mengepakan sayap hitamnya. Dan hendak menyerang Satsuki.


"Heh... aku tidak dengar!" Balas satsuki sinis. Apa boleh buat, Satsuki ingin mengetahui respon apa yang akan di dapatnya jika ia berhasil melukai adiknya.


Sreng! Pedang di ayun dan Lon ce pun menghindar. Satsuki menebaskan pedangnya berkali-kali ke arah lon ce danpun Lon ce tampak sangat ketakutan. Sedangkan Lon ge tentu saja ia tak biarkan adik kesayangannya itu terluka.


Saat ketegangan antara mereka terjadi, Cang un mulai memberi kode penyerangan "Lon ge! Cepat serang dia sekarang!" Teriak Cang Un di kejauhan.


"Diamlah Cang un! Aku tak bisa membidiknya di saat ia telah dekati adikku!" Teriak Lon ge marah besar.


"Apa maksudnya. Apakah dia tak bisa menyerangku hanya karna aku... ada di dekat adiknya? Apa yang akan terjadi jika dia menembakku dan tak sengaja melukai adiknya?" Bathin Satsuki. Pedang di ayun, lon ce terpojok. Satsuki pun mulai menebas ke arah perut lon ce. Tapi nampaknya lon ce menangkis pedang itu dengan tumit tangannya. Sedangkan tumit itu memakai besi yang kuatnya sama seperti pedang.


Srang! Pedang beradu. Melihat adiknya terpojok Lon ge sungguh marah hingga melesat cepat ke arah Satsuki dengan telapak tangan di isi bola hitam yang besar siap menyerang Satsuki.


Di saat bersamaan Satsuki mendapatkan sebuah jawaban akab kepanikan Lon ge saat ia hendak membunuh adiknya "Ini dia! Aku tahu titik lemahnya!" Setelah menyelidiki lebih dalam, rupanya satsuki tahu titik lemah lon ge adalah lon ce.


"Ketemu!" Pekik Satsuki kembali seraya meraih tangan Lon ce dan menyekapnya di tangan Satsuki.


Lon ce kaget begitupun Lon ge juga Cang Un. "Apa yang kau lakukan pada adikku?!" Teriak Lon ge menghentikan kepakannya di udara.

__ADS_1


"Ka-kakak, tolong aku" Ucap Lon ce.


"Hahahahaha... kau pikir aku bodoh?! Kalian memang kembar? Tapi, kalian hanya punya satu jantung bukan? jika aku menusuk jantung Lon ce. Maka yang terjadi adalah...Ini!" Teriak satsuki seraya menebas leher Lon ce. Jrat! Pedang berhsil memutus urat besar Lon ce. Lon ce pun terbelalak "Ka-kakak... maafkan aku..." Ucapnya seraya muntah darah. Lon ce pun oleng dan tergelincir, ia jatuh menghantam tanah. Sedangkan Lon ge, ia terbelalak tak percaya.


"Bagai... Bagai mana... kau bisa tahu! Uughh...akh! uhuk!" Darah mulai berhambur dan Lon ge pun jatuh tersungkur bersama adiknya.


"Heh... lantas saja seranganku tak mempan padanya. Pertarungan yang sungguh melelahkan!" Ucap Satsuki memasukkan pedang nya ke dalam tas pusaka.


Di bawah pepohonan...


Adegan menyedihkan terjadi, dua saduara itu tergeketak tak berdaya. Lon ge menangis saat melihat adiknya sekarat di depan matanya dan ia tak bisa lakukan apa pun untuk menolongnya. Lon ge yang saat itu sekarat pun mulai meraih wajah adiknya yang tampan itu "Dik... maafkan kakak telah membuatmu begini" Ucap Lon ge. Sang adikpun membuka matanya dan mengangkat wajahnya. Tatapan sayu mereka terpaut "Jangan meminta maaf pada ku kak. Aku sungguh bahagia, Setidaknya... pendekar itu telah membebaskan kita dari penderitaan" Balas Lon ce. Lon ge pun menangis dan mereka pun memejamkan mata mereka untuk selamanya. Sesungguhnya, keinginan Lon ce sangatlah simpel, Lon ce hanya ingin sebuah kedamaian, ia sangat muak dengan pertarungan dan penyerangan yang membuat banyak nyawa musnah. Saat Hei Lianhua berontak dan jadi penhianat. Iapun ingin melakukannya, tapi... Lon ce terlarir tanpa kekuatan. Ia hanya bisa berlindung di bawah kakaknya. Lon ce menganggap dirinya tak berguna. Hingga saat tiba kematiannya, yang ia rasakan adalah sebuah kebahagiaan. Sebab hidup atau mati, bagi Lon ce adalah dua hal yang sama. Hidup lon ce terasa mati, hibgga lebih baik mati dari pada hiduppun tak berguna. Lon ce bahagia...


