
"Kemmy....!" panggil Rama kaget.
Mereka berdua berpelukan dengan erat, kerinduan mereka begitu memuncak sehingga tidak memperdulikan sekelilingnya, ada dua pasang Mata yang melihat keduanya saat berpelukan, sedangkan Sandi meninggalkan ruangan itu kembali ke ruangannya sendiri.
"Rama...kapan kamu pulang, kenapa kamu disini nak?" tanya Anton kaget melihat putranya berpelukan dengan Kemmy.
"Ayah...aku, aku baru datang tadi pagi" jawab Rama gugup.
"Kemmy ada apa ini, kamu bukanya kerja malah berpelukan dengan---?" tanya Papi Bastian tidak melanjutkan ucapannya.
Sandi tidak jadi ke ruangannya karena mengetahui jika asisten Anton dan Papi Bastian menuju ruang kantor bagian keuangan bergegas berlari menuju ruang kantor Ken memberikan informasi jika mereka berdua sedang menuju ke ruang kantor Kemmy.
"Bos, ada bos besar dan asisten Anton sedang menuju ke ruang kantor keuangan".
"Ayo cepat kita kesana, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan".
Suara sepatu pantofel Ken dan Sandi terdengar kencang karena mereka berlari menuju kantor keuangan dimana Kemmy dan Rama bertemu.
"Papi... calon menantu sudah datang, apakah Papi sudah bertemu dengan nya?" tanya Ken dengan suara yang sedikit tersengal-sengal.
Papi Bastian hanya ber-o ria dengan ucapan Ken dan menatap sendu kepada asisten Anton.
"Berarti kita bisa pensiun dalam waktu dekat besan" kata Papi Bastian sambil memeluk asisten Anton dengan tertawa bersama-sama.
Kemmy dan Rama hanya saling pandang kemudian tersenyum menundukkan kepalanya karena merasa malu.
Ken mendekati Kemmy dan mentowel hidungnya dengan mengedipkan matanya dengan gembira.
"Kamu tidak mengucapkan terima kasih kepada kakak?" tanya Ken.
__ADS_1
"Terima kasih kak, memang kakakku yang terbaik" jawab Kemmy sambil merangkul pinggang Ken dengan senyum.
"Terima kasih juga kak telah membantu, aku tidak akan melupakan jasamu" bisik Rama di dekat telinga Ken.
"Sama sama, tapi kamu harus berjanji membahagiakan adikku".
"Pasti kak, aku berjanji" jawab Rama tegas.
Malam harinya Rama, beserta kedua orang tuanya datang ke rumah Papi Bastian untuk melamar secara resmi Kemmy, ini hanya diadakan dengan sederhana karena Imma dalam suasana berkabung, walaupun hidup harus tetap berlanjut, tetap saja Imma masih merasa sangat kehilangan karena baru tiga puluh hari lalu Uthi Sumi pergi meninggalkan Imma.
Imma tetap ikut menghadiri acara lamaran adik iparnya itu, didampingi oleh Ken dan keluarga Papi Bastian menerima lamaran itu dengan syarat yang di tentukan oleh Ken.
Rencana tiga bulan lagi acara pernikahan Kemmy akan di laksanakan, karena Rama harus melaksanakan syarat yang di berikan oleh Ken, harus menjadi wakilnya selama tiga bulan.
Semua tanggung jawab wakil CEO yang dulu di pegang oleh Ken selama tiga bulan kedepan akan di laksanakan oleh Rama sebagai syarat untuk menikah dengan Kemmy, Rama di dampingi oleh Sandi sebagai pembimbingnya.
Karena dalam tiga bulan ke depan Sandi akan mendampingi Rama tetapi setelah tiga bulan akan kembali menjadi asisten Ken kembali.
Malam ini adalah malam empat puluh harinya almarhumah uthi Sumi yang diadakan di rumah Imma, semua keluarga dan sahabat berkumpul di rumah Imma dengan membacakan surah Yassin bersama sama.
Yang membaca surah Yassin adalah para tamu laki-laki, baik dari teman, keluarga dan tetangga dekat, termasuk Faro walaupun umurnya belum genap sepuluh tahun tetapi anak laki-laki kecil itu sangat khusuk membacakan surah Yassin dengan sepenuh hati.
