Dendam Sang Putri

Dendam Sang Putri
Mengembara 2


__ADS_3

Usai baku hantam...


Satsuki segera menurunkan wanita itu di sebuah tempat yang cukup terang.


"Turunlah..." ucap Satsuki. Wanita itu segera menurunkan kakinya pelan dan melepas dekapannya, padahal sedari tadi wanita itu memeluk erat Satsuki hingga membuat Satsuki tak nyaman sedikitpun.


"Pendekar... apakah kita akan berpisah?" Tanya sang wanita itu. Satsuki mengangguk.


"Ini adalah area yang cukup aman, kau bisa bertahan di sini" Imbuh Satsuki mulai mundur. Wanita itu sigap mendekati Satsuki ketakutan.


"Tunggu pendekar! Jangan tinggalkan aku. Kumohon... aku datang kemari untuk mencari tuanku, dan aku adalah abdi yang tersisa... semua daratan ini adalah kekuasaan klan iblis. Jika... jika ada manusia seperti kita berpijak di antara kegelaapan. Maka kita akan mati, sama halnya dengan penyerangan ku tadi. Jika kamu pergi, nasibku sama saja naas. Kumohon ijinkan aku ikut bersama mu" Pinta sang wanita itu panjang lebar. Satsuki menatap datar dan tak ingin ambil resiko. Jika wanita yang ia selamatkan itu ikut. Bukan tidak mungkin jika wanita itu akan merepotkannya di perjalanan.


Satsuki mundur dan mengabaikan wanita itu "Sekarang berusahalah menjaga dirimu sendiri. Jangan bahayakan dirimu hanya untuk mencari orang yang tak di ketahui keberadaannya. Apakah kau tak berpikir jika orang yang kau cari bisa saja mati dalam situasi seperti ini. Dasar bodoh!" Imbu satsuki seraya bersiap melompat. Nyatanya wanita yang ia tolong itu tersinggung dan berteriak sekeras mungkin.


"Tidak mungkin tuan besar Jujian meninggal dalam perjalanan kecil seperti ini!!" Teriak wanita itu lantang dan menangis sesegukan. Satsuki tertahan di atara sikap acuhnya itu. Sebelah alis Satsuki mulai terangkat dan berpikir sejenak. Ada sesuatu yang ia ingat. Sebuah nama yang terlupa tapi tak asing di telinganya.


Jujian... Ah! Tidak mungkin... Jujian... Apakah jujian itu nama ayahku! Bukankah Nae jime bilang bahwa ayahku adalah adiknya? Ah... tak mungkin. Mana mungkin ayahku seorang manusia biasa, bahkan abdinya saja tak punya kemampuan apapun, aura pelatihannya nol besar. Bathin Satsuki tergelitik mendengar ocehan wanita di belakannya itu.


"Hahahaha... Jangan banyak omong kosong lagi.Aku akan pergi! Jaga dirimu" Ucap Satsuki seraya melompat.


"Pendekar! Jangan tinggalkan aku!! Ku mohon! Tolong bantu aku menemukan tuan besarku!!" Teriak Wanita itu.Satsuki abai dan meneruskan langkahnya. Seraya sikap tak perduli itu melikupi hati Satsuki, rupa-rupanya dalam hati gadis itu tetap saja ada nama yang berputar-putar.


Ia tak bisa lupa nama ayahnya sedikitpun. Jujian... begitulah nama itu di sebut dan berputar-putar di otaknya. Dengan langkah tersendat, iapun kembali memutar langkahnyake arah dimana wanita berbaju putih itu di tinggalkannya . Padahal satsuki baru saja meloncati beberapa batang pohon, Sesegera mungkin ia kembali ke tempat semula.


Tapi lagi-lagi ia di hadapkan dengan pemandangan yang sama persis.


Di bawah Satsuk berpijak... Terlihat di sana kandidat Klan iblis yang memakai hanbok berwarna merah berpolet hitam itu hendak mengambil roh sang wanita yang di tolong satsuki tadi.


Satsuki tak berpikir panjang, ia mulai mengarahkan sebuah suriken ke arah sang klan iblis yang ia kenal.


