
Hari itu, lagi-lagi dunia telah berduka. Mereka kehilangan satu persatu ksatria yang hendak merenggut kemenangan dari sang klan iblis. Hanya harapan dan keinginan untuk hiduplah yang mampu membuka jalan menuju kemenangan.
Whuuuussshhh! Semilir angin mulai berhembus di hutan kematian itu mengiringi pemakaman tetua Li sung yang malang. Ia telah gugur dalam perjuangan merebut sebuah kemenangan yang entah kapan akan tercapai.
Guru besar Young yang berdiri di depan makam sang sahabat berusaha tegar dalam mengantarkan sang sahabat hingga ke peristirahatan terakhirnya. Setidaknya tetua Li Sung telah melakukan tugas mulia hingga kehilangan nyawanya.
"Sudahlah... yang ia butuhkan bukanlah penyesalan. Tapi kita harus lekas melanjutkan misinya yang tertunda. Ia punya harapan besar tentang sebuah kedamaian. Jika kita bisa menyelesaikan mandatnya itu. Pastilah ia akan sangat bahagia di sana. Maka dari itu, kita harus lekas!" Imbuh huan Lan. Guru besar Young yang belum bisa menerima kematian Li Sung pun mulai membulatkan tekadnya.
"Ini semua adalah ulah klan iblis. Mereka dengan teganya memulai sebuah perang yang enymtah kapan akan berakhir... ribuan nyawa tak berdosa telah mereka renggut. Termasuk Li sung sahabatku! Jadi... dengan berat hati, aku akan mengukir dendam ini hingga peperangan usai!" Jelas Guru besar young mengepalkan tangannya. Tumpukan tanah itu adalah bukti bahwa sumpah yang di lontarkan sang tetua tersohor di Kui telah terukir.
"Huan Lan! Ayo kita lanjutkan tugas yang belum terselesaikan oleh Li sung sahabatku!" Ucap Guru besar Young Lantang. Huan lan sedikit tersenyum dan mulai melangkah mengikuti punggung tegap tua itu mengarah.
"Kita serang klan iblis hingga titik darah penghabisan!" Pekiknya lekas melompati beberapa batang pohon menuju pusat peperangan yaitu di tengah hutan kematian.
Hutan kematian tengah...
Beberapa saat melompati batang pohon, akhirnya Huan lan dan guru besar Young tiba sina...Betapa trkejutnya guru Young ketika ia lihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa Dewi perang Kuai sammoro ada di antara pasukan alam baka.
Degh!
"Dewi perang pun ada di sini rupanya... heh! Sungguh, ia tak mudah untuk di hadapi" Ucap Huan Lan ragu. Guru besar Young pun masih tertatih di sana dengan netra menatap sang Dewi perang intrens.
__ADS_1
"Bagai mana sekarang? Kenapa kau diam? Ingatlah dia bukalah muridmu lagi, dia hanyalah mayat hidup yang di manfaatkan oleh klan iblis untuk kepentingan mereka saja. Jadi jangan ragu" Jelas Huan Lan. Guru besar Young mulai menyungingkan bibirnya "Untuk apa ragu, aku hanya sedikit termenung melihat murid teladanku ada di antara pasukan klan iblis... Aku sungguh menyeyangkan hal ini, tapi akan aku pastikan... seluruh pasukan alam baka ini akan ku segel habis semua!" Imbuh guru besar mulai membuka sebuah formasi. Mantra mulai terucap dan kunci formasi mulai terukir di telunjuk sang guru besar. Huan Lan terbelalak...
"Guru Young! Jangan-jangan kau akan melakukan jurus terlarang!" Tanya Huan Lan risih.
Ukiran formasi mantra telah siap di dua jemari guru besar Young yang menunjuk hingga siap di lemparkan ke arah para pasukan alam baka itu.
"Guru! Jangan lakukan itu! Kau bisa mati nanti!" Pinta Huan Lan melerai. Guru Young pun tersenyum "Heh... aku tak takut mati, yang aku takutkan adalah kebangkitan Klan iblis yang akan memusnahkan klan manusia yang ada di muka bumi ini" Jelas nya.
Firmasi mantra yang terukir indah itu kian besar dan besar saja. Stelah mantra membesar, mantra tersebut mengeluarkan cahaya terang yang amat menyilaukan mata. Bahkan para aliansi perang yang sibuk berkutat melawan tentara alam baka itu tak mampu menyerang karna sibuk menutupi bola mata mereka yang kesilauan.
"Benda apa itu?" Tanya mereka risih dengan hati bergetar bak ketakutan.
"Guru jangan lakukan ini! Ini sangat berbahaya untukmu!" Pinta Huan Lan. Guru besar Young kembali tersenyum "Setelah mereka musnah, carilah putra mahkota... jangan biarkan ia tewas di medan pertempuran ini. Jika setelah mantra ini ku hempaskan dan aku mati, bergegaslah pergi, sebab Hong She bilang... bulan purnama merah akan segera terjadi, dan di sanalah selurih nyawa umat manusia di pertaruhkan. Aku hanya ingin berpesan padamu... hentikan siklus itu sebelum kebangkitan Raja iblis..." Pinta Guru besar Young.
