Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 120 Rama Sahroni


__ADS_3

Disebuah kamar kecil berukuran 2×2 meter di belakang rumah sakit Singapura General Hospital inilah Rama Sahroni tinggal sendirian, pukul sepuluh malam hanya duduk di pinggir tempat tidur bersandar meluruskan kakinya melamun menerawang memikirkan tentang nasib yang telah menimpanya.


Ditipu oleh teman dekatnya sendiri, semua modal yang dimiliki telah hilang beserta menghilangnya temannya itu, hatinya begitu sakit, tetapi itu sudah terjadi disinilah dia sekarang sendiri tanpa ada yang mendukungnya kecuali kekasihnya sendiri Kemmy yang jauh darinya.


Disinilah Rama Sahroni berada di negeri orang di negeri dimana Baron Pranoto tinggal, bedanya Baron Pranoto tinggal di depan Singapura General Hospital dengan bangunan megah tiga lantai bersama keluarga besarnya.


Baron Pranoto mempunyai usaha yang sangat banyak di Singapura dari perusahaan, restauran masakan Indonesia, supermarket, distro pakaian yang berasal dari Indonesia dan masih banyak lagi, itu semua hanya untuk menutupi jati dirinya sebagai ketua mafia terbesar di Asia tenggara.


Mempunyai istri keturunan Indonesia Singapura bernama Cicilia Pranoto dan mempunyai satu putra bernama Andri Pranoto yang menikah dengan gadis Malaysia bernama Trisya Hamsah dan memiliki anak-laki bernama Jasson Pranoto berumur sepuluh tahun dan seorang putri Jessy Pranoto berumur lima tahun, Andri menikah dengan Trisya sudah berumur hampir empat puluh tahun, sehingga anaknya masih kecil.


Disini pulalah Rama Sahroni berada, bekerja sebagai pelayan supermarket yang di kelola oleh menantu Baron Pranoto yaitu Trisya Hamsah, tepatnya supermarket itu ada di komplek Singapura General Hospital.


Tiba tiba ada suara telepon yang berdering di handphone Rama membuatnya terkaget dan terbangun dari lamunannya, bergegas Rama menggeser handphone menekan tombol hijau dan membaca tetapi dari nomor yang tidak di kenalnya.


"Halo... selamat malam" kata Rama membuka pembicaraan.


"Ya halo, apakah ini Rama putranya asisten Anton, saya Kenzie putra bosnya ayahmu?"


"Ya betul pak, saya Rama, ada yang bisa saya bantu?"


"Ayahmu gulanya akhir akhir ini tinggi sekarang ada dalam pengawasan dokter, apakah kamu bisa pulang sekarang?"


"Tapi pak tapi--".


"Rama sudah aku kirim tiket lewat email mu, kamu harus berangkat penerbangan pertama pukul lima pagi ini, sebaiknya kamu siap siap sekarang!" perintah ken dengan sedikit memaksa.


"Rama satu lagi, ayahmu tidak tahu jika aku memanggilmu, ini kejutan karena akhir-akhir ini ayahmu sering membicarakan tentang dirimu, jadi besok aku sendiri yang akan menjemputmu?"


"Baik pak... besok akan saya hubungi bapak jika sudah sampai bandara internasional Soekarno Hatta".


Rama bergegas mengepak semua bajunya, dimasukkan kedalam koper, dan menghubungi teman satu kerja jika ayahnya sedang sakit dan akan pulang dan minta tolong untuk mengajukan surat pengunduran diri.


Dari Jakarta Singapura hanya berbeda satu jam lebih cepat dari waktu Indonesia bagian barat, dan perjalanan pesawat di tempuh dalam waktu sekitar dua jam, sehingga sekitar pukul delapan pagi Rama sudah berada di bandara internasional Soekarno Hatta.

__ADS_1


Pagi ini Ken dan Sandi menunggu Rama di pintu keluar, melihat Rama keluar dengan sedikit terburu-buru dan sedikit cemas.


"Rama kita disini, ..." panggil Sandi sambil melambaikan tangan kanannya.


Rama mendekati mereka berdua dengan tersenyum manis walaupun hatinya sedikit khawatir tentang ayahnya.


"Selamat pagi pak" kata Rama dengan mengulurkan tangan untuk bersalaman bergantian.


"Pagi....ayo ikut kami!" kata Sandi lagi.


