
***
Akhirnya Guru besar Young di makamkan di samping makam tetua Li sung. Meski puluhan Aliansi perang tengah berduka, karna kehilangan dua sosok yang paling legendaris di benak mereka. Tapi kenyataannya adalah mereka harus menerima dan tetap tegar. Sebab di medan perang apapun akan terjadi.
"Selesai berdoa, persiapkanlah diri kalian... sebab, perjuangan kita belumlah usai. Dua tetua yang paling kita hormati dan sayangi ini telah berpulang. Mereka gugur dalam tugas mulia... jadi, jangan sia-siakan perjuangan mereka. Kita lanjutkan perjalanan menuju istana Xi sesuai yang di minta kedua mendiang. Sekarang, nyawa seluruh umat manusia sedang di perjuangkan. Jadi bersiaplah!" Pinta Huan Lan. Para prajurit Aliansi perang pun mulai bersiap, mereka segera berdiri dan melangkah ke garis depan. Langkah mereka tertuju ke satu arah, yaitu istana Xi.
Sedangkan saat ini, suasana hati Huan Lan amatlah sangat buruk, ia tak bisa berfikir jernih sebab anak laki-lakinya tiba-tiba hilang tanpa sebuah pesan ataupun kabar.
Putraku dimana pun kau berada... semoga kau tetap dalam keadaan baik-baik saja dan tetap bertahan untuk hidup apapun yang tejadi. Aku yakin... kaulah adalah pembuka jalan menuju kemenangan itu. Bathin Huan Lan risih.
Para Aliansi perang mulai perlahan berkurang seiring berhaburannya kelompok mereka dengan tertib.
Syut! Syut! Huan Lan pun bergegas pergi mengikuti para anggota Alinsi perang. Ia membuntuti kawanan itu dari belakang. Akhirnya, para Aliansi perang juga huanlah hilang di kejauhan.
Di tempat lain...
Syut! Syut! Putra mahkota masih mencari keberadaan Cang Un dan Lee dong feng. Saat ia tengah berkutat mencari, suara tawa menggelitik pun mulai menggema di hutan itu.
"Hahahahaha, sial! Sebagian tentara alam baka ku telah di segel hingga aku tak bisa membangkitkan mereka kembali. Ini benar-benar menyebalkan!" Bentak cang Un masih memainkan benang-benang sihir di jemarinya. Suara gema itu yang di dengar putra mahkota, hingga ia dengan sigap mendekati tempat itu. Putra mahkota melangkah pelan hingga mengendap-endap. Ia menyibat dedaunan itu pelan.
Srak! Netranya jelas menyimak bahwa ia tengah melihat Cang Un di kejauhan dengan sangat jelas.
Itu dia! Tapi dimana kak Lee berada? Bathin Putra mahkota. Perlahan, ia mulai mengambil gagang pedang itu lalu mengeluarkan pedang dari sarungnya. Sreeeng! Suara itu mulai terdengar jelas hingga membuat Cang Un teriak "Siapa di sana!" Bentaknya. Cang Un segera mengarahkan benang di jemarinya ke arah putra mahkota bersembunyi.
Whuuuuuusssshh! Saat benang di arahkan, ternyata Lee dong feng mulai keluar dengan sebilah pedang tajam di genggamannya. Pedang itu tertuju tepat ke leher Putra mahkota. Hingga putra mahkota terbelalak dan sigap melompat mundur.
__ADS_1
Apa! Kakak! Hub! Bathin Putra mahkota berhasil mundur.
Whugh! Whugh! Pedang tajam itu di kibas-kibaskan beberapa kali ke arah Putra mahkota. Namun seakan enggan membalas. Putra mahkota malah mundur dan mengelak terus menerus.
Aku tahu! Ini bukanlah kakak Lee. Dia ada dalam pengaruh sihir iblis itu. Bathin Putra mahkota.
"Hahahaha... kenapa! Kenapa kau tidak melawannya? Apakah karna dia adalah bagian dari kluarga kerajaan? Hahahahaha... kau hanya harus memilih. Mati di bunuh atau membunuhnya lalu bertahan hidup? Bagai mana? Lawan dia sekarang!" Imbuh Cang Un di iringi tawa yang menyebalkan.
Syut! Syut! Putra mahkota tetap menghindar meski amarah telah berkumpul di dadanya.
