
Sudah hampir beberapa Minggu ini Dini pulang ke kampung halaman dari mendampingi suaminya training dua Minggu di Jakarta, tetapi masih sering berhubungan melalui pesan singkat atau WA dengan asisten Anton.
Asisten Anton tetap menyarankan untuk merahasiakan identitas Faro sampai menemukan cara yang aman untuk menemui nya.
Sudah beberapa hari ini Dini mencari ide-ide yang bisa berhubungan dengan Faro ataupun keluarga nya tanpa di curigai oleh Baron Pranoto.
Dini juga belum bercerita tentang keberadaan putra Dona Sanjaya kepada suami ataupun kedua orang tua nya karena janjinya kepada asisten Anton dan demi keselamatan Faro.
Tetapi Dini bercerita kepada suami nya tentang dua orang laki-laki yang sering mengikuti nya saat di Jakarta kemarin.
Rencananya malam ini Dini juga akan bercerita kepada kedua orang tua nya tentang mata mata yang selama ini mengikuti nya.
Setelah makan malam bersama Dini dan keluarga duduk bersantai di ruang keluarga, bercengkerama dengan akrab.
"Papa.... kemarin selama dua Minggu di Jakarta aku selalu di ikuti oleh dua orang laki-laki berpakaian hitam" kata Dini kepada Papa Tomy.
"Apakah itu kemungkinan besar orang Baron Pranoto yang masih mengawasi kita?" tanya Papa Tomy.
"Sepertinya begitu Papa, aku juga di ikuti oleh dua orang laki-laki yang berpakaian hitam juga setiap hari nya" jawab Edi Darmawan.
Papa Tomy merenung sejenak, memikirkan dendam Baron Pranoto yang tiada ujung.
Papa Tomy juga tidak ingin kehilangan cucu laki-laki nya, karena dia sudah kehilangan putra kandungnya.
Hampir selama satu tahun ini Papa Tomy menahan hasrat nya untuk mencari informasi tentang keberadaan cucu laki laki nya, hanya demi keselamatan keturunan cucu laki laki nya.
Saat bersantai itu Dini mendapatkan pesan dari asisten Anton.
"Sebaiknya kau buka kerja sama dengan Imma kafe untuk membuat kafe di tengah perkebunan teh dan destinasi pariwisata dengan perusahaan Bastian Wiguna demi kemajuan perusahaan dan mengembangkan wisata alam"
"Ooo ya mas... bagus juga idenya, coba saya diskusikan dengan papa dan mama" jawab Dini.
Setelah Dini mengirim pesan terima kasih atas sarannya, baru Dini mengusulkan ide itu kepada suami ataupun kedua orang tuanya.
Awalnya mereka tidak begitu antusias dengan usul yang di ajukan oleh Dini, tetapi saat Dini ingin bekerja sama dengan Imma Kafe yang pemilik nya menantu dari salah satu pengusaha sukses di Jakarta orang tua Dini menyetujui nya, terutama Mama Nadia.
Mama Nadia sangat bahagia jika seandainya kerja sama itu akan terjadi, karena bisa dekat dengan idola cilik nya yaitu Faro yang mirip putranya saat masih kecil.
"Bagaimana caranya kamu bisa bekerjasama dengan mereka?" tanya Papa Tomy kepada Dini saat sedang sarapan pagi.
"Kebetulan waktu kemarin di Jakarta aku ketemu pemilik kafe itu di mall".
__ADS_1
"Cuma ketemu aja gitu?" tanya Papa Tomy penasaran.
"Kami langsung ngobrol akrab kok Pa...., sekarang sering chatting dengan nya"
"Coba kamu buat proposal dulu yang lengkap minta bantuan suamimu, serahkan pada Papa dulu, nanti Papa pelajari".
"Baik Papa..... segera aku kerjakan".
Mendapat persetujuan dari orang tua nya Dini kembali menghubungi asisten Anton untuk membicarakan langkah selanjutnya.
Saat Dini mengirim pesan kepada asisten Anton berada di kantor Papi Bastian, kemudian asisten Anton berterus terang kepada Papi Bastian jika sudah bertemu dengan Dini adik kandung dari ayahnya Faro.
Asisten Anton juga bercerita tentang rencana Dini mengajak untuk kerjasama di bidang pariwisata dan membuatkan kafe di tengah tengah perkebunan teh.
