
Nampaknya Ukkoni telah melakukan tugasnya dengan baik. Ia menyembuhkan Cang Un dengan cepat.
"Ahhh... sungguh melegakan! Kali ini aku akan lebih hati-hati lagi" Bisik Cang Un meraba setiap lekuk tangannya.
"Haaah... aku juga pernah melawan pendekar itu. Tapi yang ku dapat adalah tanda ini" Ucap Ukkoni mengarahkan telunjuknya ke pipinya. Cang Un tertegun "Apakah luka di wajahmu itu dia yang melakukannya?" Tanya Cang Un. Ukkoni mengangguk diam.
"Keterlaluan... lantas saja Kallen kalah saat melawan bocah itu. Cih, tapi kali ini... aku takan membiarkan dia menyentuhku secuil pun!" Gumam Cang Un penuh emosi. Saat emosi Cang Un sampai di ubun-ubunnya, Hanbu datang dan menghasut amarah Cang Un.
"Kalau begitu... lakukan tugasmu dengan baik!"Ucap Hanbu tiba-tiba melangkah ke arah Ukkoni dan Cang un. Cang Un dan Ukkoni pun terperanjat di buatnya hingga berdiri tak beraturan saat menghadap jendral tersebut.
"Ah! Jendral!" Pekik keduanya menyeru bersamaan.
"Cang Un, jika tenaga mu sudah cukup! Lakukan tugasmu dengan lebih baik! Balaskan lah dendam para angggota klan yang lainnya. Juga ulur waktu para ksatria itu lebih lama lagi...
agar aku bisa memualai serangan ku. Pertama-tama aku akan mulai memberantas istana Xi dan memindahkan Raja iblis ke sana..." Jelas Hanbu lantang. Cang Un sedikit tertegun dan mulai mengutarakan pendapatnya "Bukankah yang akan kita serang adalah kerajaan Kui? Bagai mana dengan itu?" Tanya Cang Un. Ukkoni hanya diam dan menyimak keduanya yang saling melontarkan tanya jawab.
"Hehehe... aku yakin, kerajaan Kui masih sangat panik. Dan di sana tentulah banyak warga yang terluka... jadi, kemungkinan besar, mereka takan tahu jika kita menyerang kerjaan Xi" Jelas Hanbu. Cang Un mengangguk paham.
"Cang Un. Tugasmu membuat benteng pertahanan di hutan kematian! Jangan biarkan siapapun menerobos benteng pertahananmu!" Jelas Hanbu, Cang Un pun mengangguk lagi dan mulai bersimpuh.
"Ukkoni! Tugasmu adalah membuat dinding pelindung. Buatlah sekuat mungkin, sebab aku tak ingin ada kesalahan Kalian pasti sudah tahu kan? Jika purnama merah mulai terjadi... maka, raja iblis kita akan segera bangkit lalu membantu kita meluruskan ambisi kita..." Imbuh Hanbu. Cang un mengangguk mantap, ia tampak sangat bersemangat. Tapi tidak dengan teman wanita di sampang Cang Un. Ukkoni tampak menunduk lesu. Ia sangat khawatir pada raja iblisnya, bagai mana tidak. Rintihan Raja iblis yang masih terasa terngiang di telinganya itu, terus saja membuatnya gelisah sepanjang waktu.
Apa yang harus aku lakukan?' Bathin Ukkoni memutar otaknya saat memikirkan keadaan Raja iblis itu yang memprihatinkan.
Saat Ukkoni tengah terbuai dalam lamunannya, Hanbu datang dan menjentikan jemarinya di hadapan Ukkoni yang saat itu sedang tak fokus menyimak "Ctik!" Bunyi jemari Hanbu. Ukkoni masih melongo dan belum bergeming, akhirnya Cang un berdiri dan mulai menepuk pundak Ukkoni "Plak!" Pukul Cang Un di pundak Ukkoni,Ukkoni pun terperanjat dan menatap Cang Un penuh emosi "Apa yang kau lakukan dasar bodoh!" Teriak Ukkoni marah besar ke arah Cang Un. Hanbu pun menatap Ukkoni penuh emosi "Lihat! Jendral menatap mu! Dia memanggilmu dari tadi! Apa yang sedang kamu pikirkan dasar bodoh!" Bentak cang Un menunjuk, Ukkoni sangat kaget atas pernyataan Cang Un hingga iapun menoleh pelan ke arah Hanbu dengan rasa takut yang amat besar.
"Je-jendral... apa yang ingin..." Lenguh Ukkoni ragu. Hanbu melangkah dan melempar lima jemarinya ke arah pipi Ukkoni lalu menamparnya keras "Plak!" Kerasnya tamparan itu membuat wajah Ukkoni terhempas, rambutnya pun berhamburan tak karuan hingga mulai acak-acakan.
