
"Apa sih bedanya bang?" tanya Ken penasaran.
"Itu berpengaruh pada arah angin dan ketepatan sasaran Bi, coba Abi latihan berulang ulang pasti akan beda rasanya".
"Oooooo begitu ya bang, ya sudah Abang aja yang latihan, Abi lihatin aja".
Akhirnya Ken hanya menemani Faro latihan dengan duduk di kursi panjang pinggir arena itu sampai selesai.
Hampir dua bulan ini jika ada waktu senggang Faro berlatih dengan senjata mainan yang sudah di modifikasi dengan di tambah besi di dalamnya, Faro benar benar mempersiapkan dengan matang ingin melakukan tanding ulang jika nanti berkunjung di kampung halaman Opa Tomy Sanjaya.
Faro naik kelas tiga dengan nilai seperti yang di harapkan juara pertama, setelah menerima raport semester akhir, rencana siang ini rombongan akan terbang ke kampung halaman untuk menghadiri acara pembukaan destinasi pariwisata alam, dan mengunjungi rumah lama orang tua Imma yang sangat di rindukan oleh uthi Sumi.
Sandi tidak ikut dalam rombongan itu, karena tidak mau meninggalkan istrinya Mely yang hamil sudah hampir tujuh bulan, Ken di dampingi oleh Bayu dan Papi Bastian jika dalam masalah bisnis, tetapi semua keluarga di boyong termasuk istri Bayu Yeri dan putranya, serta Mami Winda dan Kemmy.
Jika Mami Winda sering saja pulang ke kampung halamannya, tetapi memang beda desa dengan orang tua Imma ataupun Uthi Sumi, tetapi tidak terlalu jauh dari posisi perkebunan teh milik Tomy Sanjaya.
_______________________________
Di perkebunan teh sudah hampir satu Minggu ini mereka mempersiapkan untuk pembukaan destinasi pariwisata alam nya, dari jalan utama menuju kesana, kendaraan umum nya, pedagang yang di ajak kerjasama, toko toko sovenir, pedagang makanan atau minuman kecil sampai restauran, hotel, wisma, resort semua sudah sudah siap, bahkan sudah beroperasi.
Mulai menggeliat ekonomi masyarakat sekitar destinasi pariwisata alam itu, membuat meningkatkannya perekonomian, menyerap ribuan tenaga kerja, yang dulunya perkebunan teh itu sedikit sepi, sekarang mulai seperti ada nyawanya, mengangkat ribuan keluarga yang awalnya miskin menjadi lebih baik terutama masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan.
Untuk perusahaan perkebunan teh sendiri mendapatkan pemasukan berpuluh kali lipat setelah destinasi pariwisata alam, dari kerjasama di berbagai bidang, terutama keluarga Tomy Sanjaya, tidak menyangka jika sambutan masyarakat setempat dan pemerintah sehebat ini.
Tidak kalah bahagianya keluarga inti dari Tomy Sanjaya, bukan cuma karena keberhasilan dalam pembangunan destinasi pariwisata alam, tetapi tamu istimewa yang akan datang ke rumah nya, terutama Mama Nadia ini adalah pertama kalinya akan menerima tamu istimewa yang ada di dalam hatinya, cuci laki-laki kandungnya.
__ADS_1
Walau hanya Dini yang tahu bagaimana bahagianya mama kesayangan nya itu, mempersiapkan segala sesuatu sendiri, termasuk kamar kamar juga di persiapkan dengan matang, mama Nadia bahkan berbelanja makanan kesukaan Faro dari sayur soup, ayam goreng, bahkan es krim rasa coklat dan stroberi juga sudah tersedia di kulkas.
Hari ini hari kedatangan orang yang penting bagi Mama Nadia, kebahagiaan itu sampai tidak bisa di sembunyikan oleh nya semua keluarga sampai terheran-heran, tetapi yang penting Mama Nadia bahagia.
Saat tiba di bandara internasional Juanda Surabaya rombongan di jemput oleh keluarga Mami Winda yang ada di kampung halaman, keluarga Mami Winda memang lumayan banyak, mereka sering di bantu perekonomian nya oleh Mami Winda sehingga mendengar keluarga besar akan berkunjung mereka mempersiapkan diri dengan baik.
