
Dendam Sang putr
Part# 59- Larut dan tenggelam-
GREEEP!
Degh! langkah kabur putri Satsuki terhalang cengkaraman tangan Tang Yuan Cheng.
" Lepaskan!" Putri Satsuki memutar kakinya dan menendang tangan Pangeran Tang Yuan Cheng Keras.
BUAK! seketika pangeran melepas tangan Satsuki karna tendangan kaki sang putri hinggap di dada bidang pangeran Tang.
" Ugh!" Mulai Menepis dan mundur terseret kerasnya tendangan. Satsuki kembali berbalik menuju pintu dimensi waktu, Namun terlambat, Pintu sudah tertutup hingga menyisakan Ruang sebesar Jari telunjuk lalu lenyap.
CLING!
DEGG! Keterlaluan!! Padahal aku ingin tahu lebih banyak hal tentang ibuku! Dan siapa ayahku! Bathin Satsuki.
"'AGGHHHHHHHHHHHHHHH!" Putri Satsuki Flustrasi hingga teriak histeris, Seluruh amarahnya terluapkan dengan sebuah teriakan yang mulai mengguncang menara itu.
" Ggggghhhhhhh! Kereterlaluan! Mereka sungguh kertelaluan! Beraninya mempermainkan takdir ibuku!" Mata satsuki mulai merah padam hingga darah dari dalam mata keluar lalu menetes, Sesaat Satsuki seperti menangis darah dan rambutnya kembali berkilau kuning ke emasan.
DEGH! Ratu Zhang Terbelalak " Ka-kau! Bukankah kau adalah master Xi tan!" Kaget ibu suri seraya mundur. Kemudian Pangeran Tang Yuan Cheng segera menghadang Satsuki yang saat itu telah terlihat mengerihkan.
" Putri, Berhenti melangkah lebih dekat lagi!" Lerai Pangeran Tang Yuan Cheng.
" Minggir!" Ucap Satsuki seraya terus melangkah maju ke arah Pangeran Tang Yuan Cheng. Matanya terus menatap Wajah Ibu Suri tanpa jeda.
" Pu-putri, Maafkan aku, Aku kira ... Kau adalah benih yang tumbuh dari hubungan tak Lazim antara adik dan kakak kembar. Hingga aku khilaf dan mentiadakan ibumu... Aku minta maaf" Ucap Ratu Zhang.
" Berhenti disana, Atau aku takan segan!" Teriak Pangeran Tang yuan Cheng.
SRIIING! pedang mulai di lepas dari Sarungnya. Pangeran Tang Yuan Ceng mulai maju dan menyiapkan kuda kuda dengan tangan yang siap menebas leher Putri Satsuki.
" Minngir! Kembalikan Nenek biadab ini padaku! Aku harus menyertnya dan membuatnya berlutut di bawah kaki ibuku, Dia harus menerima akibat dari keegoisannya itu!"
" Putri Satsuki. Berhenti, Jangan bertindak semberono! Dia adalah nenekmu! " Jelas Pangeran Tang yuan Cheng.
" Cih, Nenek? Dialah nenek yang tak menginginkanku! Sebaiknya kau cepat menyingkir, Atau aku takan segan berbuat lebih kejam dari membunuh!" Mata Xitan mulai berapi-api hingga melukai pangeran Tang Yuan Cheng.
Degh! Ketika saat mata mereka berpaut ( Xitan dan Pangeran Tang Yuan Cheng) Tiba-tiba aura panas menyeruat dari tubuh Xitan dan menyerang Pangeran, Seketika aura itu berhasil melukai tubuh Pangeran Tang Yuan Cheng tanpa menyentuhnya secuilpun.
__ADS_1
" UHUK! Aghhh! I-ilmu apa yang kau miliki? Ja-jantungku, terasa di pukul sesuatu! Panas Rasanya..." Pangeran Yuan Cheng berlutut dan seketika muntah darah. Satsuki berjalan mengabaikan Pangeran Yuan Cheng yang telah merintih
" Be-berhenti!! Ja-jangan lukai Ratu Zhang!"
Mata tajam Satsuki terus menyorot Ke arah Ibu suri tanpa berkedip. Hingga ibu Suri mundur, Karna ia sungguh ketakutan saat melihat perbedaan yang terjadi pada diri cucuknya.
SREEENG! Pedang mulai di genggam , Satsuki menghampiri ibu Suri sigap.
" Aku sungguh benci pada orang yang telah membunuh ibuku!" Jelas Putri Satsuki. Jade Long menyaksikan kemarahan yang tak biasa dari putri Tuannya.
SYUUUT! Pedang Di kibas... Ratu Zhang Terbelalak. Iapun pasrah dan mulai menutup matanya. Saat Satsuki mempercepat Arahan pedang itu di leher Ratu Zhang. Tiba-tiba saja batu Giok yang ia simpan mulai keluar dari cincin Ruang Milik Satsuki.
POWWW! Satsuki kerbelalak, Ia kaget atas apa yang ia lihat.
Celaka! Kenapa batu ini malah keluar! Jika ada yang tahu aku pemilik batu ini, Maka aku akan celaka! Bathin Xitan.
PRANG! Pedang segera Xitan lempar dan ia segera menangkap batu Giok Suci itu.
" Bukankah itu adalah batu Giok Suci kaishar langit? Sejak kapan batu itu mulai utuh lembali?" Tanya Ratu Zhang.
Satsuki segera mendelik, Ia belum berhasil menangkap batu yang tampak aneh itu. Tak biasanya batu itu beraksi.
