Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 99 Mama Nadia Sakit


__ADS_3

Ternyata mobil yang dia curigai itu masih mengikuti nya kembali dengan jarak sekitar tiga sampai empat meteran jaraknya.


Ken jadi teringat kembali peristiwa di perkebunan kemarin ada yang mengikuti nya di belakang saat mau pulang ke kediaman keluarga Tomy.


"San..... apakah masih mengikuti kita mobil yang tadi?".


"Sepertinya masih bos...., apa yang harus kita lakukan?".


"Coba lihat nomor mobil nya San?".


Sandi melirik lagi dari spion mobil nya dengan seksama, walaupun agak terhalang dengan kendaraan lain tetapi masih bisa terlihat.


"B22XX dan belakangnya SAT catat bos....ada bolpoin di laci itu" kata Sandi.


Ken membuka laci yang ada di depan mengambil buku memo dan bolpoin serta mencatatnya nomor mobil itu.


Mobil Sandi berbelok ke daerah Bumi Perkemahan Cibubur tetapi mereka masih mengikuti nya dengan jarak yang semakin dekat.


Sandi memasuki parkiran wisma sambil tetap melirik spion mengawasi mobil yang mengikuti nya tadi, tetapi mobil itu lurus ke jalan raya tidak ikut parkir masuk ke wilayah perkemahan.


"San.... hubungi asisten Anton, ceritakan peristiwa barusan, ini nomor plat mobil nya jangan lupa kirimkan ke dia juga" perintah Ken.


"Siap...bos,....duluan saja, aku akan mengawasi mobil itu lagi, siapa tahu mereka kembali lewat ke sini lagi" jawab Sandi.


Ken berjalan masuk wisma dan ke kamar menemui Imma memberikan vitamin untuk nya, Sandi tetap di dalam mobil menghadap jalan raya, dan membuka handphone nya untuk menghubungi asisten Anton.


Sandi menceritakan tentang kejadian yang baru saja dia alami bersama bosnya itu dan juga mengirim nomor plat mobil yang di catat tadi.


Sudah hampir setengah jam Sandi mengawasi jalan raya tetapi mobil itu tidak lewat lagi, kemudian turun dari mobil masuk ke belakang wisma untuk bergabung dengan yang lain akan mengadakan bakar ikan, bersamaan dengan Ken dan Imma yang keluar dari kamar menuju kesana juga.


Sandi memandangi bos dan istrinya itu dengan sendu, pasangan yang saling mencintai dengan tulus.


Di belakang wisma sudah ramai seluruh keluarga dengan tugas masing-masing,


Ada yang menggoreng terong, tempe, tahu, ada juga yang merebut daun singkong dan kacang panjang, ada juga yang membuat sambal terasi dan sambal matah.

__ADS_1


Sebagian para laki-laki nya yang mempersiapkan Bakaran arang dan mulai membakar baik ayam ataupun ikan.


Hampir matahari berada tepat di atas kepala, Ken mendekati Papi Bastian menceritakan kejadian tadi pagi bersama Sandi saat di apotek.


Papi Bastian kemudian menghubungi asisten Anton yang berada di Bandung untuk menanyakan siapa sebenarnya yang mengikuti Ken tadi pagi.


"Menurut informasi nomor mobil milik Leo Bardan bos, saya dapat informasi itu baru saja" tulis pesan Anton dalam WA nya.


"Ok terima kasih, jangan lupa cari informasi tentang ini dengan keluarga Tomy Sanjaya"


"Siap.... nanti saya info lagi bos".


Sudah selesai semua menu yang di buat, mereka langsung menyantap hidangan itu dengan penuh keakraban dan kekeluargaan.


Sandi juga menghubungi Budi asisten Edi Darmawan menceritakan tentang peristiwa tadi lagi.


"Nanti kami kabari bro....jika ada informasi tentang nya sudah aku dapatkan" tulis pesan dari Budi.


"Iya bro kami tunggu." Jawab Sandi.


Hingga menjelang senja, matahari mulai terbenam di balik gunung dan akan bersiap keperaduannya, semua keluarga pulang ke rumah masing-masing, karena besok pagi harus beraktifitas seperti biasa nya.


