
Sampai hari Minggu Ken, Papi Bastian dan Opa Tomy menemani Faro tidur, sampai Minggu pagi juga Faro sudah seperti sedia kala, sudah bercanda ria dengan kedua adik tercinta terutama baby Ezo yang Sudah mulai tengkurep bahkan terkadang berguling guling dan berceloteh tanpa di ketahui apa artinya.
Acara ngumpul teman teman sekolah, teman Karate dan anak yatim-piatu di adakan terpisah yaitu diawali dengan mengundang anak yatim-piatu pada pukul sepuluh pagi dengan acara doa bersama dan tentunya menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
Selesai menikmati hidangan di bagikan bingkisan dan amplop satu persatu semua anak yatim-piatu itu oleh Faro yang didampingi oleh Ken dan seluruh keluarga.
Selesai pembagian amplop masih ada sisa amplop itu, Ken menghampiri Faro dan menggodanya.
"Bang...... mau berapa amplop untuk bisa membantu Mario khitan?" tanya Ken dengan mengulurkan tangannya yang memegang amplop yang masih lumayan banyak.
"Abi....itukan amplop yang sudah di niatkan untuk anak yatim-piatu, Abang tidak mau".
Tomy Sanjaya yang mendengar interaksi antara putra dan abinya itu mendekati mereka.
"Maunya amplop yang seperti apa bang?" tanya Tomy penasaran.
Faro hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya "tidak kok Opa hanya bercanda".
"Ayolah cerita sama opa?" pinta Tomy Sanjaya pagi.
Akhirnya Ken yang menceritakan tentang keinginan Faro yang tulus membantu temannya Mario yang ingin khitan juga tetapi tidak memiliki biaya, sedangkan Faro berniat ingin membantu dengan uangnya sendiri tanpa minta bantuan dari Abi ataupun uminya, juga cerita teman temannya jika khitan akan mendapatkan amplop yang banyak sehingga Faro berniat untuk membantu temannya itu setelah mendapatkan amplop nantinya.
Setelah mendengar cerita dari Ken dan niat baik Faro, Tomy Sanjaya memerintahkan Hendra untuk ke ATM dan membeli amplop yang banyak dan menceritakan tentang keinginan Faro kepada istri dan anaknya.
Setelah anak yatim-piatu berpamitan, satu persatu teman sekolah dam teman karate beserta orang tuanya datang, tidak terkecuali Rendi dan Mario yang datang bersama keluarga.
Begitu akrabnya teman teman Faro bercengkerama sambil menikmati hidangan yang ada, datang juga para guru sekolah dan para staf serta pelatih karate tidak terkecuali Lewi Cervantes yang hadir disana.
__ADS_1
"Sambil menyelam minum air" itulah gumam Lewi saat berada di tengah tengah murid dan keluarga besar Kenzie Wiguna tanpa di curigai oleh siapapun.
Sekitar jam tiga sore semua teman, guru dan para staf berpamitan pulang dan betul saja Faro mendapatkan begitu banyak amplop dari teman teman nya karena tangan Faro tidak bisa memegang semua amplop Fia memberikan abangnya itu paper bag untuk tempat amplopnya.
"Bang..ini buat tempat amplopnya, emang isinya apa sih kok banyak betul?" tanya Fia dengan begitu polosnya.
"Terima kasih cantik, isinya uang nanti Abang bagi ya" bisik Faro di telinga Fia.
"Buat apa Bang, tidak mau .....ah, Fia maunya boneka" jawab Fia sambil mengerucutkan bibirnya.
Memang selama ini Ken dan Imma jarang memberikan uang secara langsung, jika ingin sesuatu terbiasa langsung di belanjakan atau memberikan uang hanya untuk di tabung, uang jajan pun hanya secukupnya saja karena membawa bekal dari rumah jika Faro sekolah.
Bukan berniat pelit tetapi membuat anak anak disiplin dan terbiasa berbagi dengan sesama orang membutuhkan bantuan.
Saat sudah semua teman berpamitan bergantian seluruh keluarga Tomy Sanjaya memberikan amplop kepada Faro dengan isi yang begitu tebal.