" Tidak, Bukankah Putri Kuai bilang bahwa batu itu telah lenyap di pulau iblis kegelapan. Ia berkata , Kelak takan ada pertumpahan darah akibat keserakahan manusia yang ingin menguasai alam semesta"
" Heh, Kenapa jika aku memiliki ini? Apakah kau juga ingin membunuhku?"
Perdebatan antara anak dan cucuk terus berlangsung, Pedang Satsuki terjatuh di lantai, Sedangkan tanpa di sadari Satsuki , Pangeran Tang Yuan juga ibu suri, Batu Megic tersebut mulai terbang dengan sinarnya, Dan menuju peti mati milik Ibu dari Putri satsuki.
Cliiiing! Cahaya terang mulai menyinari peti mati milik Putri kuai.
SYUUUUUT,,, Sesuatu mulai keluar dari tubuh Putri Kuai yang telah di awetkan oleh Jade Long.
" ibu suri..." Pekik Seseorang...
Ibu suri menoleh, Iapun kaget hingga berdegug tak percaya.
" Pu-putri Kuai, Kaukah itu?" Ibu Suri menoleh dan segera memelukanya.
Syutt! Namun tak bisa ia sentuh meski hanya sekejap. Ibu suri panik hingga menangis. Apapun yang ia lakukan, Ia tak mungkin bisa menyentuh putrinya.
__ADS_1
" Ibu..." Ucap Roh dari Putri Kuai.
" Putri maafkan aku..." Ibu suri terduduk lemas di lantai menara tujuh pagoda suci itu, Ia menangis dan menyesali perbuatannya.
" Jangan menangis... Aku sudah bahagia di sini... Aku akan segera berengkarnasi, Tapi izinkan aku untuk pergi... Tolong kremasi Jasadku" Jelas Sang Putri Kuai. Satsuki yang terbata-bata dengan darah segar yang tak henti keluar dari matanya pun mulai berlari ke arah sang ibu.
" Ibu... Huhuhuu..." Tangis sang putri Satsuki.
GRAP! Keanehan muncul, Tubuh Satsuki mampu memeluk ibunya. Satsukipun segera melepas pelukan ibunya dan mulai menyentuh bagian pipi ibunya.
" A-aku, Aku bisa menyentuh mu ibu?" Seru Putri Satsuki bahagia.
" Hmmm, Itu karna Batu Giok Suci Di genggamanan mu, Batu itu mampu membuat ilusi seperti keinginanmu" Jelas Putri Kuai.
" Ibu, Aku rindu padamu, Berat bagiku hidup tanpa mu ... aku hampir mati di tangan mereka ..." Tangis Putri satsuki.
" Jangan merengek, Ibu sungguh kaget, Kamu tumbuh dengan cepat dan cantik, hingga ibu tak percaya, Batu itu telah memilihmu sebagai tuannya, Hingga meski kamu bereingkarnasi beribu kali, Ia akan tetap membawamu ke masa lalu ini, Hingga kamu bisa memperbaiki nasibmu di masa ini untuk di masa mendatang"
" Jadi kamu tahu, bahwa aku adalah manusia dari masa depan?" Putri Kuai mengangguk " meski demikian kau adalah anakku, Dimanapun kau tinggal, kau adalah keturunanku..." Satsuki tersenyum ia memeluk ibunya kembali. Putri Satsuki enggan melepas pelukan ibunya hingga putri Kuai harus melepasnya pelan.
" Ada yang ingin ibu perlihatkan..." Ucapnya. Satsuki mulai terduduk di hadapan Roh ibunya.
Putri Kuai mulai mengeluarkan sesuatu "Putri, Satsuki anakku... Ini adalah Roh petir, Kau bisa menyimpannnya, Gunakan ini untuk situasi yang mendesak, Ia akan senantiasa membatumu ... Hiduplah dengan baik, Buang seluruh rasa dendam di hatimu... Sayangilah ibu suri, Juga,,, Buanglah Rasa bencimu padanya, Kau adalah anakku yang terbaik, Ibu sangat mencintaimu..."
Seraya Roh petir hinggap di lengan sang putri Satsuki. Roh ibunya mulai perlahan menghilang.
" Ibu! Jangan Pergi! Hiks..."
" Jangan menangis nak, Ibu tahu... Kau adalah anak yang bisa ibu andalkan, Ibu sangat mencintaimu..."
" Mulai saat ini aku berjanji... Aku akan mencari batu Giok hitam dan membangunkanmu... Aku akan membuat permintaan untuk menghidupkanmu kembali ibu! Jangan pergi! Hiks Huhuhu"
Roh mulai menghilang tapi suara gema saat memperingatkan anaknya sangat keras seakan berkata " Jangan lakukan itu, Karna itu akan melawan kehendak takdir, Dan kau akan melakukan kesalahan, Biarkan ibu bereingakrnasi..." Serunya kemudian suara itu mengilang.
CLING... putri Satsuki mendonggakkan kepalanya ke arah cahaya yang membuat ibunya menghilang.
Tidak... Tidak!! Ibu! Ibu kembalilah...
" Ibuuuuu! Hiks! Kembalilah... Aku sangat merindukan kehangatan darimu... aku masih membutuhkan kasih sayangmu... huhuhuhu Aggghhhhhhh.... huhuhu ibu..." Putri Satsuki mulai tenggelam dalam kesedihan dan larut. Ia tak mengerti kenapa kini, suasana hatinya sangat menyedihkan . Hingga membuatnya menderita.
__ADS_1
- Tenggelam dan larut The End-