Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 148 Aksi Tomy dan Andri


__ADS_3

Ya.... Hendra cepat persiapkan senjataku, kita dekati mereka!" perintah Tomy dengan suara yang tegas.


Setelah Hendra merakit senjata otomatis yang ada di bawah jok memberikan satu untuk Tomy dan satu lagi untuknya sendiri bergegas perlahan mendekati mereka.


Bersamaan dengan Tomy Sanjaya dan Hendra mendekati mereka, mata Faro menyelidiki daerah sekitar baik dari bawah sampai diatas gedung kosong itu, ada tiga orang penembak jitu yang berada di tiga titik berbeda, sehingga membuat jantung Faro berdetak kencang dan memegangi lengan Ken dengan erat.


"Baron....hey.... Baron stop jangan kamu libatkan mereka dalam urusan pribadi kita" teriak Tomy dengan lantang dan mengangkat senjata itu mengarah di kepalanya.


Semua orang yang ada di situ menengok ke arah datangnya Tomy Sanjaya dan Hendra datang.


"Ini dia sang pelindung cucu laki-laki tercintanya" jawab Baron dengan senyum yang menyeringai.


Dengan sangat marah mata Tomy Sanjaya menatap tajam ke arah Baron Pranoto dengan geram.


"Cukup Baron, aku sudah muak dengan ulahmu, sudah berpuluh puluh tahun aku diam, kau rusak rahim menantuku aku diam, kau buat putraku Dona Sanjaya tiada aku diam, karena aku merasa bersalah, aku betul-betul tidak tahu jika yang aku tembak saat itu adik kandungmu, berkali-kali juga aku sudah minta maaf, tetapi kau tetap tidak mengerti, silahkan bunuh aku saja sekarang, jangan kau libatkan mereka" kata Tomy Sanjaya dengan suara yang lantang sambil memegangi kerah Baron.


Tomy Sanjaya mengarahkan pistol kearah kepala Baron tetapi Baron mengarahkan pistol kearah kepala Faro.


Ken memeluk Faro dengan erat, berusaha melindungi dengannya dengan sekuat tenaga, mengarahkan badannya sendiri untuk di bidik oleh Baron Pranoto.


Leo Bardan tidak bisa membantu bosnya itu karena di todong pistol oleh Hendra tepat di kepalanya, sedangkan Faro membelalakkan matanya lebar mendengar Tomy Sanjaya menyebutkan nama Dona Sanjaya sebagai putra Tomy Sanjaya.


"Apakah Abi kandungku adalah putranya opa Tomy?" gumam Faro dalam hati.


Ada suara mobil mendekat dengan kencang dan berhenti dengan seketika di dekat mereka yang saling menodongkan senjata otomatis itu.


"Papa..... papa stop, jangan tembak anak kecil itu"


Ternyata Andri Pranoto lah yang datang di waktu yang tepat, Andri menghampiri Baron Pranoto dengan berlari kencang.


"Papa dengar...anak kecil inilah yang menolong nyawaku saat senja itu aku di kejar oleh anak buah dari Ramos Sandara" kata Andri dengan tegas.

__ADS_1


Baron seketika menurunkan senjata api itu dan menatap lekat lekat sosok anak kecil seumuran cucu laki-laki nya Jasson.


Sedangkan Faro menggeser sedikit tubuhnya dan berbisik di telinga Andri Pranoto.


"Pak di atas ada tiga orang di tempat yang berbeda, yang mengarahkan pistolnya ke arah Opa Tomy, papa anda, dan om satu lagi itu".


"Apakah kau bisa membidiknya Bang, nanti aku yang akan bertanggung jawab" kata Andri berbisik juga di telinga Faro.


"Dor......dor.....dor..."


Belum sempat Faro menjawab ada tiga peluru yang melesat cepat, satu mengarah ke Leo Bardan tepat kerkena di dada sebelah kanan Leo Bardan, satu terkena di lengan kanan Baron Pranoto karena dia sempat bergeser sedikit, dan satu lagi meleset di leher Andri Pranoto karena sejajar dengan Tomy posisi berdirinya.


Bersamaan pula Faro merebut pistol otomatis Laras pendek Andri yang ada peredam suaranya di arahkan ke tiga titik yang berbeda.


"Zeus.....Zeus....... Zeus..."


"Aaaaacch......aduh.....aaaaa" suara itu terdengar lirih dari atas gedung.


