
"Selamat datang di perkebunan kami anak muda" kata Papa Tomy dengan suara beratnya.
Semua mengarahkan pandangan nya kepada lelaki tua tetapi masih tetap terpancar aura gagah dan berwibawa padanya.
"Terima kasih pak, saya asisten Sandi mewakili PT WIGUNA GROUP".
"Saya Bayu manager dari Imma Kafe"
"Ya.... saya Tomy Sanjaya, ini istriku Nadia dan itu putriku Dini".
Merasa saling mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan erat bergantian.
"Mari silahkan masuk, kita langsung ke ruang makan untuk makan siang" kata Mama Nadia lembut.
Semua keluarga Tomy Sanjaya termasuk kedua putrinya Dini yaitu Laila dan Dania ikut makan bersama dengan tamu nya Sandi dan Bayu.
Makanan tersedia dengan komplit di meja makan, tetapi yang sangat Sandi dan Bayu perhatian ada satu yaitu seperti ayam opor tetapi bumbunya tidak menggunakan kunyit dan dagingnya itu di bakar terlebih dahulu.
"Ini menu apa namanya Bu Dini?" tanya Sandi penasaran.
"Itu ayam kampung bumbu lodo namanya, ayam kampung yang di bakar terlebih dahulu sebelum di masak, coba Mas Sandi, itu makanan favorit papa Tomy" jawab Dini panjang dan lebar.
Sandi mengambil ayam itu satu potong dan memakannya dengan lahap.
"Waaah... enak sekali, ini bisa jadi menu andalan kafe nanti nich" celoteh Sandi.
"Betul juga....memang Mas Sandi ini otaknya memang otak bisnis, brilian sekali idenya, tidak salah kami bekerja sama dengan PT WIGUNA GROUP" puji Tomy Sanjaya.
Sandi tersenyum lebar mendengar pujian dari Tomy Sanjaya yang berlebihan.
"Bisa saja bapak, terima kasih atas kepercayaan nya kepada perusahaan kami, kami akan bekerja sebaik mungkin".
Sebelum beristirahat setelah makan siang bersama, Bayu menyerahkan paper bag titipkan Imma untuk di sampaikan kepada Dini.
"Bu.. ini titipkan dari Bu Imma untuk anda, beliau titip salam buat semua keluarga di sini" kata Bayu dengan ramah.
"Ya terima kasih Mas Bayu..... salamnya sudah kami terima" jawab Dini senang.
"Silahkan beristirahat sejenak, nanti sore kita berkeliling meninjau lokasi yang akan di buatnya destinasi pariwisata alam nya" kata Edi Darmawan.
Ternyata paper bag itu berisi kebaya khas Betawi dengan warna merah maroon ada empat buah dan baju sadariah baju Betawi khas untuk laki-laki warna hitam ada dua buah.
"Mama kebaya nya Nia pakai besok ya....?" tanya Dania bahagia.
"Aku juga, kita seragam kebaya Betawi ini saja, pas di badan" jawab Oma senang.
__ADS_1
Dini sangat bahagia mendapatkan kiriman baju kebaya dari Imma, rencana besok saja jika sudah sekeluarga mengenakan baju itu baru di kirimkan ke Imma foto nya.
Sandi dan Bayu sudah bersiap untuk meninjau lokasi yang akan di buat untuk pembuatan destinasi pariwisata alam, tinggal menunggu Budi yang sedang berganti perban tangan nya yang terluka kemarin.
Ternyata lumayan banyak yang akan ikut meninjau lokasi selain Budi, ada Tomy Sanjaya, Edi Darmawan dan asisten Hendra, sehingga menjadi enam orang yang akan berangkat.
Dalam satu mobil mereka menuju perkebunan teh itu, lokasinya ada di pinggir perkebunan yang pohon teh nya sudah tidak begitu lebat, ada sekitar 5 hektar yang akan di bangun destinasi pariwisata nya.
Perkebunan itu wilayah nya sekitar 25 hektar dengan tumbuhan teh yang sangat subur, tetapi yang lima hektar nya pohonnya sudah mulai tua.
Dari lokasi perkebunan Sandi dan Bayu diajak ke pabrik pembuatan teh nya, masuk pabrik itu harus menggunakan pengaman yang lengkap, harus higienis karena untuk menjaga kebersihan bahan makanan atau minuman.
