
Satsuki terlelap bersama sang rubah berekor sembilan yang baru saja di jinakan oleh sebongkah batu crital berwarna biru. Batu tersebut adalah jelmaan dari Roh petir yang di berikan mendiang ibu Satsuki beberapa waktu lalu.
Satsuki tampak nyaman, ia tertidur pulas tanpa beban, jika dari dulu banyak hal yang ia pikirkan dan membebani jiwa juga pikirannya. Tapi kali ini tampak ia rileks dan menikmati lelap di mimpinya.
***
Beberapa saat hening, bahkan tak terdengar bunyi gemericik air sedikitpun. Namun tampaknya dunia tak seindah yang di bayangkan hingga terpaan keras mulai muncul.
WHOOSSHHH! angin berhembus meliuk-liuk tanpa sebab, Siiiiing... tiba-tiba hal yang tak terdugapun mulai terjadi. Seketika beberapa kunai dan belati tajam melesat cepat seiring datangnya angin kencang ke arah Rubah kecil dan Satsuki yang saat itu telah pulas. Beberapa senjata aneh yang tiba-tiba muncul itu menghujani Satsuki dan rubah berekor sembilan itu.
JLEB! JLEB! Senjata-senjata tajam itu meliuk kembali dan meleset tanpa arah saat di hempas musuh beberapa kali ke arah dua mahluk itu (Satsuki dan Sang rubah).
"Mustahil" Bisik seseorang yang bersembunyi di rindangnya dedaunan. Karna mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat, akhirnya mereka pun menyerang secara jantan hingga mereka pun menampakan sosok yang sedari tadi asyik menyerang secara halus, mereka keluar dari tempat persembunyian mereka.
Tap! Tap! Tap! Suara kaki yang menahan beban saat mendarat di permukaan tanah. Itulah Sakkon, Kallen, dan Ukkoni.
"Kekutan macam apa... Heh! Bahkan tampak dengan jelas ada sebuah mantra pelindung di sekitar mahluk lemah itu" Ucap Kallen. Sakkon menoleh ke arah Kallen yang sombong itu.
"Kenapa? Apakah kau ragu untuk menyerangnya Kallen?" Tanya Sakkon dengan senyum yang menyeringai. Rasa marah di hati Sakkon sama sekali belum reda. Apa lagi kepergian Hong Lian adalah ulah ke dua iblis keparat itu.
"Wah-wah... ada apa dengan mu Sakkon. Bukankah untuk hal sepele begini kau adalah jagonya" Ucap Kellen membalas cibiran Sakkon yang di tujukan padanya. Saat kedua pria iblis itu bersitegang. Ukkoni segera melangkah di tengah-tengah dan menghentikan ke bisingan dua sahabatnya yang bersiteru, entah apa alasannya.
"Hentikan! Jendral Hanbu menugaskan kita untuk menangkap Huli Jing dan membunuh pendekar kerdil itu, Kalian sungguh kekanak-kanakan!" Pekik Sakkon.
"Ini bukan urusanmu!" Dengus Sakkon kesal seiring membuang wajah nya.
"Ayo! Kembali keposisi kalian! Kita buat pormasi sihir untuk menjaring rubah tengik itu. Aku sudah membayangkan, tubuh mungil rubah tengik itu memiliki kekuatan yang tak kita ketahui, itu sebabnya... klan rubah harus di musnahkan, agar kelak tak ada yang bisa menggeser kekuasaan raja iblis dari daratan ini" Jelas Ukkoni lantang. Sakkon segera melompat ke arah kiri, sedang Kallen ke arah kanan dan Ukkoni di posisi tengah. Mereka mulai menyusun jemari mereka menyerupai sebuah segel.
Saat mantara terucap dari mulut para klan iblis itu, sebuah cahaya terangpun muncul.
Cliiing...
Cahaya itu membentuk sebuah jaring yang sangat besar. Bahkan beberapa bagian dari jaring itu sedikit berapi-api.
"Sekarang" Ucap Kallen. Ukkoni pun mengangguk, begitupun Sakkon.
SIIING... Jaring sihir di lempar para klan iblis itu ke arah sang rubah.
Whuuuusss!
Saat jaring hinggap di tubuh sang rubah, ekor sang rubah pun menghempas beberapa kali. Tapi nampaknya, kekuatan ekor-ekor itu tak bertahan lama. Sesaat setelah terjadi perlawanan hingga membuat sang rubah terbangun. Jaring sirih yang di lempar klan iblis itu tetap melekat dan pas di tubuh Huli Jing.
"Hahahaha... dapat! Kupikir dia ceras. Rupanya begini saja sudah cukup" Ucap Kallen.
