
Waktu cepat berlalu usia kehamilan Imma sudah tujuh bulan, rencana acara tujuh bulanan atau orang Jawa disebut mitoni akan diadakan hari Minggu."
Di usia tujuh bulan ini darah sudah mulai mengalir di jaringan kulit bayi, sehingga kulit bayi yang tadinya keriput berangsur angsur menjadi halus, tumbuh nya organ tubuh dengan sempurna, bertambahnya berat badan dan ukuran panjang, dengan adanya perkembangan penting inilah makanya di adakan acara mitoni yaitu bersyukur atas karunia Tuhan yang maha Esa.
Acara akan dilaksanakan dengan dua acara, yang pertama yaitu dodol dawet dan rujak tujuan memiliki filosofi usaha sebagai calon orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidup nya kelak dengan harapan anak akan mendapatkan rejeki yang melimpah untuk sang bayi dan keluarga nya.
Acara yang kedua yaitu pengajian dan mendengarkan ceramah agama yang di sampaikan oleh ustadz terkenal ibukota Jakarta.
Akung papi dan Akung Karno mencari pecahan genteng bekas dan di bentuk bulat untuk pengganti uang transaksi pembelian dawet dan rujak nanti.
"Di mana bisa kita dapatkan pecahan genteng Akung Papi?".
"Sebentar, sepertinya di proyek pembuatan klinik yang ada di dekat mall kemarin ada sisa genteng, nanti di suruh antar kesini"
"Ok terima kasih".
Acara dodol dawet dan rujak sengaja dilakukan hari Minggu dengan dua tahap, tahap pertama pukul sepuluh sampai dua belas siang, sedangkan tahap kedua pukul tiga sampai lima sore.
Dodol dawet dan rujak diadakan di depan Imma Kafe,Imma kafe juga sengaja tidak di tutup pada hari Minggu itu, karena setiap pengunjung yang datang akan di beri dua keping bulatan uang dari genteng itu untuk membeli dawet dan rujak.
Selain pengunjung Kafe ada juga keluarga, saudara, teman dekatnya, karyawan kafe undangan ataupun tetangga sekitar.
Uthi Sumi dan uthi Marni menyiapkan dawet dan rujak sangat banyak dengan harapan semua kebagian, semakin banyak yang dapat akan semakin melimpah rejeki nya.
Sekarang sudah hari Minggu sebentar lagi pukul sepuluh pagi di depan kafe sudah di persiapkan bangku panjang untuk jualan nya.
"Umi yang jual dawetnya, ayo duduk sebelah sini" perintah uthi Sumi.
"Ya Uthi terima kasih".
"Abi situ sebelah umi ya.... Abi jualan rujaknya". gantian Mami Winda memberikan titah.
"Faro.... Mau juga... Faro jualan apa uthi?".
"Faro sebelah sini..... Nanti setiap orang yang datang Faro kasih uang genteng ini dua ya?" Akunng papi memerintahkan Faro.
Justru Faro heran dan membolak balikkan genteng bulat itu.
"Kok uangnya begini Akung.... Mana boleh buat beli?".
"Tenang aja Abang ganteng.... nanti kalau sudah terkumpul banyak Abi ganti dengan uang betulan".
" Ooooo gitu ya Bi.... baiklah".
Yang pertama datang adalah Marisa dan Mely dengan motor metik nya.
"Halo ganteng tos dulu".
"Taaaak.... Taaaak"
Mely dan Marisa menempelkan tangannya bergantian.
"Tante cantik ini uangnya yang untuk beli dawet dan rujak ya".
"Hai kak Ken rujak satu". Kata Marisa.
"Silahkan.... ".
__ADS_1
"Imma dawet nya yang manis ya, kau semakin cantik lho " ucap Mely
"Terima kasih... Bisa aja Mel".
Sampai pukul dua belas siang banyak orang yang membeli dawet dan rujak.
Para pengunjung Imma Kafe juga banyak yang mendapatkan itu dengan hati yang bahagia.
Kata orang tua dahulu semakin banyak yang membeli dawet dan rujak akan semakin banyak berkah dan doa yang di dapatkan nya.
Karena perut Imma semakin buncit sebenarnya membuat nya semakin sulit untuk bergerak bebas, baru duduk dua jam saja membuat pinggang Imma rasanya seperti mau copot dari tempat nya.
