
Hari ini adalah hari yang di tunggu tunggu oleh semua karyawan PT WIGUNA GROUP, yaitu eniversery perusahaan, banyak hadiah yang di bagikan kepada karyawan, dari karyawan teladan, bonus produksi, bonus tahunan, door prize dan masih banyak lagi hadiah yang akan di bagikan.
Hari Sabtu kemarin keluarga Tomy Sanjaya sudah tiba di Jakarta, kemarin mereka juga sudah video call dengan Faro dan Fia, semakin hari memang mereka semakin dekat walaupun cuma melalui vedio call.
Semakin hari Mama Meera juga semakin dekat dengan Faro dan Fia karena secara pribadi juga sering video call juga dengan mereka.
Mama Meera juga sudah janji dengan mereka berdua untuk membawakan baju gaun pesta untuk Fia dan untuk Faro baju seragam karate dan airsoft gun model terbaru.
Acara dimulai pukul sepuluh pagi, dengan agenda pelantikan Ken dan Rama, pelantikan itu di liput oleh infotainment pagi dan juga diliput oleh berita di televisi nasional.
Setelah pelantikan selesai baru dilanjutkan dengan acara seremoni eniversery perusahaan PT WIGUNA GROUP, sangat meriah acara itu, tetapi hanya terbatas untuk karyawan saja, tidak melibatkan keluarga.
Yang bisa masuk perusahaan dan mengikuti seremoni eniversery perusahaan harus memakai seragam perusahaan agar tidak ada yang bisa bebas keluar masuk perusahaan, hanya pewarta dan para kru yang memiliki pengenal yang bisa masuk lingkungan perusahaan.
Tomy Sanjaya dan seluruh keluarga tidak begitu mengikuti jalannya seremoni itu, hanya fokus bercanda ria bersama Faro dan Fia, mereka menghabiskan waktu yang sempit itu untuk bisa melepas rindu kepada cucu laki-laki yang selama ini di tunggu dan idam-idamkan.
"Opa kapan bisa ajarin Abang latihan menembak, biar Abang seperti Opa?" tanya Faro kepada Tomy Sanjaya.
"Bagaimana bisa ngajarin Abang, Opa aja kalah bertanding sama kamu?" Celoteh Tomy Sanjaya dengan memeluk Faro dari samping.
"Tapi Abang ingin mempunyai koleksi senjata otomatis seperti opa, jadi tolong ajarin Abang ya Opa?" Pinta Faro dengan penuh harap.
Tomy Sanjaya begitu terharu ternyata cucu laki-laki nya itu persis seperti dirinya, baik hobi cara bicara dan minat serta bakatnya semua hampir sama, tanpa di sadari meneteskan air mata tetapi memeluknya dengan erat.
"Nanti kalau Abang sudah besar, pasti mempunyai koleksi seperti Opa, tetapi harus diingat, itu harus legal dan seizin Abi mu" nasehat Tomy Sanjaya.
Faro hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum dan berdoa dalam hati semoga kelak bisa terkabul keinginannya.
"Mama Dini, Fia mau punya adik balu namanya Kenzo kata Abi" cerita Fia dengan riang.
__ADS_1
Keluarga Tomy Sanjaya yang berkumpul bersama Faro dan Fia saling pandang, tersenyum senang mendengar kabar yang di ucapkan oleh Fia.
"Waaah berarti Fia akan menjadi kakak dong?" tanya Dini dengan mentowel hidungnya.
"Iya Mama, tapi adiknya belum tahu cewek atau cowok" jawab Fia lagi.
"Coba adiknya nanti buat mama Meera?" goda Ameera sambil mencolek pipi tembem Fia.
"Dangan Mama Mela, itu adiknya Fia, Mama Mela sayang Abang aja ya, tapi jangan di bawa pulang juga" celoteh Fia sambil memeluk Faro.
Yang berkumpul disana tertawa bersama-sama, begitu hangat dan dekat dengan dua anak itu, seperti enggan berpisah.
Sedangkan dari kejauhan ada seorang pewarta yang dari tadi mengawasi mereka yang bercengkerama dengan akrabnya, Hendra lah yang mengawasi pewarta itu tanpa disadarinya.
