Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 60 Calon Adik Bayi Pipi Tembem 2


__ADS_3

"Tidak mau..... pokoknya Palo mau ikut buat adik bayi pipi tembem".


Faro marah kepada umi dan Abi nya karena di tidak tahu kapan adiknya sudah ada dalam perut uminya.


"Begini saja, nanti jam sepuluh Abi sama umi mau ke rumah sakit, mau lihat adiknya dalam perut, mau ikut tidak?".


"Mau lihat sudah jadi atau belum kah Abi?".


"Iya.... Bagaimana mau ikut kan?"


"Baik Palo mau ikut, mau lihat adik bayi pipi tembem".


Faro sudah tidak merajuk lagi setelah mendapatkan penjelasan dari Ken.


"Ayo kita turun semua untuk sarapan dulu"


"Umi belum mandi, duluan aja semua nanti umi menyusul"


"Mulai ya kenapa akhir-akhir ini umi jadi malas mandi sih?' Ken sekarang yang ganti protes.


"Terkadang bawaan bayi itu Bi, tidak usah di paksa" uthi Sumi malah membela Imma yang malas mandi.


Saat semua keluar dari kamar dan turun tangga menuju ruang makan, Imma merebahkan kembali di tempat tidur.


Melihat itu Ken menggoda Imma dan membuka selimut nya.


"Mau Abi mandikan atau Abi.......".


Ken tidak melanjutkan omongan nya, Imma sudah bisa membaca jalan fikirannya Ken,


"Umi mau mandi.... Abi jangan mesum pagi pagi".


Imma langsung turun dan berjalan gontai ke kamar mandi malas, Ken menunggu Imma mandi sampai selesai.


"Sudah honey.... mandinya".


"Kenapa Abi masih disini, kok tidak sarapan dulu?".


"Tidak lah.... Mana bisa Abi sarapan sendiri".


Ken dan Imma turun tangga menuju ruang makan, tetapi semua sudah selesai sarapan, akhirnya Ken dan Imma sarapan berdua.


Tetapi saat mereka baru mau duduk di kursi, ada Papi Bastian dan Mami Winda datang.


"Papi... Mami sini ikut sarapan".


Mereka berempat sarapan pagi bersama, setelah sarapan semua bercengkerama mengenai kehamilan, nasehat demi nasehat di berikan kepada Imma dan Ken.


Jam sepuluh pagi Imma, Ken dan Faro ke rumah sakit dalam satu mobil, sedangkan papi Bastian dan Mami Winda ikut dibelakang nya mengikuti mereka dari belakang.


Papi Bastian dan Mami Winda selain ingin mengantar periksa Imma dan Ken akan bertemu dengan dokter Jaka.


Sampai di rumah sakit mereka langsung menuju ruang praktek dokter kandungan, menunggu giliran, duduk di depan ruang praktek itu.

__ADS_1


Tidak banyak yang periksa saat itu, baru menunggu seperempat jam sudah di panggil oleh suster.


"Ibu Imma Anjani".


"Ya...."


"Silahkan masuk Bu"


Imma, Ken, mami Winda dan Faro ikut masuk ke ruang pemeriksaan sedangkan Papi Bastian sudah dari tadi bertemu dengan dokter Jaka di ruangan nya.


"Selamat pagi dokter Tanti" Ken mengawali pembicaraan saat semua sudah duduk.


"Kapan Ibu terakhir haid?" Tanya dokter Tanti.


"Tanggal dua dok"


"Baiklah silahkan ibu naik di brankar tempat tidur ya, di USG dulu".


Imma naik di brankar itu di bantu oleh Ken, dan suster yang bertugas saat itu, kemudian melonggarkan rok, dan memberikan jell di sana.


"Maaf ya Bu, saya periksa dahulu, Kita lihat di monitor, ini janinnya baru sebesar biji kurma"


Dokter Tanti menjelaskan.


"Tetapi sudah ada tanda tanda kehidupan di sana ya,... Umurnya sekitar enam Minggu"


Dokter Tanti menggerakkan alat USG itu di sekitar perut Imma.


"Kita cetak dulu foto USG nya.......


Setelah di bersihkan Imma bangun dari tempat tidur dan duduk kembali di depan dokter Tanti.