Faro hanya melirik kepada Imma dan Ken sambil menatap mata mereka bergantian tanda meminta izin menerima amplop dari mereka yang sudah begitu akrabnya, setelah Ken dan Imma menganggukkan kepalanya baru Faro menerima amplop itu dengan riang dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
Bergantian semua keluarga dan teman dekat juga ikut memberikan amplop yang tidak kalah banyak kepada Faro, mata Faro menjadi berbinar karena niatan untuk membantu temannya Mario dapat di laksanakan dengan menggunakan uangnya sendiri tanpa harus minta Abi ataupun uminya.
"Bi kok ini banyak sekali amplopnya, jadi bagaimana untuk apa sisanya nanti setelah membantu khitan Mario?" tanya Faro saat sore hari karena mendapatkan dua paper bag besar penuh dengan amplop.
"Terserah Abang mau buat beli apa?" jawab Ken dengan mengangkat bahunya.
"Abang tidak pingin beli apa-apa sih,...eee tetapi adik Fia tadi minta boneka Bi?".
"Tidak usah Bang, adik Fia tidak tahu uang, nanti umi aja yang membelikan boneka, lebih baik Abang tabung aja" nasehat Ken dengan mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Ya sudah kasihkan umi aja, Abang bingung, nich umi aja yang pegang".
"Nanti kita masukkan uangnya di Bank aja jadikan satu dengan tabungan Abang ya.." jawab Imma sambil mengambil dua paper bag itu.
Selama liburan ini keluarga Tomy Sanjaya menghabiskan waktu berwisata di daerah Bogor dan Bandung, tetapi Faro dan Fia tidak bisa ikut karena Faro Belum diijinkan oleh kedua orangtuanya.
Lima hari setelah acara khitanan Faro berkunjung ke rumah Mario di dampingi oleh Ken dan Sandi yang mengendarai mobil itu, kesana untuk menyerahkan bantuan biaya khitanannya, rumah Mario ada di daerah dekat sekolah Faro yang sedikit kumuh karena berdekatan dengan pinggiran sungai yang tercemar.
Saat menjelang sore mereka pulang dari rumah Mario di jalan ada satu mobil Avanza hitam yang mengikuti dari belakang, sampai di perempatan lampu merah Hendra bersama Tomy Sanjaya yang baru pulang bertemu dengan klien melihat mobil Ken dan mobil Tomy berada tepat di belakang mobil Avanza hitam itu.
Saat lampu hijau menyala mobil Ken berjalan kembali, mobil Avanza hitam mengikutinya kembali, Hendra sedikit mengurangi kecepatan mobilnya saat menyadari ada yang mengikuti mobil Ken.
Saat Ken dan Sandi menyadari ada mobil Avanza hitam yang mengikuti mereka sudah berada di jalanan agak sepi dan ada gedung kosong di depan mereka, Avanza hitam itu sengaja memepetkan mobil Ken dengan terpaksa Sandi membelokkan ke jalan kecil di samping gedung kosong itu, dengan seketika mobil Avanza hitam itu melajukan mobil Ken dan memotong jalan di depannya dengan terpaksa Sandi menginjak rem mendadak.
"Ciiiiitttt........"
"Ada apa Om Sandi?" tanya Faro kaget.
Ken memeluk Faro dengan erat "maaf bang, sepertinya ada orang yang berniat buruk pada kita".
Ada dua orang saja yang keluar dari mobil itu dan mendekati mobil Ken dengan memegang senjata api otomatis.
"Bos itu Leo Bardan dan Baron Pranoto" kata Sandi melihat orang yang keluar dari mobil Avanza hitam itu.
"Ayo keluarlah secara baik baik" kata Leo Bardan dengan suara yang tegas.
Dengan terpaksa Sandi, Ken dan Faro keluar dari mobil perlahan lahan, sedangkan Tomy Sanjaya dan Hendra yang sedari tadi mengikuti mereka dari kejauhan sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari TKP itu.
__ADS_1
"Bos.....itu ...itu.. Baron Pranoto dan Leo Bardan" ucap Hendra dengan terbata-bata.
"Ya.... Hendra cepat persiapkan senjataku, kita dekati mereka!" perintah Tomy dengan suara yang tegas.