Dendam Sang Putri

Dendam Sang Putri
Sebuah pengorbanan


__ADS_3

"Jika kau ingin bertarung! Akan ku layani!" Pekik Hei Lianhua.


"Jangan banyak bicara! Dasar mahluk hina!!" Hong Shi murka, ia mulai berubah menjadi mahluk yang mengerihkan. Ia kembali ke asalnya yaitu, ular merah raksasa.


"HYAAAA!" Heo Lianhua menyerang dengan sebilah pedang tajam Miiliknya. Di bantu Best spirt miliknya yang melesat cepat menuju Kearah Hong Shi yang bergerak dalam mode lambat.


JLEB! sebilah pedang yang di genggam Hei Lianhua berhasil menggores sedikir sisik apinya yang merah padam. Sisik Hong Shi bahkan membuat bunga Satsuki di sekelilingnya layu karna terbakar.


"Keterlaluan! GOAAARR!" Hong Shi menebarkan racunnya di udara. Namun nampaknya Hei Lianhua cukup lihai dalam mengelak beberapa serangan dari Hong Shi.


"Kau! Belum menyerah juga rupanya!" Tegas Hei Lianhua "Minggir!" Pekiknya kembali.


Hong Shi Sangat marah hingga ia enggan menyerah pada Hei Lianhua. Hong Shi melesatkan kepalanya cepat untuk mematuk Hei Lianhua. Namun di saat beramaan tubuh Hei Lianhua membelah jadi beberapa bagian. Hei lianhua kini menggunakan ilmu pembelah raga dan membuat dirinya menjadi lebih dari satu.


"Apa!" Teriak Hong Shi kebingungan. Ia mematuk satu persatu sosok bayangan Hei Lianhua lainnya. Tapi Hong Shi tak dapatkan satupun yang asli dari Hei Lianhua, semua yang berhasil ia sentuh adalah semacam sihir atau hanya bayangan. Berberapa lama Hong shi berjibaku melawan bayangan Hei lianhu yang gesit, Hingga Hong Shi tercoh dan membuatnya kehilangan Sosok Asli Hei lianhua yang menerobos ke area paling intim di pagoda tersebut.


"Celaka!" ucap Hong Shi bergegas menuju tempat pertapaan gurunya.


DI TEMPAT SAKRAL...


Hei lianhua sampai di sebuah ruangan yang di penuhi bau parfum satsuki. Hei Lianhuapun mulai melompat dari Bast spirtnya dan mulai menghampiri sebuah mantra formasi. Di tengah mantra tersebut sudah tergeletak jasad Satsuki yang berlumuran darah. Hei Lianhua yang menyaksikan pemandangan itu sangat terkejut hingga kakinya terasa lemas. iapun bersimpuh di hadapan formasi tersebut.


"Master!" Ucap Hei Lianhua pasrah. Di samping jasad Satsuki, Hei lianhua saksikan bahwa ada seorang pria yang cukup misterius. Ia bisa rasakan betapa dasyatnya aura pelatihan yang pria itu pancarkan.


"Petapa tingkat dewa?" Bisik Hei Lianhua. Jade Long yang sedang fokuspun mulai membuka matanya pelan.


"Siapa kau berani mengganggu Ritual pemanggilan Rohku ini!" Ucap Jade Long marah besar. Kemarahan Jade Long membuat seluruh dataran sedikit bergetar.


"Pemanggilan Roh? Apakah Master telah tewas?!" Tanya Hei Lianhua lemas. Jade Long mulai mendengus kesal "Siapa kau! Beraninya menerobos area paling sakral di tempat ini!"

__ADS_1


"Aku tahu! Ini adalah area paling intim! Tapi... ritual pemanggilan Roh takan berjalan lancar tanpa permata Roh picis!" Jelas Hei Lianhua. Jade long mulai menyeringai "Untuk apa kau imgatkan aku! Lagipula jika aku memintanya. kau takan bisa memberikannya"


"Kata siapa? Akan ku tukar, balas budi dengan nyawaku! Aku adalah bunga Lotus Hitam... Aku terlahir dari tetesan air mata para dewi khayangan, yang di turunkan ke bumi karna mendapat hukuman langit. Jika kau bisa membangkitakan masterku' Aku akan menyerahkan Roh permata Pisisku untuknya" Ucap Hei lianhua yakin.


"Heh, Naif sekali... kau mau merelakan nyawamu demi manusia rendah ini?" Bantah Jade Long.


"Tentu saja! Aku akan selalu ada kemanapun Master ku pergi. Jika aku mati, setidaknya aku ada dalam bagian hidupnya"


"Apa kau yakin? Apakah kau sungguh-sungguh akan memberikan permata Roh Pisismu demi membangkitakan manusia ini?"


"Kenapa kau masih bertanya? Meski aku tak bisa bereingkarnasi, tapi aku takan pernah menyesal. Mari mulai Ritualnya, aku akan segera mengeluarkannya sekarang juga" Hei Lianhua mulai membuka sebuah segel terlarang. Ia menaik dan menyetabilkan napasnya.


