Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 56 Adik Dari Tepung Terigu


__ADS_3

Siang ini Imma di temani Ken bertemu dengan psikiater, setelah bertemu Imma merasa lega, ternyata tidak begitu menakutkan seperti bayangan nya selama ini.


Justru hati Imma semakin tenang dan terbuka setelah bertemu dengan psikiater itu, ada kemajuan sedikit demi sedikit.


Sudah hampir dua bulan ini Faro sekolah, dan Imma menjalani konseling dengan psikiater, kemajuan sangat pesat, Imma lebih ceria dan mudah mengungkapkan perasaan nya, tidak seperti waktu masih belum menikah, tertutup dan mudah putus asa.


Hari ini Ken pulang terlambat pulang kerja karena ada meeting mendadak dengan investor dari Jepang.


Pukul sembilan malam Ken baru sampai rumah, sedang Faro sudah tertidur karena siang tidak mau tidur siang.


"Honey.... Abi pulang"


"Kok malem banget pulang nya Bi?".


"Iya ada meeting dengan investor dari Jepang, karena besok mereka harus sudah pulang ke negaranya jadi diselesaikan hari ini juga"


Imma langsung mengambil tas Ken dan meletakkan di nakas, melepaskan dasi, dan jas nya.


Ken mencium bibir Imma dengan lembut sambil tersenyum.


"Bi.... mandi dulu, sudah umi siapkan air hangat"


"Baiklah Abi mandi dulu, nanti kita sambung lagi ya".


"Apa sih Abi ini, mulai modus"


Ken tersenyum sambil mengedipkan matanya, kemudian melangkah ke kamar mandi.


Imma menyiapkan baju tidur nya, di letakkan di samping tempat tidurnya, sedangkan Imma duduk di sofa panjang menunggu Ken selesai mandi.


Selesai mandi Ken memakai handuk di pinggangnya saja, rambutnya masih basah, dan masih menetes di dadanya yang bidang.


Langsung duduk mendekati Imma tanpa memakai baju terlebih dahulu.


"Pakai baju dahulu Bi, nanti masuk angin".


"Ogah...ah nanti paling di lempar entah kemana, mending begini lebih cepat tinggal buang handuk"


Ken langsung menarik tubuh Imma dan memeluk nya, mencium bibir Imma dengan penuh gairah mengulum bibirnya, mengabsen seluruh gigi yang ada di dalam.


"Mau disini atau di tempat tidur?".


"Hm.... terserah Abi aja".


Imma langsung berinisiatif memeluk Ken dan mencium leher nya dan memberikan tanda kepemilikan disana.


Ken tersenyum bahagia sekarang istrinya tercinta mulai pandai mengimbangi permainan nya.

__ADS_1


Ken melempar handuk yang melilit tubuhnya, dan membuka kancing baju tidur Imma satu persatu di letakkan di bawah sofa panjang itu.


Masih di sofa itu Ken mulai bergerilya menuju gunung kembar nya, mendaki, melingkari gunung itu, semakin ke atas puncak gunung nya dan bermain sebentar disana.


Imma semakin mendesah kecil karena puncak gunung nya ada yang mendatangi dengan kecupan di sana.


Ken turun dari kedua gunung kembar itu, berpindah ke bawah dan mendaki daerah kesukaan nya, menyatukan keduanya naik turun semakin cepat, sambil kembali mencium bibir Imma dan semakin cepat sampai ke ******* nya.


Ken langsung bangun dari sofa dan kembali ke kamar mandi, sedangkan Imma masih berbaring di sofa dengan selimut nya.


Ken keluar kamar mandi memakai baju tidur yang sudah disiapkan oleh Imma tadi, kemudian menggendong bridal Imma dan di letakkan pelan pelan di tempat tidur big size nya.


"Istirahat dulu sebentar, nanti kita sambung lagi, maunya sampai berapa episode".


"Abi.... bisa tolong ambilkan baju Umi".


"Tidak usah di pakai, belum selesai masih bersambung episode nya".


"Abi makan dulu tidak ada episode baru iiiihh genit banget"


"Tapi umi suka kan?".


