
Satsuki mulai membangunkan Huli Jing, ia menepuk kedua pipi cuby Huli Jing lembut.
Plak! plak! "A-aduh sa-sakit!" Pekik Huli Jing memegangi kedua pipinya yang merah. Lembut menurut Satsuki tapi keras terasa oleh Huli Jing.
"Dasar ceroboh. Kau bisa saja terbunuh, jika mempraktikan cara bertahan saja kamu tidak mampu" Ucap Satsuki mengolok Huli Jing. Satsuki berdiri lalu Huli jing pun berdiri dan mengikuti Satsuki.
"Tu-tunggu tuan... aku sungguh minta maaf" Ucap Huli jing memohon. Satsuki mendelik seraya terus melangkah ke depan "Untuk apa kamu meminta maaf?..." Tanya Satsuki. Huli Jing mulai menundukan wajahnya, ia tampak sangat bersalah "Itu... aku salah, karna tak mendengarkan kata-kata tuan tadi" Balas huli jing sedikit merinding dan takut.
"Lupakanlah, lain kali... jadilah orang yang memegang teguh pendirian mu. Kamu mengingatkan ku pada seseorang..." Ucap Satsuki, Huli Jing terbelalak "Be-benarkah? Apakah dia cantik? Apakah tuan menyukainya?" Tanya Huli jing mulai melangkah cepat dan mengelilingi langkah Satsuki. Satsuki hanya bisa tersenyum dan enggan membalas peetanyaan huli Jing yang bertubi-tubi itu.
"Heh... benar juga, sudah lama aku tak pernah bertemu dengan Xing An... bagai mana kabarnya? apakah dia masih hidup? Aku yakin, Tapi mungkin juga dia akan baik-baik saja. Pasti, dia akan menemukan guru terbaik untuk mengajarinya cara bertahan hidup" Bathin Satsuki. Ia rindu dan menatap langit gelap di hutan itu. Meski saat ini adalah pagi yang cukup cerah. Tapi nampaknya kabut kegelapan yang semaikan klan iblis belum hilang dan masih terlihat gelap dan angker.
Satsuki dan Huli Jing melanjutkan perjalanan, Namun seseorang kini telah merintih di suatu tempat...
Tempat itu adalah Istana klan iblis, kastil hitam yang sangat gelap dan menyeramkan.
Seseorang merintih dan menangis, memegangi lukanya berkali-kali "Ssst... Ah! Sakit sekali, sakit..."Desahnya meringis. Ia bersembunyi di antara paveliun milik Hanbu. Karna suara itu amatlah merisihkan akhirnya Jendral itupun keluar untuk membicarakan hal penting.
"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Hanbu, Seseorang yang merintih itu adalah Ukkoni. Ukkoni menoleh dan mulai berdiri lalu menghampiri Hanbu.
"Jendral... Maafkan aku, aku sungguh tak berguna. Aku kalah melawan anak misterius itu. Dia sengaja melempar cahaya ke arahku, hingga tubuhku sedikit terbakar dan melepuh"Ukkoni bersimpuh di hadapan Hanbu dan menundukan kepalanya. Hanbu pun makin marah pada anak itu, Hanbu mencengkram tangannya seerat mungkin karna marah.
"Cih. Kita memang sedang kurang beruntung. Lawan kita memang sangat berbahaya. Oh ia... mana Kallen? Apa kalian bersama semalam? Dia sama sekali tidak tampak" Ucap Hanbu melihat sekeliling.
"Kallen...? Mungkin dia masih berjaga di sekitar hutan kematian" Balas Ukkoni. Ia terus saja mengelus luka melepuh di sebagian tangannya.
"Baiklah... aku akan pergi, ada hal yang harus aku kerjakan" Ucap Hanbu meelangkah menjauhi Ukkoni, baru dua langkah ia berpijak, iapun kedatangan beritaa biruk.
__ADS_1
Koaak! Koaak! Pak! Pak! Seekor kelalawar kecil yang hitam menghampirinya lalu hanbu pun kaget. Hanbu segera menadahkan lengannya dan kelelawar itupun hinggap di sana.
Syuut! Nampaknya hanbu sedikit syok saat melihat kelelawar itu membawa sebuah berita buruk.
"Oh tidak! Ukkoni, nampaknya... Kallen, dia telah tewas oleh pendekar yang melawanmu kemarin!" Ucap Hanbu menoleh ke arah Ukkuni. Ukkoni terbelalak, iapun menghampri Hanbu tergesa-gesa.
"Apakah itu benar?" Tanyanya tak percaya. Hanbu pun menyerahkan Kelelawar kecil yang sedikit lagi akan menghilang. Tubuh kelelawar itu sedikit demi sedikit menghilang.
"Apa... ini, tidak! Ini sama sekali tidak mungkin... Kallen, dia sangat kuat, mana mungkin dia mati semudah ini?" Nampaknya Ukkoni tak percaya, ada beberapa bulir basah di plupuk mata Ukkuni yang telah terjun.