"Beraninya kau melamun di saat genting seperti ini! Heh! Aku harap, kau sedang memikirkan taktik jitu untuk memusnahkan musuh kita! Karna aku tak ingin mendengar alasan memalukan atas hayalan konyolmu itu!" Bentak hanbu marah.
Sementara Ukkoni yang masih menunduk itu hanya bisa menutupi luka tamparan itu oleh kelima jemarinya. Hanya darah yang menetes di antara dua rahang Ukkoni saja yang bisa menjelaskan, betapa sakitnya tamparan Hanbu yang di arahkan padanya itu.
Sial! Kenapa dia jadi semakin semena-mena begini... jika Raja iblis adalah tameng peperangannya, maka aku sama sekali tidak setuju! Aku tak mau melakukan perintahnya! Tapi... apa yang harus aku lakukan. Apa lagi, aku sudah menunggu sangat lama sekali hingga Raja iblis kembali ke tubuh aslinya...Jendral Hanbu, kau sungguh payah... aku sama sekali tak sudi, jika Raja ku yang jadi tameng peperangan kita kali ini. Bathin Ukkoni menggumam seraya menghujat Hanbu. Lengan Ukkoni mengepal erat karna sebal. Tapi meski begitu, mau bagai mana lagi. Kekuatan Ukkoni di bawah hanbu, jadi jika ia melawan pun yang akan ia dapatkan hanyalah ke gagalan besar.
"Sekarang! Lakukan tugas kalian sesuai apa yang ku perintahkan!" Pekik hanbu menunjuk seraya mengibaskan jubahnya. Ukkoni dan Cang Un pun mulai bersimpuh "Baik Jendral! Kami akan lakukan yang terbaik untuk kebangkitan klan kita!" Jelas Cang Un.
"Pergilah!" Tambah hanbu lagi. Ukkoni dan Cang Un pun berdiri mereka pun mulai mengibaskan pakaian mereka dan merekapun menghilang "Cling"
"Lakukan tugas kalian dengan baik... sisanya, biarkan aku yang menyelesaikannya" Jelas Hanbu, hanbu mulai melangkah menuju penjara bawah tanah, ia pun menghampiri sel yang di huni sang Raja iblis.
"Aaagghhhh....Aarrgghhhhhh!" Erang sang Raja iblis. Hanbu menyematkan senyum sinis nya saat mendengar rintihan sang raja ibli itu, Di saat rasa puas di hati Hanbu meraja lela, iapun mulai menyematkan jemarinya untuk mengetuk pintu sel yang tertutup medan megic berwarna hitam itu.
Tok! Tok! Suara pintu yang di ketuk Hanbu "Raja... sebentar lagi, kebangkitanmu akan tiba... Aku yakin, takan ada yang bisa membunuhmu... Lalu, seseorang dengan giok putih itu akan datang dan menyatukannya dengan Giok hitam di perutmu... Hahahaha, sebelum permintaan terwujud, Hanya aku yang akan melakukan pengabulan... sebab, siapapun pemilik giok itu, akulah yang akan menghancurkannya. Hahahahaaha, dengan demikian... Klan iblis akan cepat berkembang dan berkuasa" Tawa Hanbu mengiringi ambisinya yang nyaris mustahil itu.
Tawa tersebut terdengar hingga keluar kastil istana kegelapan dan membuat puluhan gagak hitam yang sedari tadi hinggap di dedauanan pun mulai berhamburan dan berterbangan tak beraturan.
__ADS_1
"Koaak! Kooak! Koak!" Suara gagak hitam berkoar.
"Daratan ini akan jadi milikku! Hahahahha milik klan ibli kegelapan!" Teriaknya.
Jika di kastil klan iblis, Hanbu tengah merayakan rencana briliannya saat hendak memindahkan sang Raja iblis ke kerajaan Xi, tapi berbeda dengan keadaan di hutan kematian...
Sebuah pertarungan antara Qiang Gu dan Lee dong feng masih bergulir penuh emosi.
"Kakak! Sekarang katakan! Kenapa kau harus jadi bagian dari meraka? Kakak telah menghianati kami?!" Teriak Qiang Gu memaki Lee dong feng. Mata Qiang Gu mulai merah dan berkaca-kaca, ia sangat sedih dan kecewa pada pria di hadapannya itu.
"Cih! Hentikan omong kosong kalian! Aku tahu... sebenarnya kalianlah yang telah membodohiku selama ini! Terutama kaisar Tang dan Kaisar zhang! Mereka... mereka bertanggung jawab atas kematian ibuku!" Teriak Lee memalingkan wajahnya seakan ragu.
