
Para tentara siap menunggu aba-aba dari putra mahkota dan para tetua li sung juga Guru besar Young.
Setelah kesepakatan terjalin dan matang, akhirnya Qiang Gu beserta putri Qiang Qia mulai keluar gerbang dan berdiri di benteng pertahanan terdepan.
"Qiang Qia, kau sudah siap! Ku harap kamu bisa mengerahkan kemampuan yang kamu miliki" Imbuh Qiang Gu. Qiang Qia mengangguk.
"Baik! Aku pastikan tak akan merepotkan siapapun! mari kita berjuang untuk melakukan apa yang tak bisa di lakukan yang mulia!" Balas Qiang Qia mantap. Qiang Gu tersenyum saat mendengar hal besar yang di ucapkan adik perempuannya itu.
"Majuuuu!!!" Teriak Qiang Gu mengacungkan pedangnya dan mengarahkannya pada tentara boneka yang masih berkeliaaran.
Akhirnya, sebagian prajurit bertarung dan mengayun-ayunkan pedang mereka ke arah para tentara itu. Sedangkan sebagian lagi menerobos setiap rumah penduduk dan mencari apakah masih ada yang hidup? lalu menyelamatkan mereka secepatnya.
Bagai manapun juga sudah hampir tiga bulan lebih klan iblis menguasai daratan itu. Hingga beberapa rakyat mati karna kelaparan juga terbunuh karna roh mereka di ambil paksa para klan iblis penguasa kota.
Jika Qiang Gu beserta beberapa tetua tengah berjibaku di medan perang. Maka tidak bagi raja iblis. Entah apa yang ia rasakan hingga setelah kepulangannya dari tempat Jade Long. Ia malah bersolek dan memakai apapun yang membuatnya terlihat indah dan tampan.
"Yang mulia, apakah anda ada di dalam?" Tanya jendral perang Hanbu.
"Ya. Tapi saat ini aku sedang sibuk" Balas Nae Jime. Hanbu terlihat sangat panik.
"Tapi yang mulia, hamba membawa berita penting" Tambah Hanbu. Nae Jime yang sedang sibuk bersolek dengan pakaian istimewanya pun segera mendelik ke arah pintu dan melangkah lalu membukanya.
KIIIIEEETTT! suara decutan engsel yang bergesekan saat pintu di buka. Hanbu kaget, iapun mulai berlutut dan menggulung telapak tangannya seraya membungkuk lalu memberi hormat.
"Apa yang membawamu ke faviliun ku hingga kau terlihat segelisah itu?" Tanya Nae Jime menghempas gaunnya ke arah belakang dengan angkuhnya.
"Ampun yang mulia, ini adalah berita penting. Di selatan hutan kematian, telah datang seorang pendekar bertubuh kerdil yang mengenakan jubah hitamnya" Jelas Hanbu. Nae Jime yang mendengar berita itupun segera menatap Hanbu dan mengangkat satu alisnya.
"Pendekar katamu? Hahahaha jangan bercanda denganku" Nae jime pun tertawa seakan tergelitik saat mendengar berita itu. Hanbu yang serius mulai memandang Raja iblisnya dan mendonggakan kepalanya ke arah sang raja iblis.
__ADS_1
"Sungguh yang mulai. Hamba tak bergurau sama sekali" Tambahnya. Nae jime pun mulai menggulung lengannya di perut dan menatap Hanbu dengan kedua matanya.
"Hem. Bukankah arah selatan adalah benteng kekuasaan Hong Lian? Mana mungkin ia membiarkan penyusup masuk lebih dalam?! kau pikir aku ini bodoh" Sela Nae Jime. Nae jime bahkan meremehkan berita yang di sampaikan oleh Hanbu. Ia malah mengutak-atik kuku putihnya yang bersih terawat itu bak maniku pedikur.
Hanbu pun menundukan wajahnya dan lidahnya terasa kelu saat hendak menyampaikan hal yang menimpa Hong Lian.
"Yang mulia, Hong lian telah tewas saat mempertahankan benteng itu. Pendekar bertubuh kerdil itu membunuh Hong Lian seperti sedesir debu" Jelas Hanbu. Nae Jime terbelalak dan segera menghempaskan jemari indahnya itu.
"Apa!" Nae Jime kaget dan marah besar.
"Ampuni aku yang mulia! Ini adalah kelalaianku" Hanbu bersujud di hadapan Raja iblis itu.
"Keterlaluan! Heh... beraninya lalat busuk masuk ke dalam area kabut hitamku" Pekik Nae Jime. Ia pun mulai membacakan mantranya. Tak lama setelah membacakan mantra sihirnya, iapun menggerakan telqpak tangannya dan membentuk sebuah lingkaran. Rupanya lingkaran itu mulai berubah menjadi sebuah cermin. Nae Jime pun melacak keberadaan Pendekar kerdir berjubah hitam itu. Saat sihir kabut hitamnya berarah kemana-mana, rupanya kabut tersebut bekerja seprti sebuah kamera CCTV, Akhirnya penampakan Satsuki pun terdeteksi olehnya.