"UHUK!" darah mulai berhambur. Saat jemari Hei Lianhua berhasil membuka segel tersebut. Sesuatu dari dada Hei Lianhua mulai keluar. Cahaya putih bermotif hitam, Tampak seperti sebuah bunga lotus yang baru mekar. Lambat laun cahaya hitam tersebut mulai membulat dan bercahaya makin terang. Penciuman Hei lianhua mulai sedikit kabur. Seluruh suasana yang ia rasakan di area itu nampak pangap.


"Petapa! Ambilah... ini adalah pengadianku yang terakhi. Untuk sang master! Saat aku hilang, aku mungkin akan berubah menjadi bunga Lotus hitam yang indah. Aku akan menghiasi tempatmu hingga seorang dewi mau menitikan air matanya dan membuatku hidup kembali" Jede Long Mulai mengarahkan dua jarinya ke arah Hei Lianhua yang masih menadahkan cahaya terang itu di telapak tangan kanannya.


Cahaya tersebut mulai terbang mendekat searah dengan jari jade long tergerak. Sedikit tehnik gerakan tangan dan mantra yang ia ucao. Lalu Jade Long pun Menghempas cahaya yang di sebut Roh Permata pisis, itu oleh kedua telapak tangannya, agar bisa masuk Kedalam tubuh Satsuki yang tergeletak tak bernyawa itu.


"Master, aku akan selalu bersamamu... Aku bahagia! Inilah... abdian terakhirku untukmu"


SYUUUUT... Hei Lian hua pergi untuk selama-lamanya. Di saat bersamaan Satsuki yang mengalami tidur panjang itu mulai ingat sesuatu. Ia masih bermimpi bahwa saat ini ia ada di abad dua puluh satu.


MIMPI SATSUKI...


"Xitan! Bangunlah! Hari ini kita akan ada misi penting!" Ucap Zero menggoyang-goyangkan tubuh Xitan kasar. Xitan terbangun "Nggh! Berhentilah bertingkah. Aku sangat lelah, biarkan aku tidur beberapa jam lagi" Ucap Xitan.


"Jangan bodoh! Ayo! Jangan sampai kita terlambat" Xitan mulai bangun dengan sangat malas. Ia membuka pelan matanya.


"Dasar bab* betina, kau sungguh malas! Ayo cepat bangun!" Zero bersitegang. Akhirnya Xitan Bangun dari lelapnya.

__ADS_1


"Zero! Apakah kita masih ada di Cuang Teng?" Tanya Xitan. Zero tersenyum sambil berkata "Ya. Kita maaih ada di kota Cuang Teng, Ayo bergegas Misi kita adalah Memburu Artepak kuno peninggalan Dinasti Joung! Harganya sudah di nego! Jadi jangan sampai kita melakukan kesalahan!" Ucap Zero.


"Tunggu! Aku tak ingin pergi! Aku merasa kejadian ini sangat femiliar"


"Apa yang kau katakan? Tidak masuk akal?" Balas Zero abai.


"Tidak Zero?! Kemana kita akan memburu Artepak itu?!"


"Samudra hindia! Kita akan menjalan kan misi seraya kencan. Bagai mana? Menyenangkan bukan?"


"Samudra hindia? Aku merasa tak ingin pergi. Kenapa aku sangat familiar pada semua itu! Zero... bisakah kita batalkan?! Aku bermimpi sangat buruk. Dan kita berdua mati dalam insiden itu" Pinta Xitan.


"Cih, sejak kapan kau jadi seorang pengcut begitu! Ayo! Jangan banyak bicara. Bukankah satu minggu yang lalu kau sangat bersemangat! Kenapa sekarang kau malah mundur? Ini aneh bukan?"


"Tidak Zero! Jangan pergi! Kita tak seharusnya pergi ke sana!"


"Bodoh! Tunggu apa lagi. Pesawat telah siap, Ayo lekas, Jangan jadi paranoid gara-gara mimpi Anehmu itu!"


"Aku sungguh Ragu. Meski demikian, tapi rupanya Xitan mulai melangkah bersama perlatan mata-matanya dan segera berangkat menuju Samudra Hidia.


Benar saja, kejadian serupa terulang lagi, Xitan kembali tewas dan Zero pun mengalami nasib yang naas. WHOOOSSSSHHH! Xitan kembali ke jaman kuno.


Kali ini ia terbangun dalam keadaan penuh luka dan darah berhamburan di pakaiannya.


"Apa yang terjadi" Xitan Sadar dan membuka matanya.


"Kau sudah kembali" Ucap Jade Long. Xitan terperanjat dan mulai menatap seluruh area ruangan itu "Diamana ini!!" Pekik Xitan.


"Ini adalah menara tujuh pagoda suci milikku!" Imbuh Jade Long. Xitan mulai menatap pria tersebut tercengang. Kini semua ingatannya mulai berputar-putar dan mengisi sebagian memori yang hilang.

__ADS_1


"Selamat datang kembali di jaman dinasti tahun 995" Sambut sang guru. Xitan histeris saat satu persatu ingatannya mulai kembali.


BERSAMBUNG...


__ADS_2