"Apa maksud mu kakak! Kematian ibu kakak sudah terjadi sangat lampau bukan! Bahkan kakak juga saat itu masih sangat kecil! Bagai mana bisa kakak menyalahkan Kerajaan kita begitu saja?!" Imbuh Qiang Gu menolak sebuah tuduhan itu.
"Heh! Kau memang tak tahu! Ibuku di bunuh karna dia adalah seorang keturunan Iblis! Lalu apa salahnya dengan itu! Ada beberapa iblis yang tak sejahat apa yang mereka pikirkan! Hahahaha... kau takan pernah paham pada apa yang ku rasakan saat ini... Qiang Gu! Hahahaha, bahkan aku tahu rahasia menjijikan di balik kelahiranmu. Aku yakin kau tak tahu apapun tentang masalah itu bukan?" Tanya Lee dong feng. Mata lee amat merah.
"Apa maksudmu kakak?" Tanya Qiang Gu ragu. Lee melangkah pelan ke arah Qiang Gu seraya mengelurakan pedangnya.
"Hahahhaha, jika dalam tubuhku telah mengalir darah keturunan iblis murni... maka dalam tubuhmu, apakah ada setetes darah sang raja?!" Tanya Lee. Qiang Gu makin tak paham.
"Kakak! Jangan bicara hal yang bertele-tele begitu! Katakan apa maksud perkataanmu sebenarnya?!" Teriak Qiang Gu bimbang.
Qiang Gu sama sekali tak ingin bertarung dengan lee. Lee berlari ke arah Qiang Gu dengan sebilah pedangnya.
Ada amarah di hati Lee yang membuat serangannya terlijat sangat serius. Pedang di arahkan ke kepala Qiang Gu, tapi Qiang Gu berhasil menepisnya dan menahan kekuatan pedang tersebut.
Giiiiiiitttt! Bunyi ngilu yang di hasilkan dari kedua pedang tajam yang saling beradu.
"Kakak! Aku sama sekali tak ingin menyerang atau bertarung denganmu!" Bisik Qiang Gu.
"Heh! Kenapa? Apakah kau sangat takut jika aku akan mengalahkanmu dan membunuhmu saat ini juga?!" Tanya Lee pesimis. Qiang Gu menggelengkan kepalanya "Bukan! Tapi aku sangat menghargai persaudaraan kita... Kau adalah kakakku, apapun yang terjadi!" Jelas Qiang Gu. Kata-kata itu sedikit menyentuh Lee Dong feng dan membuat matanya sedikit berbinar. Tapi, selain itu, ada rasa sakit yang tak bisa di jelaskan.
Apa lagi ia ingat pada pristiwa penyerangan puluhan prajurit saat menjebak ibu Lee dan membunuhnya, lee kecil lihat dengan jelas bahwa putra mahkota dari kerajaan Zhang brsama raja Tang terdahulu berhasil membunuh ibunya dalam penyerangan itu.
Lee kecil hanya bisa bersembunyi dan menangis, kemudian... pria yang telah berhasil membunuh ibu Lee itupun mulai menyapanya dengan sebutan kakek "Sekarang, kau akan ikut dengan Kakekmu. Kau takan tinggal di istana ini ya..." Ucapnya, ingatan yang masih nyata itu tak akan pernah Lee hilangkan dengan mudah di ingatannya. Pakaian perang yang di pakai kakek Lee saat membantai ibunya adalah pakaian perang khas kerajaan Tang. Meski raja Zhang tidak terlibat dalam pembunuhan itu, tapi saat itu ia ada dalam penyerangan tersebut. Dan membuat Lee amat marah hingga ia tak bisa memaafkannya. Cuma saja, saat lee ingin berbalas dendam, ia malah melakukan kesalahan hingga di buang ke sumur dan jadi manusia yang tak berguna seperti ini.
***
"Kakak! Kembali! Ayo pulang..." Ucap Qiang Gu. Lee pun tersenyum pahit "Kembali katamu... bagai mana aku bisa kembali? Kau lupa? Dalam tubuhku telah mengelir klan iblis! Jadi... kenapa aku harus kembali ke peradaban manusia?" Tanya Lee penuh emosi.
"Karna kamilah saudara mu!" Pekik Qiang Gu menekan pedang Lee hingga pedang Lee terlempar. Lee pun terbelalak diam, ia bahkan tak percaya jika Qiang gu akan menebasnya kali ini.
