Dendam Sang Putri

Dendam Sang Putri
Rubah berekor sembilan


__ADS_3

Huli Jing bangkit dan mulai memporak porandakan seluruh area yang ia pijak, ia bahkan terlihat sangat ganas. Di sisi lain hanbu telah siap memasang sihir pormasi untuk menangkap hewan mitologi itu.


"圣灵封印风格 Shènglíng fēngyìn fēnggé (Mantra penyegel Roh pisis)" Hanbu menggerakan tangannya cepat Saat membuka segel itu. Baru saja formsi terbentuk dengan indahnya. Tiba-tiba satsuki datang dengan dua bilah pedang kembarnya dan hendak menghantam Hanbu.


"hyaaa!" Pekik Satsuki siap menyayat kulit hanbu kembali. Ekor mata Hanbu pun mendeteksi keberadaan ancaman itu, hingga Hanbu menghindar ke arah lain.


Sreng! Pedang Satsuki mengenai batang pohon dan iapun kembali meloncat beserta pedang yang ia cengkram.


"Sial!" Hanbu terpekik dan menghindar. Sedang satsuki yang gesit terus menyerang tiada henti.


"Heh... rasakan ini!" Pedang mulai di ayun begitu dekatnya dengan Hanbu. SRENG! Hanbu hanya bisa menahan serangan dari Satsuki itu dengan sikutnya hingga sikut Hanbu terluka.


"Hem ... Kau pikir dengan luka seperti ini kau bisa membunuhku?" Tanya Hanbu di iringi senyuman angkuhnya. Satsuki menggumam dan membalas apa yang di katakan Hanbu.


"Mari kita lihat saja" Ucapnya.


Satsuki menyerang dengan gesit dan Hanbu pun mengelak dengan gesit pula. Hanbu mundur beberapa langkah ke belakang, tapi Satsuki seakan tak lelah, ia pun terus menyerang tiada henti.


Akhirnya Hanbu terdiam di pohon besar dan terpojok. Satsuki tersenyum menyeringai "Inilah? waktu ajalmu telah tiba" Ucap Satsuki seraya berlari memutar-mutar dua belah pdang yang ia genggam itu. Tapi hanbu tampak tak resah, iapun mengangkat lengannya tinggi-tinggi dan menjentikannya.


"Clik!" Suara itu terdengar, ternyata suara jentikan jemari Hanbu adalah kode pemanggilan pusaka pisis miliknya berupa sabit Raksasa yang sangat besar. Dengan mudahnya sabit itu terangkat dari batang pohon yang mengikatnya.


PLEK! celuritpun terbang dan berputar-putar seperti Boomerang.


WUG! WUG! WUG! sabit itu berputar-putar kembali ke lengan tuannya. Satsuki sadari itu dan segera menghempaskan pedangnya ke arah Hnabu seepat mungkin. Ia tak ingin terlambat.


Tapi ternyata Sabit itu datang lebih cepat. TRANG!! pedang dan sabit mulai beradu NGIIIITTT... Bunyi ngilu itu terdengar ketika dua pusaka pisis beradu dengan kerasnya, tak ada satu kubu pun yang mau mengalah.


"Heh. Pendekar kerdil, kemampuanmu boleh juga" Imbuh Hanbu di iringi senyum menyeringai.


"Heh. Apakah kau kewalahan menghadapiku?" Tanya Satsuki, masih dalam posisi menahan sabit raksasa Hanbu dengan dua pedang kembarnya.


"Mana mungkin, tinggi tubuhmu dan berat senjataku saja tak akan mungkin membuat nyawamu lolos" Ucap Hanbu terkekeh, Satsukipun segera melontarkan sebuah kata ejekan "Hahaha, hanya sebuah barang rongsok saja tak akan membuatku mati terbunuh" Balas Satsuki sama-sama anguh. Mereka saling menatap benci dan terus menekan-nekan pusaka pisis milik mereka dengan keangkuhan ke dua kubu.