"Heh! Diakah pendekar kerdil itu" Sinis Nae jime menatap seseorang itu penuh tanda tanya.
Ia melihat dengan jelas bahwa seseorang itu memakai topi penutup bercadar hitam hingga tak bisa menampakan wajah aslinya. Juga tubuh mungilnya yang kuat dan mampu menggendong seseorang yang lebih besar dari tubuh nya.
"Baik yang mulia, hamba akan segera berangkat" Ucap Hanbu mulai mengangkat tubuhnya dan mundur beberapa langkah ke belakang.
Nae Jime menatap kepergian hanbu yang langsung menghilang seperti sebuah cahaya. SYUUT! Nae Jime kembali masuk ke dalam kamarnya, dan beberapa dayang pun menutup kamarnya kembali. Nae Jime pun kembali bersolek dan memakai beberapa riasan wajah untuk menambah cerah dan press wajah tampannya.
"Apakah aku sudah terlihat sangat cantik sekarang?" Tanya nya seraya berputar-putar di area cermin pusaka besar yang ia miliki.
"Hem.Hahahaha, tentu saja aku sudah terlihat sangat tampan. Maka bukankah ini waktu yang tepat untuk menemukan putri Satsuki?" Tanya Nae Jime. Nae Jime kegirangan dan terkekeh tanpa sebab. Entah apa yang ia pikirkan, tapi yang jelas gelagatnya memperlihatkan masa puber yang sudah tak sepantasnya ia rasakan.
Bahkan tampaknya Nae Jime memang sangat menyukai wanita yang pernah ia singgahi itu, meski ia tahu bahwa Satsuki memang sangat menyukai sahabat lampaunya yaitu Zerro, tapi bagi Nae jime, Satsuki adalah sebuah misteri yang harus segera ia dapatkan dan segera ia pecahkan.
__ADS_1
"Baiklah... saatnya aku pergi dan mencarinya. Jangan salahkan aku jika setelah ku dapatkan, kau tak akab pernah ku lepaskan lagi. Gadis mungil. Hahahahaha" Tawa genit tapi sedikit menyeramkan telah terlontar dan lolos begitu saja dari mulut paman yang tampak sedikit cabul itu.
Nae Jime menghilang dan mulai mencari sosok putri dari legenda dewi perang Kuai sammoro itu, tanpa memberi kabar dahulu pada Hanbu atau klan iblis lainnya. Ia hanya terobsesi dan melakukan apapun yang ia inginkan semaunya.
***
Sedangkan di perjalana Satsuki, ia malah mendapat beban. Berupa seorang wanita berpakaian putih yang mengikutinya ke manapun ia pergi. Tampaknya wanita itu sangat suka pada Satsuki.
"Heh! Berhenti menatap dengan tatapan seperti itu. Aku sangat muak melihatnya" imbuh Satsuki.
"Pendekar, bagai mana aku bisa menyebutmu? Siapa namamu? Bolehkah aku tahu?" Tanya Wanita berpakaian putih itu. Satsuki menatap risih di balik cadar penutup kepalanya.
"Aku tak memiliki nama apapun. Jadi jangan panggil aku" Imbuh Satsuki dingin.
Astaga, pria dingin yang sangat angkuh ini mirip sekali dengan tuan besarku" Bathin Wanita itu.
"Baiklah, jika aku membutuhkan mu, aku akan memanggilmu pendekar saja ya" Pinta sang wanita. Satsuki masih dingin, ia masih terus saja mengulik kunai di genggamannya.
"Hentikan tatapanmu. Wanita bodoh!" Imbuh Satsuki dingin.
"Jangan panggil aku wanita bodoh! Namaku Huli Jing" Ucap sang wanita itu. Satsuki yang seari tadi dingin mulai menatap manik mata wanita itu dan mulai sedikit menahan tawa.
"Apa Huli Jing? Hummfff!!" Akhirnya sekuat apapun Satsuki menahan tawanya, ia pun tertawa terbahak-bahak. Mendengar nama Huli Jing yang artinya Rubah berekor sembilan membuatnya sangat terpancing hingga tak bisa menghentikan tawanya yang terbahak. Sedangkan Huli Jing mulai cemberut karna marah.
Rupanya posisi mereka terdeteksi klan musuh hingga musuh yang mengintai di balik dedaunan pun mulai melemparkan senjata tajam mereka ke arah Satsuki.
JLEB! JLEB! Satsuki menghindar dan segera menarik Huli Jing untuk bersembunyi di balik pohon.
"Sial! Mereka datang lagi!" Pekik Satsuki mulai menyembunyikan Huli Jing di tempat yang aman. Dan iapun segera menyerang balik para klan iblis yang di pinpin hanbu.
__ADS_1
Bersambung...