Whuuuusssss... Desis angin bersemilir, tubuh Lon ge dan Lon ce pun mulai berubah menjadi kupu-kupu hitam yang berterbangan. Hingga saat semua kupu-kupu itu hilang, yang tersisa adalah satu permata roh pisis. Satsuki berlari untuk memiliki permata itu, namun Cang un pun datang lebih dulu dan mengambilnya cepat.


Brat! Bola bulat berwarna hitam gelap itu pun jatuh ke tangannya.


"Heh... untuk apa kau tahu" Balas Cang un. Satsuki pun mulai kembali meraih pedangnya dan bersiap, Cang un teliti dan mulai memgkoreksi pertarungannya dengan Lon ge "Kau teliti juga, semua manusia yang jadi lawan kami belum tentu bisa membunuh Lon ge bersaudara, tapi matamu cukup jeli juga rupanya?" Imbuh Cang Un masih berdiri di depan satsuki.


"Kau rupanya yang sedari tadi duduk sembunyi dan memberi aba-aba ya?" Tanya Satsuki.


"Benar sekali, tapi... aku tak heran, kenapa kau bisa membunuh ketua Kallen dan yang lainnya, Kau hebat juga dalam menyerang" Puji Cang un.


Satsuki yang sedari tadi waspada itu pun mulai mundur beberapa langkah, ia tak ingin omong kosong Cang un membuatnya lengah.


"Berhenti bicara omong kosong! Sekarang... jelaskan! apa sebenarnya maumu!" Teriak Satsuki seraya meraih pedangnya dan bersiap menyerang.

__ADS_1


"Hahahhaha, kau sungguh agresif sekali ya? Tapi, aku tak sedang ingin bertarung denganmu. Lain kali saja... Selamat tinggal!" Ucap Cang Un seraya menghilang "Whuusshh!" Cang un pun pergi sekejap mata. Dan pria buta yang merasakan pertarungan hebat itupun hanya bisa tersenyum.


"Cih. Aku tahu... dia adalah pendekar terhebat yang pernah ku lihat. Kelincahannya, sama seperti putri perang di masa lalu, seandainya ia masih hidup... mereka akan jadi prisai perang paling ektif untuk ada di garis depan, Lee kau pasti kalah olehnya. Nyawamu takan bisa kau peryahankan" Bisiknya seraya pergi meninggalkan area itu.


Sedangkan Satsuki menggumam tiada henti, tubuhnya sangat lelah kali ini "Cih. Apa-apaan mereka. Datang dan pergi sesuka hati, Haaah... baiklah... semalaman aku tak tidur, lalu pria berambut perak menyerang dan juga sikembar hitam itu, ya... aku sangat lelah. Aku ingin tidur sebentar" Ucap Satsuki mencari batang pohon lalu meloncat ke sana.


Ia membuat dirinya senyaman mungkin sebab rasa kantuk yang ia rasakan, hampir membuatnya gila. Setelah menemukan posisi yang tepat, Satsuki pun menutup matanya.


Perlahan kesadarannya mulai sedikit hilang dalam sebuah dengkuran keras. Tapi, malangnya hidup putri Satsuki, bahkan tidurpun ia tak bisa. Baru beberapa menit terlelap, sebuah teriakan keras terdengar "Huaaaaaa! Tolong aku!!" Teriak seseorang di dalam hutan kematian itu.


Sontak kedua mata rapat itu terbelalak, iapun segera berdiri dan melompati setiap batang pohon yang ada di sana untuk mencari asal muasal suara itu. Lama mencari, akhirnya Satsuki pun menemukan pusat suara itu.


"Pergilah! Jangan sakiti dia!!" Teriak seorang pria muda yang cukup tampan. Pria itu tak asing bagi Satsuki. Pria yang sedang memegang pedang itu berusaha menolong seseorang dari genggaman Best sprit jahat. Ya para best spirt jadi jahat karna mereka terpengaruh aura hitam milik para iblis.


Satsuki belum mau menolong pria itu, ia hanya berdiri di atas pohon dan menyaksikan perlawanan apa yang akan di lakukan oleh pria muda tersebut.


"Cobalah... kau asah kemampuanmu. Kau pasti bisa..." Bisik Satsuki seraya terkekeh.


***


Pertanyaannya...


Kira-kira, siapa ya pria muda itu? Hingga kelakuan pria tersebut mengundang senyuman Sarsuki.


Next episode...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2