__ADS_1


"Hahaha, apa maksudmu rongsok?" Tanya Hanbu sedikit sinis. Satsuki menjelaskan seraya mengangkat kakinya tinggi tinggi lalu menendang perut hanbu.


"Rongsok artinya barang jelek dan keratan!" Ucapnya BUAK! Hanbu terbelalak dan mundur terseret beberapa langkah. Satsuki kembali menyerangnya dan menghempaskan pedang kembarnya ke arah Hanbu berlulang. Hanbu pun melepar sabitnya untuk menahan serangan Satsuki. Tapi nampaknya tubuh Satsuki yang pendek itu mempermudah langkahnya dalam menyerang lawan yang dua kali ukuran tubuhnya.


Buak! Satsuki menendang Hambu, SRENG! dua belah pedang yang Satsuki lempar berhasil di tahan sabit Hanbu. Akhirnya Satsuki menggunakan ilmu bela dirinya saat melawan Hanbu.


BUAK! "Agh! Sial!" Hanbu mundur dan melompat ke atas dahan yang lebih tinggi. Satsuki yang makin gesit mulai berlari cepat dan melompat tajam, ia menukikkan satu kakinya dan berhasil menendang Hanbu lagi.


"BUAK!" satu lagi tendangan mengenai Hanbu. Hanbu yabg merasa tertekan pun mulai mundur lalu bersiap menghilang.


"Hahahaha, aku sangat menikmati pertarungan kita, tapi nampaknya waktu tak mengijinkan ku untuk menuntaskan pertarungan ini" Ucapnya, tapi Satsuki yang sangat agresif menyerang itu tak tinggal diam.


"Heh! Apakah kau akan kabur? Rasakan ini" Pedang di lempar tepat di titik Vital hanbu yaitu perutnya, tapi Hanbu yang Saat itu siap melarikan diri itupun mulai menghilang tanpa jejak.


CLING... sedangkan pedang yang di lempar Satsuki hanya bisa tertahan di batang pohon saja. JLEB!! satsuki mulai berpijak di dahan pepohon yang cukup lebar.


"Sial. Dia malah melarikan diri..." Gumam Satsuki. Iapun mulai menoleh ke arah rubah berekor sembilan yang telah mengamuk itu. Senyum menyeringai tiba-tiba terlukis di benaknya.


Wah. Sungguh luar biasa, Bast spirt yang sangat langka. Apakah aku bisa memilikinya dan mengikat kontrak dengannya? Bathin Satsuki. Satsuki segera melompat ke ujung pohon tertinggi seraya menatap mata rubah liar yang ganas itu.



"Hebat..." Ucap satsuki lembut dan segera menghampiri rubah ekor sembilan itu. Syut! Syut! Syut! Satsuku menaiki tubuh rubah yang telah mengamuk itu dan mulai menekan telapak tangannya di kepala rubah itu, iapun berkonsentrasi untuk berinteraksi dengan sang rubah melalui ilmu telepattynya.


Ketika matanya terpejam dan merasakan alunan napas sang monster, tiba-tiba ia lihat bayangan yang sangat indah. Sang rubah kecil itu hidup sendirian setelah ia terlahir dari bongkahan batu cristal yang bening dan indah itu. Hidupnya memang penuh derita, ia merasakan kelaparan dan kehausan. Tapi ada sosok yang saat itu mau menampungnya. Seseorang yang samar di ingatannya, hanya telapak tangannya yang putih dan lembut itu yang di ingat rubah itu.


"Makanlah yang banyak agar kau tumbuh besar" Ucap nya. Suara bergema mirip suara laki-laki.


Satsuki sedikit tersenyum ketika melihat pemandangan itu. Saat ia terhanyut kedalam ingatan sang rubah. Tiba-tiba entah kenapa, dadanya terasa sakit dan sesak. Hingga iapun membuka matanya.


"Uhuk!" Seteguk darah mulai keluar dan berhambur dari mulutnya.


Sial, ada apa ini?! Kenapa tiba-tiba aku merasa sesak. Bathinnya.

