
"Kau sudah kembali?!" Tanya Jade Long, Xitan yang baru sadar mulai terbangun dan mengubah posisinya jadi terduduk. Tanganya terus memegangi kepalanya yang sedikit sakit.
"Dimana ini?" Tanya Xitan.
"Aku yang membawamu kembali" Balas Jade Long.
"Zeroo..." Tiba-tiba nama itu yang ia ingat.
"Zero? Lupakan nama itu, kau sebaiknya bergegas menyetabilkan energimu" Imbuh Jade Long.
"Apa maksudmu?"
"Bukan karna kau mati sekali pikiranmu jadi ikut bodoh, berapa orang yang telah kau libatkan? Kau sungguh pembuat onar. Manusia yang keras kepala!!" Olok Jade Long.
"Tunggu! Apa maksudmu! Dimana ini! Kenapa kau bicara hal yang tak kumengerti!" Bentak Xitan.
"Kau sudah tidur selama dua minggu! kini, saat sadar kau lupa apapun tentang tempat ini? Sungguh kau memang sangat merepotkan!" Jade Long mulai berdiri, Seketika formasi yang melingkari tubuh Xitan mulai menghilang.
"Hanbok? Pakaian ini... Nampak sepeti kostum?" Bathin Xitan.
"Dimana ini, Aku sama sekali tak ingat apapun? Selain kecelakan saat mencuri artefak kuno milik dinasti soung. Apa aku sedang bermimpi"
"Itu bukan mimpi, itu adalah kenangan kelammu sebelum kau datang ke tempat ini!" Jelas Jade Long.
"Sial! kata-katamu makin membuatku tak paham!"
"Sebenarnya kau baru kembali dari kematian! Seseorang telah rela memberikan jiwanya padamu. Ia memilih mati dan membuatmu hidup kembali, sungguh pengorbanan yang tak mudah" Jelas Jade Long seraya berjalan menjauh.
"Tunggu! Apa maksudmu!" Teriak Xitan. Jade Long mulai memutar langkah dan kembali menatap Xitan di kejauhan.
"Kau benar-benar bodoh!" Pekiknya. Xitan tak mnggubris. Kini kepalanya mulai makin berat dan sakit.
Jade Long berjalan makin dekat ke arah muridnya seraya mengarahkan tangannya yang masih mengepal itu "Kau lihat ini?" Tanya Jede Long pada Xitan. Xitan yang penasaran mulai memandangi kepalan tangan itu.
__ADS_1
Tangan Jade Long yang sedari tadi menggengam sebulir bibit bunga mulai terbuka, Xitan heran hingga bertanya "Ini biji buah kah?" Tanya Xitan. Jade Long tersenyum pahit "Biji buah? Karna mati beberapa hari saja, kau jadi bodoh dan tak berguna..."
"Berhenti memperolok! Aku sama sekali tak paham apa yang kau maksud! Meski aku jadi bodoh! Kau tak punya alasan untuk terus memperolokku!" Marah Xitan, Ia mulai berdiri dan menunjuk sang guru. Betapa kagetnya ia saat ia mulai berdiri tiba-tiba saja ia oleng hingga jatuh tengkurab.
"Apa!! Apa yang terjadi? Penglihatanku sedikit pudar?!" Pekiknya.
"Tentu saja, kau baru pulih dari kematian. Sekarang, meski kau enggan melakukannya, tapi kau harus terbiasa. Betapa besarnya hati Abdimu hingga mengorbankan hidupnya hanya untuk membalas budimu" Jelas Jade Long.
"Abdi? Balas budi? Apa maksud semua ini?"
"Ini... Ambillah biji Lotus hitam ini"
"Biji? Lotus Hitam?" Tanya Xitan Bingung seraya menengadah kan tangannya untuk meraih biji bunga yang di berikan sang guru.
"Kuburlah di tempat yang sejuk dan pastikan dia tersinari cahaya matahari" Imbuh sang guru seraya berlalu.
"Tunggu! Ini! Apa maksud semua ini? Aku sangat tak paham... untuk apa aku harus melakukan semua ini! Hanya sebulir biji bunga saja, kenapa harus di perlakukan dengan baik?! Ini hanya bunga? mereka bukan manusia"
Saat Gurunya beranjak, tiba-tiba kepala Xitan makin berat dan beberapa kenangan mulai muncul.
"Aghh! Apa ini! Sakit! Rasanya sangat sakit!" Beberapa ingatan Xitan dan Satsuki mulai berganti dan mulai berkumpul. Kepala Xitan seakan henak meledak dan tak tertahankan. Saat dua ingatan orang yang berbeda mulai bertubi hadir dan silih berganti.
Sebuah tangan penuh cahaya mulai menjulur dan menepuk pundak Xitan. Puk! "Master! Kau akan baik-baik saja" Ucap Seseorang. Xitan yang flustrasi mulai mendonggakan wajahnya ke seseorang itu.
"Kau... kau siapa? Kanapa kalian berpakaian aneh! Sebenarnya aku inu siapa? Siapa yang kau sebut master?!"