SYUUT! suriken di lepas Satsuki dan hampir mengenai salah satu kandidat Klan iblis itu, namun rupanya ekor mata kandidat klan iblis itu telah membaca pergerakan serangan yang tiba-tiba hingga iapun mnghindar.


DAP! klan iblis segera mundur dan melepas wanita berbaju putih itu. Terlihat di sana, wanita yang di tolong satsuki tadi sudah pingsan. Klan iblis mulai berteriak, "Keluar! Hadapai aku, kau pikir kau bisa sembunyi dariku!!" Ujar nya. Satsuki menyeringai dan mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berlari menukik melewati batang pohon dan meloncat tajam hendak menendang klan iblis itu.


Hong Lian! itulah namanya, kakak dari Hei lianhua itu terkejut saat mencium aroma adiknya yang ternyata adalah sosok yang berbeda.


BUAK! kaki Satsuki mendarat di antara silangan tangan Hong Lian yang saat itu membentuk benteng pertahanan.


"Hem... Kau, siapa kau! Bagai mana kau punya aroma khas yang di miliki adikku!" tanya Hong Lian mulai mundur dan memasang kuda-kudanya.


SREEENG! sebuah cambuk neraka yang berduri tajam pun mulai di keluarkannya. Satsuki tersenyum mngangkat sebelah bibirnya.


"Hem... apakah aku perlu menjelasakannya padamu?" Jawab satsuki sinis. Hong Lian mulai mengepalkan lngannya dan terlihat sangat marah.


"Oh, begitu rupanya. Sombong juga... Lagi pula kau pendekar dari mana. Beraninya kau masuk ke area kekuasaan klan iblis" Pekik Hong Lian mulai melangkah mendekat perlahan.

__ADS_1


"Daerah kekuasaan mu?! Sejak kapan klan iblis muncul. Heh! Jika kalian merebut lahan kami. Maka aku tak akan segan untuk merebutnya kembali!" Lantang Satsuki berkacak pinggang seraya menunjuk Hong Lian.


"Keterlaluan! Dasar pendekar kerdil!" Pekik Hong Lian mulai mengayunkan cembuk neraka nya yang penuh duri itu. Satsuki yang waspada sedari tadi mulai menghindar dan segera menrogoh pedang yang ia simpan di pinggangnya.


SRENG! pedang tajam kini terlepas dari sarungnya, dan kini Satsuki siap bertarung dengan serius.


"Heh! Kau punya pedang yang cukup isrimewa juga" Ucap Hong Lian seakan kagum menatap mata pedang yang satsuki genggam.


"Cih! Jangan mengoceh seakan kau tahu segalanya, sekarang jika kau tak enyah, maka bersiaplah ku enyahkan!" Satsuki mulai menodongkan pedangnya dan segera menyerang Hong Lian. Hong lianpun segera mengarahkan senjatanya ke arah Satsuki yang gesit menyerang.


KLANG! Kini kedua pusaka pisis mulai beradu di udara dan menghasilkan pertir yang menggelegar.


GLUDUK! GLUDUK! Angin menyeok-nyeok, dan pepohonan rindang itu menari-nari tak berarah. Dau kering yang bertaburan menambah angker pertanrungan yang entah pagi atau siang itu berlangsung.


BUAK! cambuk neraka meleset di lepas, sedang Satsuki yang terlepas dari pengawasan mulai melesat cepat bah mnghilang, lalu tiba-tiba ia ada di belakang Hong Lian. Namun siapa duga bahwa Hong Lian sedari tadi merasakan bau tubuh yang di hasilkan satsuki. Hingga pergerakan Satsuki terbaca.


Pedang di ayunkan ke arah Hong Lian dan hendak menbasnya. Namun Cambuk mulai di arahkan ka arah Satsuki sigap.


Klang!! Dua pusaka itu kembali beradu. Tubuh kerdir dan mungil Satsuki mempermudahnya dalam melangkah. Sebaliknya meski penciuman Hong Lian sangat kuat, tapi pertahanannya sedikit lalai hingga Satsuki mampu menerobos celah itu dan berhasil melukai sikut Hong Lian.


SRENG! ****!! Darah pun mulai berhambur.


