Dendam Sang Putri

Dendam Sang Putri
Pertarungan Cantik 3


__ADS_3

Pertarungan Satsuki melawan pria itu berlangsung hingga dupa ke tiga (Pembakaran dupa ke tiga oleh Huli jing)


"Ya ampun... apakah mereka berdua adalah iblis petarung? Mereka sungguh tampak berenergik" Ucap Huli Jing dengan malasnya memegangi dupa ke tiga.


"Haaaah... malah aku yang lelah karna menahan perutku yang lapar" Ucap Huli jing. Pertarungan antara Satsuki masih belum berakhir, hasrat pria bertopeng untuk membuka topi cadar milik Satsuki sungguh kuat, hingga ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah Satsuki berikan padanya.


"Hya!" Satsuki kembali mengibas pedangnya. Pria itu tetap mengelak, lengannya tak bosan meraih topi itu meski di tangkis beberapa kali oleh tangan Satsuki.


Buak! tangan pria itu terpental. Pria itupun jatuh ke tanah dan terjungkal.


"Jangan coba-coba kau sentuh atau aku akan memotong tanganmu ini!" Bentak Satsuki melompat dan menusukan pedang itu ke arah perut pria bertopeng itu.


Deg! Pria itu terbelalak, ia segera berguling menghindar, "Dap!" Satsuki mendarat dengan serangan yang meleset, iapun menarik rambut pria bertopeng perak itu hingga ia terjungkal kembali.


"Gyuuut!" Rambut pria itu di tarik paksa. Alhasil pria itu kembali terjungkal dalam posisi terbaring. Satsuki segera mengangkat pedangnya dan mulai mencoba menusuknya. Tapi pria itu malah menarik cadar dari topi itu secepat mungkin. Saat posisi wajah Satsuki ada di hadapan pria itu. Pria itupun segera meraih nya dan membukanya.


Syuuut!! Saat cadar terbuka, Satsuki pun terbelalak, pria itu menatap wajah satsuki intrens. Pria itupun sedikit kaget dan terpana. Akhirnya Satsuki yang terlanjur memegangi pedangnya pun mulai langsung mengexsekusi pria di depannya yang sudah tergeletak tak berdaya.


"Beraninya kau membuka topengku!!" bentak sarsuki.


Syuuut! Pedang di lesatkan ke arah pria itu. Pria itu sama sekali tak menghindar hingga bahunya pun terluka. Pedang itu tertancap pas di bahu pria itu. Satsuki membulatkan matanya seraya di liputi amarah yang meluap.


Cruat! Darah pria itupun berhambur, pria itu malah tersenyum seraya menatap wajah Satsuki yang saat itu sangat dekat dengannya.


"Kau! Kenapa kau tidak menghindar?!" Tanya Satsuki marah. Pria itu tersenyum seraya berkata "Ini sepadan dengan apa yang ku dapatkan" Balasnya. Kata-kata yang tak di pahami Satsuki, hinngga membuatnya sedikit heran.


"Dasar bodoh! Apa maumu?!" Satsuki sedikit menurunkan emosinya, ia mulai membantu pria itu duduk.


"Kembalikan... Kembalikan penutup wajahku" Ucap Satsuki kembali seraya dadanya yang panas oleh api marah di hatinya.



"Apakah kau menginginkannya?!" Tanya Pria itu.


"Apa maksudmu?!" Tanya Satsuki bernada tinggi.


"Tentu saja penutup kepala ini? Kau pikir aku bertanya tentang apa?"


"Cih! Kurang ajar, Kau sungguh beraninya mempermainkan aku?!aku sama sekali tak bisa pergi tanpa itu, Sungguh menyebalkan! kau adalah satu-satunya mahluk yang ingin aku membuka penutup kepala itu! sungguh konyol! lagi pula apa sebenarnya tujuanmu!" Tanya Satsuki marah kembali. Jawaban pria itu sungguh simpel "Aku hanya rindu padamu. Aku rindu dengan perjalanan kita yang berkesan!" Balasnya. Satsuki sama sekali tak paham dengan apa yang ia katakan.

__ADS_1


"Kau sudah gila... cepat kembalikan, lalu pergilah dari hadapanmu. Jika kau bertemu lagi denganku, anggap saja kau tak mengigatku" Balasnya ketus. Pria bertopeng perak itu sedikit sedih oleh jawaban ketus wanita di depannya itu.


"Bawalah aku dalam rombonganmu... aku akan sangat berguna untukmu" pinta pria itu. Satsuki segera merebut topinya dan sesegera mungkin memakainnya.


"Jangan harap... aku tak semudah itu mengajak seseorang ikut dalam perjalananku" Jawabnya ketus lagi.


"Tapi aku adalah seorang pengembara, aku sangat lemah tapi aku juga ingin hidup... bisakah kamu membantuku sampai ke kota?" Tanya pria itu. Satsuki sama sekali tak tertarik.


"Pergilah... omong kosongmu sama sekali tak berpengaruh padaku. Kekuatanmu saja sudah sangat jauh dari kekuatanku. Mana mungkin pendekar hebat sepertimu akan terluka" Balas Satsuki seraya berdiri dan melangkah.


"Tapi aku sama sekali bukan pendekar. Tolong bawalah aku, aku ikut ya? tolonglah pendekar, aku sangat butuh perlindungan" pinta pria itu memelas, wajah Huli jing hanya datar saja melihat kelakuan raja iblis yang tak berwibawah.


