Dendam Sang Putri

Dendam Sang Putri
Hadiah kecil


__ADS_3

Sang raja iblis Nae jime telah masuk ke dalam ruang privasinya. Hanbu masih setia berdiri di depan pintu kamar Raja iblis tersebut. Beribu tanya dalam benak Hanbu berkecamuk, hingga memicu sebuah amarah yang ia pendam.


"Bagai mana bisa paduka berbuat sedemikian rupa, apakah ini hanya kebetulan, atau ada seseorang yang coba membuat kekisruhan antara Raja iblis dan kami? Heh... tapi, untuk sementara waktu, biarkan paduka mengatur skenarionya" Bathin Hanbu. Tak lama setelah itu, iapun mulai menyibatkan jubah hitamnya dan menghilang begitu saja. Entah Hanbu, ataupun Raja iblis, keduanya telah merencanakan sesuatu yang entah apa itu. Namun tujuan dan rencana mereka amatlah bersebrangan.


Di tempat lain...


Hutan rimbun penuh dengan binatang buas dan aura gelap klan iblis yang sangat pekat itu adalah medan pelatihan khusus yang di berikan Jade long pada muridnya. Apa lagi, hutan yang cukup basah dan kejam itu di huni ribuan siluman yang kelaparan.


Buak! Suut, jleb! Jleb! Jleb! Suara tepisan dan tusukan terdengan beriringan dan menepis keheningan hutan tersebut.


"Aggh!!" Suara rintihan saling bergantian saat sebuah belati tajam mencabik jasad-jasad siluman yang mencoba membunuh sang pendekar kerdil bercadar itu.


"Goooaaarrr!" Erang para monster level rendahan itu.


"Cih! Jangan coba mendekatiku walau untuk meminta ampun! Rasakan ini!" Suriken mulai di lepas dari ke dua tangannya, suriken-suriken yang menyelip di balik lekukan jemari sang pendekar itu berhambur dan saling beradu hingga menancap tepat di tubuh sang musuh dan membuat mereka mati kutu di tempat.


"Mustahil, dengan tubuh sekecil itu, ia bisa membantai ribuan siluman dan mayat-mayat hidup dari para prajuritku. Bahkan, tanpa menyentuhnya sedikitpun!" Bathin salah satu klan iblis, Ukkoni. Rupanya, sejak kepergian Hanbu. Ukkonilah yang berwenang mempermainkan pendekar bertubuh kerdil itu.


"Sial! Meski pendekar kerdil tersebut terengah dan tampak lelah. Tapi nampaknya ia tak sedikitpun kalah dalam pertarungan ini, aku harus gunakan cara lain!" Bathin Ukkoni terus berkecamuk.


"Hahahaha, kenapa? Apakah kalian jera? Cih, aku tahu. Ada seseorang yang dengan sengaja menghalangi perjalananku untuk sampai ke daratan monster, apakah kalian takut, jika aku yang akan merebut singgah sana raja yang kalian idam-idamkan itu?! Heh, naif, sungguh keterlaluan! Cuih!" Teriak Satsuki. Ukkoni makin geram saja mendengar ocehan mahluk itu. Akhirnya ia mengerahkan seluruh prajuritnya untuk menyerang Satsuki.


"Serang!" Teriak Ukkoni yang masih bersembunyi dalam memberi aba-aba itu, Kini para siluman dan monster hutan kematian mulai berkumpul dan mengerumuni Satsuki secara bersama-sama.


"Cih, enyahlah dari hadapanku. Tanganku telah kotor oleh darah kalian yang menjijikan ini!" Teriak sang pendekar seraya menyiapkan sebuah kekuatan Spiritual yang berasal dari pusaka batu mustika pisis. Sebuah cahaya biru yang di hasilkan batu tersebut sangat menyilaukan mata, Cahaya-cahaya itu pun tiba-tiba berkumpul di telapak tangannya. Cahaya itu di penuhi dengan kilatan-kilatan petir yang cukup berisik. Lambat-laun cahaya di telapak tangan Satsuki makin besar dan terang.


Ukkoni tak tahan dengan cahaya yang terlalu terang itu, ia pun menutup menglihatannya dengan telapak tangannya yang ia balik.


"Sial. Cahaya macam apa ini?!" Bathin Okkuni bergumam.


"Hem. Kupikir, batu mustika pisis ini cukup untuk membunuh kalian semua!" Bisik Satsuki seraya melempar sebuah cahaya besar itu seraya berlari.


Dap! Dap! Dap! Syuut! bola mulai di lempar. Dan kecepatannya tak terlampaui, sebias cahaya itu tak bisa membuat Ukkuni berkutik.