"Ada keluhan Bu?"


"Ini dok... Sudah hampir dua Minggu ini kami muntah muntah" ucap Ken penasaran.


"Maksudnya kami?" Dokter Tanti heran.


"Saya dan istri saya tiap pagi muntah muntah nya berdua".


"Ooooo berarti itu di namakan hormon kehamilan simpatik pak"


"Maksudnya apa dok kehamilan simpatik?" Ken bertanya lagi karena penasaran.


"Kehamilan simpatik itu karena hubungan suami-istri yang sehati biasanya suaminya juga ikut merasakan tanda-tanda kehamilan contoh nya mual mual, ngidam atau terkadang sampai ngilu di bagian pinggang, dan banyak lagi yang lainnya"


Dan dokter mengulurkan foto USG tadi kepada Imma, dan dilihat oleh Faro.


"Fotonya kok hitam umi..... Palo mau foto asik bayi pipi tembem yang bagus?".


Dokter yang mendengar Faro berceloteh dan protes ikut juga berkomentar.


"Pinter nya si ganteng, adik bayi pipi tembem nya masih di dalam perut sayang, jadi mau difoto yang bagus belum bisa karena masih terhalang oleh kulit umi, anak pintar faham?".

__ADS_1


Dokter Tanti menerangkan dengan jelas dan mudah di mengerti oleh anak seumuran Faro, Faro nya mengangguk senang.


"Jadi kapan Palo bisa lihat foto adik yang bagus?".


"Nanti kalau adiknya sudah keluar dari perut umi ok... Ayo kita toss.......?.


Dokter Tanti langsung menyatukan tangan dengan Faro dan bersuara tidak terasa sakit.


"Baiklah..... ada yang perlu di tanyakan lagi?".


Ken langsung bertanya tanpa ragu soal hubungan suami istri.


"Ini dok, kalau soal hubungan suami istri bagaimana?".


"Itu.... Sebaiknya di kurangi dalam trisemester pertama, jangan terlalu sering menyapa bayi nya di dalam karena masih riskan, atau di lakukan dengan lembut dan hati hati".


"Ya dok terima kasih".


"Ini saya buatkan resep untuk mengurangi rasa mual nya, dan vitamin untuk adik bayinya di minum secara teratur ya...."


"Satu lagi tanya boleh dok?" Kata Imma.


"Periksa kehamilan setelah ini kapan lagi?"


"Untuk awal trimester cukup sebulan sekali".


"Baik dok, terima kasih".


Saat keluar dari ruang pemeriksaan itu Faro masih diam dan muka yang ditekuk, mami Winda heran dan bertanya kepada nya.


"Kenapa Faro kok muka nya di tekuk begitu?".


"Palo mau lihat buat adik bayi pipi tembem Uthi Mami".


"Haaaa, pingin lihat buat adik bayi pipi tembem?".


Mami Winda sampai terbengong bengong mendengar celotehan Faro.


"Ken bagaimana Faro kok mau lihat buat adik bayi sihhhhh?".


Ken hanya mengangkat bahu nya bingung dari tadi pagi Faro marah terus, Imma akhirnya tersenyum dan mendekati Faro.


"Sayang..... ganteng dari rumah sakit ini umi mau ke pantry buat adonan kita buat lagi, naah nanti umi makan biar adik dalam perut Umi cepat besar dan keluar dari perut umi jadi adik pipi tembem ok".


"Ya umii Palo mau.....Palo mau....."


Semua bernafas lega melihat antusiasme Faro setelah mendapat penjelasan dari umi nya.


Pulang dari rumah sakit Faro dan Imma masuk pantry membuat adonan roti sambil bercanda Imma sering menempelkan tepung sedikit di pipi Faro.


Melihat Faro dan Imma seru di pantry Ken ikut bergabung dengan mereka, sehingga di pantry seperti perang tepung, semua berwarna putih.


Kebahagiaan itu memang sederhana, yang penting kebersamaan untuk saling menyayangi, saling mendukung baik suka maupun suka.

__ADS_1


Kasih sayang yang tulus adalah kunci rumah tangga yang harmonis, inilah yang menjadi acuan keluarga Ken sederhana yang saling melengkapi dan terbuka.


__ADS_2