Pewarta itu sedang menulis sebuah pesan melalui WhatsApp di smartphone yang di pegangnya, tetapi pura-pura Hendra lewat dan menabrak sehingga smartphone dia terjatuh.
"Maaf..mas tidak sengaja, saya lagi buru-buru"kata Hendra dengan melipat kedua tangannya di dada.
Pewarta itu menatap tajam kearah Hendra dan membolak balikkan smartphone nya yang rusak parah.
"Yaaah pecah ya mas, ini aku ganti deh tiga juta cukup kan?" ucap Hendra lagi sambil membuka dompet dan mengeluarkan uang lembaran merah.
"Tambah lagi, jangan cuma segitu, lima juta!" tawar pewarta itu dengan marah.
"Baiklah lima juta, tetapi smartphone nya buat aku ya, sebagai bukti jika istriku nanti tanya?" jawab Hendra memberi alasan dengan membuka tangannya.
Pewarta itu memberikan smartphone dengan cepat dan keluar dari perusahaan dengan hati yang gembira, walaupun laporannya kepada bos Leo hilang semua tetapi dia sedang mendapatkan rejeki nomplok, karena harga Smartphone itu hanya satu setengah juta saja.
Tanpa pewarta itu sadari telah di tipu oleh Hendra, sedangkan Hendra tersenyum puas bisa mengambil smartphone anak buah Leo Bardan.
__ADS_1
Setidaknya Hendra bisa mencegah terbongkarnya rahasia yang selama ini di sembunyikan demi keselamatan anak laki-laki yang selama ini di lindungi oleh keluargaTomy Sanjaya dan keluarga Bastian Wiguna.
Setelah pewarta itu pergi, bergegas membuka smartphone itu yang kebetulan dengan mudah dia buka dan tidak dikunci, di telitinya satu persatu dari nomor handphone, galeri, pesan WA, Instragram, Facebook.
Ada juga group yang dibuat tentang seputaran perintah yang dilakukan Leo Bardan kepada anak buahnya, ini akan sedikit menguntungkan karena sedikit bisa mengetahui sejauh mana sepak terjang musuh bebuyutan dari Tomy Sanjaya.
Hendra tidak berani mendekati bosnya Tomy Sanjaya yang sedang bercengkerama dengan cucu laki-laki itu, akhirnya memutuskan untuk menemui Sandi dengan mengirim pesan di WA group sang asisten, hanya saja Budi asisten Edi Darmawan tidak ikut karena di tugaskan untuk mengawasi jalannya perusahaan perkebunan teh.
"Ada apa bro?" tanya Sandi setelah bertemu Hendra dan duduk di sebelah nya.
"Ini coba kamu lihat!" jawab Hendra sambil memberikan smartphone yang telah dia dapatkan dari pewarta tadi.
Sambil Sandi melihat isi dari smartphone Hendra menceritakan bagaimana dia mendapatkan smartphone itu dengan teliti.
"Bro ini ada group nya, banyak juga ya anak buah Leo Bardan?" tanya Sandi penasaran.
"Kamu saja yang pegang bro, karena sebagian besar kan anak buah Leo Bardan ada di Jakarta, nanti kalau ada info jangan lupa kabari aku ya!" perintah Hendra antusias.
"Ok siap, nanti aku bilang bos Ken biar dia bisa lebih hati-hati" jawab Sandi.
*****************
Sedangkan pewarta itu tidak bisa memberikan bukti kepada bosnya Leo Bardan tentang kedekatan antara Tomy Sanjaya dan anak dari Kenzie Wiguna.
Pewarta itu hanya menceritakan jika Tomy Sanjaya dan keluarga hanya menghadiri undangan eniversery perusahaan PT WIGUNA tanda ada hal bisa dicurigai.
Walaupun sedikit kecewa Leo Bardan akhirnya pasrah karena orang yang di perintahkan memata-matai keluarga itu tidak mendapatkan bukti, ternyata pewarta itu baru bergabung dengan Leo Bardan belum lama, menceritakan jika smartphone nya terjatuh dan mati.
Leo Bardan akhirnya memberikan laporan kepada bosnya yang di Singapura jika keluarga Tomy Sanjaya ke Jakarta hanya menghadiri undangan rekan bisnisnya tanpa ada yang bisa di curigai.
__ADS_1