Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 78 Lawan yang Seimbang


__ADS_3

"Sebaiknya kau harus hati-hati tentang masalah ini demi keselamatan bersama, ingat selama ini aku diam karena aku memegang amanah dari bos Dona untuk melindungi nya dalam diam".


"Maksudnya bagaimana, aku kurang faham?" tanya Dini penasaran.


Gantian Anton menceritakan apa yang dia ketahui mulai dari amanah bos Dona sampai penderitaan ibu Lestari berpindah dari kampung pindah ke Jakarta, serta amanah nya kepada putrinya Imma Anjani yang mengalami depresiasi karena melindungi Faro menjadi putra nya.


Anton juga menceritakan tentang pengorbanan seorang Kenzie Wiguna untuk mendapatkan gadis yang dicintainya, serta menceritakan tentang kemampuan seorang anak kecil Faro Sanjaya yang mempunyai kemampuan menembak layaknya sniper handal.


"Jadi aku mohon jangan ceritakan ini kepada bos besar dulu please, demi keselamatan mereka".


"Jadi betul jika Faro adalah putra dari mas Dona?"


"Berjanji lah dulu kalau kau bisa tutup mulut tentang hal ini"


"Ya mas aku berjanji, ini bukan persoalan yang sederhana aku tahu itu, aku juga tidak mau kehilangan seperti dulu lagi"


"Ya.....memang dia putra nya".


"Maaf mas.... Aku harus segera pergi tadi aku diikuti oleh dua orang saat masuk salon, jadi aku harus masuk salon lagi agar mereka tidak curiga".


"Apakah anak buah Baron Pranoto?".


"Kemungkinan iya sih".


"Minta nomor handphone mu, nanti kita bisa mengambil langkah selanjutnya".


"Ya mas ini....". Dini menunjukkan handphone nya lalu berlari meninggalkan kafe itu.


Anton hanya menatap kepergian Dini yang sedikit berlari keluar dari kafe itu, sedangkan Dini langsung memanggil taksi yang lewat di depan kafe itu menuju salon tempat awal dia kunjungi.


Bergegas masuk salon tanpa di curigai oleh dua orang yang duduk di warung kopi yang sejak tadi pagi menunggu nya keluar.


Di dalam salon Dini bergegas berganti baju yang tadi pagi dia pakai dan keluar dengan anggun nya, serta pura-pura tidak mengetahui jika ada yang mengawasi.


Berjalan mencari taksi yang lewat dan melambaikan tangannya saat ada taksi lewat pulang kembali ke apartemen.


Kedua orang yang mengawasi Dini pun ikut meninggalkan warung kopi dan mengikuti nya ke apartemen.


_____________________


Di rumah Imma Faro sedang menunggu adik cantiknya yang bergerak gerak, kakinya menendang dan menggeleng kan kepalanya mulutnya sedikit terbuka mencari sesuatu yang di inginkan nya.


"Umi..... adik Fia haus... mulutnya mangap mangap".


"Iya kah adik Fia haus.... sebentar ya bang, adik minum susu dulu, nanti main lagi".


Imma memangku asik Fia dan menyusuinya sampai kenyang.


"Umi...... apa dulu Abang Faro minum susu juga?".

__ADS_1


"Semua bayi pasti minum susu Abang"


"Kok Faro tidak ingat ya?".


Imma tersenyum mendengar pertanyaan Faro yang polos.


"Abang Faro waktu itu masih kecil, jadi tidak ingat".


"Tapi Abang masih ingat umi, Abi Dona, abinya Faro yang satu lagi?


Imma kaget mendengar ucapan Faro, ternyata daya ingatnya sangat kuat.


"Kalau yang itu, umi dan Abang sering membicarakan nya jadi kita ingat terus, tetapi kalau Abang minum susu kan tidak pernah Abang tanyakan"


Faro menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang di maksud uminya, tiba tiba uthi Sumi datang menghampiri mereka.


"Abang..... Itu ada Akung Papi datang".


"Ada apa Uthi, cari bang Faro kah?"


"Iya katanya..... Sana gin temui".


Faro mencium adik Fia dengan cepat, terus berlari turun tangga menuju akung Papi yang sedang duduk berdua dengan teman nya.