"Keterlaluan! Beraninya kau melukaiku!" Hong Lian mulai mnjilatu lukanya yang cukup lebar dan menganga itu lalu luka tersebut pun kembali tertutup. Satsuki kaget dan terbelalak.


A-apa itu tadi? kemampuannya sama persis dengan kemampuanku saat memegang batu giok naga emas dulu. Bathin Satsuki berkecamuk.


DEG! apa yang terjadi? Bathin Satsuki.


"Baiklah... mari kita mulai pertarungan yang sesungguhnya. Jika kau tak mau mentingkir, jangan salah kan aku jika aku berani menebas lehermu dengan tanganku sendiri" Imbuh Satsuki dengan tawanya yang memperolok.


"Keterlaluan!" Hong Lian berlari dan segera mengayunkan golok itu ke satsuki. Namun Satsuki yang acuh itu mulai bereaksi dan menghantamkan pedang yang ia genggam itu ke arah yang sama.


TRANG! Percikan api mulai berhambur saat dua mata pedang tajam beradu dan saling menghasilkan gema suara yang cukup mencekam.


Trang! Trang! Sreng! Sreng! Begitulah suara yang di hasilkan dua pendekar yang sama-sama kuat itu.


Hong Lian melompat dan mengarahkan golok itu ke leher Satsuki. Satsuki sigap menghindar bak hilang dan seketika ada di belakang tubuh Hong Lian.


Degh! Hong lian Kaget dan terbelalak. Satsuki pun menghempaskan pedangnya ringan ke punggung Hong Lian seraya berkata di daun telinga Hong Lian lembut.


"Skakmat..." Bisiknya. Hong Lian terbelalak dan mengulang kata yang di sebutkan Satsuki "Se-sekak-matt?!" Ulang Hong Lian, mungkin ia mengira kata itu adalah jurus yang di keluarkan Satsuki. SRET! sayatan pun mulai terjadi, *****! Darah kembali berhambur, Hong Lian hanya sedikit kaget dan terbata, keduanya masig mengapung di udara, lalu Satsuki dengan lancangnya menendang punggung Hong Lian hingga Hong Lian terjungkal ke bawah dengan posisi tengkurab.


"Uhkkkk! Kerlaluan!" rintih hong lian sembari memegangi lukanya, lalu iapun menatap hamburan darah yang terdapat di telapak tangannya.


"Kau!! jangan-jangan..." Rintih Hong Lian sembari menatap Satsuki yang mulai turun indah saat menyentuh tanah. Pedang di genggaman Satsuki mulai terayun ringan dan mendarat di leher Hong Lian. Ujung mata pedang yang runcing itu siap memcabik tubuh Hong Lian kapanpun ia mau.

__ADS_1


"Kenapa?! Apakah kau kaget?!" Tanya Satsuki sinis, sedang Hong Lian yang terluka parah di bagian Vital itu hanya bisa bersimbuh dan menatap sayu Satsuki.


"Se-sejak kapan kau sadari kelemahanku?!" Bentak Hong Lian perlahan berdiri dengan kaki yang gemetaran.


"Berani juga kau bertanya demikian. Jika aku membuka luka patal di punggungmu. Maka kau tak akan bisa menjilatnya, dan luka itu tak akan sembuh begitu saja. Lagipula, setiap irisan pedang yang ku ukir di kulit lawanku. Sedikitnya akan memperlambat pergerakannya dan membuatnya mati rasa. Sebab pedangku adalah pedang pusaka pisis Mendossa. Racun-racun dari dalam pedang itu akan masuk dan merusak setiap sel otot dan menutup aliran energimu" Jelas Satsuki. Hong Lian terbelalak dan sigap berdiri. Namun apa yang terjadi, ia malah mati rasa dan seketika muntah darah.


"Uhuk! Uhuk!" Darah yang ia keluarkan tak henti berhamburan.


"Bagai mana rasanya?? Nikmatilah detik-detik terakhirmu" Ucap Satsuki seraya berjalan menjauhi Hong Lian yang sekarat itu. Pedang pun segera ia masukan kembali ke sarungnya.