"Sial! Aku bisa mati gara-gara tengik ini. Tak bisa di remehkan!" Teriaknya, sebelum cahaya itu membunuhnya, Ukkoni segera memutar tubuh semoknya dan menghilang.


Siiing! Duar! Dentuman keras terdengar dan menggelgar. Itulah ledakan cahaya biru yang amat dasyat, pusaka bola pisis bereaksi dengan cepat dan memporak-porandakan hutan dan para prajurit yang Ukkoni pimpin.


Ssssssseeessshh... Kepulan asap itu mulai menipis, seiring pijakan Satsuki melangkah, aura hitam di hutan kematian pun mulai reda, nampaknya daerah kekuasaan klan iblis ini mulai menipis oleh pusaka pisis milik Satsuki.

__ADS_1


"Uhuk!" Satsuki terbatuk, ia mulai meloncat ke atas pepohonan dan melihat sekeliling.


"Sungguh, pusaka yang dasyat, heh. Tak sia-sia aku mencurinya dari Jade long, kenapa aku tak ambil semua pusaka miliknya. Ini sungguh sangat berguna. Terimakasih guru, lain waktu aku akan jujur padamu" Satsuki terkekeh.


Lambat laun, udara sisa ledakan itu mulai menipis, Satsuki celingukan mencari pusakanya yang berharga itu. Namun siapa sangka, para siluman yang telah tewas oleh pusaka itu meninggalkan pil arwah mereka, juga beberapa senjata dan pusaka.


Cling... bunyi para benda yang mulai mngapung ke udara.


"Hem... sungguh buruan besar" Ucap Satsuki seraya terjun di atas ketinggian.


Drap! Ia pun mendarat tepat dan indah. Tak tinggal diam, ia segera memunguti satu persatu pusaka dan beberapa pil arwah para siluman. Ia memasukan pil arwah itu kedalam guci pusaka miliknya.


"Ini akan berguna untuk membuat ramuan pemanjang umur, hahahha, Guru... saat aku berhasil dengan misiku maka akan ku buat sup penambah umur panjang untukmu" Kekehnya seraya puas tertawa.


Satsuki keasikan hingga ia tak sadar bahwa sedari tadi kelakuannya di awasi seseorang, itu adalah seorang pria bertopeng perak dan berambut perak.


Ia nampak asik menatap Satsuki yang gesit memunguti pusakanya. Sesekali, pria itu juga tersenyum tulus, nampaknya ia senang saat melihat wanita bertopeng di bawah sana.


"Hemmm... Apakah kau akan suka dengan hadiah dariku ini? Untuk saat ini, aku akan memiliki mu di kejauhan. Aku akan selalu mengawasi dan menjagamu" Pria bertopeng perak itupun mulai menadahkan telapak tangannya.


Pow! Cahaya terang pun mulai mencuat tiba-tiba. Lalu berubah menjadi sesuatu, Plek! Kemudian bola bulat berwarna biru sebesar telur angsa pun hinggap pelan di telapak lengan kekar nan lentik itu.


Syuut, tak berselang lama, bola itu berubah menjadi sosok Huli Jing. Huli jing yang telah kembali pun mulai sadar dan segera mendarat cantik.


Dap! Huli Jing hinggap di tanah, Satsuki Respek dan menatapnya.


"Hei... bukankah kau rubah bodoh itu?" Tanya Satsuki kaget, Huli Jing menoleh ke arah Satsuki dan mengangguk.


"Jangan bilang aku rubah bodoh. Sudah bertahun-tahun aku di kutuk menjadi gadis cantik tanpa kemampuan, dan sekarang saat aku berubah ke sosok asliku, pujian yang ku dapat adalah sebuah olokan. Bodoh dari tuanku" Keluhnya seraya tak berhenti menggumam.


"Cih, siapa yang tuanmu, kita belum terikat kontrak" Balas satsuki.


"Tak ada ikatan kontrak antara kita, tapi pertemuan kita adalah sebuah takdir" Ucap Huli Jing.


"Hahahaha, kau percaya takdir, aku sungguh geli mendengarnya. Jangan halangi aku!! Apa yang kau lakukan di sini? Pergi, jangan ganggu buruanku" Olok satsuki. Huli jing sedikit marah karna keberadaannya amat tak di hargai. Akhirnya Huli Jing menguntit langkah Satsuki yang nampak sibuk itu.