Faro begitu menyayangi almarhumah uthi Sumi sehingga doa yang di panjatkan untuk Uthi kesayangan itu dengan tulus.
Faro duduk di samping Ken dengan memegang buku Yassin mengikuti dengan khusuk mendoakan semoga almarhumah diterima di sisi Allah SWT dan diampuni dosanya.
Setelah acara selesai di belakang Imma, Kemmy, Marisa dan Mely bercerita masalah mereka dengan ceria, Mely tinggal menunggu kelahiran bayi yang dikandungnya, Kemmy sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, sedangkan Marisa bercerita jika suaminya akan mencari pekerjaan, sedangkan Imma menceritakan jika sebetulnya dua bulan sebelum uthi Sumi meninggal dunia sudah mengisyaratkan jika dia ingin tinggal di kampung halamannya selamanya, ternyata itu merupakan tanda bahwa uthi Sumi akan pergi dan meninggal di kampung halaman seperti harapannya.
Setelah bercerita tentang uthi Sumi Imma mengeluarkan air matanya tanpa bisa di kendalikan lagi, keempat sahabat itu saling menguatkan dan saling memberikan dukungan dengan berpelukan.
__ADS_1
Malam semakin larut, satu persatu tamu pamit pulang ke rumah masing-masing, Imma masuk kamar almarhumah uthi Sumi semua barang-barang masih tertata rapi, belum di pindahkan sedikitpun, Imma hanya memandangi semua kamar itu dengan linangan air mata yang menganak sungai di pipinya.
Ken mengantar Faro masuk kamar, mengucapkan selamat malam, menyelimuti dan mengecup keningnya, berganti ke kamar Fia, gadis kecil itu harus mendengar cerita sebentar sebelum tidur, setelah terlelap kemudian Ken masuk kamarnya sendiri tetapi tidak menemukan istrinya disana.
Bergegas turun di lantai bawah melihat sosok istrinya duduk di tempat tidur dengan meneteskan air mata tanpa bisa di kendalikan, Ken mendekati Imma memeluk dari belakang menghapus air mata di pipinya, menciumi pipi basah itu.
"Honey.... please jangan begini terus, Abi anak-anak membutuhkan umi, terutama Abi lihatlah Abi, kapan Abi menemukan istri tercinta yang seperti dulu lagi"
"Maaf Bi, umi masih disini tidak kemana-mana, masih seperti dulu, masih mencintai Abi dengan sepenuh hati, jangan khawatir, I love you Abi".
"Sudah malam ayo kita ke atas, apa perlu Abi gendong?".
"Jangan mulai genit, ayo gandeng aja".
Ken dan Imma berjalan naik tangga menuju lantai atas, Imma berganti baju tidur di ruang ganti dan duduk di kursi rias menggunakan krim malam, Ken berjongkok didepan Imma.
"Honey...mengapa cantik sekali sih, walaupun matanya agak sembab sedikit, kok malah tambah seksi" rayu Ken.
"Tidak usah merayu, sayang... maaf sudah lama tidak memenuhi tugas sebagai seorang istri, maaf"
"Apakah sekarang sudah boleh honey..?"
Imma hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tanpa menunggu lama Ken langsung menggendong bridal Imma di letakkan perlahan di tempat tidur ******* bibirnya dengan rakus, seperti berbulan bulan tidak menikmati bibir manis itu.
Pindah ke leher jenjang mengecup dengan lembut, memberi tanda merah disana, desahan kecil Imma menambah gairah Ken semakin menggila, tangan Imma juga tidak kalah gesitnya mengusap, membelai dengan lembut senjata itu.
Bibir Ken memutari gunung kembar bergantian, mendaki sampai puncaknya menghisap dengan rakusnya, tubuh Imma menggeliat merasakan sensasi yang membuatnya melayang.
Perlahan menyatukan kepemilikan keduanya, penuh peluh, bercampur kenikmatan yang tiada ujung, gerakan perlahan, sampai dipacu cepat sampai puncaknya bersama sama, baru keduanya tumbang ditempat tidur dengan hati yang bahagia.
__ADS_1