"Keterlaluan! Kembali Kau pendekar kerdil!! Berikan aku penawar racunmu! Uhuk! Uhuk!" Teriak Hong Lian tak berdaya.


Satsuki abai dan langkahnya mulai terhenti di tubuh seorang wanita tak berdaya itu.


"Kau sungguh sangat merepotkan!" Ucap Satsuki seraya mengangkat tubuh wanita muda itu dan melompat ke ranting-ranting pohon dan meneruskan perjalanannya yang entah akan sampai di mana.


Sementara Hong Lian mulai berkonsentrasi untuk menggunakan ilmu telepattynya. Dan memanggil Ukkoni di detik-detik terakhirnya untuk melaporkan peristiwa apa yang ia alami.


Tak berselang lam Ukkoni bersama dua kandidat klan iblis lainnya pun datang. Yaitu Kallen dan Sakkon.


"Hong Lian!!" Teriak Sakkon menghampiri Hong Lian tergesa-gesa.


"Sakkon, Ukkoni, Kallen juga? Kupikir kalian tak akan datag" Balas Hong Lian yang amat tak berdaya. Ia terlihat pasrah saat bebrapa malaikat maut ada di depannya.


"Hong Lian! Siapa yang melakukan ini padamu?!" Pekik Sakkon histeris, sedang Ukkoni dan Kallen hanya bisa menggulung lengan mereka di dada dan menunggu pusaka pisis di tubuh Hong Lian muncul saat hong lian mati.


"Carilah pendekar bertubuh kerdil yang memakai pakaian serba hitam. Karna jika kalian tak menemukan pendekar itu, ajal kalian pasti akan sampai pada waktunya" Imbuh Hong Lian memperingatkan. Sakkon panik dan meminta pada Ukkoni dan kallen untuk menolong Hong Lian yang jadi kekasih Sakkon itu. Tapi nyatanya kallen malah mengambil sebilah kampak halilintar miliknya dan menebas leher Hong lian begitu saja. Sakkon terbelalak dan menatap ke arah Ukkoni.


SYUUUT... pusaka pisis mulai keluar dari tubuh Hong Lian. Ukkoni pun meraihnya dan memasukkannya ke dalam batu cincin pusaka miliknya. Sakkon marah hingga air matanya menetes. Iapun berdiri "Apa yang kalian lakukan! Kenapa kalian malah membuhun Hong Lian! Teriak Sakkon"


"Ayo kembali. Kau harus ingat, wadah yang cacat sudah tak berguna lagi' Imbuh Kallen.


"Benar! Saat ini yang di butuhkan kekasihmu adalah kematian, carilah tanah yang gembur .. segeralah kau kubur dia, agar dia bisa tumbuh dengan indah" Ujar Ukkoni. Sakkon amat marah ia mengepalkan lengannya erat.


"Keterlaluan!!" Teriak Sakkon. Namun Ukkoni dan Kallen malah menghilang.


Kini Sakkon saksikan sendiri tubuh kekasihnya itu mulai perlahan menghilang, terhempas angin yang meliuk cepat. Tubuh Hong Lian berganti menjadi kelopak bunga lotus merah yang indah, terhempas angin hingga brtaburan kemana-mana.


"Sakkon... aku bahagia bisa menenalmu. Terimakasih ..." Suara indah Hong Lian terdengar dan sesaat melukiskan senyum kebebasan. Kini setelah seluruh jasad Hong Lian menghilang, mulailah tumbuh bunga lotus yang cukup cantik di area peristirahatan terakhir Hong Lian.


"Maafkan aku Sayang... aku tak bisa melakukan apapun untukmu, semoga kamu bahagia di sana" Ucap Sakkon seraya mengusap daub bunga lotus merah itu.


Sakkon sadari sesuatu. Bahwa, klan iblis hanya membutuhkan kemapuannya saja, jika ia sudah tak berguna. Maka nasib yang sama akan menimpanya. Entah apa yang sakkon pikirkan hingga tangannya ia kepal seerat mungkin. Hanya deraian basah yang menetes tak kunjung reda itulah yang menjawab segala kegusaran hatinya.


"Aaaaaaagghhhhhhh! Ukkoni!! Kallen! Aku tak akan memaafkan kalian berdua!!!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2