Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
116 Jengah


__ADS_3

Malam itu juga Faro, Fia dan Kemmy setelah di periksa di UGD diperbolehkan pulang, mereka langsung ke rumah lama Imma karena uthi Sumi menangis tanpa henti mendengar kedua cucu kesayangan nya mengalami kecelakaan beruntun di lampu merah pertigaan.


Di peluknya dengan erat kedua cucunya setelah mereka tiba di rumah itu dan di ciumnya berulang ulang sampai keduanya terkekeh geli.


"Malam ini kalian harus tidur sama Uthi Sumi, tidak boleh menolaknya!" perintah uthi Sumi kepada keduanya.


"Iya uthi... Abang dan adik Fia bobok sama Uthi" jawab Faro sambil memeluk Uthi kesayangan nya.


Karena sudah malam mereka merebahkan tubuhnya di samping uthi Sumi, Faro sebelah kanan Uthi Sumi dan Fia di sebelah kirinya, tertidur pulas sampai menjelang pagi.


Malam ini akhirnya Ken terpaksa tidur lagi di tempat tidur yang berbunyi kemarin, saat Ken dan Imma baru masuk kamar itu Ken sedikit kesal sendiri.


"Kenapa Bi, kok cemberut begitu masuk kamar, ada apa?".


Tadi sore kan Abi mau balas dendam di hotel, eeeee tidur di sini lagi, gagal jadinya!" gerutu Ken sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur kayu itu.


Dikediaman Tomy Sanjaya, laki-laki tua itu begitu geram dan jengah, pikiran nya selalu negatif akhir akhir ini karena takut kejadian tabrakan beruntun itu di dalangi oleh anak buah dari Baron Pranoto atau Leo Bardan.


Semua anak buahnya di kerahkan untuk menyelidiki kejadian tabrakan itu, sedangkan anak, menantu dan istrinya masih ada di rumah sakit, Hendra dan Budi lah yang menjadi sasaran kemarahan Tomy Sanjaya mendengar sampai pagi ini belum ada kabar dari kepolisian ataupun anak buahnya yang menemukan latar belakang kejadian tabrakan beruntun itu.


Tomy Sanjaya juga menghubungi orang orang yang ada di Jakarta, mencari informasi terkait dengan kejadian itu, mendengar bahwa saat ini Baron Pranoto ada di Jakarta.


"Coba selidiki ada apa dia ada di Jakarta?, apakah ada kejadian yang terjadi disini?" perintah Tomy Sanjaya dengan nada tinggi.


"Ya bos, nanti kami kabari jika sudah ada berita" jawab anak buah Tomy dalam suara di telepon itu.

__ADS_1


"Cepat bergerak, jangan sampai besok kamu laporan!" perintah Tomy lagi.


"Siap bos, laksanakan".


Tomy yang dari semalam naik pitam membanting semua barang yang ada di sekitar dari buku, gelas, kotak tisu,vas bunga semua yang ada meja itu menjadi sasaran kemarahan nya.


Setelah sedikit reda kemarahan Tomy Sanjaya mengajak Hendra untuk ke kepolisian yang menangani masalah kecelakaan beruntun yang terjadi kemarin.


Ternyata kepolisian menceritakan kronologi kejadian itu ada seorang pemuda yang sedang emosi karena bertengkar dengan tunangannya sedang mengemudi dan menabrak mobil dari belakang, sehingga terjadi kecelakaan itu.


Pemuda yang emosi itu adalah warga Surabaya yang sedang berwisata dengan tunangannya di destinasi wisata alam itu, sedangkan tunangan pemuda itu tidak ikut dalam mobil yang bertabrakan dia berada di hotel yang sama dengan keluarga Papi Bastian menginap.


Kemungkinan besar tabrakan beruntun itu tidak melibatkan campur tangan dari anak buah Baron Pranoto ataupun Leo Bardan, itu kesimpulan sementara dari Tomy Sanjaya.


Setelah keluar dari kantor polisi itu, Tomy Sanjaya mendapatkan kabar dari Jakarta bahwa Baron Pranoto ada di Jakarta sedang menghadiri pemakaman kakak laki-laki dari istri keduanya yang telah meninggal dunia.