"Kakak! Pulanglah... Kami adalah saudara mu! Klan iblis hanya bagian dari darahmu... tapi kamilah kluargamu!" Imbuh Qiang Gu. Qiang Gu melempar pedangnya dan menghampiri Lee lalu memeluknya.
GRAP!
__ADS_1
"Kakak! Kembalilah... kembali ke kerajaan mu! Raja Tang sangat merindukanmu hingga tubuhnya kurus kering, ia sangat ingin bertemu denganmu. Tidak kah kakak rindu pada kakak Tang Yuan Cheng? Ia pun masih terbaring karna memikirkanmu yang tak pernah pulang" Jelas Qiang Gu. Lee hanya terdiam dalam pelukan hangat Qiang Gu.
Apakah itu benar? Bagai mana bisa anak ini berkata begitu! Padahal... akulah yang ada di balik semua kekacauan ini. Bagai mana bisa tindakan ku di maafkan begitu saja. Bathin Lee dong feng.
Qiang Gu memeluk tulus Lee dong feng hingga membuat Lee menitikan air mata penyesalannya. Sedangkan Xing An yang saat itu ada di sana hanya bisa menatap di kejauhan, ia berdiri di samping pria buta.
"Kau lihat? Takan pernah ada perang antar saudara bukan?" Tanya pria buta itu, ia tersenyum meringan tanpa beban. Sedangkan Xing An hanya bisa mengangguk diam seraya menatap pria di sampingnya itu dengan seksama.
Sebenarnya? Siapa pria paruh baya ini? Apakah dia lawan ataukan dia adalah kawan. Bathin Xing An.
Saat drama manis antra kluarga itu terjalin. Satsuki yang masih waspada itu mulai naik ke atas pohon dan menatap pertarungan Qiang Gu dan Lee yang berakhir dengan sebuah pelukan. Ia tampak sangat tak puas hingga mengepalkan tangannya erat erat.
Heh. Lee dong feng... Sudah lama sekali dia tidak muncul. Heh... aku masih belum selesai denganmu. Tapi... jika respon Qiang Gu seperti itu. Aku bahkan tidak bisa menyentuhnya. Bathin Satsuki.
Saat pelukan antara Qiang Gu dan Lee terjalin. Tiba-tiba Lee terbatuk "Uhuk! Uhuk!" Qiang Gu pun melepaskan pelukannya.
"Kakak! Kau baik-baik saja?!" tanya Qiang Gu panik. Bahkan Qiang gu terbelalak jika yang Lee dong feng batukan itu adalah gumapalan-gumpalan darah yang mirip ati ayam.
"Kakak! Apa yang terjadi padamu?" Teriak Qiang Gu panik. Satsuki yang seorang Alkemis pun mulai mendiagnosa penyakit Lee dong feng.
"Itu adalah racun kutukan!" Jelas Satsuki seraya melangkah. Qiang Gu pun menoleh ke arah pendekar serba tertutup itu.
"Kau! Apa maksudmu!" Teriak Qiang Gu. Lee pun tak tahan pada tubuhnya dan terkulai tak sadarkan diri.
"Lihat saja dia. Dia bahkan tidak akan bisa bertahan lebih lama!" jelas Satsuki.
"Kakak! Kakak! Apa yang terjadi padamu!" Teriak Qiang Gu.
"Percuma saja... yang bisa menolongnya hanyalah pemilik penawarnya!" jelas Satsuki.
Pendekar ini! Sebenarnya siapa dia? Bagai mana bisa dia bisa tahu segalanya. Bahkan... dia juga melawan pengendali jiwa??! Bathin Qiang Gu waspada.
"Sekarang! Jika kau ingin menolongnya. Lebih baik... bawa dia kebawah..." Jelas Satsuki. Qiang Gu yang khawatir pada sang kakakpun mulai mengangguk. Ia memikul tubuh kakaknya dan membawanya ke bawah.
Syuuut!
Tap! Mereka pun mendarat dan Qiang Gu mulai merebahkan tubuh Lee de batang pohon besar beralaskan daun kering.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan!" Tanya Qiang Gu mendonggakan wajahnya ke arah atas pohon di mana Satsuki masih berdiri.
"Baringkan saja..." Jelas Satsuki. Satsuki masih enggan turun ke daerah Qiang Gu terduduk bersama Lee dong feng. Sebab ada sesuatu yang menarik perhatian Satsuki. Itu adalah Xing An, Xing An tampak sangat memperhatikan Qiang Gu.Bahkan matanya tak luput sama sekali dari sosok Qiang Gu, kemanapun ia pergi mata itu cemas mengikutinya.
Hehehehe... Xing an. Aku sama sekali tak percaya jika itu adalah kamu! Bathin Satsuki.
Bersambung...
__ADS_1