
"Penderitaan hidupku... baru akan di mulai" Lenguh Lee dong feng masih bersimbuh di ranting pohon.
"Hentikan keputus asaanmu. Kau adalah seorang budak sekarang, jika kau ingin berhasil... kau harus bersabar mengikuti tuanmu..."Balas Pria bertopeng itu. Jelas Lee marah, sebab pria itu tak tahu apa yang dirasakan Lee sekarang, ia sedikit senang karna bisa keluar dari sumur terkutuk di pulau terlarang itu. Tapi hatinya juga tak tenang atas apa yang telah ia janjikan untuk hanbu.
Akhirnya yang bisa Lee lakukan adalah menatap lengannya yang ia kepal erat saat ia mengingat kata-kata Hanbu.
Flasback...
Sang Raja iblis telah berlalu pergi meninggalkan Hanbu di aula singgah sana Raja iblis. Hanbu tak senang hari itu, sebab gelagat Raja iblis mulai terbaca olenya.
Bila dulu, raja iblis sering gelisah dan marah-marah ketika mencari putri Satsuki yang telah tewas itu. Tapi kini ia sangat berbeda dan cenderung mengasingkan diri juga tak banyak bicara. Hanbu selalu curiga padanya hingga mengawasinya sejeli mungkin. Dan saat ia mengikuti sang Raja iblis, ia malah dapati Raja iblis telah meloloskan binatang spiritual yang akan mengganggu kelangsungan tahtanya, dari sanalah akhirnya hanbu makin mantap untuk memulai aksi pemberontakannya. Akhirnya dengan segala upaya, Hanbu pun mendatangi sumur kutukan di pulau terlarang. Lalu mengeluarkan Lee dong feng dengan sebuah syarat perjanjian.
Lee harus patuh padanya. Meski Lee beberapa kali menolak, tapi nyatanya... Lee tak bisa mengabaikan kesempatan itu. Akhirnya terjadilah sebuah perjanjian iblis. Perjanjian tersebut amatlah berat, sebab... jika perjanjian tersebut tak dilaksanakan Lee dengan benar. Racun dari mantra perjanjian iblis itu akan menggerogoti hidup Lee sedikit demi sedikit, Dan penawarnya hanya ada pada Hanbu.
Lee yang malang, namun di balik kembalinya Lee, seseorang pun tak sengaja ikut keluar dari sumur tersebut. Orang itu adalah pria buta yang tampak kumuh dan tak berguna. Karna ia telah lama terkurung disana, akhirnya Hanbu meloloskan pria itu begitu saja.
"Jika kau mau... jadilah budak terbaikku. Maka aku akan berikan penawar racun ini untukmu... kau pasti paham maksudku" Ucap Hanbu seraya terkekeh. Lee yang pasrahpun hanya bisa mengikuti arahan Hanbu. Namun siapa sangka, misi pertama yang harus ia lawan adalah pendekar bertubuh kerdil itu. Meski Lee tak tahu, siapa pendekar di balik topi bercadar itu, tapi nampaknya... ia segan untuk membunuh pendekar tersebut.
Flasback off...
"Ayo! Kita mulai rencana yang telah Hanbu susun. aku akan membantumu!" Ucap sang pria buta itu.
"Heh... baiklah kalau begitu!" Balas Lee mulai melompat, lalu menghilang.
***
Hutan makin gelap, sudah beberapa hari mereka terukurung di hutan itu. Mata-mata jahat terus saja mengawasi Satsuki dan Huli jing.
__ADS_1
"Tetap waspada..." Ucap Satsuki. Huli Jing mengangguk, Semabri menyalakan api unggun, Huli Jing pun mulai membakar sesuatu untuk tuannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Satsuki.
"Aku sedang membakar ikan..." Balas Huli Jing. Satsuki mendelik, ia sedikit waspada. Karna sejak ia datang ke tempat itu, ia hanya makan pil energi saja. Ia tak pernah memakan-makanan lain, sebab sangat sukit di cari dan kebanyakan mahluk di hutan itu adalah silauman dan dedaunan beracun.
"Jangan sembarangan makan apapun yang ada di hutan ini... kau bisa mati nanti" Balas Satsuki. Huli Jing pun kaget dan melempar ikan bakar itu ke arah lain.
"Apa?! Be-begitukah? Padahal... perutku lapar" Ucapnya. Satsuki menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Kalau kau lapar, tunggulah. Aku akan berburu... berdoalah agar aku mendapatkan seekor babi" Balas Satsuki. Ia hanya memakai cadar untuk menutupi wajahnya malam itu. Ia mulai mengeluarkan surikennya dan melemparkannya ke arah Huli Jinng.