Whuuuuussshhh!
Formasi mantra terlarang mulaibterhempas dan melesat cepat menuju area kisruh itu, cahaya yang di miliki ukiran formasi tersebut berhasil membuat tentara Alam baka binasa. Mereka tak sempat melarikan diri karna kaki mereka terasa terkunci. Hingga akhirnya, sebuah formasi indah dengan cahaya mematikan itu menghimpit para tentara alam baka yang ada di sana.
Sebagian tentara alam baka yang terhimpit formasi itu mulai berubah warna, wadah yang menampung roh mereka melepuh dab tersisalah cahay putih, yaitu roh para orang mati yang di manfaatkan oleh Cang un "Hahahaha... akhirnya, kami di bebaskan juga, terimakasih... Guru!" Ucap roh dari Kuai sammoro. Perlahan, roh yang telah di bebaskan itu mulai terbang satu-persatu bagaikan kunang-kunang. Mereka terbang ke langit dengan suara tawa bahagia. Nampaknya mereka bahagia karna telah di bebaskan.
"Selamat tinggal para Roh. Beritirahatlah hingga kalian bertemu bagian untuk bereingkarnasi..." Ucap Guru besar Young melambaikan tangannya senang. Huan Lan belum berjeda dari tatapanya. Ia masih menatap intrens sang guru.
__ADS_1
Kenapa aku merasa guru Young nampak tak baik-baik saja? Bathin Huan lan.
Setelah para tentara aliansi perang bersorak kegirangan atas kemenangan yang mereka raih, tiba-tiba tibuh guru besar Young oleng dan mulai lunglai ke belakang hendak jatuh ke bawah. Namun huan Lan sigap mendapatkan tubuhnya dan menahannya.
"Guru Young!" Pekik Huan Lan menyeru. Guru besar Young nampak tak sadarkan diri, ia Tampak keletihan, bahkan keringat dingin memenuhi wajahnya yang pucat itu. Seketika para Aliansi perang dan berhambur "Guru besar Young!! apa yang terjadi padanya?!" Tanya para anggota aliansi perang. Huan Lan segera menyeru "Jangan mendekat! Biar aku saja yang turun!" Imbuhnya. Huan Lan akhirnya turun dari batang pohon kokoh itu dengan kedua tangan menggendong tubuh lemah sang guru yang paling ia hormati.
Syuuutttt! Begitu ringan tubuh Huan lan turun hingga sampai di bidang yang datar Tap! Sebelah kakinya mulai menahan berat tubuhnya dan ia segera berimpuh untuk menurunkan sang guru. Seketika para prajurit alians perang kerajaan mulai berkerumun "Guru besar young! apa yang terjadi padanya?" Tanya salah satu dari ketua aliansi perang.
"Dia telah menggunakan seluruh kekuatannya untuk membuat formsi terlarang. Hingga akhirnya ia kehabisan energinya... " Jelas Huan Lan.
"Be-benarkah? Guru..." Tangis para anggota.
"Hiks... guru, bertahanlah..." Ketua Aliansi perang itu mulai menekan urat nadi di lengannya dan hal yang ia ketahui sungguh mencengangkan "Guru! Guruuuu!" Pekiknya segera memeluk sang guru se erat mungkin. Huan Lan kaget hingga ia pun menekan urat nadi besar di leher sang guru. Ia pun dapati hal yang sama.
Gu-guru ... Bathin Huan Lan berkecamuk. tak bisa ia tahankan tetasan basah di pelupuk matanya yang berderai begitu saja mengiringi kepergian sang guru yang telah berjasa mendidik para muridnya di setiap generasi yang ada.
"Guru! Guru besar Young! Hiks!" Ribuan air mata tumpah ruah di medan perang. Namun apalah daya, di setiap kehidupan kita hanya bisa bertemu lalu saling berpisah. Melihat segenap anggota aliansi perang menangisi kepergian Guru besar Young. Huan Lan seketika berseru.
"Tak boleh ada sebuah kesedihan yang berlarut apa lagi ini adalah di medan perang! Sekarang, sebelum klan iblis kembali membangkitkan para roh lainnya. Kita harus segera memakamkan anggota dan guru kita dengan layak! Mereka mati dalam tugas mulia, jadi kita harus berjuang sekuat tenaga untuk melanjutkan tugas yang belum mereka sekesaikan! Lekas berdiri! Sekarang bukan waktunya lemah, tapi waktunya bangkit dari keterpurukan!" Imbuh Huan lan. Nampaknya jiwa sang jendral ternama di masanya mulai bangkit kembali.
Para aliansi perang mulai mengusap air mata mereka dan segera berdiri sesuai perintah yang dilontarkan Huan Lan.
__ADS_1
Bersambung...