"Hm.......".


Ken tersenyum mendengar jawaban Imma tidak pakai istirahat Ken langsung kembali mengulangi adegan panas itu, padahal rencana nya mau makan dulu, karena perut Ken lapar.


Baru setelah episode kedua, Ken makan malam di temani Imma di ruang makan, baru naik ke lantai atas lagi setelah makan malam.


"Mau ada episode ke tiga kah?".


""Abi....emang tidak capek kah, besok lagi aah, istirahat dulu, baru pulang kerja masak di rumah juga lembur sih".


Akhirnya mereka tertidur pulas sampai pagi dengan hati yang bahagia.


Besok hari Minggu, rencana teman sekolah Faro yang bernama Rendy akan berkunjung ke rumah Faro.


Imma sudah berteman dengan mamanya Rendy semenjak awal Faro dan Rendy bersekolah.


Rendy datang bersama mama dan adik bayi nya yang berumur empat bulan bernama Rena.


Rena pipinya gembul, merah merona, matanya bulat dan memiliki lesung Pipit di samping bibir Rena.


Faro sangat senang melihat bayi gembul itu, memegang tangan nya yang mungil, mengelus pipinya yang gembul sangat menggemaskan.


"Tante..... Tante Palo mau juga dong adik cantik nya kayak adiknya Lendy"


"Nanti Faro minta sama umi ya sayang".

__ADS_1


Imma hanya tersenyum mendengar jawaban mama Rendy.


"Umi.... umi.... Palo mau juga adik bayi".


"Iya sabar ya sayang, nanti umi buat kan".


"Dali apa buat adiknya umi?".


"Dari tepung terigu di buat adonan menjadi adik" Imma menjawab dengan sekenanya saja.


"Dali kemalin umi buat adonan jadi loti bukan adik?".


Semua tertawa bersama-sama mendengar ucapan Faro yang polos, Ken datang dari lantai atas dan bergabung dengan mereka.


"Abi... Palo mau adik bayi, kayak adiknya Lendy, bilang umi di buat dali tepung teligu?"


"Umi.... kok dari tepung terigu, memang mau buat roti?" Ken juga ikut protes.


"Habisnya umi bingung Abi, Faro tanya terbuat dari apa adiknya"


"Faro... sini Abi jelasin ya..., adik itu buatnya agak lama, nanti adiknya datang dari perut umi, kalau perut Umi sudah besar baru keluar Adiknya faham?".


"Umi halus makan banyak ya Bi belalti, bial pelut nya besal?".


"Tidak harus makan banyak juga sih, walaupun sedikit kalau sering nanti lama lama jadi besar" Ken menjelaskan lagi.


Faro dan Rendy bermain mobil mobilan setelah mendapat kan penjelasan dari Ken, lalu mendekati Imma dan berbisik di telinga nya.


"Abi juga mau umi...".


"Mau apa sih Bi?"


"Itu adik bayi tapi tidak dari tepung Terigu"


"Ah Abi nich... kok tidak mau kalah sama kayak Faro".


Ken tersenyum dan keluar dari ruang tamu itu menuju lantai atas lagi, berjalan ke ruang kerjanya, ada sedikit pekerjaan yang belum di selesaikan kemarin.


Imma dan mama Rendy melanjutkan bercengkerama nya dengan akrab sambil tetap mengawasi Faro dan Rendy bermain.


Setelah tamunya pulang Faro masuk ke ruang berlatih menembaknya, Faro seperti menemukan dirinya sendiri, berada di dunia nya sendiri saat bermain pistol mainan itu.


Walaupun pistol itu mainan Tetapi sebagian besar persis seperti model pistol sebenarnya, mulai dari tipe, bentuk dan ukurannya sama persis dengan yang aslinya.


Faro hampir hafal nama pistol dan model nya, setiap di belikan oleh Ken atau Papi Bastian Faro selalu bertanya nama, model dan tipe nya.


Itu di hafalkan nya dengan mudah dan selalu teringat, apalagi pistol kesayangan nya yaitu yang di belikan Imma dan Ken waktu bulan madu ke Bali.

__ADS_1


__ADS_2