Klang! Bunyi suriken itu "Ambilah, kau harus menjaga nyawamu hingga aku kembali" Ucap Satsuki Huli Jing merinding dan ketakutan "Jangan... aku akan menahan laparku hingga besok saja. Jangan pergi tuan..." Pinta Huli Jing, Satsuki hanya tersenyum dan segera berlari ringan lalu melompati setiap batang pohon yang ada di hutan itu.
Hub! Hub! Syut! Gerakan Satsuki yang cepat itu memudahkannya dalam bergerak. Kini Satsuki telah memantau situasi dan mencari mangsa. Ia harap akan ada babi liar yang ada di hutan itu.
Jleb! Jleb! Srak ... Sesuatu telah tertusuk di semak itu. Satsuki segera melompat turun untuk melihat apa yang ia dapat.
Srak! Saat kakinya menggeser semak itu, yang ia dapat justru kelalawar hitam sebesar anak ayam.
"Sial. Kelelawar ini lagi... Cih, aku yakin... seseorang sedang mengawasiku" Bathin Satsuki menggumam.
Kakinya mulai mundur perlahan, dari aura nya saja ia mulai merasa sedang di awasi. "Sial... jika setiap langkahku di ganggu klan iblis terus menerus, sampai kapanpun aku tak akan pernah sampai di desa para raja. Sial!" Bathin Satsuki. Pelan tapi pasti ia mulai mengeluarkan pedang darinya.
SRING!
Ia waspada dengan memutari seluk beluk hutan rimbun tersebut dengan mata tajamnya.
__ADS_1
"Hahaahahaha, Sungguh cerdas..." Kekeh seseorang masih bersembunyi di kegelapan.
"Heh. Keluarlah... atau teruslah bersembunyi, kecuali jika kau ingin mati" Imbuh satsuki. Seseorang itu tersinggung dan mulai keluar dari persembunyiannya.
Syuuut! Angin hitam meliuk-liuk dan membuat dedaunan di sekitarnya bereterbangan hingga sedikit mengganggu penglihatan Satsuki. Satsuki pun mengibas-kibaskan pedangnya untuk mencabik-cabik dedaunan kering itu. Hingga penglihatnnya mulai baik kembali.
Whuuuusss.... Tap! sebuah kaki jenjang beralas kaki merahpun mulai terlihat, Satsuki simak bahwa sesorang itu adalah Kallen yang belum puas bertarung dengannya.
"Hahahaha... kita bertemu lagi. Pendekar kerdil" Ucapnya Satsuki menyeringai "Heh, berhenti memanggilku dengan sebutan itu! Namaku adalah Tian-Tian... aku datang dari tujuh menara suci. Kedatanganku adalah untuk merenggut Giok hitam milik Raja iblis...Untuk membuat sebuah permintaan!" Jelas Satsuki setaya menunjuk Kallen dengan pedang tajamnya. Mendengar peringatan itu Kallen malah tertawa terbahak.
"Hahahahaha, sombong sekali dirimu. Aku tak perduli apa dan siapa nama mu. Yang ku pedulikan adalah kepusaan saat bertarung denganmu. Baiklah, jangan banyak omong kosong lagi denganku. Sekarang tunjukan pertarungan terbaik mu" Ucap Kallen. Satsuki tak tertarik dengan permintaan Kallen untuk bertarung dengannya. Satsuki pun memasukan kembali pedangnya ke dalam sarung itu.
"Kenapa kau malah berbalik!" Pekik Kallen marah. Satsuki tak perduli "Aku tak tertarik bertarung denganmu. Tapi jika kau mau bertaruh sesuatu yang berharga untuk membayar pertarungan ini. Aku akan senang hati bertarung hingga mati denganmu. Bagai mana?..." Ucap Satsuki. Tampaknya Kallen tertarik.
"Baiklah... aku punya pusaka tingkat tinggi, senjata milikku adalah senjata paling hebat, ia bisa merubah bentuknya menjadi apapun yang kau inginkan" Ucap Hanbu. Satsuki tertarik, iapun tersenyum.
"Sekarang, pusaka apa yang kau miliki untuk pertaruhan ini?" Tanya Kallen. Satsuki pun menunjukan Reflika batu giok naga suci pada Kellen.
"Aku akan menukarnya dengan ini" Ucap satsuki. Kallen terbelalak dan sangat bernafsu untuk memiliki batu tersebut.
"Menarik, kalau begitu... ayo kita mulai" Pinta Kallen mulai bersiap pada posisi menyerang.
"Lepaskanlah senjata milikmu. Kita akan bertarung dengan tangan kosong" Pinta Satsuki. Kellen sedikit kaget, tapi ia berfikir demi Batu giok itu. Apapun pasti akan di lakukannya.
Bruk! Pusaka telah di jatuhkannya. Begitupun Satsuki. Kini Hanya ada dua petarung hebat yang akan mempertaruhka nyawanya dalam taruhan ini. Satsuki kah atau malah Kallen...
Next Episode
__ADS_1
Bersambung...