
***
Tiga kesatria muda itu mulai melanjutkan langkahnya sigap. Satsuki bertindak sebagai komandan pemberi petunjuk dan di ikuti Qiang Gu lalu Lee dong feng pun menguntit dari belakang.
Satsuki begitu antusias dalam melanjutkan perjalanannya menuju Istana Xi, Entah kenapa ada sebuah semangat tinggi yang berkobar di jiwanya.
Ia melompat cepat seraya tersenyum sendiri, pipinya merona merah. Dari nanarnya sudah terbaca... seakan ada sebuah kenangan indah yang terkias di benaknya saat itu. Mungkin saja ia ingat sebuah kenangan manis. Kenangan dimana ketika tiba-tiba seorang pria berambut pirang tampan menyelamatkannya dari serangan brutal Kallen yang hampir saja merenggut nyawanya.
Flasback...
Blarrrrzzzxhhh!! Kilatan pertir dengan prekuenzi tinggi tiba-tiba saja terhempas dan menghancurkan titik Fokus Satsuki. Satsuki menoleh ke arah tersebut ia pun terbelalak dan tak sempat menghindar... Blaaaarrr! Boaaam!
Suara ledakan berprekuenzi tinggi itu mengguncang hutan tersebut sangat dasyat. Hingga meluluh lantakan seisi hutan yang terkena serangan tiba-tiba tersebut.
Whuuuuussshhhh! Semilir angin menyeruat saat seluruh mahluk berusaha menghindar untuk mempertarhankan nyawa mereka. Namun... sebuah keanehan muncul, saat Satsuki membuka matanya "Eh..." Ia hanya bisa terbelalak tanpa berkata-kata. Ia sangat kaget ketika entah kenapa tubuhnya tiba-tiba ada di dalam dekapan seorang pria asing.
Pria tampan dengan rahang yang kekar, dagu runcing dengan bibir yang tipis, bahkan bibir pria itu tampak merah merekah bah berpoles gincu. Aroma tubuhnya pun sangat harum dan lembut hingga membuat Satsuki hanyut dan nyaman ketika ada dalam dekapannya. Ia tak mampu bertanya siapa dan bagai mana ia ada di dalam pelukan pria asing itu.
Satsuki hanya terdiam merasakan kehangatan yang familiar baginya. Sementara pria itu terus melompati beberapa batang pohon dan membawanya ke suatu tempat.
Pria asing itu membawa satsuki ke sebuah lubang di mensi waktu... Ketika mereka melompat Satsuki kaget hingga teriak tak karuan "Huaaaaaaaaa!" Teriakan melenting itu terus terdengar hingga lubang dimensi waktu itu tertutup rapat. Dan kemudian tersambung kembali ketika mereka mendarat di suatu tempat...
Whuuuusssshhhh.... Suara hembusan angin itu bisa di dengar dengan jelas oleh Satsuki. Satsuki mulai membuka matanya dan menyimak... ia tiba-tiba saja ada di dalam situasi mencekam.
"Apa ini?" Tanya Satsuki menatap pria berambut perak panjang itu. Pria itu tak merespon dan hanya bungkam seribu bahasa.
__ADS_1
Satsuki ada dalam masa lalu... Masa lalu yang menceritakan kenangan pahit keluarga kerajaan Kui. Pembantaian klan iblis yang terjadi di masa lampau itu berhasil merenggut segalanya.
Kakek Satsuki tewas di bantai klan iblis, Satsuki bahkan tak kuasa menyaksikan kenangan pahit itu. Hingga pada akhirnya adik dari ibu Satsuki di culik oleh klan iblis lalu di sandra. Bahkan sang raja iblis menanamkan racun yang tak bisa di obati dengan mudah. Hingga pada akhirnya, Ibu Satsuki harus mempermalukan dirinya sendiri. Di bantu Jade Long, ia pergi ke khayangan dan bertemu gambaran pria yang sama persis seperti laki-laki yang ada di samping Satsuki.
Rupanya, yang jadi penawar racunnya adalah aura fana duniawi. Hingga Ju Jian yang tadinya hendak naik kelangit menjadi dewa itu harus turun ke bumi. Ia tak bisa menolak permintaan Ibu Satsuki untuk tak menolong adiknya. Sebab, adiknya menderita hingga hendak tewas adalah karna ulah Nae Jime saudara kembarnya sendiri. Tanpa ragu, karna ia telah membuang sifat-sifat buruknya. Ia memilih mendapat hukuman ketimbang membiarkan adik Kuai Sammoro mati. Satsuki bahkan menyaksikan semua peristiwa itu sedetail mungkin.
"Ini... Hiks" Tangisnya menutup bibirnya.
"Maafkan aku... sebagai ayah, aku tak bisa melindungimu" Jelas pria tampan di sampingnya. Satsuki menoleh ke arah pria itu "Siapa kau sebenarnya? Apakah benar kau adalah ayah ku?!" Tanya Satsuki ragu bahkan ia mundur. Pria itu pun mengangguk tegas "Tidak mungkin! Kenapa kau tak pernah bertanya atau mencariku! Jika kamu sungguh ayahku! Harusnya sedetik saja. Kau bisa menjengukku lalu bertanya bagai mana kabarku!" Satsuki terus bertanya tanpa henti dan bertubi-tubi. Pria itu tetap diam.
"Kau sungguh ayah yang jahat! Kau bahkan tak tahu bahwa anak mu ini telah mencarimu ke semua tempat... aku, aku hanya ingin bertemu dan memastikan, apakah ayahku ini baik-baik saja ataukah dia masih hidup ataukah sudah mati...!" Tangis Satsuki menutup wajahnya dengan kelima jemarinya, bahkan ia menangis sesegukan tanpa henti.
