
Pagi harinya setelah semalaman Ken diapit oleh Imma dan Faro badan sudah segar dan fit kembali.
Tetapi manja nya tidak begitu saja hilang, Ken hari ini libur minta ijin sehari untuk istirahat, masih ingin bermanja-manja dengan anak dan istrinya.
"Ayo mandi Abi, baru sarapan, sudah umi siapkan air hangat nya".
"Pagi ini Abi libur juga mandinya".
"Bau dong Bi, siapa yang mau mendekat?".
"Masih wangi, coba kalau tidak percaya sini cium Abi"
"Tidak... kalau Abi tidak mau mandi umi tidak mau mendekati Abi, jorok".
"Iya.....iya.... Abi mandi, tapi mandikan kayak tadi malam, tapi mandinya berdua".
"Umi sudah mandi Abi sayang.... kenapa manja nya tidak hilang juga, ayo umi mandikan".
Seperti tadi malam Ken mandi di temani Imma, digosok punggung nya, dan di pijit daerah leher dan kepala nya, agar pusing dan nyeri nya hilang.
Ken memakai baju rumah setelah selesai mandi, dan merebahkan kembali di tempat tidur.
"Mau sarapan dimana, di kamar aja?".
"Maunya di suapin Umi"
"Eeeee mulai lagi".
Ken tersenyum dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Faro masuk kamar sudah dengan menggunakan seragam sekolah nya.
"Abi.... bagaimana masih dingin kah, kok masih memakai selimut?".
"Barusan Abi mandi jadi sedikit dingin, Abang sudah mau berangkat sekolah?".
"Iya tapi sarapan nya belum, Abi istirahat saja, Abang sekalian berangkat ke sekolah yaaa Salim muuah.....muaaah".
Faro turun untuk sarapan bersama Uthi Sumi di bawah.
"Abi belum sehat kah bang?"
"Belum Uthi, masih belum bangun dari tempat tidur".
Faro sarapan pagi bersama Uthi Sumi, saat Imma datang dari lantai atas .
"Umi mau sarapan, Abi bagaimana sarapan nya" uthi Sumi bertanya kepada Imma yang mendekati nya.
"Ini umi mau ambil sarapan buat Abi, tinggal pemulihan kok uthi tidak usah khawatir"
Imma kembali ke kamar setelah membawa sarapan pagi dan secangkir teh hangat.
__ADS_1
Imma dan Ken sarapan berdua di kamar, saling menyuapi dengan mesra dan diakhiri dengan teh hangat yang di minum nya.
Sudah dua Minggu berlalu setelah Ken sakit, pembangunan Imma Kafe sudah hampir selesai.
Hari ini Imma akan ke sekolah Faro karena ada undangan untuk acara penggalangan dana bencana alam.
Acara penggalangan dana itu di laksanakan pada pukul sepuluh pagi, Imma berangkat di antar oleh pak Sardi, sedangkan uthi Sumi tidak ikut karena uthi sedang mengunjungi pemakaman ibu Lestari.
Kehamilan Imma sudah memasuki delapan bulan lebih satu Minggu, membuat nya sering bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Walaupun kamar kecil di TK itu bersih karena banyaknya wali murid yang datang sehingga membuat nya sedikit lebih cepat kotor dan licin.
Saat Imma ingin ke kamar kecil baru sampai depan pintu kamar kecil itu Imma terpeleset dan jatuh di depan kamar mandi, kebetulan ada beberapa ibu wali murid yang mengantri kamar mandi itu.
"Ibu....ibu... bagaimana ini dia terpeleset?. teriak ibu berbaju merah.
Imma meringis kesakitan menahan pinggang nya yang nyeri luar biasa, mencoba tenang seperti yang diajarkan di saat kelas senam hamil, Imma menarik nafas dengan pelan pelan.
"Cepat panggil sekuriti?" teriak salah satu ibu wali murid yang ada di situ.
"Tolong panggil kan sopir saya di parkiran namanya pak Sardi" ucap Imma lirih kepada salah satu ibu disitu.
Sekuriti dan pak Sardi datang bersamaan di depan kamar mandi itu.