"Aiiiis uffff sakit nya"
"Honey.... Mana yang sakit sini Abi pijitin sebentar?".
Melihat Imma yang meringis menahan rasa sakit Ken langsung mengusap dan memijat pinggang Imma.
"Maaf ya honey... karena mengandung anak ku umi jadi kesakitan begini".
"Iiiih Abi ini ngomong apa, anak kita, ini anugerah Abi, sudah kodrat nya seorang wanita itu hamil".
"Seandainya sakit nya bisa di pindahkan, Abi saja yang merasakan sakitnya".
"Sayang.... sudah lah umi lapar pingin makan nasi goreng".
"Ayo.... Abi aja yang buatkan nasi gorengnya".
"Asyikkkk..... Ini yang umi tunggu tunggu".
Imma duduk di kursi ruang makan, sambil mengintruksikan Ken membuat nasi goreng, saat Ken sedang asyik mengaduk nasi goreng di atas kompor Imma tertidur di kursi itu.
Ken mematikan kompor nya ingin menggendong Imma ke tempat tidur, tetapi belum sempat di angkat Imma sudah terbangun.
"Sudah matang Bi, nasi goreng nya?".
Ken tersenyum sambil memegang pipi tembem Imma.
"Tidur dulu atau makan nasi goreng dulu?".
"Makan dulu mana nasi goreng nya?".
'Baiklah.....".
Ken mengambilkan satu porsi nasi goreng buatannya dan di letakkan di atas meja makan.
"Baunya lumayan enak"
"Kok cuma lumayan.... kemarin top markotop".
Imma menyendok nasi goreng itu mengunyah nya sebentar.
"Enak kan umi?".
Imma hanya menganggukkan kepalanya, tidak berani jujur kepada Ken yang sudah payah berusaha membuatkan nasi goreng,
"Sini Abi juga mau?".
__ADS_1
Ken langsung menyendok satu suapan nasi goreng itu, tetapi Ken memuntahkannya lagi.
"Umi.... asin.... , ini nasi goreng atau garam goreng?".
Imma tersenyum tetapi masih tetap memakan nasi goreng itu pelan pelan.
"Tidak usah di makan nanti umi sakit perut".
"Jangan...... sini umi mau.... Abi sini".
Imma merajuk karena nasi goreng nya di rebut oleh Ken.
"Tapi asin umi.... Abi buatkan lagi ya?".
"Tidak mau.... umi maunya itu aja, sini cepat umi lapar".
Terpaksa Ken mengembalikan nasi goreng asin itu kepada Imma, dengan tenang Imma memakan nya sampai habis satu piring itu tanpa sisa.
Ken menatap sendu Imma menghabiskan nasi goreng itu.
"Sudah habis.... Bi, tolong minum nya".
Ken menyodorkan segelas air putih kepada Imma dan meneguk nya setengah.
"Ayo kita istirahat sebentar nanti sore masih ada sekali lagi acara dodol dawet nya".
Sebelum bangun dari duduknya Mami Winda datang mencari anak dan menantunya itu.
"Kalian disini.... kenapa belum beristirahat?".
"Baru selesai makan Mami" Imma menjelaskan kan.
"Makan apa.... baunya nasi goreng?".
Mami Winda mencoba sisa nasi goreng yang ada di wajah diatas kompor.
"Wuek.... asin banget, siapa yang masak ini?".
"Ken yang masak Mami" Ken menunjuk pada dirinya sendiri merasa bersalah.
"Mami buatkan lagi tunggu".
"Tidak usah Mami, umi sudah kenyang".
"Jadi nasi goreng asin ini tetap di makan?".
"Walaupun asin tetapi tetap enak kok mami, umi suka habis satu piring malahan".
Ken hanya mengangkat bahu nya karena tatapan tajam maminya.
"Kau juga ikut makan Ken?".
"Tidak Mami, ..... Oya berarti Abi masih lapar ya, umi jadi lupa, Abi mau makan apa?".
"Abi belum begitu lapar, nanti aja, ayo istirahat dulu"
Mami Winda meninggalkan mereka dan berjalan menuju kafe kembali.
"Tidak Abi harus makan dulu nanti sakit".
__ADS_1
"Abi mau makan umi saja.... lebih enak" ucap Ken sambil menggandeng tangan Imma menuju kamar untuk istirahat.