"Apakah raja iblis sekonyol itu? mana mungkin dia merendah hanya untuk memohon cintanya terbalas oleh tuanku... sungguh menjijikan" Ucap Huli Jing. Tapi nampaknya Satsuki tak bisa di bawa bercanda, di hatinya tak ada cinta untuk siapapun hingga ia begitu dingin saat menarik pedang yang baru saja ia masukan ke dalam sarungnya.


Sreeng! pedang di tarik dan di hempaskan ke arah lehar pria bertopeng perak itu.


Degh!


Pria itu berdegup.


"Pergi atau kau mati di tanganku..." Ucap Satsuki tegas. Pria itu terpanah, tak ada kata lain yang pria itu lontarkan selain menggumam dalam hati "Ini memang dirimu, tak mudah luluh, ataupun tergoda... Putri Sarsuki, trimaksih kau telah bertahan hidup dan tumbuh dengan baik..." Bathin pria bertopeng.


"Lain kali aku akan membawakan mu sup teratai merah..." Ucap pria itu. Satsuki berlalu pergi tak menggubris kata-kata bodoh pria itu. Lalu huli jing pun mengikutinya dari belakang.


"Raja iblis... kau sungguh memuakan, mana kewibawahanmu... bahkan urat malumu hilang begitu saja, menjijikan... Awalnya aku suka padamu karna kau sangat tampan. Tapi sekarang, aku malu melihat kekonyolanmu memuakan" Ucap Huli jing seraya berlalu setelah mencela.


"Kejam juga kau ini, aku yakin kau tertular ke galakan tuanmukan?"


"Aah... sudahlah, pergi sana, jangan biarkan tuanku marah dan melukaimu lagi" Pinta Huli Jing. Pria bertopeng itu mulai ingat bahwa ia datang ke rombongan itu hanya untuk memberikan makanan pada Huli Jing. Sebab bunyi perut huli jing terdengar hingga ke kerajaan klan iblis.


"Hei rubah tengil" seru pria bertopeng perak itu, dengan malasnya hili jing pun menoleh.


"Apa lagi..." Malas Huli jing.


"Ini ambilah, dan makan sepuasmu" Ucap Pria itu. Huli Jing terpana dengan mata yang berbinar. Pria itu membawakan pangsit, dimsum dan bakpau daging sekeranjang penuh.


"Waaah... apa ini mimpi? Ini bukan sihir yang kau buat kan?!" Tanya Huli jing gelagapan setelah meraih apa yang pria itu berikan untuknya.


"Makanlah yang banyak" ucap pria itu. Langkah satsuki sudah jauh di depan sedangkan huli jing masih berbincang. Akhirnya Satsuki teriak.

__ADS_1


"Rubah tengik! Cepatlah kemari! Langkahmu sungguh lelet!" Teriaknya. Huli Jing pun tergesa-gesa saat mengemas barang pemberian dari pria itu.


"Jaga rahasia ya" ucap pria itu.


"Baik... bersembunyilah yang benar ya?" Nampaknya Huli jing dan Pria itu telah berdiskusi sesuatu. Hingga ada sebuah kesepakatan di antara keduanya. Terkait, pria bertopeng perak yang ingin ikut dalam rombongan itu.


Mereka pun berlalu pergi, kini pria bertopeng perak hanya perlu kembali ke istananya dan melanjutkan sandiwaranya.


Saat ia hendak prgi seseorang menyeru "Tunggu!" Pekik seseorang di balik pepohonan.


Pria brtopeng hitam pun mulai turun dari atas pohon dan menghampiri pria dengan topeng praknya.


"Hem... dari aroma tubuhmu aku sudah tahu, bagai mana bisa kau keluar dari tempat terkutuk itu dngan mudah?" Tanya Pria bertopeng perak itu. Pria bertopeng hitampun terkekeh.


"Hehehehehe... dan aku tak perlu menjelaskannya padamu" Balas Lee sinis.


"Lalu untuk apa kau ada di hadapanku?" Tanya Nae Jime mulai membuka topengnya.


"Untuk apa? tentu saja untuk meminta darahku kembali? Kau tak tahu malu!" Lee mulai meraih pedangnya dan menyerang Nae Jime secara tiba-tiba.


Nae jime tersenyum lalu ia pun hanya bisa menghindar "Pergilah karna kau bukanlah tandinganku" Pekiknya seraya membuka matanya lebar-lebar, mata merah dengan tetesan darah di ekor matanya pun menetes, tiba-tiba saja lutut Lee lemas dan napasnya sesak.


"Uhuk..." Lee bersimpuh di depan Nae jime begitu saja.


"Dasar sampah..." ucap Nae jime seraya berjalan dan mengabaikan Lee yang tak berdaya itu. Nae Jime meloncat ke batang pohon lalu menghilang secepat angin berhembus.


WHUUUUASSSSHHHH...


Tinggalah Lee yang berlutut merenungi nasib buruknya, kekuatannya telah hilang setelah Nae jime memasuknya kedalam lubang itu. Lalu tekanan hanbu untuk membunuh tanpa kemampuan membuatnya merasa sangat tak berguna.


"Aaagghh! Ini tak adil untukku! Keterlaluan!!" Teriak Lee dengan segala ke putus asaannya.


Next episode ...


Moga jangan bosan ya...


Klik like plus komen biar autor makin semangat buat namatin ceritanya. Thank yang dah baca moga sehat terus all... amin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2