"Ini sangat buruk, pera prajurit kita, sediiit demi sedikit tumbang, dan pertahanan kita melemah. Aku harus pikirkan cara lain... Apa lagi saat ini, rencana kita sungguh berantakan" Ucap Hanbu. Ukkuni mengangguk, karna yang dikatakan jendral perang itu benar.
"Kita harus mencari sekutu lain..." Ucap Ukkuni.
"Aku akan mencari bibit baru dan membuat mereka mau bergabung dengan kita" Jelas Hanbu, Ukkoni kembali mengangguk, Hanbupun melangkah pergi ke area singgah sana Raja iblis kegelapan.
Sang Raja iblis sungguh berbeda kali ini, Hanbu sangat marah pada perubahan yang terjadi pada sang raja iblis itu. Hanbu pun menghadap dan bersimpuh "Ampun yang mulia... Hamba akan menyampaikan sesuatu" Ucap Hanbu menatap raja iblis di kejauhan.
Sang raja iblis yang sedang bersenang hati itu mempersilahkan Hanbu tuk menjelaskan hal apa yang mengganjal di hatinya.
"Hamba akan sampaikan tentang pertahanan klan kita yang semakin menurun. Apa lagi, prajurit-prajurit terpilih telah berguguran di medan perang" Jels Hanbu, sang raja iblis hanya menyimak, ia beberapa kali mengangguk saat Hanbu berkata demikian.
"Hamba mohon titah dari yang mulia" Hanbu menunduk sembari menunggu aba-aba dari Raja iblis itu.
"Apa ini sangat buruk? Maksudku, apakah tak ada jalan keluar lain?" Tanya Raja iblis. Hanbu mulai menatap Raja iblis di kejauhan.
"Kita harus menyusun strategi perang untuk membunuh ancaman kecil yang sangat berbahaya yang mulia" Pekik Hanbu. Nae jime pun tertarik "Apa maksudmu?" Nae jime mengerutkan alisnya tampak ragu "Aku harus membunuh pendekar bertubuh kerdil itu secepat mungkin, jika tidak... maka tahta yang telah yang mulai tempati, pastilah akan enyah secepat mungkin" Jelas Hanbu, tentu saja raja iblis kaget jika harus membunuh pendekar itu.
__ADS_1
"Kita akan melakukannya secepat mungkin, Kallen dan Hong lian telah tewas di tangannya. Jika kita tidak bertindak. Bisa saja gilaran ku atau Ukkuni" Jelas Hanbu. Entah apa yang di pikirkan Raja iblis, ia hanya diam dan terlihat tengah memutar otaknya.
"Ancaman kecil itu, apakah bisa jika aku saja yang melawannya?" Tanya Raja Iblis, tentu saja Hanbu sudah tahu respon ini yang ia akan dapatkan.
"Raja iblis sungguh khawatir pada pendekar itu? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Heh, kenapa ia tampak lebih panik" Bathin Hanbu.
"Maaf yang mulia, tapi... kami tak ingin anda terluka saat melawan pendekar tersebut. Selain itu... aku akan memanggil Cang Un dan Lon ge bersodara untuk meninggalkan posnya dan ikut dengan kami untuk melawan pendekar itu"
"Cang Un? Kukuira mreka telah tiada?" Tanya Raja iblis. Nampak panik sang Raja iblis itu hingga Hanbu makin geram saja padanya.
"Cang un punya kemampuan untuk menghidupkan orang mati. Jadi, jika dia ada di belakang kami. Maka... perterungan ini akan kita menangkan" Jelas Hanbu.
Entah kenapa rencana matang yang di susun Hanbu tak mendapatkan respon yang baik dari Raja iblis.
"Yang mulia... hamba pamit" Hanbu mulai membungkuk hormat lalu berdiri dan mundur beberapa langkah, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan aula singah sana raja iblis.
"Apa yang harus aku lakukan? Hanbu terlalu tegas jika sudah berencana. Aku harus lakukan sesuatu" bathin Raja iblis. Ia mulai berdiri lalu memutar tubuhnya dan "Siiing" Ia menghilang.
Tapi rupanya, hanbu hanya menjebak sang raja iblis. Hanbu benar-benar puas saat menjebak raja iblis. Ternyata Hanbu belum meninggalkan aula istana itu dan mengintip di balik dinding. Rupanyaa kepanikan yang tak bisa di sembunyikan raja iblis semakin membuatnya mantap untuk memberontak.
"Raja iblis... kita akan lihat, sebarapa besar kemampuanmu untuk melawan kami, dan menyelamatkan pendekar kerdil itu"
Hanbu terkekeh. Rencana yang ia susun adalah rencana terbaik yang tak mungkin gagal.
Next episode...
i love you para leaders...
__ADS_1
bersambung...