Setelah dirawat selama dua hari, Dini akan diperbolehkan pulang kerumah dari pihak rumah sakit karena sudah membaik keadaan dan kesehatan nya.


Selama dua hari ini juga Ken balas dendam karena kesenangannya bercinta di rumah lama Imma yang kurang memuaskan hatinya, dua malam berturut-turut selalu meminta lagi dan lagi, seperti tidak ada puas puas nya jika dia selalu berdekatan dengan istrinya itu.


Bagi Imma suami yang setia adalah suami yang mendapatkan kepuasan di rumah, Imma bisa mengimbangi permainan suaminya yang memiliki hasrat di ranjang yang tinggi, memberikan kepuasan pada suami adalah merupakan kebahagiaan tersendiri baginya sebagai istri yang setia dan mencintai dengan sepenuh hati.


Keluarga Papi Bastian rencananya akan berkunjung ke kediaman Tomy Sanjaya sore ini selain untuk mengetahui kesehatan Dini, keluarga itu akan berpamitan akan kembali ke Jakarta tiga hari lagi tepatnya hari Jum'at besok, karena hari Senin Faro akan mulai bersekolah.


Mereka sekarang ini ada di ruang tamu, bercengkerama dengan akrabnya, bercerita dengan riang dan penuh kehangatan.

__ADS_1


Sedangkan Mama Nadia hanya diam dan memandangi tamu terutama Faro yang sedang asyik bermain dengan kedua putri Mama Dini, sementara Mama Meera hanya bersandar bangku sofa samping Mama Nadia tidak kalah sendunya memandangi Faro.


Sudah hampir dua Minggu Mama Meera mencoba mengingat ingat seperti siapa sorot mata tajam Faro yang begitu dekat di hatinya, tetapi seperti buntu tidak menemukannya sama sekali, sedangkan dia tidak bisa mengungkapkan perasaan itu kepada siapapun juga bahkan kepada adik ipar ataupun ibu mertuanya sendiri.


Menjelang senja Ken mendapat telepon dari Bu Yati jika Uthi Sumi badannya panas dan batuk, tetapi tidak mau diajak ke dokter, mendengar uthi Sumi sakit Imma tanpa disadari nya mengeluarkan air matanya.


Ken jadi panik melihat istrinya menangis, mengajak Papi Bastian pamit pulang kepada semua keluarga Tommy, Ken dan Imma melajukan mobilnya ke rumah lama Imma, sedangkan Papi Bastian dan yang lainnya kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Imma turun dari mobil berlari menuju kamar Uthi Sumi yang sedang terbatuk-batuk tanpa henti.


"Honey..... pelan-pelan, jangan lari?" teriak Ken sambil mengikuti Imma dari belakang.


"Uthi.... bagaimana, sudah makan, minum obat, atau ke dokter?" tanya Imma cemas.


"Umi, jangan khawatir uthi baik baik saja, ini hanya batuk batuk karena radang saja"


Malam harinya Imma tidak sedikitpun beranjak dari kamar Uthi Sumi, memanggil dokter untuk datang, memijit kakinya, menyuapi makan dan memberikan obat dengan penuh kasih sayang.


Ken juga tidak kalah perhatiannya, membantu bangun jika mau ke kamar mandi mengambilkan air minum ataupun menggendongnya dari kamar mandi.


Imma malam ini tidur di sebelah uthi Sumi sedangkan Ken mengambil kasur yang ada di kamar Imma di letakkan di bawah tempat tidur Uthi Sumi dan ikut tidur di kamar itu sampai menjelang pagi.


Pukul empat pagi Imma mengerjap, mengumpulkan nyawanya sejenak, seakan tersentak kaget saat tangannya menyentuh tangan Uthi Sumi yang dingin, bayangan saat kehilangan ibu kandungnya ibu Lestari melintas di pikirkan nya tanpa di komando.


Awalnya memegang tangannya, kening, kaki dan kembali ke tangan, semua terasa dingin, tetapi wajahnya tenang dan bibirnya menyunggingkan senyum yang manis.

__ADS_1


"Bi.... Abi....sayang... bangun...,ini mengapa Uthi Sumi kok badannya dingin semua?" ucap Imma khawatir sambil memeluk Ken dan menangis


__ADS_2