
Dendam sang putri
Part#29-Perjalanan-
Xitan dan Pangeran berjalan menuruni tangga gelap perlahan dan sangat hati-hati. Mereka tak ingin salah melangkah karna tak mau membangunkan kembali sang naga dari tidurnya, Sebab satu kali semburan api saja akibatnya bisa sangat patal.
Saat ini mereka hanya perlu turun ke pusat menara dan membuka pintu gerbang menuju bawah tanah tempat inti pil abadi tersimpan. Karna pil itu adalah bagain dari sayarat untuk melebur cincin Ruang Milik Xitan.
* * *
Tap! Tap ! Tap!
" Masih jauh kah?" Xitan.
" Sepertinya begitu, Apa lagi langkah kita melambat karna kita berjalan tanpa bantuan Shamonsom Raigh"
" Ini terdengar menggelikan, Bahkan binatang hampir tahap dewa saja kehilangan kekuatannya di tempat gelap dan lembab ini" Mendengar Ocehan sedari tadi dari sang master membuat Pangeran tersenyum, Entah mengapa sejak pertemuan pertamanya dengan sang master di tempat lelang itu membuatnya tertarik pada wanita angkuh tersebut.
" Kenapa master, apakah kau sudah lelah, jika demikian, Naiklah kepunggungku, aku akan senang hati menggendongmu" Gurau pangeran pertama sambil tersenyum dan menghentikan langkahnya, Ia berusaha menatap manik mata Xitan yang berwarna merah pekat.
Heh, kau ingin memperolokku dengan memperlakukanku sepert itu??
__ADS_1
" Jangan bercanda, ayo lekas! Aku harus bergegas mendapatkan bunga api dan pil abadi, jika tidak! aku takan pernah punya cincin ruang untuk Ice, dan memulihkan racun yang tertanam di tubuhku, setelah itu aku akan bergegas dan keluar dari sini"
" Wah sungguh angkuh, Baiklah jika ini kehendak mu master, mari lanjutkan perjalanan"
Xitan dan sang pangeran mulai berjalan kembali dan merekapun sampai di dasar tangga menara tersebut, Di dasar menara yang gelap tersebut terlihat jelas bukan hanya mereka berdua yang pernah masuk ke menara tersebut, tapi juga orang-orang sebelum mereka, terlihat jelas dari tulang benulang manusia dan binatang kontraknya berserakan tak terhitung jumlahnya.
" Iek menjijikan, Apakah mereka para petapa yang tidak selamat saat tahap pemurnian?" Tanya Xitan risih.
" Bukan. Mereka hanya orang-orang yang tidak beruntung, Menara naga Spirit Black Jade di jaga oleh ular merah bersisik api, Sejak ribuan tahun yang lalu, Ular merah itu selalu menunggu dan patuh pada perintah naga Siprt black Jade, Saat ini ular merah itu sedang tak ada, belarti kita sedang beruntung" Mereka melanjutkan langkah ke depan gerbang kematian.
" Bai Xin dengar aku?" Tanya pangeran ke arah cincin ruang di jarinya.
" Ya, ada apa master?"
" Baik! " Whooooosh! Cincin Ruang bersinar dan Shamonsom raigh Milik Pangeran petama mulai keluar. Xitan menatap takjub dan terpana pada cincin ruang yang dimiliki pangeran tersebut.
" Keren' Aku harus segera punya satu" Pekik Xitan .
" Master, Ayo keluarkan Shamonsom righ milikmu, mungkin dia juga dalam mode normalnya" Xitan mengangguk dan Icepun keluar setelah Xitan memanggilnya " ICE keluarlah!"
Whooooosssh!
Koaaaakkk! Seraya mengepakan sayap esnya yang beku, Lalu melentang terbang meliuk liuk bersama Bai Xin seakan senang.
__ADS_1
" Berhenti beratraksi, Cepat bawa aku terbang!"
" Baik Master! ICE merendah dan Xitan langsung melompat ke punggung Ice. Seketika mereka terbang menuju pintu besar yang menghubungkannya ke bawah tanah menara tersebut.
" Master ikuti aku!" Pangeran pertama terbang cepat dan masuk di antara celah kunci pintu besar . Ice mengikuti sisa awan yang di tinggalkan Bai Xin dan ikut masuk celah lubang kunci pintu raksasa itu.
Whoooosh!
Seketika setelah ada di dalam ruangan balik pintu. Hawa panas mulai terasa membakar tubuh, Api menyala-nyala seakan tak padam bagaikan di neraka.
" Sial! Apa apaan ini! Dari mana asal muasalnya! Ice! Kau masih bisa bertahan?" Tanya Xitan'
" Ya master, hanya saja sebagian bulu es di ujung sayapaku mulai mencair!" Pangeran pertama mulai terbang mendekati kepakan Sayap ICE " Master, monster mu tak cocok di udara panas begini! apa yang kau butuhkan, biar aku yang ambilkan" Pangeran mulai menawarkan jasanya.
" ICE kau sungguh tak mampu melaju lebih dari ini?" Ice mengangguk , Xitan marah dan melepas ICE ia melompat ke monster berbentuk kuda milik Pangeran pertama " Master!" Pekik Es, Seraya masuk kembali ke dalam batu cincin milik Xitan.
" Biarkan aku yang mengambilnya sendiri, aku tak ingin merepotkan kalian. Lagipula aku melakukan ini untuk Ice, Jika dia sampai mencair apa gunanya batu ruang nanti" Lagi-lagi pangeran tercengang pada tingkah laku wanita di depannya itu. Ia menyematkan senyum di sela-sela ketegangan yang terasa membakar jiwa, karna panasnya ruangan itu terasa berada dalam tungku api neraka milik raja neraka.
" Baiklah, aku tahu tempatnya. Bai Xin kebawah! Kita harus dapatkan bunga api dan juga Pil abadi milik sang naga"
" Baik Master!" Sementara Xitan memanfaatkan kemapuan Pangeran pertama dan monsternya, ICE Sudah sedari tadi masuk kedalam cincin Xitan yang sudah rerak.
Whoooosssh! Api menyala-nyala seakan enggan di dekati dua mahluk asing yang baru tiba di tempat tersebut.
__ADS_1
-Perjalanan #2 The End-