"Baik. Sakkon... bukankah kau ingin membunuh sang pendekar kerdir itu. Baiklah aku akan berbaik hati membagi buruanku. Kau boleh mengambil bagian mu. Biarkan Huli Jing ku urus berdua dengan Ukkoni" Ucap Kallen sambil mengunci jemarinya dan menarik Huli Jing ke arah yang lebih terbuka.
"Goooaaarrrrr!" Erang sang rubah. Suara menggema yang terasa tersiksa itu berhasil membangunkan Satsuki yang tampak asyik bersama mimpi indah yang entah apa itu. Meski sang rubah belum terikat kontrak. Tapi nampaknya mereka (Satsuki dan Huli Jing) memiliki kontak batin yang kuat. Seperti ibu dan anaknya.
Sakkon segera tersenyum menyungingkan bibirnya "Heh. Baik... kali ini aku akan terima usulanmu. Dan aku akan menyelesaikannya secepatungkin" Ucap Sakkon seraya melompat bersama senjata pungkas nya.
__ADS_1
Lengkap sudah exsekusi hari ini, Sakkon begitu bernapsu untuk membunuh Satsuki. Sedangkan Ukkoni dan Kallen telah siap mengurung Huli Jing dalam sebuah permata pisis.
Sementara Ukkoni dan Kallen berkutat. Langkah Sakkon bersama kampak besarnya kian mendekat. Satsuki yang baru membuka matanya, mulai menyimak dengan seksama. Penglihatanya masih kabur dan kepalanya terasa berat.
"Tadi itu apakah mimipi?" Bisiknya seraya meremas kepalanya. Iapun memperhatikan apa yang ada di depannya.
Sosok samar tinggi besar berjalan mendekat, dilihatnya... ia menyeret sebuah benda tajam yang cukup besar. Dan barang itu mengingatkan Satsuki pada senjata milik Hanbu hingga ia segera waspada dan berdiri lalu memasang kuda-kudanya.
"Apa ini" Pekik Satsuki kaget. Penglihatannya kian jelas dan menampakan apa sebuah keadaan yang mendesak.
"Hahahahaha. Akhirnya kau sadar juga, setidaknya aku bisa merasakan sekuat apa mahluk pendek yang nampkanya lemah ini" Sakkon terkekeh dan terus melangkah mendekat.
"Cih. Klan iblis... kenapa kalian tak bisa tenang walau sekejap saja. Bukankah kalian telah mendapatkan apa yang kalian inginkan," Tanya Satsuki sinis.
Sungguh Sakkon tampak menikmati detik-detik menuju pertarungan melawan pendekar kerdil itu.
"Kerahkan seluruh kemampuanmu saat melawanku!" Pekik Sakkon mulai mengangkat kampak besarnya yang cukup pantastis untuk mencabik tubuh mungil Satsuki.
"Aku tak tahu ada masalah apa antara kita. Tapi jika kau ingin membunuhku. Maka aku hanya perlu melawanmu" Balas satsuki. Sakkon makin sebal dan memulai serangan.
"Cukup! Hentikan omong kosongmu itu! Dasar pembunuh!" Sakkon mengibaskan kampaknya mengarah ke Satsuki yang masih berdiri dengan kuda-kudanya. Satsuki segera melompat mundur untuk menghindar.
Syut! Syut! Syut! Satsuki mengelak dan Sakkon terus menyerang.
"Cih. Pria gila, kenapa dia begitu terobsesi untuk membunuhku. Heh... klan iblis memang menyebalkan" Bathin Satsuki mengumpat.
Syut! Kampak besar di ayun ke arah perut Satsuki, namun Satsuki berhasil sedikit membungkukan pundaknya hingga perutnya mundur beberapa mili. Hampir saja jika telat mengelak, isi perut satsuki sudah buyar dan berhamburan.
"Hahahaha. Hanya ini kemampuammu?" Tawa Sakkon memperolok. Satsuki segera berbalik dan mengacungkan kaki kanannya tinggi tinggi.
...Syut!...
Yang satsuki incar adalah dada sang lawan. Namun serangan Satsuki terbaca dengan jelas.
Sakkon kembali mengayunkan kampaknya ke arah Satsuki yang sibuk menyerang. Namun lagi-lagi satsuki mengelak. Kali ini ia mulai aktif menyerang.
Sakkon terus mendesak Satsuki dengan terus mengayun kampak besar itu beberapa kali. Tapi Satsuki yang mulai sadar dan menyetabilkan kemampuannya itupun segera melakukan perlawanan.
Syut! Pertarungan sengit terjadi, antara Sakkon dan Satsuki. Kampak di ayun cepat dan bertubi. Namun satsuki berhasil membungkuk dan kembali tegak saat Sakkon mengulang kembali serangannya. Saat Sakkon sedikit telat menyerang, kaki Satsuki lebih dulu memutar cepat.