"Cih! Tertawalah... tapi aku tak akan menyerah padamu yang hanya seorang pengecut!" Pekik Sang putra mahkota menantang. Seraya menghindar dari serangan Lee dong feng yang membabi buta.
Yang perlu aku lawan rupanya bukanlah kakak. Tapi kau... sebab kau adalah lawan yang sangat berbahaya. Kau sungguh orang yang tak punya kemampuan selain memperdaya orang-orang di sekitarmu. cang Un. Bathin Putra mahkota menggumam.
Syuuttt! Pedang di kibaskan Lee dong feng ke arah perut putra mahkota. Dan kemudian putra mahkota mulai menahannya dengan pedang miliknya. Nampaknya hanya dengan menghindar saja, tenaganya sudah mulai berkurang. Jika ia terus menerus menghindar, maka ia bisa saja kehilangan nyawanya.
Trang! Treng! Suara pedang saling berbaur satu sama lain. Ngggggiiiiikkk! Lee dong feng mulai membuat putra mahkota terpojok di batang pohon Zhen yang besar. Ia tak bisa menghindari serangan Lee dong feng lagi. Pedang Lee di tekan hingga menghasilkan bunyi ngilu yang menusuk telinga Putra mahkota.
"Kakak! Sadarlah ini aku! Qiang gu! Kakak! Kakak sadarlah... yang harus kita lawan adalah iblis itu!" Teriak Putra mahkota tak tahan saat menahan tekanan pedang sang kakak yang paling ia hormati itu. Namun nampaknya tak ada tanda-tanda Lee Dong feng akan sadar.
"Kakak!" Teriak Qiang Gu lagi.
"Hahahahhaha... untuk apa kau susah payah membangunkannya. Sebab sekuat apapun kau berteriak hasilnya akan tetap sama. kau tetap akan mati di tangannya!" Ucap cang un di iringi tawa nya yang menggelitik.
Sial! Ini bukanlah akhir... aku tak boleh mati! Bathin Qiang Gu.
__ADS_1
Pedang yang di tekan Lee dong feng mulai sampai di leher Quang Gu hingga membuat lehernya sedikit tergores Sreeet! hasil dari goresan itu membuat sebuah luka kecil yang berhasil mengeluarkan darah merah segar.
Tes! tes! Sedikit lagi... leher Qiang Gu bisa putus oleh tajamnya pedang lee dong feng.
"Kakak! Sadarlah!" Teriakan keras terjadi mengiringi kepanikan Qiang Gu. Peluh lebat dari jidaknya menetes lebat hingga membasahi wajahnya.
"Hahahaha... kau sudah terpojok sekarang!" Ucap cang Un mengolok. Saat suasana sedang genting-gentingnya. Seseorang dengan topi Caping datang dari arah pucuk pohon. Ia menyamatkan kaki jenjang nya untuk siap menendang.
Syuuutttt! Runcingnya kaki itu berhasil mendarat di tubuh Cang Un yang saat itu tak sadar dengan kedatangan seseorang tersebut. Hingga sebuah tendangan keras berhasil mendarat tepat di kepala Cang un.
Buak! Uuuuaaah! Pekik Cang Un. Seketika Cang Un terjatuh ke bawah dan menabrak beberapa ranting pohon kekar hingga batang-batang itu patah. Buak! Cang Un terjatuh keras ke tanah hingga ia sedikit kehilangan kesadarannya. Qiang Gu tak bisa pastikan siapa yang datang di saat yang tepat. Lee dong feng yang sedari tadi memejamkan matanya mulai sedikit sadar.
"Ngggh!" Lenguhnya membuka pelan matanya.
"Kakak!" Ucap Qiang Gu. Saat suara Qiang Gu terdengar oleh Lee dong feng. Lee segera membuka matanya lebar dan betapa kagetnya ia, ketika melihat adiknya dalam keadaan tak berdaya dan yang membuatnya tertekan adalah Lee dong feng sendiri.
Prang! Seketika pedang itu di jatuhkan Lee secepatnya.
"Kakak! Kau sadar!" Tanya Qiang Gu.
"A-adik... apa yang telah aku lakukan padamu" Tanya Lee dong feng panik.
"Tidak, kau tak lakukan apapun! Untuk orang itu datang!" Tunjuk Qiang Gu. Lee pun menoleh ke arah itu. Ketika topi caping di lepasnya. Sosok pamiliar pun mulai terlihat. Dan membuat kedua pria itu terbelalak sempurna.
"Ah! Dia..."
__ADS_1
Bersambung...
"