Karena sudah malam tiba di kampung Mami Winda, memutuskan untuk menginap disana satu malam, dan paginya Imma dan uthi Sumi minta di antar ke rumahnya yang lama di tinggalkan.
Jam delapan pagi Imma mengirim pesan WA kepada Tante Dini jika dia sudah otw ke rumah lamanya diantar Ken menggunakan mobil pribadi milik keluarga dari Mami Winda, ternyata mereka berdua sudah di rumah itu dari jam tujuh pagi, kerinduan Mama Nadia sudah tidak bisa di kendalikan lagi, saat Imma dan keluarga turun dari mobil dengan tergopoh-gopoh Mama Nadia menghampiri mereka, memeluknya satu persatu tanpa terkecuali Faro yang di peluknya dengan erat.
Bu Yati yang selama ini menjaga rumah Imma atas perintah Tante Dini berlari tergopoh-gopoh juga menemui tamu yang dari dua bulan lalu di tunggunya.
Langsung memeluk uthi Sumi saat mereka bertemu dengan erat, cipika-cipiki dan mengajak mereka masuk rumah, terutama Imma dan uthi Sumi memandangi setiap ruangan itu dengan seksama dari kamar ibu, kamar Imma dapur kamar mandi sampai kamarnya uthi Sumi tidak berubah sama sekali.
Tanpa terasa air mata mereka menetes tanpa di komando, yang awalnya ceria menjadi sendu karena merasakan kerinduan kepada orang yang di cintai tetapi sudah lama meninggal nya.
"Honey....sabar, jangan melo nanti cantiknya hilang" rayu Ken.
Imma mencoba tersenyum sambil memukul lengan Ken pelan, dan masih mengikuti mereka berkeliling melihat rumah yang penuh kemenangan.
Uthi Sumi meminta Ken untuk mengambil kopernya di bawa kerumah ini saja karena Uthi Sumi ingin tinggal di rumah lamanya ini selama di kampung, dan Ken berjanji nanti akan di antar segera.
Sampai menjelang siang mereka disana, Faro sudah berbisik meminta ke abinya untuk mengunjungi Opa Tomy dan ingin melihat koleksi senjata otomatis yang di miliki oleh Opa Tomy Sanjaya.
Ken berjanji akan mengajak nya kesana setelah selesai pembukaan destinasi pariwisata alam itu hari Minggu besok, walaupun tidak sabar Faro akhirnya mengikuti apa yang dikatakan Ken.
__ADS_1
Pada siang harinya Ken ingin kembali ke rumah saudara Mami Winda untuk mengambil koper yang di minta uthi Sumi, Faro dan Fia ikut abinya, Imma juga ingin menginap di rumah itu malam ini sedangkan Fia dan Faro ikut Papi Bastian dan Mami Winda.
Sore harinya Ken baru mengantarkan koper uthi Sumi dan membawakan ganti baju Imma dan Ken sendiri, ternyata Ken juga ikut ingin menginap disana.
"Sayang...yakin mau nginap disini, kamar nya tidak ada AC nya, cuma kipas angin saja?" tanya Imma saat Ken datang dan baru masuk rumah itu.
"Tidak ada bedanya honey ada AC ataupun tidak, kenapa tidak yakin?".
"Maksudnya... tidak ada bedanya apa sih Bi?" .
"Coba honey ingat, walaupun di kamar kita ada AC tetap aja kita mengeluarkan keringat yang bercucuran jika kita lagi....." kata Ken tidak melanjutkan ucapannya.
"Nah...nah...mulai lagi pikiran mesumnya, tuh ada uthi Sumi dan temannya, ngawur aja ih" gerutu Imma.
Ken hanya tersenyum sambil menarik koper uthi Sumi dan mengantarkan koper itu ke kamar Uthi Sumi.
_________________________
Jangan lupa like vote dan komentar nya
sudah baca novel yang pertama ku kah?.
tidak kalah seru Lo.....
"IKAT PINGGANG CINTA" jangan lupa mampir
__ADS_1
juga terima kasih.