"Hem... Sebenarnya, aku adalah Abdimu. Sebelumnya aku mengikuti langkahmu karna sebuah tujuan, tujuanku adalah menjaga Raja iblis kegelapan yang bersemayam dalam tubuhmu. Tapi, lambat laun. Ada sebuah perasaan hangat, Aku sangat senang saat kita bisa saling bercengkarma. Perasaan aneh itu selalu muncul saat aku memikirkanmu. Kini tujuanku mulai pudar seiring berjalannya waktu. Yang paling penting bagiku adalah melihatmu bahagia. Tujuanku kini adalah bisa ingin selalu melindungimu. Meski tubuhku telah hancur, tapi... aku akan selalu melindungimu! Master, Berjuanglah hidup. Raih tujuanmu, Aku akan selalu ada bersamamu dan mendukungmu..." Jelasnya.
Sesaat lengan Hei lianhua mulai menyentuh pucuk kepala Xitan dan meneransferkan sisa aura yang ia miliki. Xitan mulai merasa tenang, Rasa sakit di kepalanya mulai menghilang dan kini Xitan mulai memejamkan matanya.
Kini, setelah Hei lianhua mentransferkan kekuatannya. Beberapa lembar ingatan Xitan kembali hingga ia menitikan air matanya.
"Zero... Xing An, putra mahkota... Hei... Lianhua!" Ucapnya seraya membuka matanya lebar-lebar. Sayang setelah Xitan menyadari roh pria di hadapannya. Roh tersebut telah hilang seiring kembalinya seluruh ingatan di masa lalu Satsuki.
__ADS_1
"Hei Lianhua! Dimana kau!" Teriak Satsuki mulai berdiri dan mencari.
"Aku! Aku sungguh bodoh dan ceroboh! Guru!! Ampuni aku! Tolong bina aku! Aku sangat ceroboh hingga membuat orang-orang di sekitarku menderita! Aku janji! Kelak, aku akan lebih bijaksana dan dewasa! Aku janji padamu guru!" Teriak Satsuki gelagapan mencari.
Tak berselang lama, Hong She mulai tiba di tempat satsuki yang tampak terpuruk "Master, apa yang kau ucapkan itu sungguh-sungguh?" Tanya Hong She. Satsuki yang baru pulihpun mulai mendonggakan wajahnya dan menatap Hong She.
"Kau... Kau adalah jelmaan dari Red Velvet?" Tanya Satsuki menyeka wajahnya. Hong She mengangguk.
"Apa yang terjadi? Apakah monster dalam tubuhku telah raip?"
"Ya, sekarang dunia mulai kacau... Tak ada yang bisa melawan Raja Iblis kegelapan. Meski kekuatannya baru kembali 10%. Tapi, nampaknya belum ada yang sanggup mengalahkannya" Jelas Hong She.
Satsuki mengepalkan tangannya dan pikirannya mulai di penuhi kebencian "Ini sungguh keterlaluan! Kekacawan ini terjadi karna ulahku!" Imbuh Satsuki.
"Lantas, setelah sadar dari kematian! Kau mau apa?!" Tanya Hong She.
"Aku, Aku harus menuntaskan masalah ini! Aku akan berjuang melawan iblis itu sekarang!" Jelas Satsuki Mulai berdiri tegak. Satsuki berdiri Terhuyung-huyung, Saat kakinya melangkah turun dari tempat ritual itu, tiba-tiba cahaya terang dan sedikit panas mulai menghalanginya.
CLING! Agkh! Sial! Satsuki terpental ke belakang. Ia kembali berdiri "Apa-apaan ini! Kenapa kau mencoba mengurungku! Guru! Biarkan aku keluar dari sini!" Satsuki yang terduduk itu mencoba bangkit kembali.
"Tunggu master! Jangan paksakan dirimu!" Teriak Hong She melerai tingkah konyol satsuki.
"Lepaskan aku! Aku harus menyelamatkan Xing An!" Teriak Satsuki gaduh.
"Tenanglah master! Jangan terburu-buru! Sebaiknya kau ta'ati perintah Gurumu. Mungkin tuanku ingin kau memulihkan energimu terlebih dahulu. Tubuhmu pun masih lemah, jika kau memaksa, kau akan mati lagi" Jelas Hong She. Satsuki mulai menurunkan Atensinya yang sedari tadi di penuhi amarah itu.
"Sebaiknya Master bersemedi dahulu untuk memulihkan aura pelatihan dalam tubuhmu. Tuanku tak akan mungkin mengeluarkanmu dari pagoda ini dengan dubuh lemah seperti itu. Jika kau bersikeras, maka kau hanya akan mengantarkan nyawamu saja. Sebisa mungkin, jagalah nyawa orang-orang di sekelilingmu... jangan biarkan mereka mati konyol dan mengenaskan" Imbuh Hong She. Satsuki mulai termenung atas nasihat Hong She. Ia mulai tenang dan terduduk bersila. Tangannya yang sedari tadi di kepal karna menggengam biji bunga Lotus hitam itu mulai ia buka. Iapun menyimpannya di dalam kantong penyimpanan. Untuk saat ini, Satsuki tak mempunyai cincin ruang itu karna gurunya telah lebih dulu menghancurkannya.
"Hei Lianhua... bertahanlah hingga aku berhasil membuat sebuah permintaan, Terimakasih atas pengorbanan mu ini. Aku pastikan aku akan menjadi manusia yang lebih berguna lagi" Bathin Satsuki.
Satsuki segera bersemedi dan mulai mengumpulkan energi Qi dari O lagi.
BERSMBUNG
__ADS_1