Pagi harinya Budi sebelum berangkat kerja menghubungi Sandi tentang masalah orang-orang nya Leo Bardan yang akhir akhir ini mengikuti gerak gerik nya.


Budi menceritakan jika ada Klian yang akan bekerja sama dengan perusahaan perkebunan itu akan mereka selidiki latar belakang belakang nya atas perintah Baron Pranoto.


Budi juga memberikan pesan dari Edi Darmawan agar bersikap wajar saja, sehingga orang orang Leo Bardan akan mundur dengan sendirinya jika tidak ada yang mereka curigai.


Satu lagi pesan dari Budi jika bertemu dengan mereka tidak usah terlalu menanggapi nya agar tidak terjadi apa-apa dengan mereka.


Sandi setelah mendapatkan informasi dari Budi berangkat ke kantor untuk memberikan laporan kepada bos dan bos besar nya.


Di kantor saat ia istirahat makan siang Ken makan siang bersama Papi Bastian beserta para asisten nya, membicarakan tentang orang mengikuti nya akhir akhir ini.


____________________________

__ADS_1


Waktu cepat sekali berlalu pembangunan destinasi wisata alam yang di kerjakan Ken bekerja sama dengan perusahaan Tomy Sanjaya sudah hampir rampung.


Selama pembangunan Ken ataupun perwakilan nya rutin mengunjungi para pekerja dan melihat perkembangan nya setiap enam bulan sekali.


Di perkebunan teh itu Mama Nadia sakit hampir dua Minggu memiliki riwayat mag akut Mama Nadia lemah karena tidak adanya asupan makanan bergizi yang masuk ke dalam tubuhnya.


Tomy Sanjaya ataupun Dini sangat khawatir dan hampir putus asa karena Mama Nadia tidak memiliki semangat untuk sembuh.


Rencana Minggu ini Tomy Sanjaya akan membawa Mama Nadia berobat ke Jakarta karena tidak adanya perkembangan kesehatan nya selama di rawat di rumah sakit terdekat.


Dengan pesawat terbang pagi hari Mama Nadia di bawa Tomy Sanjaya ke Jakarta di dampingi oleh Dini, sedangkan kedua putrinya dan Edi Darmawan tidak mengikuti nya karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.


Sudah hampir satu Minggu ini Mama Nadia di rawat di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta tetapi tidak ada perkembangan sama sekali.


Dini menjadi sangat frustasi, Dini menceritakan tentang Ibu nya kepada Anton Sahroni melalui pesan WA dan meminta ijin agar memberi tahu kepada Mama Nadia saja bahwa sebetulnya dia sudah menemukan anak dari kakak kandung nya sudah hampir dua tahun yang lalu.


Awalnya Anton tidak menyetujui ide Dini, tetapi setelah meyakinkan bahwa tidak akan menceritakan kepada siapapun hanya Mama Nadia saja tidak juga kepada Papa Tomy dan suaminya Edi Darmawan, akhirnya Anton menyetujui usulan Dini


Saat Dini berdua dengan Mama Nadia di ruang rawat inap, sedangkan Papa Tomy sedang bertemu klien bersama asisten Hendra


"Mama ..... ayolah.... semangat untuk sembuh, apakah mama tidak ingin bertemu dengan cucu laki-laki mu?" rayu Dini.


Mama Nadia membuka matanya perlahan, memandangi wajah Dini dengan sendu.


"Cucu laki-laki....maksudmu anaknya mas Dona mu?" jawab Mama Nadia dengan lemah.


"Iya dia siapa lagi?"


Mama Nadia berusaha untuk duduk sendiri dengan semangat walaupun dengan susah payah, dan sedikit di bantu oleh Dini.


"Apakah kamu sudah menemukan nya?" tanya Mama Nadia lagi.


Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum bahagia duduk di samping Mama Nadia dan memeluknya dari samping.


"Sudah......ma, bahkan dua tahun yang lalu".

__ADS_1


"Dua tahun yang lalu?.... mengapa kamu tidak menceritakan kepada ku...nak?"


__ADS_2