Duak! Kaki ramping satsuki memutar seratus delapan puluh derajat, dan berhasil mendarat di perut Sakkon.
"Ugh!" erang Sakkon. Kerasnya tendangan itu membuat Sakkon terseret beberapa meter ke belakang. Meski demikian, nampaknya sakkon belum tumbang sedikitpun. Bagi sakkon tendangan secuil itu tak berarti apapun untuknya.
"Cih. Sekarang!" Bathij Satsuki, seraya berlari menyerang intrens kebarah sakkon yang terseret.
"Hahahaha, kau pikir kau pintar?!" Ucap Sakkon seraya menyeimbangkan kuda-kudanya.
Tak pikir panjang, Satsuki melompat tajam. Ujung kaki lentiknya menukik tajam ke arah perut Sakkon. Seketika, sakkon pun tak ingin tinggal diam. Ia melempar Kampaknya ke arah Satsuki yang datang menghadang Sakkon.
__ADS_1
Wug! Wug! Kampak di lempar ke arah Satsuki. Satsuki yang hampir tersayat segera mengeluarkan beberapa kunai dan belati untuk menghalau kempak itu.
Syut! syut!
KLANG! dua senjata tajam beradu di udara, hingga percikan api mulai menghujani dua petarung sengit itu. Belum puas Satsuki melampiaskan amarahnya. Satsuki meluruskan ambisinya saat hendak menendang Sakkon.
"Rasakan ini! Kita bertarung, dengan lengan kosong!" Satsuki tetap melesatkan tendangan ke arah Sakkon. Sakkon menahan tendangan itu dengan ke dua sikutnya. Kerasnya tendangan Satsuki membuatnya terseret lagi.
"Ugh! Pendekar tengik. Aku tak menyangka. kemampuan pendekar kerdil ini cukup hebat juga!" Bathinnya menggumam.
Pukulan, tendangan, juga tangkisan Satsuki saat menyerang Sakkon amatlah cepat. Ritme pertarungan yang di lancarkan Satsuki sama sekali tak terbaca oleh pihak lawan. Sakkon bahkan tak bisa menebak dari mana Satsuki muncul dan mulai menyerang dirinya.
Satsuki dengan kecepatannya yang seperti angin itu sudah sangat cukup menyulitakan Sakkon.
"Sial, jika begini terus, nasibku akan sama seperti Hong Lian... Sial!" Bathin Sakkon masih dalam mode bertahan.
Di arah utara hutan tersebut...
Terlihat Ukkoni dan Kallen masih berjibaku mengenalikan sang Rubah berekor sembilan yang saat itu dalam mode terlemahnya. Meski dalam ukuran kecil, tapi Sang rubah masih memberontak, meski sang rubah kesakitan saat dirinya terperangkap dalam jaring mantra berapi milik Klan iblis. Tapi nampaknya sang Rubah tak ingin menyerah.
"Ukkoni. Kenapa kita tak membunuhnya saja" Kallen menggumam kesal.
"Bodoh! Kita tak punya wewenang. Tuan Hanbu hanya menugaskan kita untuk membunuh pendekar kerdil itu" Jawab Ukkoni kesal.
"Heh! menyebalkan..." Ucap Kallen. Kallen pun menoleh ke arah Sakkon. Ia pun berasumsi bahwa Sakkon mati kutu saat melawan pendekar kerdil itu.
"Sial, apa yang di lakukan si bodoh itu!" Pekik Kallen. Ukoni menoleh ke arah dua netra sang kawan menatap.
"Sakkon? Apa yang dia lakukan?!" Tanya Ukkoni kaget sekaligus benci.
"Apa apaan dia. Kenapa dia sama sekali tak melawan serangan pendekar kerdil itu" Di lihatnya, Sakkon hanya diam dan menunggu serangan. Ia menangkis beberapa pukulan dari pihak lawan.
"Cih. Tidak berguna, apakah hanya dia saja yang bodoh!" Ukkoni menyinggung.
"Aku saja, biar aku yang memberskan semuanya" Kallen.
"Bodoh! Aku tak akan sanggup menakan amukan sang rubah sendirian" Pekik Ukkoni.
"Tanganku lebih gatal dari yang kau pikirkan. Biar aku habisi ke duanya!" Pekik Kallen.
"Apakah kau ingin membunuh Sakkon juga? Heh dasar Picik?"
"Ambillah bagian terbesarmu. Kau akan mndapatkan pujian trbesarmu"
"Apa!" Teriak Ukkoni. Kallen melepaskan lengannya dan berjalan ke arah pertarungan Sengit Sakkon dan Satsuki. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Next Episode
Bersambung...
__ADS_1