Papi Bastian sangat setuju dengan ide Anton, dengan bekerja sama di bidang pariwisata dan bisnis akan mengurangi kecurigaan orang orang yang mengincar mereka, terutama keberadaan Faro yang belum terendus oleh Baron Pranoto serta anak buahnya.
"Tetapi ini harus sepengetahuan oleh Imma dan Ken ya bos" pinta asisten Anton.
"Maksudnya bagaimana?".
"Saya ingin semua terbuka, tanpa di tutup tutupi, karena ini menyangkut keselamatan anak yang saya lindungi dari orang yang berbahaya dan amanah sahabat saya".
"Baiklah kita bicarakan ini nanti dengan Kenzie terlebih dahulu".
"Tolong panggilkan Kenzie dan Sandi kesini setelah selesai istirahat siang" kata Papi Bastian kepada sekertaris nya.
"Baik pak" jawab sekertaris cantik itu.
Mendapatkan kabar dari sekretaris bos besar Sandi mengajak bos nya menghadap nya setelah selesai makan siang.
Mereka duduk berempat di kantor papi Bastian setelah selesai makan siang.
Bermusyawarah tentang usulan asisten Anton Ken belum bisa menjawab dengan tegas dengan alasan ingin membicarakan terlebih dahulu istrinya.
Tetapi asisten Anton minta satu syarat jika kerjasama ini akan dilaksanakan.
"Apa syaratnya pak Anton?" tanya Sandi.
"Saya akan tetap di belakang layar, tidak mau terlibat secara langsung dengan mereka nanti, ini demi amanah dari sahabatnya dan keselamatan untuk semua"
Semua mengangguk setuju atas usulan asisten Anton demi kebaikan bersama.
__ADS_1
___________________
Sementara di rumah Imma sedang menyusui putri kecilnya mendapatkan pesan dari Tante Dini di motivasi handphone nya.
"Tringgg...... tringgg..... tringgg....".
"Apa kabar nak?".
"Kami sehat Tante, bagaimana dengan keluarga disana?"
"Kami juga sehat, Tante ingin membuka destinasi pariwisata dan kafe di tengah perkebunan teh, apakah bisa membantu nak?".
"Maksudnya bagaimana Tante?".
"Ya.... semacam kerjasama begitu, yang lebih berpengalaman mengelola kafe kan kamu".
"Nanti saya bicarakan dengan suami terlebih dahulu Tante, soalnya sekarang selama menikah saya sudah tidak pegang kafe lagi".
"Baik....kami tunggu kabar baiknya".
Imma menunggu Ken pulang pada sore harinya untuk membicarakan kerja sama yang di ajukan oleh Tante Dini, tetapi sayangnya Ken pulang terlambat hari ini karena melakukan peninjauan ulang proyek ke daerah Bogor.
Baru pukul sepuluh malam Ken tiba di rumah, membersihkan diri, dan bergabung dengan Imma di tempat tidur nya.
"Sudah makan Bi, umi siapkan ya?".
"Sudah tadi makan di proyek bareng Sandi dan pegawai di sana, yang belum itu makan umi".
Ken menarik Imma dalam pelukan nya, mencium bibir nya dengan penuh gairah.
"Memang tidak capek baru pulang sudah mulai kerja aja ini tangan, tidak bisa di kondisikan sama sekali".
"Kalau yang ini beda umi,...... kerja tetapi tidak buat capek tetapi ngurangin capek".
Ken mulai membuka kancing satu persatu dari atas sampai bawah, memberikan tanda kepemilikan di sana tanpa henti.
Imma juga mulai terbawa suasana dan membalas ciuaman Ken dengan penuh gairah pula, juga memberikan tanda di dada bidang Ken serta di leher jenjang nya.
"Semakin pintar sekarang istriku ya....".
"Kan guru nya setiap hari ngajarin terus" ucap Imma sambil menciumi tengkuk Ken dengan lembut.
__ADS_1
Ken hanya mendesah kecil, semakin tidak terkendali Ken di buatnya, permainan itu berhenti setelah keduanya bersamaan sampai puncak kenikmatan dunia yang membuat mereka saling merasakan kepuasan seperti berada diatas awan.
"Lain kali umi yang pegang kendali ya....., kemajuan umi sudah top markotop" ucap Ken sambil mencium kening Imma dan terlelap setelah beberapa saat kemudian.