Leo Bardan tumbang dan tergeletak di tanah bersamaan ketiga sniper yang diatas gedung kosong itu roboh".


Ken menghubungi Papi Bastian dan Letnan Agung mengirimkan share lokasi


sambil memeluk erat tubuh Faro yang bergetar dan berkeringat dingin sambil terisak.


Andri Pranoto menghapus sidik jari Faro yang ada di senjata api otomatis miliknya dengan menggunakan sapu tangan yang diambil dari kantong celananya.


Darah terus mengalir di lengan Baron Pranoto sehingga dia terduduk dengan memandangi anak laki-laki kecil itu dengan penuh kekaguman.


"Andri coba kamu periksa siapa orang yang mengincar kita, kemungkinan mereka orang orang dari Theo Thanapon" perintah Baron kepada putranya Andri.


Andri bergegas menyusul Sandi dan Hendra keatas gedung kosong itu, ternyata mereka bertiga sudah tewas tertembus peluru panas tempat di dada ketiganya, peluru itu menembus di posisi dada kanan yang sama seperti sniper terbaik yang Menembak mereka.

__ADS_1


Karena darah mengalir deras di lengan Baron Pranoto, Tomy Sanjaya mendekatinya dan merobek lengan kemejanya sendiri diikatkan di lengan Baron.


Baron Pranoto hanya menatap sendu wajah Tomy Sanjaya tanpa mengucapkan sepatah katapun dan membiarkan Tomy mengikat lengannya dengan sobekan bajunya.


"Abi...Abang takut, ayo kita pulang!" kata Faro dengan suara bergetar.


"Ken bawa pulang aja Abang, biar disini kami yang mengatasi!" perintah Tomy Sanjaya.


Bersamaan datang mobil yang di Kendarai oleh Papi Bastian dan Letnan Agung berhenti tepat di samping Ken.


Ken mendatangi mobil itu dengan tetap memeluk Faro dengan erat dan membuka pintu mobil depan, Letnan Agung turun dari mobil sedangkan Ken mengajak Faro naik mobil itu.


"Om Agung tolong urus kasus ini, Papi antar kami pulang" kata Ken dengan lemah.


Mobil Papi Bastian melesat meninggalkan tempat kejadian itu dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota Jakarta yang sudah mulai senja tiba.


Dalam perjalanan pulang Ken menceritakan tentang kejadian yang baru saja terjadi, sedangkan Faro hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun, hanya memeluk abinya dengan erat dan mata yang terpejam.


"Abang kuat ya... nanti kalau sudah sampai rumah, mandi dan bertemu dengan umi Abi akan menceritakan tentang apa yang menyebabkan kedua orang tadi mengejar kita" kata Ken lembut sambil membelai rambut Faro, Faro hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Ken berfikir sudah saatnya Faro mengetahui tentang siapa sebenarnya keluarga Abi kandungnya Dona Sanjaya, karena adanya dua peristiwa yang sudah di alami oleh anak angkatnya itu agar tidak mengalami syok nanti jika akan terjadi lagi hal-hal yang tidak di inginkan.


Sesampainya di rumah Ken, Papi Bastian mengajak Imma duduk di ruang keluarga menceritakan tentang kejadian yang baru saja terjadi, Imma menangis terisak-isak mendengar cerita yang baru saja terjadi.


Ken membantu Faro membersihkan diri, menyiapkan baju ganti untuknya dan menunggu di depan pintu dengan sedikit khawatir.


"Abang baik-baik saja kan?".


"Iya Bi, Abang tidak apa-apa kok, cuma tadi Abang mengarahkan peluru itu tepat di dada mereka Bi" cerita Faro sambil meneteskan mata dan tangan yang bergetar.


"Tidak apa-apa Bang, jangan ceritakan tentang tembakan yang mengenai dada itu kepada siapapun ya..ini hanya rahasia kita berdua ok, ayo pakai baju dak kita makan" nasehat Ken.

__ADS_1


Ken dan Faro turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama, Imma langsung memeluk putra tercintanya itu dengan erat sambil menangis tersedu-sedu.


"Umi.... Abang baik-baik saja, tidak usah khawatir, apakah umi lupa sekarang Abang sudah di khitan, jadi Abang sudah besar sekarang" ucap Faro sambil memeluk Imma dengan erat.


__ADS_2