"Kenapa bisa jatuh Bu?" tanya pak Sardi.
"Tolong rumah sakit pak, jangan lupa panggil Faro" Imma masih mencoba memerintahkan pak Sardi sepat bertindak.
Datang pula ibu guru Faro melihat keadaan Imma, Bu guru itu mencari Faro yang berada di stand makanan.
"Faro ayo cepat nak, umi mu terjatuh".
Faro langsung berlari mengikuti Bu guru nya ke parkiran di mana uminya sedang di bopong masuk mobil pak Sardi.
Melihat umi nya kesakitan dan merintih Faro langsung memeluknya dengan erat, mengelus perut uminya.
"Apa yang sakit umi, apakah adik juga sakit?".
"Bang.... telpon Abi... Abi,. ach....ach..."
"Ya umi.... sakit kah umi?".
Umi mengangguk, Faro mengambil handphone Imma dan menggeser mencari nama abinya.
Mobil melesat maju dengan kecepatan lumayan cepat menuju rumah sakit yang biasa di datangi Imma saat periksa kehamilan.
"Kring....kring....kring...".
"Halo sayang ada apa?".
__ADS_1
"Abi.....ini Abang.... cepat. Bi, umi sakit".
"Sabar sayang..... pelan pelan Abang bicara nya"
Ken mulai panik karena tidak begitu faham dengan perkataan Faro, sedangkan Faro bingung harus bicara apa.
"Bang coba di loud speaker" perintah pak Sardi.
Faro menekan code loud speaker itu dengan cepat.
"Pak..... ini Sardi, tadi Ibu jatuh di kamar mandi sekolah TK, saya menuju rumah sakit".
"Ya pak hati hati, saya langsung ke sana".
Ken memanggil Sandi dengan sekali teriak, Sandi mendatangi nya dengan cepat.
"Istriku terjatuh di sekolah nya Faro, antar aku ke rumah sakit".
Sandi menyambar kunci mobil yang berada di meja kerja Ken dan berlari menyusul Ken yang sudah berlari menuju parkiran.
Mobil sandi melesat kilat tanpa memperdulikan keselamatan nya memecah keramaian jalanan ibukota yang terlihat padat.
"Sandi cari jalan alternatif jika perlu, ayo lebih cepat lagi".
Sandi termasuk raja jalanan jika mengendarai mobilnya, itu menguntungkan bagi mereka saat mendesak seperti ini.
"Ini jalan tercepat menuju rumah sakit, tenang aja" ucap Sandi saat membawa mobil nya melewati tengah tengah pasar.
Mata Ken terbuka lebar saat Sandi melewati turunan tangga kecil di ujung batas pasar dan jalan raya.
Keluar dari pasar itu barulah Ken sadar tinggal beberapa kilometer lagi dari rumah sakit yang di tuju nya.
"Kau memang yang terbaik" puji Ken saat sudah tiba di depan parkiran UGD rumah sakit.
Ken turun dari mobil berlari menuju UGD, ternyata Imma juga baru saja tiba, baru saja Imma di angkat ke brankar tempat tidur rumah sakit.
"Umi.....umi..... umi".
Ken menggenggam tangan Imma yang terlihat meringis menahan sakit tetapi masih sempat tersenyum.
Brankar di dorong masuk UGD dengan cepat, semua mengikuti nya dari belakang.
"Maaf sampai disini dulu ya pak serahkan kepada kami" ucap petugas rumah sakit itu .
Ken hanya bernafas berat sambil memeluk putranya Faro, tanpa di perintahkan Sandi sudah tahu apa yang harus di lakukan, dia menghubungi semua keluarga jika umi di rumah sakit.
"Bi.... umi bagaimana?" tanya Faro sambil menangis.
Rupanya Faro memiliki trauma yang mendalam jika menyangkut uminya yang sakit, mengingat pengalaman nya saat umi nya sakit jarang mau berbicara dengan siapapun.
__ADS_1
Menyadari Faro begitu pucat dan menangis Ken mengusap dan memeluknya erat.
"Bang.... umi tidak apa-apa, berdoa saja ya, Abang harus kuat ok".