Kali ini, Satsuki ada di dalam pase lemah dan posisi terburuknya. Pria itu segera melentangkan tangannya dan mulai meraih tubuh Satsuki lalu memeluknya di dadanya.
"Maafkan aku... tapi, selain di turunkan ke bumi... tubuhku pun hilang entah berantah, yang tersisa hanyalah Jiwa yang berkelana..." Jawab pria itu. Satsuki mulai mengisak dan menepis butiran basah di pelipisnya.
"Sebenarnya, aku yang kau pandang ini hanyalah sebuah Roh..."Jelasnya. Satsuki pantas kaget dan masih tak percaya.
"Roh! Mana mungkin itu bisa terjadi, bahkan mana mungkin Roh sepertimu bisa menggendongku yang nyata ini?" Tanya Satsuki menekan dengan nada tinggi.
"Cih. Jangan bercanda, aku bukanlah anak kecil yang bisa kau bodohi semudah ini!" Marahnya. Pria itu kembali membuka suaranya "Sebenarnya aku bisa menampakan wujudku karna mutiara pisis di jidak Huli Jing. Mutiara pisis itu adalah Roh petir langit kenangan terakhir dari raja langit, sebelum ia menghukumku dan menurunkanku... roh petir itu ku berikan pada putri dari kerajaan Kui hanya sebagai tanda bukti..." Imbuhnya. Satsuki mengangkat satu alisnya.
Apakah benar yang pria ini katakan? Bathin Satsuki.
"Selama ini, aku ada bersama jasad ibumu... namun setalah ke jadian itu, ibumu memberikan roh petir itu pada mu... lalu tanpa sadar, aku pun bangkit. Namun apalah daya, aku hidup hanya sebagai roh yang tak bisa bereinkarnasi..."
__ADS_1
"Lalu... bagai mana kamu bisa menampakan wujudmu seperti ini. Bahkan wujudmu amatlah sangat sempurna" Tanya Satsuki. Pria itu tersenyum...
"Jika selama ini kamu mencariku ke penjuru dunia. Maka aku sebaliknya, aku berusaha mengumpulkan energi ku hanya untuk bisa menampakan wujudku. Bagai mana pun juga... Bagai mana pun juga aku sangat rindu pada putriku, bahkan aku sangat terharu ketika pertama kali melihatmu di menara suci milik Jade Long... rupanya aku telah memiliki putri hebat sehebat ibumu di masa lalu" Jelas Ju jian dengan pipi merona dan mata yang berkaca-kaca.
"Mungkin dewa sedang berkehandak, ia tak ijinkan kamu mati di tempat mengerihkan itu. Saat kau hendak tertembak oleh musuh, tiba-tiba saja aku bisa menyentuhmu dan membawamu kemari..." Tambah Ju Jian dengan nada bergetar. Sesaat ia tahan air mata itu, namun nampaknya air mata Ju jian telah tumpah ruah karna ia terlalu bangga melihat anaknya yang tumbuh sehebat ini.
"Aku sungguh tak paham... bagai mana kamu bisa menampakan wujud sempurna begini..." Tangis Satsuki. Akhirnya di tahan pun keduanya tetap menangis haru.
"Putri Satsuki... sebelum aku menghilang lagi, maukah kamu bilang satu kata..." Tanya Ju Jian menitikan airmatanya seraya tersenyum tipis.
Satsuki menatap pria di depanya itu "Satu... kata?" Tanya Satsuki bingung. Ju jian mengangguk 'Ya... aku hanya meminta ini satukali seumur hidupku... Jika kau berkenan,"
"Ya. Katakanlah, aku akan mengucapkannya sekarang" Satsuki mulai panik ketika ia lihat bahwa tubuh ayahnya telah sedikit-demi sedikit membias.
Ju jian tersenyum "Tolong panggil aku ayah untuk pertama kalinya..." Pinta Ju jian. Satsuki amat ragu, lidahnya terasa kelu dan enggan mengucap.
"Kataakan satu kata itu... aku sangat ingin mendengarnya" Pintanya lagi, sementara tubuh Ju Jian hampir sepenuhnya hilang.
"Jika kamu marah, tak di ucappun tak apa... tapi aku senang mempunyai anak pintar dan hebat seprti mu. Berjuanglah anakku" Imbuhnya. Satsuki mulai membelalak tak paham, tentang situasi itu. Air matanya menetes hingga mengalir begitu deras. hingga bibirnya mulai berkata "Ayah!" Teriaknya seraya melompat dan hendak memeluk. Tapi terlambat, ayahnya kembali memudar dan tak bisa di sentuh lagi. Namun nampaknya Jujian amat senang hingga ia tersenyum lembut menatap anaknya dengan sangat bangga.
"Terimakasih anakku... aku sangat menyayangi dan mencitaimu... berjuanglah..." Ucapnya seraya hilang bersama hembusan angin lembut. Satsuki terpana hingga ia teriak sekencang-kencangnya "Ayaaaahhhh!!" Ia amat menyesal karna ia tak sempat memeluknya.
"Ayah... ayah.... Hisk... ayah, kembali... maafkan aku karna aku tak bisa memahami keberadaanmu begitu saja. Aku sangat menyesal ayah" Tangis Satsuki mengepalkan tangannya dan menepuk-nepuk apapun yang ada di sampinya.
Whuuuussshhh... Seiring perginya sang ayah, suasana ruang waktu pun mulai kembali ke semula dan Satsuki hanya terdiam di atas pohon sendirian. Kini satsuki mulai paham, kenapa selama ini ia tak bisa menemukan ayahnya. Rupanya ayahnya saat ini tak lebih dari sebuah roh yang tak memiliki raga. Sebab raga ayah Satsuki entah berantah.
__ADS_1
Flasback Off...
Bersambung....