"Akung.......Akung cari Abang?".


"Iya... Bang... kenalkan dulu ini teman akung Papi namanya akung letnan".


"Kita bertanding main tembakan yok sama Akung letnan..... Dia hebat lho kayak Abang Faro".


Purnawirawan TNI letnan kolonel Agung Darsono adalah pensiunan yang memiliki keahlian menembak terbaik di Asia bahkan nomor tiga dunia pada jaman muda dulu.


Beliau juga teman Papi Bastian saat mereka duduk di bangku SMU, dan baru pulang kembali ke kampung halaman nya Jakarta setelah bertugas selama lima tahun di Papua.


Di dalam ruang khusus menembak Faro dan Akung letnan bersiap siap untuk bertanding menembak dan jurinya adalah Akung Papi.


Faro menjajarkan botol air mineral sebanyak 20 botol di sebelah kanan dan 20 botol juga di sebelah kiri.


"Akung ....yang adil... jangan curang, Akung letnan yang kiri atau kanan?".


"Akung letnan ambil bagian yang sebelah kiri, bang Faro yang akan ya"


"Ok siapa takut".


"Akung Papi akan adil tenang aja bang, ayo kita mulai...satu......dua.....tiga".


"Dor.....dor.....dor....dor....".


Suara tembakan itu bersautan menggema di seluruh ruangan dengan keras.

__ADS_1


Akung Papi mendekati botol yang sudah jatuh dan menghitungnya.


Dalam satu pistol ada enam peluru, peluru Faro melesat habis mengenai botol itu tepat sasaran, tetapi peluru Akung letnan hanya lima yang mengenali sasaran.


Pertandingan itu di ulang sampai lima kali tetapi Faro tetap tidak ada yang melesat sasaran tembakan nya, sedangkan Akung letnan dua peluru yang melesat.


"Baru kali ini aku mendapat lawan yang seimbang, bahkan di kalahkan hanya oleh anak umur lima tahun".


"Bukan lima tahun Akung, bang Faro sudah hampir enam tahun, sudah mau masuk SD".


Berdua hanya tersenyum mendengar protes Faro.


"Ya ok.... Faro memang anak yang berbakat" ucap Akung letnan dengan mengacungkan dua jempol nya.


Faro keluar ruangan itu berlari menemui adik Fia yang sedang bermain dengan Uthi Sumi berdua.


Papi Bastian dan letnan Agung berbincang mengenai bakat Faro, letnan Agung ingin mengangkat Faro menjadi murid nya, dan Papi Bastian menyarankan harus minta ijin terlebih dahulu dengan Imma dan Ken.


Bersamaan dengan itu Ken datang dari kantor dengan buru-buru agar bisa memandikan putri kecilnya Fia.


"Ken.....kami ingin bicara nanti ya...." Kata Papi Bastian.


"Selamat sore om Agung, iya Papi tapi Ken mandikan adik Fia sebentar" Ken mengulurkan tangannya bersalaman.


Kemudian berlari menuju tangga dan ke kamar menemui istri dan putri kecilnya.


"Abi pulang......."


"Sudah pulang Abi sini umi bantu".


Imma membantu membukakan dasi jas dan kemeja nya meletakkan di tempat pakaian kotor, serta meletakkan tas kerjanya di meja.


"Abi mandi dulu, baru nanti mandikan adik Fia".


"Coba umi yang mandikan Abi......".


"Naaaah.... Mulai lagi ya....., Jangan macam-macam masih harus puasa sampai masa nifas selesai".


"Masih berapa hari lagi umi lama banget sih".


"Sudah jangan protes, mandi dulu sana"


"Oya umi. ..ada temannya Papi, pingin ngobrol sama kita katanya".


"Ada apa.... penting kah?"


"Tidak tahu sih, dia tuuuh dulu sniper terbaik di Asia"


"Oooo ya sudah sana mandi dulu, Abi bau"

__ADS_1


Dengan gontai Ken berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena sudah lengket badan nya.


Ken memandikan adik Fia dengan telaten setelah dia selesai mandi, baru turun menemui tamu yang sudah dari tadi menunggu nya di ruang tamu sedang berbincang dengan Papi Bastian


__ADS_2