__ADS_1


Satsuki meremas dadanya yang sesak itu, semakin ia hirup udara di sekitar, semakin ia merasa sesak.


"Inikah ajalku? Apakah aku akan mati? Jangan-jangan bulu rubah ini mengandung racun? Kenapa aku tak sdari itu?" Bathinnya. Perlahan pandangan Satsuki buram dan iapun menutup matanya, ia seakan tak kuasa menahan kantuknya.


Satsuki pun tertidur di atas tubuh sang Bast spirt raksasa entah ia level berapa, yang jelas ia sangat kuat dan ganas.


Ketika tertidur, Sang rubah mulai diam, mata merahnya perlahan membiru. Lalu tanpa satsuki sadari, sesuatu keluar dari tubuhnya berupa cahaya biru yang bersinar terang.


CLING... Nampaknya cahaya biru itu adalah Roh petir yang di berikan ibunya dulu. Roh petir itu mulai bereaksi ketika bertemu rubah berekor sembilan itu. Setelah roh petir terpisah dengan tubuh satsuki, akhirnya Roh petir itu hinggap di kening sang Monster dan membuatnya terdiam. Amukan yang semula membuatnya sangat ganas mulai menghilang.


Sang rubah pun menunduk, lalu meringkuk... lambat laun ukuran sang rubah mulai perlahan menciut, ukurannya jadi kecil dan semakin kecil, bahkan jika di bandingkan dengan seekor macan, ukuran sang rubah kali ini sangat kecil. Sang rubah pun tertidur dengan memeluk tubuh mungil Satsuki. Mereka seakan sangat akrab, hingga mereka terlelap di bawah pohon rindang, entah kenapa, keduanya kini terlihat sangat akrab.


Bahkan setelah roh petir berubah menjadi sebongkah batu kecil bak kerikil, roh petir itu tertempel di kening sang rubah dan membuatnya sangat tenang.


Satsuki dan sang rubah terlelap...


Tapi di tempat lain, hanbu yang terluka sedikit parah hanya bisa marah ketika ia sampai di favilunnya.


"Agghhh... Sial, lantas saja Hong Lian tewas, lawan yang di hadapi bukanlah lawan biasa. Meski tubuhnya kerdil tapi kecepatannya memang tak bisa di remehkan!" Amuk Hanbu. Iapun mulai memulihkan luka-luka patal yang di buat satsuki dengan tenaga dalamnya.


"Uhuk..." Usai memulihkan tubuhnya, Hanbu pun melangkah ke area aula kastil kegelapan klan iblis yang di huni para prajurit perang klan iblis.


"Kallen! Sakkon! Ukkoni! Kemarilah!" Ucap Hanbu. Mereka pun mulai berkumpul.


"Ya. Jendral... ada apa, anda terlihat panik" Ukkoni bertanya seraya berlutut dan memberi hormat.


"Kita punya musuh baru, jika dia di biarkan hidup dan berkeliaran, maka... bukan tidak mungkin jika dia akan menjadi pengalang besar, bahkan bisa membuat kita hancur" Jelas Hanbu.


Sakkon pun angkat bicara "Apa maksud anda?" Tanya Sakkon.


"Dia adalah pendekar berjubah hitam kerdil. Pendekar yang telah membunuh Hong lian, siapkan diri kalian. Aku ingin kalian mendapatkan pendekar kerdil itu kali ini juga!" Teriak Hanbu murka. Para prajurit handalan Hanbu pun mulai bersiap, mereka berhamburan saat mengemban tugas baru yang di perintahkan Hanbu. Yaitu, membunuh Satsuki sang pendekar kerdil berjubah hitam.


"Kita lihats seberapa gesit kau melangkah... haahahhahahaha" Tawa girang mengiringi ke kalahannya. Rupanya rasa benci di hati hanbu mengundang suatu dendam yang sangat besar. Hingga Akhirnya pertikaian baru mulai tumbuh dan terulang kembali.

__ADS_1


BERSAMBUNH...


__ADS_2