Mereka bertiga naik mobil yang di bawa oleh Sandi, sedangkan Ken dan Rama duduk berdua di belakang dengan diam sampai masuk lingkungan PT WIGUNA GROUP.


"Kok kesini pak, bukannya ayah saya ada dirumah sakit?" tanya Rama heran.


"Siapa yang bilang ayahmu dirumah sakit?" tanya Ken dengan tegas.


"Tadi malam pak-----?" Rama mengerutkan keningnya mengingat tadi malam bahwa ayahnya dalam pengawasan dokter bukan berada di rumah sakit.


"Ikut aja dulu tidak usah membantah, bosku lagi emosi berat kurang suntikan dia" kata Sandi cengar-cengir.


"Maaf...bos.. ampun!" jawab Sandi dengan menyatukan keduanya tangannya.


Rama semakin bingung apa sebenarnya yang terjadi, sampai mereka masuk ruangan kantor Ken, bersamaan Ken mengirim foto dan vedio Kemmy yang sedang menangis yang diambil dari CCTV kantor.


"Silahkan duduk, kamu sudah buka handphone mu?" Perintah Ken kepada Rama.


Rama bergegas membuka handphone dan melihat semua dengan mata yang berkaca-kaca tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.


"Kamu bisa jelaskan apa yang terjadi sehingga Adikku setiap hari seperti itu, aku juga sudah tahu semua masalah yang kamu hadapi, apakah dengan harga diri saja kamu bisa membahagiakan adikku?".


"Aku....aku tidak bermaksud-----!" kata Rama tidak melanjutkan ucapannya hanya menatap Kakak dari gadis yang di cintai itu dengan hati yang tidak menentu.


"Kamu tahu Rama keluarga kami tidak pernah memandang seseorang dari harta dan kekayaan, kamu tidak perlu mensejajarkan diri dengan memaksakan diri untuk bisa mengimbangi kami, yang penting niat dan ketulusan hati" kata Ken dengan tegas.

__ADS_1


Rama menundukkan kepalanya saja, tidak bisa mengatakan sepatah katapun, dia hanya menarik nafas dalam-dalam dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Atau aku kembalikan kamu ke Singapura lagi dan aku akan menjodohkan Adikku dengan pria yang tidak kamu kenal Rama, daripada kamu selalu membuatnya menangis?"


"Tapi Kak...aku sangat---!" kata Rama dengan cepat tetapi belum selesai bicaranya langsung di potong oleh Ken.


"Cih.. sekarang kamu baru memanggilku kakak" jawab Ken mengerucutkan bibirnya.


"Aku sangat mencintainya, tolong jangan jodohkan dia dengan orang lain kak, aku mohon?" pinta Rama dengan suara memelas.


"Baiklah, tapi kamu harus mengikuti semua syarat yang akan aku ajukan".


Akhirnya Rama menganggukkan kepalanya tanda setuju tanpa menanyakan apapun syarat yang akan diberikan Ken.


"Syarat pertama aku tunggu kamu dan ayahmu nanti malam di rumah Papi, setelah nanti malam baru aku katakan syarat yang kedua" kata Ken lagi.


"Ha... nanti malam, apakah itu tidak terlalu cepat Kak?".


"Aku tidak menerima protes dan penolakan Rama, kalau kamu menganggap aku kakakmu, kerjakan saja tanpa ada tapi?".


Rama hanya melongo mendengar ucapan Ken yang tegas dan dengan nada yang sedikit tinggi itu.


"Sandi...antarkan Rama ke kantor kepala bagian keuangan sekarang".


"Siap bos...., ayo Rama!" kata Sandi keluar ruang kantor Ken dengan membantu menarik koper Rama.


"Tapi...tapi. Kenapa harus ke bagian keuangan aku--" tanya Rama bingung.


Ken hanya melambaikan tangannya mengisyaratkan untuk keluar dari kantornya, walaupun Rama bingung akhirnya mengikuti Sandi keluar dan ke ruang bagian keuangan.


"Masuklah aku hanya bisa mengantarkan kamu sampai sini saja, sisanya kamu sendiri yang berjuang!" perintah Sandi.


Rama membuka perlahan pintu itu dengan hati yang tidak menentu, ternyata ada seorang gadis cantik yang sangat di rindukan disana

__ADS_1


"Kemmy......!" Panggil Rama kaget.


__ADS_2