Pabrik teh itu besar dan memiliki teknologi modern sehingga produk nya mampu bersaing dan laku keras di pasaran.
Sandi dan Bayu juga bertemu dengan para staf dan karyawan yang sedang bekerja dengan giatnya.
Hampir tiga jam mereka berkeliling di perkebunan dan pabrik kembali ke kediaman keluarga Tomy Sanjaya untuk istirahat malam.
Malam harinya mereka bercengkerama dengan akrabnya, layaknya keluarga, dengan suguhan kopi panas menambah suasana menjadi hangat.
Dini bergabung dengan mereka dan duduk di samping suaminya dan di depan Sandi.
"Mas Sandi bolehkah aku usul jika nanti destinasi pariwisata itu di buat?" tanya Dini.
"Silahkan Bu, dengan senang hati" jawab Sandi.
"Usulan bagus itu Bu, saya sangat setuju, apakah keluarga anda ada yang suka bermain tembak tembakan?" tanya Sandi lagi.
"Itu hobi papaku, bahkan di lantai bawah papaku punya ruangan khusus untuk bermain itu" cerita Dini lagi.
Sandi melamun mengingat Faro mempunyai hobi bermain tembak tembakan juga itu berarti bakat yang diturunkan dari kakeknya.
"Betulkah itu, aku jadi pingin melihat nya" ucap Sandi antusias.
Tomy Sanjaya memandang wajah Sandi yang sangat bersemangat mendengar ruangan khusus tersenyum.
"Ayo.... jika ingin melihat nya, aku jarang bertemu orang yang memiliki hobi yang sama".
"Bukan aku pak yang mempunyai hobi itu tetapi keponakan" ucap Sandi.
Tampak ada raut wajah yang kecewa di hati Tomy, tetapi dia tetap berusaha tersenyum.
"Tapi saya ingin menunjukkan kepada nya pak, pasti dia sangat ingin kesini suatu saat nanti" jelas Sandi lagi.
"Baiklah ayo....kau boleh melihat nya, jangan lupa nanti kau tunjukkan kepada nya" pinta Tomy.
__ADS_1
"Tentu pak,..... boleh saya membawa kamera pak?".
"Asal cuma untuk foto koleksi pribadi silahkan" jawab Tomy tegas.
Sandi berjingkrak seperti anak kecil karena sangat senang, membayangkan betapa senangnya Faro melihat nya nanti.
"Bayu.... apakah kau mau ikut?" tanya Sandi.
"Tidak....aku disini aja bersama pak Edi".
Sandi, Dini dan Tomy berjalan ke lantai bawah kemudian Tomy membuka pintu dengan perlahan.
Saat di buka di sana banyak sekali model senjata baik Laras panjang ataupun pendek, Sandi sampai membelalakkan matanya.
Ruangan itu tidak terlalu luas, hanya 4 × 8 meter saja, tetapi berbagai macam senjata tertata rapi pada tempatnya.
"Wow....wow.... apakah ini senjata asli pak?.
"Tentu saja....asli, dan aku mempunyai surat resmi nya".
"Pasti dia sangat senang melihat ini semua" kata Sandi berjingkrak kegirangan.
"Boleh aku video kan pak, aku mohon".
"Silahkan.....tapi tolong di rahasiakan".
"Tentu pak, aku janji ini hanya untuk pribadi".
Sandi menggeser handphone nya membuka tombol video itu, ada juga saat Tomy memegang senapan Laras panjang dengan membidikkan sasarannya.
Meminta bantuan Dini saat Sandi di ajari Tomy menembak menggunakan pistol otomatis Laras pendek.
Ada berbagai macam jenis senjata berbeda ukuran, ada juga koleksi macam macam peluru yang berbeda bentuk dan ukuran juga.
Hampir satu jam mereka di ruangan itu, Sandi seperti enggan beranjak dari situ tetapi sudah beranjak malam Tomy mengajak untuk beristirahat.
"Din... tolong antar Mas Sandi untuk istirahat, papa masih ingin di sini sebentar" perintah papa Tomy.
"Ya...pa..., Mari mas silahkan".
Sandi dan Dini berjalan beriringan melewati lorong yang berdinding kayu jati Belanda yang kokoh.
"Apakah akan kau tunjukkan kepada Faro?"
Sandi tersentak kaget dengan ucapan Dini yang mendadak.
__ADS_1
"Apakah anda tahu Bu?" tanya Sandi penasaran.