"Tuan, jangan acuhkan aku kumohon. Sudah bertahun-tahun aku terkurung dalam tubuh wanita lemah yang telah kau selamatkan itu. Tapi, saat aku berubah ke tubuh asliku yang indah ini, kamu malah mengacuhkanku begini" Gumamnya masih menguntit.


Satsuki tak merespon apapun, ia hanya sibuk memunguti pil arwah yang amat banyak itu. Huli Jing pun kembali menggumam, "Tuan, lihat aku, bukankah aku cantik, buluku sangat indah, aku akan setia memelukmu di saat kamu kedinginan. Bulu lebatku yang putih ini sangat bersih dan terawat" Ucap Huli Jing, karna tak ada respon yang belarti dari tuannya itu, akhirnya Huli jing mulai menggelendong di area betis sang master itu. Ia mengelus-eluskan bulu lebatnya ke betis itu bah ibarat kucing rumahan yang tangah merayu majikannya.

__ADS_1


"Akuilah aku tuan... kumohon" Namun nampaknya sikap Satsuki berlebihan, terlihat di sana alisnya mencercid dan tampak tak suka di sentuh. Satsuki mulai menyibatkan kakinya hingga Huli Jing terpental, lalu menggelinding seperti bola bulu yang besar, Huli Jing pun terbentur pohon dan terhenti disana. Nampaknya ia begitu pusing hingga terduduk oleng.


"Aduh-duh, sakit..." Lenguh Huli Jing kesakitan. Dan Satsuki masih tak perduli, tampaknya pemandangan itu membuat pria bertopeng perak itu iba, akhirnya ia keluar dari persembunyiannya dan meloncat turun.


Tap! Pria itu mendarat tapat dimuka Huli Jing. Huli Jing yang melihat sesosok misterius itu pun segera mendonggakan kepalanya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Pria bertopeng perak itu. Huli Jing menatap dalam-dalam lalu membelalakan matanya "Hah! Kau, bukankah kau ra..." Baru saja Huli Jing akan menyeleaikan kalimatnya, pria itu segera menyumpal moncong Huli Jing dengan telapak tangannya.


"Ssstt... Jangan bicara lagi, diamlah..." bisik pria itu. Satsuki yang masih abai itu hanya bisa memperhatikan mereka dengan ekor matanya, lalu pelan-pelan mengerluarkan dua buah belati kecil di dalam kantong pusaka miliknya. Nampaknya Satsuki masih waspada.


Pria itu mulai berdiri "Sial, sikap angkuhnya masih sama seperti dulu, meski kau bersembunyi dalam jubah pendekar pria itu pun aku sudah tahu, bahwa kau adalah wanita yang telah ku cari selama ini" Bathin pria tersebut. Pria bertopeng itu mulai melangkah ke arah satsuki yang masih membelakanginya.


"Apakah begini cara memperlakukan binatang kontrakmu?" Tanya Pria itu, Satsuki yang masih waspada itu mulai memutar kakinya dan menatap pria itu "Heh. Apa urusannya denganmu" Ucap Satsuki menyungingkan sebelah bibirnya.


"Hahahaha..." Tawa pria itu sambil menutup mulutnya, ia sangat geli namun sangat menikmati momen itu.


"Jika kau tidak suka, ambil saja hewan itu, aku tak memerlukannya" Ucap Satsuki.


"Hiks, Sadisnya tuanku... aku sungguh sedih mendengarnya"Ucap Huli Jing menatap Satsuki dengan mata yang berbinar.


"Ambilah, ini adalah hadiahku untukmu" Ucap Pria bertopeng perak itu.


Pria itu mendekat dan terus melangkah mendekati Satsuki. Grap! Satsuki yang tak suka itu mulai memasang kuda-kuda dan mencengram belati di kedua lengannya seerat mungkin.


"Hahahaha, turunkanlah belati itu, aku sungguh takut..." Ucap Pria itu.


"Untuk apa aku percaya padamu. Tak ada satupun yang ku percayai di dunia ini!"? Ucap Satsuki seraya menjulurkan tangannya sigap seakan memberi kode.


"Benarkah? Lalu... siapa Zerro?" Tanya Pria bertopeng perak itu. Reflek Satsuki terbelalak.


Degh!


Tangannya makin erat menggengam belati tajam itu, ungkapan pria mistrius itu membuat Satsuki naik fitam hingga amarahnya mulai menumpuk di ubun-ubunnya dan tak terkendali lagi.


"Berhenti mengoceh seakan kau tahu jati diriku!" Teriak Satsuki seraya mengayunkan belati itu ke arah sang pria bertopeng.


Syuuut! Pertarungan baru akan segera di mulai.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2